Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 72 - Secuil Amarah


__ADS_3

Mikhail mendengarkan dengan seksama apa keinginan Aleena. Secara jelas dia meminta agar Mikhail menceraikan Zia dalam waktu dekat, mendengarnya dada Mikhail seakan terhenyak dan sakitnya sampai ke ubun-ubun.


"Kenapa harus bercerai? Di antara banyak permintaan lain, kenapa kamu minta Kakak bercerai, Aleena?" tanya Mikhail sedikit bergetar, dia tidak kuasa melihat ke arah istrinya yang mungkin saat ini terpukul luar biasa.


"Karena aku tidak yakin dia hamil anak kakak. Bisa jadi itu anak salah satu dari orang yang juga menikmati tubuhnya," ucap Aleena menatap Zia yang kini menunduk begitu hina, jika saja dia tahu sejak dahulu


"Begitu ya?"


Hanya itu yang Mikhail ucapkan, ini sudah di luar nalar. Ibra sudah panas namun Gavin menahannya agar tidak ikut campur. Dia percaya Mikhail telah memikirkan segala sesuatu jika sudah bertindak.


"Iya!! Kalau memang dia mengandung anak Kakak mana buktinya? Kenapa kalian tidak tes DNA dan menyerahkan buktinya pada Om Ibra dan Tante Naya?"


Mikhail memejamkan mata, dia memijat pangkal hidungnya kemudian menatap lekat-lekat Aleena yang kini tampak sedikit lebih tenang.


"Bang Cio apasih nggak banget, nyebelin! Heran."


"Diam, Lau ... kita nggak tau dia lagi ambil keputusan yang bagaimana, kalau aku lihat apa yang dia lakukan itu adalah cara marah Bang Mikh yang sama seperti pada Sera dulu," jawab Zidny yang sedikit banyak paham kala Mikhail mulai berpindah satu dua langkah namun tidak menjauh dari Aleena.


"Ck, tajam banget ingatan ... udah berapa tahun itu astaga," ungkap Laura kagum dengan kemampuan otak Zidny.


Pengamatan Zidny memang tidak salah, Mikhail kini mengepalkan tangan dengan wajah datar yang masih bertahan dan membuat orang-orang disekitarnya kebingungan.


"Sudah? Hanya itu yang kamu mau, Aleena?"


Aleena mengangguk cepat dan dia tersenyum kala Mikhail bertanya demikian. Senyum tipisnya terbit dan menatap Lorenza seakan menunjukkan jika dia menang kali ini, sungguh menjijikkan bagi Lorenza.


"Baiklah, tapi sebelumnya ... jawab dulu pertanyaanku."


Nada bicara Mikhail berubah, pria itu menggerakkan tangannya dan perasaan Aleena mulai berbeda. Mikhail menyentuh leher bagian belakangnya dan berhasil membuat Aleena merinding seketika.


"Berapa kali mulutmu menyebut istriku sebagai pelaccur?"

__ADS_1


Mikhail mencengkram dagu Aleena tiba-tiba, ini seperti berbeda dari yang dia perlihatkan di awal. Cengkraman itu menyakitkan bahkan untuk bicara saja dia tidak bisa.


Tak lagi menganggapnya sebagai wanita lagi, Mikhail mencekik Aleena hingga tubuhnya membentur dinding. Semua itu begitu cepat dan mereka yang ada di sekeliling jelas saja bingung lantaram serangan tiba-tiba Mikhail yang tidak sesuai dengan sikapnya beberapa menit lalu di hadapan mereka.


"Eeuugghhh!! Uhuk-uhuk ... lepaskan aku, Kak." Suaranya bahkan terputus-putus namun Mikhail semakin menggila bahkan membuat tubuh Aleena terangkat.


"Mikhail!! Lepaskan Aleena!! ... Zico jangan diam saja!!"


Ibra berteriak sementara Abygail berlari ke arah mereka. Putrinya bisa kehabisan napas jika Mikhail tak segera melepaskannya. Namun karena amarah Lorenza masih menggunung, dengan sengaja dia menghalau langkah Abygail dan pria itu terjatuh usai tersandung kaki Lorenza.


BRUGH


"Dasar kurang ajar!! Apa maksudmu, Lorenza!!" sentak Abygail, kakinya terasa sakit membentur lantai.


"Putrimu pantas mendapatkannya, kamu gagal mendidiknya sebagai seorang papa ... izinkan Mikhail memberinya sedikit pelajaran," ujar Lorenza membuat semuanya melongo, sungguh jiwa psikopat Lorenza belum luntur hingga sekarang. Tak tanggung-tanggung, dia bahkan menahan pergelangan tangan Adiba agar tidak bisa mengacaukan Mikhail.


