Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BONUS CHAPTER IX


__ADS_3

Setelah drama tadi pagi yang membuat keluarga Mikhail terpisah menjadi dua kubu, kini nampaknya sudah baik-baik lagi. Tapi tetap saja, Khayla dengan sejuta jurusnya membuat Bastian terselamatkan dan membuatnya masih berkuasa atas Khayla.


Sejak dia memiliki adik dan waktu Mikhail terbagi, Khayla memang lebih memilih Bastian sebagai pelariannya. Bukan karena tidak sayang Mikhail, akan tetapi memang begitu cara Khayla mendapatkan kasih sayang agar tidak kekurangan.


"Huft, dia putriku, Bas ... bisa-bisanya dalam waktu beberapa bulan berhasil membuatnya berpaling," gerutu Mikhail seakan tak terima dengan kedekatan putri dan sopirnya.


"Sudah, biarkan saja, Mas. Lagipula kita berdua nggak bisa selalu gendong Khayla lagi."


Khayla pencemburu, dia tidak mau berbagi dan tidak suka dibagi. Sekalinya sudah terbagi, maka dia akan memilih pergi dan mencari seseorang yang hanya memprioritaskan dirinya. Dalam hal ini, Bastian orangnya.


Memilih mengalah dan membiarkan Sean dan Zean jadi yang utama bagi orang tuanya. Padahal, sama sekali tidak ada pembedaan, hanya saja setelah putranya lahir memang jelas saja Mikhail tidak bisa hanya fokus pada Mikhayla seorang.


"Tapi aku iri melihatnya, Zia ... lihat, dia bahkan tidur di pelukan Babas, ays menyebalkan sekali."


Sama-sama pencemburu, sayangnya Khayla tidak memiliki toleransi sedikitpun pada Mikhail. Di antara banyak pilihan kenapa putrinya justru memilih Bastian, padahal di rumahnya juga ada Rani yang bisa Mikhayla jadikan pilihan.


"Astaga, Mas, Babas juga cuma jagain Khayla loh ... udah jangan berisik, bentar lagi mulai nih akadnya."


Sejak tadi Zia sudah sebal lantaran Mikhail yang terus saja mengomel tanpa henti. Padahal, saat ini adalah yang ditunggu-tunggu dimana pengantin pria akan melakukan hal yang paling sakral dalam sebuah pernikahan.

__ADS_1


"Kita dulu kenapa nggak pakai begituan? Kan cantik, Zia." Mikhail justru terpesona dengan hiasan di kepala sang pengantin wanita, Erika.


"Halah udah deh, Mas ... jangan disamain, siger tu berat sementara dulu aku sudah kamu hamilin dulu mana bisa pakai begituan," bisiknya pelan, khawatir jika ada yange mendengar.


"Salah kamu pakek acara kabur segala, coba kalau nggak pergi."


Pembicaraan mereka jadi meleber ke masa lalu. Mikhail memang memiliki ingatan super tajam dan luar biasa hingga kini sampai ke titik dimana dia bisa mengulik dan membuat posisi Zia terpojok.


"Kan salah kamu diemin aku lebih dari seminggu, aku pikir nggak butuh aku lagi lah ... dari pada nyakitin Zidan terus sama kamu juga nggak bakalan lagi ya aku pergi," tutur Zia santai seolah-olah itu memang pilihan paling tepat kala itu, padahal Mikhail yang diam juga gara-gara dia yang tidak juga melepaskan Zidan.


"Jadi kamu pergi nggak lama dari malam itu, Zia?"


"Malam apa?"


"Kok kamu tau aku mutusin dia malam?" tanya Zia bingung sendiri, karena sama sekali dia tidak pernah membahas masalah itu sejak lama.


"Malam itu, Mas juga datang ke kost mu ... tapi, karena status Mas hanya simpanan kamu ya Mas cuma tunggu di luar."


Malam itu, Mikhail ingin masuk. Hanya saja, dia menghargai posisi Zidan sebagai pria yang memang saat itu menjadi kekasih Zia. Lagipula, dia berpikir malam itu Zia tengah berusaha untuk usai dengan satu cintanya. Hal itulah yang membuat dia galau seketika.

__ADS_1


"Simpanan apanya, Mas ... kamu yang nyimpen aku, sembarangan banget nyebutnya." Sampai detik ini Zia sangat tidak suka kala Mikhail menyebutnya sebagai simpanan, entah kenapa dia sebal saja.


"Sama-sama simpanan, iya kan Zean?"


Sejak tadi putranya menatap wajah sang papa yang tengah memberikan penjelasan pada mamanya. Mereka cukup penasaran sepertinya dengan kisah percintaan kedua orang tuanya.


"Nanti kita resepsi ulang ya, pakai baju yang begitu," tutur Mikhail sekenanya, entah itu bercanda atau memang keinginan namun yang pasti Zia mendelik seketika.


"Udah tua, jangan banyak ulah."


"Loh nggak masalah dong, biar anak-anak kita nggak protes kenapa nggak diundang ke pernikahan kita, Zia." Idenya memang patut diacungi jempol, bukan hanya jempol tangan melainkan jempol kaki.


"Udah-udah diem dulu, Mas ... penghulunya udah mulai tuh." Sibuk sekali membahas kehidupan mereka sendiri hingga kini sudah waktunya Zidan dan Erika melepas masa lajangnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Masih ada guys.


__ADS_2