
Kekiri salah kanan juga salah, sejak tadi istrinya mau apa? Mikhail tetap sabar menemaninya cari posisi. Kata Kanaya, hamil memang tidak semudah itu. Sebagai suami, Mikhail harus mengerti dan jangan pernah tidur sebelum istrinya tertidur. Ya, begitulah materi-materi kilat yang kerap Mikhail terima sewaktu masih bersama orang tuanya.
"Masih gerah ya?"
Zia mengangguk, padahal Mikhail sudah menggigil dan kini mengenakan jaket tebal demi membuat dirinya baik-baik saja. Dipeluk salah, tapi tidak dipeluk juga salah. Mikhail mengalami malam serba salah entah apa dosanya di siang hari.
"Jangan dilepas, Mas."
"Katanya tadi gerah, jadi peluk atau nggak sebenarnya?" tanya Mikhail kemudian, dia bingung sendiri menghadapi Zia saat ini.
"Peluk, tapi Masnya jangan pakai jaket segala," rengek Zia dengan mata yang mulai terpejam namun belum menemukan posisi nyamannya.
"Mas dingin, Zia ... kamu kemasukan apa? Sudah sedingin ini masih bilang gerah?"
Mikhail tak habis pikir, demi apapun ini sudah sangat amat dingin. Dirinya menggigil dan Zia bahkan berniat melepas semua pakaiannya.
"Ini tu gara-gara Mas yang nggak izinin aku mandi, jadinya begini kan!!"
Benar juga, khawatir istrinya masuk angin karena cuaca tadi sore hujan lebat, belum lagi kelelahan mencari alamat Suep yang ternyata pindah tempat jualan adalah alasan Mikhail melarangnya mandi meski Zia sudah merengek. Ya, seumur hidup mungkin baru kali ini ada seseorang yang bahkan mengatur kebebasannya.
"Hoaaah, Mas masa gaboleh lepas baju juga? Kamu nggak rasain gimana gerahnya."
"Astaga, ganti bajunya tapi jangan lepas ... tunggu Mas cari dulu."
Bekas kerokannya saja masih merah, dan Zia sudah menantang alam. Jika sampai masuk angin lagi bagaimana, pikir Mikhail. Pria itu berlalu untuk mencari pakaian yang sekiranya bisa membuat Zia nyaman.
Malam ini Zia sudah lelah, sementara Mikhail mana bisa memeluk istrinya tanpa busana. Dia takut tak kuasa menahan diri dan membuat istrinya semakin tak berdaya, imannya sedikit waras kali ini padahal tubuhnya dingin sekali.
"Biasanya dia suka ini, kalau nggak hamil Mas hajar kamu, Zia."
Mikhail mengambil daster andalan yang paling pas untuk istrinya kali ini, jika menuruti napsunya jujur saja suasana sudah luar biasa mendukung. Akan tetapi Zia yang lelah dan tidak nyaman membuat Mikhail berusaha menahan diri, takutnya mood Zia semakin buruk jika dia paksa.
Dengan langkah panjang dia kembali menghampiri istrinya. Betapa terkejutnya Mikhail kala istrinya sudah melepaskan piyama panjangnya itu, duduk dengan begitu gelisah menanti Mikhail menbawa baju yang lain untuknya.
Selimut sudah tercecer di lantai seakan tak berharga, Zia kerasukan naga atau bagaimana Mikhail sendiri tak mengerti. Istrinya meminta mandi di malam hari dan itu adalah larangan mutlak yang takkan mungkin dia izinkan.
__ADS_1
"Nih bajunya," tutur Mikhail menyerahkan daster kucel yang hampir dia buang lantaran tak suka melihatnya.
"Boleh pakai ini memangnya?" tanya Zia mendongak, menatap wajah tampan suaminya yang terlihat menggigil bahkan bibirnya membiru.
"Boleh malam ini," jawab Mikhail lembut, sepertinya hal yang dia larang adalah sesuatu yang sangat Zia sukai.
Zia tak berbohong, sepertinya memang gerah lantaran keringat membasahi kening dan wajahnya. Dengan lembut Mikhail menyekanya, rambut Zia yang tergerai membuat Mikhail risih sendiri.
