Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 73 - Salah Curiga


__ADS_3

"Aaaww ... sakit, Zia."


Sakit? Zia tidak salah dengar Mikhail memang mengeluh sakit. Zico mendorongnya cukup kuat hingga punggung Mikhail bahkan terasa linu, memang benar-benar kurang ajar adik sepupunya itu.


Terpaksa! Zia merangkap jadi tukang pijat malam ini, disentuh pelan protes tidak berasa namun jika terlalu ditekan dia merintih lantaran sakit. Sungguh sulit sekali Zia selesaikan masalahnya malam ini.


"Agak ke atas dikit, Zico siallan ... leherku rasanya mau patah," desis Mikhail seraya menggerak-gerakan pelan lehernya, sepertinya Zico mengeluarkan tenaga dalam hingga berhasil membuat tulang Mikhail seakan remuk semua.


"Kamu sih, kenapa juga harus seperti tadi, Mas?"


Zia menyentuh pelan leher Mikhail dan memastikan tidak ada memar di sana. Sempat membuat darahnya hampir tumpah akibat serangan Zico, wanita itu sampai bingung sendiri kapan Mikhail bisa tenang sedikit saja.


"Khilaf, Zia ... Mas tidak terima kamu dia anggap seburuk itu."


Mikhail bicara dengan mata terpejam, dia menikmati sentuhan dari jemari Zia yang terasa melegakan leher dan punggungnya. Sudah hampir tiga puluh menit dan Mikhail belum sama sekali berpikir untuk meminta Zia berhenti.


"Tapi tadi kamu hampir buat dia celaka, Mas."


Hampir apanya, jika seseorang bahkan dilarikan ke rumah sakit akibat kesulitan bernapas artinya sudah celaka. Mikhail sedikit mengabaikan fakta itu, dia bahkan merasa kurang hanya membuat Aleena pingsan.


"Belum seberapa, Zia. Andai Mas sendiri mungkin bisa lebih dari itu."


Mikhail menoleh pada Zia yang masih fokus memijat punggungnya, entah kenapa istrinya masih saja betah menelurusi punggung lebar Mikhail.


"Jangan main hakim sendiri, kalau sampai bunuh orang gimana? Mas bisa masuk penjara terus aku sendirian di rumah kan bahaya," celoteh Zia membuat Mikhail membeliak dan tidak suka dengan bayangan Zia yang dia anggap terlalu jauh.


"Ck, pikiranmu terlalu jauh."


Mikhail merubah posisinya jadi telentang, dengan begini dapat dia tatap dengan puas wajah teduh sang istri. Sejak tadi Zia seakan menyangkan tindakan Mikhail yang memang cukup kasar itu, akan tetapi di matanya juga terdapat luka yang tidak main-main.


"Sejak kapan?" tanya Mikhail kemudian, jika dia lihat sepertinya Zia sudah lama terluka dengan kata-kata itu.


"Apanya?" tanya Zia kemudian, wanita itu menatap bingung Mikhail yang kerap sekali bertanya setengah-setengah begini.

__ADS_1


"Dia begitu sama kamu, pasti sebelumnya juga pernah kan?"


Mikhail menatap intens Zia, andai jawaban Zia adalah "Iya" maka sungguh Mikhail menyesal hanya mencekik Aleena malam ini.


"Hem, sejak beberapa hari setelah kita menikah dia memang memanggilku begitu jika hanya berdua," jawab Zia jujur dan tidak mengada-ngada.


Sebenarnya dia tidak lagi begitu peduli selama Aleena tidak terang-terangan menyentuh fisiknya. Zia mampu menganggapnya angin lalu dan tidak peduli berapapun Aleena berusaha mencacinya jika sedang seorang diri.


"What? Kenapa kamu diam saja, Zia?" tanya Mikhail tak habis pikir, pandai sekali Aleena bersandiwara ternyata.


Wajar saja setiap Aleena datang Zia akan memilih masuk kamar dan sibuk dengan urusanny sendiri. Mikhail baru memahami kenapa istrinya kerap menjauh dan bergabung bersama Kanaya beberapa waktu terakhir jika Abygail berserta anak dan istrinya datang ke rumah.


"Aku nggak diam, Mas pikir aku terima-terima aja dia manggil aku begitu? Enggaklah, cuma aku jaga sikap aja di depan Mama, Papa dan orang-orang di sini."


-


.


.


.


"Tapi setidaknya kamu katakan sama Mas kalau memang kamu tidak bisa menghajar mulutnya, Zia."


