Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 112 - Suamiable Sejati.


__ADS_3

Selama di rumah sakit, sama sekali Mikhail tidak meminta bantuan Kanaya untuk merawat Zia. Meski wanita itu sudah mengatakan jika dia bisa sendiri ke toilet sendiri, akan tetapi keakutan Mikhail memang sebesar itu.


Sudah dua malam Mikhail dibuat begadang , bukan hanya karena menjaga Mikhayla melainkan Zia juga. Memastikan istri dan putrinya tidur lebih dulu, barulah dia akan terlelap dengan dengan. Biasanya, Kanaya akan kembali datang ketika pagi datang dan siang menjelang.


"Siang ini biar Mama aja, kamu pulang dulu gih ... siapin kamar bayinya karena Zia sudah bisa pulang lusa."


"Rani yang siapin, Mama jangan licik ya."


Mikhail tak sebodoh itu dibohongi, kali ini Kanaya memintanya pulang jelas saja agar bisa lebih bebas bersama cucunya. Jika di hadapan Mikhail dia benar-benar berbatas bahkan mengendong cucunya saja tidak boleh lebih dari 10 menit dengan alasan bayi baru lahir tidak boleh digendong orang lain kecuali papa dan mamanya. Teori yang Mikhail ciptakan sediri dan tidak memaksakan seseorang harus menyukainya.


"Astaga, licik gimana, Mikhail?"


"Aku tau apa yang Mama pikirkan, apalagi nanti dua cecunguk itu datang ... pasti mereka yang minta Mama buat bujuk aku pulang kan?"


Selalu saja, tebakan Mikhail tidak pernah salah, memang benar zidny yang meminta. Keberadaan Mikhail hanya membuat dia sebagai penonton Mikhayla tanpa diperbolehkan memeluknya adalah puncak kekejaman Mikhail padanya, sedih sekali bukan jadi mereka.


Dulu Ibra juga sama pelitnya ketika Mikhail baru lahir. Akan tetapi tidak sepelit Mikhail yang bahkan pada orang tuanya sendiri dibatasi. Meski putranya menyebalkan, Ibra sebagai pria yang pernah merasakan kebahagiaan yang sama hanya memaklumi sikap Mikhail. Mungkin beberapa bulan ke depan baru dia perlahan mau berbagi, meski kemungkinannya memang sekecil itu.


Jika keduanya sedang berdebat ringan, main tuduh dan tidak mempercayai sang mama, Zia justru tak mendengarkan sama sekali perdebatan antara mereka. Wanita itu hanya fokus pada Mikhayla yang kini tengah menerima asupan dengan matanya lagi-lagi terpejam.


"Sudah belum, Zia?"


Sudah sejak tadi Kanaya menunggu, seharusnya dia sebagai putra yang baik mengalah sedikit, akan tetapi kali ini tidak. Entah itu Kanaya maupun Mikhail, keduanya sama. Sama-sama mabuk Mikhayla, umur Mikhayla belum satu minggu tapi sudah terbiasa mendengar sang papa dan oma memperebutkan dirinya.


"Udah, Ma .. nih udah nyenyak lagi."


Sepertinya tugas Zia memang hanya menyusui usai melahirkan putrinya. Karena setelah bayinya terlelap, Mikhayla tidak akan berada dalam pelukan Zia lagi. Sama seperti saat ini, sejak tadi Kanaya dan Mikhail sudah menunggu begitu antusias dan bahkan terus saja bertanya sudah selesai apa belum.


"Eits!! Sama Mama dulu ... kamu tadi udah bilang gantian," sergah Kanaya kala Mikhail hendak memotong langkahnya. Ya, pria itu memang sepertinya selain suka bohong dia juga kerap ingkar janji.


Mikhail menghela napas kasar, sepertinya memang satu bayi tidak akan cukup membuat dia puas. Pria itu menatap istrinya, meminta pengertian agar Mikhayla diberikan saja pada dirinya, bukan pada Kanaya.

__ADS_1


"Mama dulu, Mas, kamu pulang dulu sana ... anjiing kamu belum dikasih makan, Babas kan di sini."


Persetan dengan anjiing, mana mungkin Mikhail peduli tentang ini. Lagipula di rumah masih ada Rohman dan Rani, tidak mungkin mereka lalai meski memberi makan dogy bersaudara bukan tugasnya.


"Iya, Khail, atau kalau tidak temani Papa saja." Ibra turut bicara setelah sejak tadi diam.


Sepertinya mereka tengah bekerja sama untuk membuat Mikhail keluar, hingga pada puncaknya Ibra ikut-ikutan meminta Mikhail menemaninya ke dokter gigi. Seperti tidak ada hari lain aja, lagipula sejak kapan papanya jadi manja seperti ini.


