Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 50 - Perusak Suasana


__ADS_3

Terpaksa mandi dua kali, sungguh ini sebenarnya sangat-sangat menyebalkan. Hanya saja, kembali lagi dia di sini tidak tinggal sendiri dan ada mertua. Meski memang Kanaya bukan mertua yang sensitif, tetap saja Zia harus berusaha menjaga sikapnya.


Sementara dia biarkan Mikhail kembali tertidur setelah membuat paginya sepanas itu. Pria itu tumbang dan terbaring di tempat tidur, Zia memanfaatkan waktu dan segera mengenakan pakaiannya sebelum Mikhail menyadari dia sudah selesai mandi lagi.


Membiasakan hidup sebagai menantu, kehidupan yang dia takutkan ternyata tak seburuk itu. Zia menarik selimut dan menutupi tubuh Mikhail polos hingga dada, meski sudah kerap melihatnya secara langsung tetap saja Zia memalingkan wajah lantaran geli.


"Meresahkan, aku dipaksa dewasa padahal belum waktunya."


Memastikan Mikhail tidur dengan nyaman dan istirahat siang ini, mungkin memang dia lelah. Lagipula ini adalah hari minggu, memang waktunya pria itu menghabiskan harinya untuk istirahat.


Dengan langkah pelan dia keluar kamar, matahari sudah tinggi, meski pagi ini memang tak selama tadi malam tetap saja lama bagi Zia. Ketakutan akan kemarahan Kanaya jelas saja ada, segera dia turun menuju dapur berharap ada yang bisa dia lakukan, minimal membantu menyiapkan makan siang.


Rumah terasa sepi, sepertinya memang semuanya sudah sibuk sendiri. Syakil juga tidak terlihat, pria itu memang kerap menghabiskan waktu di luar. Entah itu toko buku ataupun menghabiskan waktu dengan menonton sendiri.


"Bi, kenapa sepi? Mama kemana?"


Hanya ada Rani yang kini menghampirinya ke ruang makan. Wanita itu memang datang untuk melayani Zia seperti yang Kanaya perintahkan sebelum dia pergi arisan bersama teman-temannya.


"Nyonya arisan, Non ... sarapannya sudah saya siapkan, walau sudah telat tetap harus dimakan ya."


Rani memaklumi, mereka pengantin baru jadi wajar saja bangun siang.


"Mama lama nggak, Bi?"


"Biasanya sore, kalau di rumah Nyonya Lorenza memang lama karena lumayan jauh juga, Non."


Ya, dimanapun itu Zia hanya bertanya karena mau dijelaskan seperti apapun dia takkan paham dimana letaknya.


Perut Zia yang memang terasa kosong sejak tadi tak ingin terlalu banyak basa basi. Saat ini apa saja yang ada di depan mata rasanya ingin Zia lahap semua, Mikhail memang benar-benar tidak memikirkan jika istrinya kelaparan karena dia memaksa sarapan seperti tadi.


"Nggak mual, Non?"


Zia menggeleng, sekarang memang tidak begitu dia rasakan lagi. Tiga bulan awal adalah puncak tersiksanya Zia, berjuang sendiri dan berusaha menyembunyikan kehamilan pada orang sekitarnya karena dia juga butuh uang waktu itu.

__ADS_1


Mual, pusing bahkan terkadang benar-benar terbaring tanpa siapapun di sisinya. Saat-saat seperti itu memang dia menginginkan Mikhail datang, akan tetapi kembali lagi dia menyadarkan diri bahwa yang meninggalkan tak seharusnya menanti kedatangan.


"Syukurlah kalau begitu, kalau saya dulu mualnya keterlaluan, Non ... liat nasi aja nggak bisa, Non."


Rani mengajaknya bicara bukan tanpa alasan, Kanaya bilang dia tidak ingin menantunya kesepian. Mau sebahagia apapun dia bersama Mikhail, kekhawatiran akan tidak dewasanya Zia dalam menghadapi kenyataan tetap Kanaya takutkan.


"Tante!!"


Suara itu kemudian terdengar melengking, Rani beranjak dan menghela napas kasar. Kehadiran keponakan Kanaya yang satu ini biasanya memang untuk menguji kesabaran.


"Bi ... tante Naya mana? Kenapa nggak ada?"


Dengan nada yang sedikit meninggi dia bertanya sembari menatap tajam Rani yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Gadis ini memang sangat berbeda dari orang tuanya, sama sekali tidak ada kata sabar dalam dirinya.


"Arisan, Non, mungkin sore baru pulang ... Non Aleena ada perlu apa kesini?"