"Sempat berpikir begitu, tapi sepertinya Mas nggak akan percaya kalau aku mengadu waktu itu."


Benar juga, karena memang Mikhail bahkan hampir tak percaya jika Aleena bisa berpikir sepicik itu tentang Zia. Jika malam ini tidak terjadi kericuhan antara Lorenza dan Aleena, mungkin Mikhail akan percaya jika Aleena adalah sosok yang paling peduli pada Zia setelah Kanaya.


"Ck udahlah!! Mas kenapa ngeliatin aku begitu."


Terlalu lama ditatap Zia salah tingkah, padahal Mikhail tengah merenungi betapa sulitnya Zia bertahan dengan sandiwara yang diciptakan adik sepupunya.


"Selain ini, apa ada hal lain yang kamu sembunyikan, Zia?" desak Mikhail meminta penjelasan, takut jika banyak orang yang menggunakan topeng yang sama di sekitaran hidup Zia.

__ADS_1


"Nggak, cuma ini."


"Yakin? Jangan takut mengatakan apapun itu ... sekalipun itu Mama," desak Mikhail menuntutnya lebih keras, karena kecewanya pada Aleena pria itu bahkan meragukan kesungguhan sang mama pada istrinya.


"Nggak, Mas! Memang cuma dia," jawab Zia lembut namun dengan menekan setiap kalimatnya, karena hal ini Mikhail jadi benar-benar serius.


"Apa perlu Mas pastikan dari CCTV di rumah ini, Zia?" ancam Mikhail membuat Zia mengerutkan dahinya.


"Mastiin apa? Mas jangan macem-macem deh mikirnya," ungkap Zia mulai merasa Mikhail semakin mengada-ngada.


"Mas serius, Zia ... jangan sampai nasib kamu sama seperti berita-berita kriminal di luaran sana," tutur Mikhail kini duduk dan siap melontarkan pertanyaan-pertanyaannya.


"Astaga, apasih?"


"Luka di tangan kamu, apa benar karena potong bawang? Memar di lutut, apa benar kepentok meja? Darah di balkon apa benar itu karena tertusuk jarum?"


Apa-apaan, semua kecelakaan kecil karena kecerobohan Zia sendiri kini dia ungkit dan dimintai keterangan layaknya korban penganiayaan. Zia bingung mana yang harus dia jawab lebih dulu lantaran Mikhail bertanya persis aparat kepolisian.


"Iyaa ... Mas kenapa jadi aneh banget sih, periksa aja di CCTV kalau memang nggak percaya. Di rumah ini cuma ada Mama, Mba Rani dan Mbok Ningsih ... masa iya Mas curiga sama mereka," tukas Zia menatap Mikhail heran, bisa-bisanya dia berpikir dunia sejahat itu padanya.


"Ya siapa tau, Mas hanya ingin memastikan karena sejatinya manusia itu lebih jahat daripada iblis, Zia."


"Tapi Mas curiganya sama Mama sendiri itu nggak baik, mana mungkin Mama sejahat itu, Mikhail." Zia menepuk kening Mikhail yang sepertinya perlu diberikan pencerahan dan tidak menaruh curiga berlebihan.


"Ck, terserahlah ... kamu belum tau aja Mama kalau marah gimana. Sadis luar biasa, Zia!" Ada saja yang membuat dia curiga sebenarnya, Kanaya yang kerap marah bahkan membuat tubuhnya sakit semua tidak menutup kemungkinan jika watak mertua kejam melekat pada sang Mama, batin pria itu seakan bicara.


"Ya Tuhan, nggak beg...."


"Sama satu lagi, bibir kamu yang luka dan bengkak satu minggu lalu karena apa? Kamu belum jawab dan justru marah-marah kalau ditanya," tutur Mikhail masih penasaran dengan hal itu, marahnya Zia tidak bercanda bahkan tega memukul dadanya kala Mikhail mempertanyakan hal itu.


"Karena Mas sendiri, masa nggak sadar ... dimana-dimana cium pakek perasaan, nggak ada orang yang gigit bibir istrinya sampe luka begitu." Zia sudah berusaha melupakan namun Mikhail kembali mengingatkan.


"Apa iya karena Mas? Bukannya memang karena kamu yang berusaha nolak?" Mana mau dia disalahkan.

__ADS_1


"Ya kamu mikirlah, Mas!! di dapur tiba-tiba nyosor!! Untung Mba Rani nggak liat," omel Zia sembari melemparkan bantal tepat di wajah Mikhail yang sok-sok tidak bersalah itu.


Tbc


__ADS_2