Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 81 - Menyesal Memang Belakangan.


__ADS_3

tak jauh berbeda dengan Ibra, reaksi yang sama juga diperlihatkan Kanaya maupun Zia. Kelakuan putranya yang tak lazim itu membuat sang mama terguncang. Untuk apa? dengan alasan apa? Dan di antara hewan peliharaan kenapa anjiing yang Mikhail pilih.


"Mas?"


"Hm? Kenapa? Lucu kan, sayang?"


Lucu dimananya, sejak kapan hewan semenyeramkan itu dianggap lucu. melihat dari jarak 10 meter saja Zia takut, kini Mikhail hadirkan di rumah dan jumlahnya tidak hanya satu.


"Khail? Buat apa kamu pelihara anjiing sebanyak itu?"


Kanaya tak habis pikir, inspirasi dari mana yang membuat Mikhail memutuskan memlihara hewan berkaki empat itu.


Jaga rumah, Ma ... karena mungkin aku akan sering pulang terlambat, jika hanya mengandalkan security aku khawatir, Ma."


Memang tidak salah, tujuannya sangat benar. Akan tetapi, Mikhail tidak memahami keadaan lebih dulu. Jika dia memelihara hewan itu, yang takut bukan hanya penjahat melainkan istrinya sendiri.


"Kamu jangan bercanda ya, aku nggak suka sama mereka, Mas!!"


Semakin takut lagi kala hewan itu seakan menyapa majikan barunya. Mikhail menarik sudut bibir, ekornya yang bergerak-gerak dan lidah dua warna yang menjulur itu menunjukkan jika anjiing yang Bryan pilihkan benar-benar bisa diandalkan nantinya.


"Nggak, itu juga dirantai, Sayang ... tenang dong."


Mau dirantai ataupun dipasung sekalipun dia tidak perduli. Yang namanya anjiing tetap saja menakutkan dan Zia sama sekali tidak suka. Meski Mikhail berusaha menenangkannya, tetap saja rasa takut Zia sebesar itu.


"Kandangin sana!! Harusnya tanya aku dulu sebelum beli apa-apa tu," kesal Zia mencubit lengan Mikhail sekuatnya.


Jika benar begini, Zia berpikir semua yang Mikhail ungkapkan pada Zidny maupun Laura tidak berbohong sama sekali. Anjiing yang dia maksudkan ialah peliharaannya sendiri. Mengingat hal ini, Zia tiba-tiba berpikir tentang ucapan Mikhail yang lainnya, jika sampai terealisasikan, Zia lebih baik kembali ke rumah mertuanya.


"Bas jangan lupa kasih makannya ya."


Lebih menyebalkan lagi Bastian seakan menyukai tanggung jawab barunya. Gonggongannya membuat dada Zia berdebar tak karuan. Sejak tadi dia menggengggam erat tangan Mikhail lantaran khawatir suaminya justru menghampiri dan nanti terjadi hal-hal yang tidak diingini.


"Dasar aneh, Mama nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu, Mikhail."


Kanaya berlalu masuk dan memilih menemui Ibra. Suaminya sejak tdi sama sekali tak tertarik untuk melihat lebih dekat. Alasannya sama saja seperti Zia, mendengar suaranya saja Ibra sudah ketakutan , apalagi jika berdekatan.

__ADS_1


Ketiganya sama sekali tak menerima kehadiran anjiing-anjiing itu sebagai personil baru di rumahnya. Lain halnya dengan Mikhail yang merasa coita-citanya benar-benar berhasil, dengan begini bisa dipastikan Zidny ataupun Laura tidaka akan tertarik berkunjung ke rumahnya.


"Ayo masuk, hari ini perkenalannya cukup di sini dulu ya, besok-besok kalau kamu mau interaksi sama mereka baru boleh," tutur Mikhail seolah Zia benar-benar menyukai mereka.


"Dih enak aja, sorry ... siapa yang mau interaksi sama mereka, digigit baru tau rasa."


Zia memukul perut Mikhail hingga pria itu mengaduh sakit, sebelum meninggalkannya masuk nampaknya Zia merasa tak puas jika belum menyakitinya.


"Zia-Zia! Tunggu, Sayang ... Kamu marah?"


Sudah terlanjur, lagipula jika mendengar alasan Mikhail memelihara anjiing tidaklah masalah. Akan tetapi, jumlahnya yang mencapai empat ekor itu cukup berhasil membuat Zia naik darah.


"Nggak, cuma lain kali Mas pikir-pikir lagi deh ."