Rani bertanya baik-baik, dia hanya ingin tahu tujuan putri dari kakak kandung Kanaya ini.


"Kenapa memangnya? Masalah? Tante aja nggak sewot aku datang, kok pembantunya berani larang," ungkapnya kesal, gadis itu melipat tangan di atas perutnya dan kini menatap ke arah Zia yang masih meneruskan sarapannya.


"Udah deh, mending Bibi bikinin Alee susu anget."


Mendengarnya saja Zia sudah muak, di hari pernikahan anak ini sudah membuatnya terluka. Kini dia datang lagi, entah apa tujuannya namun firasat Zia sudah tidak baik-baik saja.


-


.


.


.


"Ehem-ehem, nggak ada niatan ngajak aku makan juga?"

__ADS_1


Kepergian Rani membuatnya merasa memiliki kebebasan, Aleena masih menatap Zia seperti kemarin. Sehina itu baginya seorang Zia karena menggoda kakak sepupunya.


"Kamu juga tidak akan mau kan?" Zia menjawab dengan santai, meski paham saat ini Aleena mencoba untuk melukai hatinya.


"Hahah bagus deh kalau paham ... ehm, kemarin nggak sempet tanya, kandunganmu berapa bulan? Kok makin keliatan besar sekarang?" tanya Aleena sengaja menatap teliti perut Zia dari jarak yang lebih dekat, ini sama sekali tidak sopan.


Hanya pertanyaan singkat, namun entah kenapa Zia merasa tidak nyaman. Terlepas dari siapa Aleena tetap saja pertanyaan ini membuat dia tidak suka.


"Ckck, enak banget ya jadi kamu ... tinggal ngaku-ngaku hamil anak kak Mikhail terus dinikahin. Padahal kak Mikhail sakit lumayan lama, aku jadi tidak yakin kalau itu benar anaknya," ucapnya santai sekali, tanpa peduli saat ini Zia luar biasa sakit hati.


"Jaga mulut kamu ya, jangan karena kamu lebih tua bisa seenaknya bicara!!"


Usia Aleena tampaknya tak begitu jauh dari Mikhail, ketika usai pernikahan juga dia dikenalkan Mikhail sebagai adik sepupunya dan usia Zia memang cukup jauh hingga Mikhail mengizinkan istrinya memanggil dengan sebutan kakak jika mau.


"Bukan masalah tua atau tidaknya, aku hanya bicara fakta ... aku hanya tidak ingin kak Mikhail diperalat cewek munafik sok polos seperti kamu!!"


Zia naik pitam, pernyataan jika dia munafik dan membawa masalah bayi dalam kandungannya terasa sangat memilukan. Zia beranjak dari kursi dan kini berdiri di hadapan Aleena.


"Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari? Sengaja menemuiku atau bagaimana?"


Aleena berdecih, sebelumnya tujuan datang memang untuk mengajak Kanaya jalan-jalan. Hanya saja kala mengetahui yang ada di rumah justru Zia, dia kembali mengingat jika pembicaraan mereka di hari pernikahan Mikhail belum selesai lantaran Mikhail mengajak Zia pergi segera.


"Hm, sebetulnya tidak ... tapi karena kita sudah bertemu sepertinya memang ini saatnya. Kamu dengar ya, jangan hanya karena Tante Naya menerima kamu sebagai menantunya kamu aman-aman saja, dia begitu karena percaya jika anak itu adalah anak Mikhail ... tapi aku sama sekali tidak percaya, pasti itu anak pria lain yang juga suka celap celup seperti Mikhail."


"Terserah, kamu pikir aku takut dengan ancamanmu itu? Sama sekali tidak!"


"Dasar tidak punya malu, wanita rendahan sepertimu tidak sepantasnya masuk keluarga kami, paham?!!" bentak Aleena menggema, dia benar-benar membenci Zia sejak pertama kali melihatnya.


"Keluargamu? Aku sama sekali tidak mengusik keluargamu, lagipula kamu bukan anak Mama dan Papa kan," ucap Zia santai dan memilih berlalu, tak ingin mendengar kalimat yang lebih menyakiti hatinya lagi.


"Heh, pelacurr!! Aku belum selesai bicara!!"


"ALENA JAGA MULUTMU!!!"

__ADS_1


Bersamaan dengan langkah Zia yang kini terhenti, derab langkah yang lain kini terdengar kian dekat. Bentakan tak kalah kasar bahkan membuat Zia sendiri terperanjat karenanya.


Tbc


__ADS_2