"Besok potong rambutnya ya," ujar Mikhail seraya mengikat rambut panjang Zia, apa mungkin dia tidak risih, pikir Mikhail heran.
"Ih nggak mau!! Mas yang harusnya potong rambut, udah panjang begitu ... sama jambangnya mulai tumbuh, tajem."
Niat hati istrinya potong rambut justru dia yang kena semprot. Mikhail bukan sengaja, dia hanya belum sempat saja sebenarnya. Tak lagi menjawab karena memang ucapan Zia benar adanya.
Tugas dia selesai? Tentu saja belum, piyama yang Zia lepas dan lempar sembarang harus dimasukkan ke keranjang pakaian kotor. Belum lagi istrinya yang tiba-tiba haus harus diambilkan air dingin, tak hanya itu Zia menginginkan pengganjal perut karena lapar tiba-tiba. Jika ditanya bagaimana rasanya, jelas saja sedikit merepotkan..
"Minumnya, pelan-pelan nanti bajunya basah."
"Makasih, Mas tidur aja duluan ... nanti piringnya aku balikin sendiri."
"Yaah, minumnya udah habis ... gimana dong?"
Ya terpaksa, Mikhail harus bolak balik dan dia tak merasa keberatan. Meski matanya sudah memerah, akan tetapi untuk tidur Mikhail tak tega. Cukup kemarin dia membuat Zia menghabiskan malam sendirian main ludo lantaran Mikhail ketiduran.
"Tunggu, Mas ambilkan lagi. Jangan tidur duluan, kamu belum minum, Zia." Istrinya sudah terlihat mengantuk bahkan mengunyah selembar roti terakhirnya itu saja dia seakan lelah.
"Heem, cepet makanya."
-
.
.
.
__ADS_1
"Dia benar perempuan? Kenapa kejam sekali?"
Seraya meniti anak tangga dia berpikir, kenapa lama-lama Zia kerap menyiksanya. Meski memang bukan Zia yang meminta, tetap saja semua dia lakukan untuk istrinya. Padahal, menurut pengakuan Bima, jika hamil anak perempuan biasanya tidak terlalu sulit. Akan tetapi, kenapa Zia berbeda dan sedikit berulah akhir-akhir ini.
Ceklek
"Zia?"
Istrinya menghilang, dipanggil hanya diam dan jelas ini membuat Mikhail kebingungan. Lampu juga sudah dia matikan, jika tidur lalu dimana, pikir Mikhail.
"Sayang ... kamu dimana?"
Mikhail menghidupkan lampu kamar, lagi-lagi dia hanya mampu menghela napas perlahan kala melihat istrinya sudah terbaring di lantai dengan satu kaki naik di tepian tempat tidur.
"Zia, kenapa tidurnya di sini?"
Bibirnya bahkan masih belepotan selai, makan berantakan dan menurut Mikhail ini menggemaskan. Jangankan terbangun, Zia masih begitu lelap bahkan mulai mendengkur. Secepat itu memang dia terlelap jika sudah menemukan posisi nyaman, dan dalam keadaan kenyang.
"Zia."
"Eeeuuunnnghhh, gamau!! Sana ... bulunya banyak, serem."
"Apanya?" tanya Mikhail menarik sudut bibir dan hampir terbahak akibat ini.
Dia mengigau, tidak terkejut karena ini sudah biasa. Sepertinya memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Mikhail membopong sang istri begitu hati-hati, takutnya terganggu dan wanita itu tidak akan tidur hingga pagi hari.
"Ya Tuhan, kamu balas dendam sama papa atau bagaimana? Hm?"
Mikhail mencolek perut Zia begitu pelan, malam ini dia benar-benar dibuat tersiksa. Mikhail dingin tapi selimut tidak boleh ada di tempat tidur, bahkan Zia menginginkan dia juga melepas pakaiannya. Kurang apa lagi penderitaannya sebagai calon papa.
"Hai! Nggak masalah kalau kamu perempuan, Sayang ... jangan marah lagi." Aneh sekali memang, selepas pulang dari rumah sakit Zia memang mulai berulah, meski sebelumnya sudah begitu tapi hari ini luar biasa parahnya.
**Tbc
Next rekomendasi novel siang ini**.
__ADS_1