Langkahnya kian cepat saja, semakin cepat Zia semakin cepat juga langkah Mikhail. Mereka berjalan beriringan dan disaksikan Ibra serta Kanaya. Kanaya seakan menyesal telah membela Mikhail di hadapan Ibra sebelumnya.


"Itu yang selalu kamu bela," bisik Ibra di dekat telinga Kanaya, puas sekali rasanya jadi Ibra saat ini.


"Mas diem ya, Mas juga suka belain dia kalau aku marah."


Sama-sama, mereka tidak ada bedanya. baik Ibra maupun Kanaya sama saja. Sama-sama kerap menjadi tameng jika salah-satunya meluapkan amarah pada Mikhail


.


.


.


"Sayang, beneran nggak marah?"


Sebenarnya bukan marah, hanya saja telinga Zia terasa sakit akibat gonggongan keempat hewan kesayangan Mikhail itu. Mungkin Bastian terlalu bahagia sehingga berusaha membuat makluk berbulu itu terus saja bersuara.


"Enggak, masa marah."


Mulutnya memang tidak mengatakan dia marah, akan tetapi sejak tadi Mikhail mengikuti Zia terus menerus dan Zia sibuk sendiri dengan kesibukannya.

__ADS_1


Keberadaannya di dapur benar-benar mengganggu sebenarnya. Rani dan Kanaya hanya bisa saling pandang dan memendam semua cercaan tertahan dalam diri mereka.


Terasa sekali perbedaannya, Mikhail sebebas itu lantaran ini memang rumah untuk mereka berdua. Dia tidak peduli meski di sini ada orang lain, padahal di rumahnya ada Ibra yang bertamu dan dia memilih berada di sisi sang istri lantaran kemarahannya pada Ibra masih begitu tingginya.


"Astaga, Mikhail!! Kamu mending ngobrol sama Papa sana, ngapain di sini ... ganggu, Khail."


Ingin rasanya Kanaya menyiram sup yang kini mendidih ke kakinya agar pria itu sejenak menjauh. Pembicaraan dia masih sama dan terus saja membahas perkara penghuni baru di rumahnya.


"Ck, Papa sibuk sama om Axel di sana ... ngapain aku ikutan, main catur nggak bisa bertiga, Ma."


Jawabannya akan selalu ada, Zia bahkan bingung bagaimana cara membuat suaminya menjauh. Butuh sekali dia validasi jika tidak marah, meski sudah dia jelaskan berkali-kali jika tidak marah tetap saja Mikhail berusaha mendapatkan perlakuan manis dari sang istri sebagai bukti jika memang tidak marah.


"Ya tapi kamu di sini ganggu, Mikhail!! Mama mau masak astaga!!" sentak Kanaya kian meninggi.


"Ya Tuhan Mama ... aku nggak ganggu, lagipula yang aku peluk Zia bukan Mama."


Istrinya sudah malu luar biasa namun Mikhail sama sekali tak memikirkan hal itu. Wajah temboknya memang terlihat amat tenang dan menurut dia tidak ada yang salah.


Alangkah menyesalnya jadi Kanaya, sejak kemarin putranya sudah berulah. Susah payah dia membela Mikhail di hadapan Adiba, memohon agar Adiba memberikan maafnya. Akan tetapi, yang terjadi justru berbeda dan memang benar kata Syakil jika membela Mikhail adalah awal dari sebuah penyesalan.


"Den ... ada tamu, cari Den Mikhail katanya."


Kanaya dan Zia saling tatap kala Ningsih berlari dari pintu depan. Pikiran mereka sudah macam-macam dan Zia ketar-ketir apa lagi yang datang setelah ini.


"Sendirian?"


"Iya, Den sendiri."


Mikhail melepas pelukannya, hendak berlalu dan menemui tamu yang dimaksudkan oleh Ningsih. Akan tetapi, baru saja melangkah Zia menarik pergelangan tangan Mikhail dan menatap Mikhail dengan sebegitu tajamnya.


"Apalagi? Mas nggak beli babii juga kan?" tanya Zia tak memberikan izin suaminya untuk menjauh sedikitpun.


"E-enggak, Zia ... Mas lihat dulu, kamu tunggu di sini ya," tutur Mikhail pelan dan meminta Zia untuk tidak mengikuti langkahnya, Mikhail perlu tahu lebih dulu karena tuduhan Zia kali ini memang salah.


"Aku mau ikut."

__ADS_1


"Tunggu di sini saja, ini urusan laki-laki, Zia."


Tbc


__ADS_2