"Kalian semua, jangan ada yang berani mendekat jika tidak mau lehernya patah di tanganku!" ancam Mikhail dengan suara lantangnya, dia semarah itu dan benar-benar tak terima dengan ucapan Aleena tentang istrinya.


-


.


.


.


"Uhuk-uhuk ... Kakak kenapa menyakitiku?" Air mata yang tak lagi membuat Mikhail tersentuh sama sekali, pria itu masih belum puas karena Alena masih bisa bicara meski sudah parau.


"Kamu juga menyakiti istriku, Aleena ... kamu ingat kan Kakak paling tidak suka orang-orang yang Kakak sayangi direndahkan, siapapun pelakunya." Mikhail berucap santai seraya menginjak jemari tangan Aleena persis puntung rokok tak berguna.


"Aaarrrggghhh Mama!!"

__ADS_1


"Mikhail hentikan!! Tahan emosimu, ingat om Abygail ... tahan amarahmu!!" Zico mendorong Mikhail hingga membentur dinding dan segera membantu Aleena yang kini lemah untuk segera bangun.


"Shitt!! Zico biaddab!!" umpat Mikhail mengepalkan tangannya, pundaknya terasa sakit lantaran pria itu mendorongnya dengan kekuatan yang tak main-main.


"Maaf, Mikhail ... terpaksa," ucap Zico kemudian membopong tubuh Aleena, entah karena malu atau akibat cekikan Mikhail yang terlalu kuat membuatnya terkulai lemas tiba-tiba.


Merasa kondisi putrinya mengkhawatirkan, Abygail memilih ke rumah sakit segera meski kakinya juga sama sakitnya. Adiba hanya mampu menangis, dia benar-benar marah lantaran mereka yang diam sementara Mikhail hampir saja membunuh putrinya.


"Kalian semua memang tidak punya hati!! Lihat saja, aku pastikan kamu akan menyesal setelah ini," ancam Adiba sebelum keluar dari tempat itu, Ibra hanya bisa menghela napas perlahan melihat amarah putranya yang memang persis dirinya ketika muda.


Secepat itu Mikhail mampu membuat Aleena tidak berdaya. Dia tidak peduli apa yang akan Abygail lakukan padanya, pantang dihina adalah prinsip hidupnya. Susah payah dia mencari Zia, mana mungkin dia rela wanita seperti Aleena menghinanya.


Hanya butuh waktu beberapa saat saja membuat lawannya tumbang, jika saja kakinya tidak sakit saat ini mungkin saja Zico akan dibuat bernasib sama karena berani ikut campur malam ini.


"Tutup mulut kalian, semua yang terjadi malam ini cukup sampai pada kalian ... tidak perlu diteruskan!! Jika Istri Mas Aby benar-benar serius, bukan hanya Mikhail yang kena imbasnya, tapi kamu juga Lorenza."


Kekerasan yang Mikhail lakukan memang sangat-sangat salah. Ancaman Adibah tidak dapat diremehkan, dan di sini ada banyak saksi yang melihat secara langsung perbuatan Mikhail.


Meski Ibra yakin semua memihak Mikhail, tetap saja dia perlu berhati-hati dan memilih ambil aman. Gavin dan Haikal mengangguk pasti, bisa dipastikan ini akan menjadi tugas mereka untuk menjaga mulut putri mereka masing-masing.


Ibra dan Kanaya merasa perlu bertanggung jawab dalam hal ini. Keduanya turut serta ke rumah sakit demi mendampingi Abygail. Untuk kejadian kali ini Kanaya benar-benar menyerah dan kehabisan kata-kata tentang Mikhail.


"Titip Zia, aku mungkin pulang besok pagi," pamit Kanaya pada Lorenza, rencana mereka untuk reuni lebih lama nyatanya rusak lantaran Mikhail mengeluarkan tanduknya malam ini.


"Iya, Nay ... tenang aja, aku di sini sampai kamu pulang. Kalau si Lorenza nggak tau, mungkin beberapa jam lagi dijemput polisi dia." Sempat-sempatnya Siska membuat suasana kian ricuh saja.


"Heh kampret, jangan buat panik ya!!"


"Ck udah deh, nggak usah pada becanda kalian. Lihat menantuku pucat pasi abis liat suaminya ... kalian tenangin ya, susunya tolong siapin kalau Mikhail lupa." Pesan Kanaya banyak sekali, persis seperti menitipkan bayi.


"Iyayaya, udah sana! Suami kamu udah melotot itu!" desis Siska takut sendiri, anak dan papanya sama saja. Sama-sama menakutkan, pikir Siska.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2