"Papa kan bisa sendiri, kenapa harus bersamaku?"


"Sesekali, Khail ... perhitungan."


Mikhail adalah pria yang sangat memahami istrinya, sifat itu menurun dari sang papa. Apa yang Ibra lakukan ini demi membuat Kanaya lebih bebas bersama cucunya, karena tidak ingin mengatakannya secara langsung dan khawatir Mikhail marah, maka dari itu Ibra berusaha menjauhkan Mikhail dari istrinya dengan cara halus.


"Ck, ia-iya. Tunggu, Pa."


Dia memang sedikit kurang ajar dalam beberapa hal. Akan tetapi, jika orang tuanya sudah meminta pertolongan begini Mikhail takkan menolaknya. Sebelum pergi, Mikhail hendak pamit lebih dulu pada putri dan istrinya. Tentu saja lama, jika sebelum hadirnya sang putri waktu pamit Mikhail hanya lima menit pada Zia, kini waktunya dua kali lipat karena dia memiliki dua bidadari yang harus diperlakukan sama.


.


.


.


"Iyes!! Mereka beneran mau pergi sepertinya."


Baru juga keluar, Zidny dan Laura datang di saat yang tepat. Kemarin dia dilarang masuk padahal pihak rumah sakit saja mengizinkan. Akan tetapi, hari ini sepertinya berbeda. Tidak sia-sia Zidny rela membuat alasan sakit pada bos di kantornya demi bisa menemui Mikhayla siang ini.


Dengan wajah sok polos Zidny menyapa Ibra dan Mikhail sopan sebagaimana seharusnya. Laura pun tak ketinggalan memberikan senyum terbaiknya. Wibawa mantan calon mertuanya ini memang tak terkalahkan, sungguh Laura dibuat terkagum-kagum pada Ibra meski usianya tak lagi muda.


"Hm, Om Ibra mau kemana?"

__ADS_1


"Dokter gigi," jawab Ibra singkat, padat, jelas dan tidak terbantahkan.


"Apanya yang sakit, Om?" tanya Laura dengan mata bulatnya bertanya amat serius pada Ibra.


"Sakit jantung! Sudah tau ke dokter gigi masih saja bertanya."


Mulut siapa yang bicara? Ibra bahkan dibuat melongo mendengar jawaban putranya. Memang benar dan sama sekali tidak salah. Akan tetapi, bukankah jawaban Mikhail sedikit berlebihan, pikirnya.


"Khail? Nyumpahin?"


"Enggak, Pa ... mereka saja terlalu boddoh, " ujar Mikhail kemudian berlalu pergi lebih dulu. Bukan tidak niat menemani Ibra, melainkan suasana hatinya sedikit sebal akibat kehadiran dua wanita itu yang tak henti-hentinya terus mengusik setelah kemarin sempat Mikhail larang masuk dengan alasan dilarang berkerumun dan khawatir Zidny membawa virus. Aneh sekali bukan? Mikhail memang ketinggalan zaman.


"Maafkan Mikhail, akhir-akhir ini memang pikirannya sedikit kusut," tutur Ibra merasa tak enak hati pada kedua putri sahabat baiknya ini.


Akhir-akhir ini? Sejak dulu memang Mikhail begitu. Bukan hanya beberapa hari ini, hanya saja memang setelah memiliki Zia pria itu kian tak tersentuh dan enggan diusik padahal niat mereka sangatlah baik.


"Kenapa mereka berbeda ya? Hm jadi penasaran dulu om Ibra pas masih muda pasti baik banget."


Keduanya menatap bahu Ibra yang kian menjauh, setiap Mikhail berbuat kesalahan, Ibra akan selalu meminta maaf demi membuat orang lain tidak menyimpan dendam terhadap putranya. Wajar saja hingga usianya menua, Ibra menjadi papa yang sangat diimpikan.


"Kenapa kita jadi melamun, buruan masuk!! Sebelum bang Cio pulang kita puas-puasin peluk Baby Qia," seru Laura tak sabar bertemu putri Mikhail, sengaja membawa banyak sekali buah demi membujuk hati Zia nantinya.


"Baby Qia?"


"Kan namanya begitu, kak Zidny nggak ingat namanya atau gimana?"


"Mikhayla!! Kebiasaan manggil orang pakek akhirnya."


Setelah memanggil Mikhail dengan sebutan bang Cio, kini Laura juga mengganti panggilan Mikhayla. Entah karena dia malas menyebutnya atau memang berusaha terlihat berbeda.


"Sama aja lah, kita mungkin berbeda, mau Mikhayla mau Qia ... intinya Zia versi travel size," jelas Laura tak terbantahkan dan mendahului Zidny seenak jidat hingga wanita itumerasa dikhianati lantaran ditinggal tanpa aba-aba.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2