Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 82 - Melihat Bidadari


__ADS_3

"Surprise!!"


Membuat panik saja, Mikhail sudah menduga-duga siapa yang datang selanjutnya. Pasalnya dia benar-benar khawatir jika yang datang adalah manusia-manusia tak bermalu itu.


"Ck ... kau kenapa tidak menghubungiku lebih dulu?"


Wajah senyam senyum Edgard terlihat menyebalkan bagi Mikhail. Rasanya lebih baik didatangi babii sungguhan daripada pria sinting yang sempat mengatakan jika Zia adalah tokoh fiksi khayalan Mikhail.


"Tidak perlu repot-repot, Khail, aku bisa datang sendiri tanpa perlu kau jemput."


Siapa juga yang ingin menjemputnya, sama sekali Mikhail tak memiliki pikiran kesana. Yang dia maksudkan sebaiknya memberitahu lebih dulu ialah agar dia bisa memerintahkan Jackson yang tengah berjaga di pintu gerbang untuk menahan kedatangannya.


"Mau apa kau?" tanya Mikhail malas semalas-malasnya, bahkan saat ini menatap Edgard saja dia enggan.


"Mengucapkan selamat untukmu lah, lihat kau pasti suka hadiah yang aku bawakan."


Edgard dengan percaya diri yang luar biasa besar membawakan sebuah guci antik dan bisa dipastikan mahal harganya. Sayang sekali, hal-hal yang begitu sama sekali tidak Mikhail sukai.


"Bawa pulang saja, seleramu kuno sekali," ketus Mikhail kemudian berlalu dan pergi tanpa peduli jika Edgard akan tersinggung atau lainnya.


"What? Hey kau tau ini harganya berapa? 1,7 M!!"


Hingga detik ini Mikhail belum mempersilahkan Edgard masuk. Ya, jangan bicara perihal sopan santun karena hingga saat ini Mikhail paling sangat pemilih dalam bersikap terhadap orang lain.


"Tapi bagiku tidak berguna, kau simpan saja."


Edgard menghela napasnya kasar, sungguh kecewa dia hari ini. Setelah tadi pagi merayu Gaby namun yang terjadi justru amukan lantatan wanita itu tengah datang bulan di hari pertama.


Kini, setelah jauh-jauh di datang dan mendapat alamat dari Bryan yang terjadi justru penolakan Mikhail padahal hadiah yang dia bawakan tak main-main.


"Mas, kenapa nggak masuk?"


Cukup lama berbincang perihal benda antik itu, suara lembut nan menenangkan itu terdengar dan membuat Edgard terpana dalam waktu sekejab.


Wajahnya, suaranya, kelembutannya dan ini benar-benar sempurna. Kecantikan Zia di foto hanya 25 persen dari keseluruhannya, pria itu bahkan lupa jika yang kini dia tatap adalah istri orang.


"Hentikan, Edgard ... kau mau pulang dalam keadaan buta?" ancam Mikhail tiba-tiba kesal akibat Edgard yang tiba-tiba bungkam, terdiam dan tanpa suara dengan mata yang benar-benar terkunci memandangi istrinya.


"Istrimu?" tanya Edgard kembali menngedipkan matanya berkali-kali, sewaktu pernikahan dia tak memiliki waktu untuk bertemu lebih lama dengan mereka, jadi wajar saja kali ini dia dibungkam pesona Zia.

__ADS_1


Edgard seakan tak percaya, wanita ini benar-benar berbeda. Kelasnya berbeda dengan yang kerap Mikhail jadikan pemuas belaka selama ini, sempat meragukan kecantikan Zia dan mengatakan jika Zia hanyalah gadis belia yang bodynya saja masih dalam pertumbuhan, kini Edgard tertampar kenyataan.


"Menurutmu? Apa mungkin istri Bryan kubawa kesini?"


Pertanyaan yang memang tak seharusnya ditanyakan, tidak penting dan lebih baik tidak dijawab. Edgard tak peduli dengan ketusnya seorang Mikhail, baginya selagi Zia begitu baik maka tidak ada yang perlu dia khawatirkan.


"Edgard ... benarkah ini yang namanya Zia?"


Senyum Edgard menghangat, sumpah demi apapun Mikhail ingin sekali meremmas wajah pria blasteran itu tiba-tiba. Dengan santainya dia mengulurkan tangan dan mengedipkan matanya sebagai sebuah perkenalan.


Zia ragu, dia tatap suaminya sebagai ungkapan meminta izin untuk menerima jabatan tangan Edgard. Tidak ada senyum, Mikhail menatap Zia datar dan istrinya paham apa makna tatapan itu.


"Santai saja, aku hanya ingin mengenalmu ... salam kenal, sahabat Mikhail."


PLAK


"Lepaskan tanganmu, lancang sekali."


Mikhail mendaratkan telapak tangannya dengan kekuatan yang tidak bisa diragukan. Pria itu benar-benar menarik Zia agar semakin menjauh dari sisi Edgard.


Guci itu, benda unik yang Edgard bawa sebagai oleh-oleh membuat Zia tertarik. Hanya saja untuk meminta pada Mikhail dia tak seberani itu, karena sejak tadi antara dua pria itu terus saja berdebat dan tidak ada usainya.


.


.


.


"Woah-woah!! Kau memang benar-benar kaya ... rumahmu besar sekali, kau tidak berpikir memberikanku satu kamar untuk beberapa tahun, Khail?"


Dia tengah berusaha merayu konglomerat yang royalnya luar biasa ini. Syukur-syukur dia kabulkan, pikir Edgard mulai nakal.


"Bercanda, Bro."


Mengerikan sekali, tatapan mata Mikhail sudah menjawab dia sama sekali tidak berminat memberikan tumpangan untuk Edgard.


"Jangan menakutkan begitu, kenapa kau jadi persis adikmu?"


Melihat mata Mikhail yang berkilap itu, Edgard teringat akan sosok Syakil, adik kandung Mikhail yang sejak lama menjadi musuh bebuyutannya. Baru kali itu dia bahkan ciut dengan dingin dan diamnya seseorang.

__ADS_1


"Singkat saja, kau sebenarnya mau apa datang kesini?"


Jika hanya mengucapkan selamat, rasanya tidak mungkin Edgard sampai rela datang jauh-jauh. Entah bagaimana cara dia merayu Bryan hingga mendapatkan alamatnya dengan cepat.


"Jawab jujur, Khail ...sebelum dia, apa kau juga menghamili wanita lain?" selidik Edgard setengah berbisik, meski di ruang tamu hanya ada mereka tetap saja dia harus berhati-hati.


"Kau gila? Kau lupa siapa aku, Edgard? Sejak kapan aku sudi melakukannya tanpa pengaman!!" Mikhail melemparkan bantal tepat di wajah Edgard tanpa sempat pria itu tepis.


"Aku serius, Khail ... Jenny datang menemuiku dalam keadaan hamil besar, dan yang terakhir berhubungan dengannya adalah kau!" Edgard bukan menduga lagi, melainkan menuduh.


"Sinting, jaga bicaramu, Edgard!!"


Wajar saja sejak tadi firasatnya mulai tak nyaman, berita ini berhasil membuat mood Mikhail hancur lebur. Sebagai seorang pria yang sudah beristri ini adalah bencana.


"Khail ... aku tidak bercanda, hampir satu bulan Jenny berada di apartemenku dan aku terpaksa tinggal di apartemen Geby. Semua kulakukan agar dia tidak mengusikmu, aku bahkan terpaksa menyembunyikan fakta jika kau sudah sembuh total."


Penuturan Edgard membuat Mikhail susah payah menelan salivanya. Tidak, dia tidak seburuk itu dan yakin seratus persen jika bayi dalam kandungan Jenny bukan anaknya.


"Bryan tahu masalah ini?"


Edgard menggeleng, selama ini hanya dia dan Geby yang menyimpan rahasia ini. Satu bulan, Jenny masih hidup dalam kekhawatiran dan menunggu Mikhail datang padanya dengan begitu sabar.


"Aku tidak mungkin menghamilinya, Edgard!! Aku sudah punya istri kau paham kan?" Mikhail berucap pelan dengan rahang yang kini mengeras, pernyataan Edgard membuat jiwanya terguncang di siang ini.


"Terlepas dari kau punya istri atau tidak, Jenny mengenalmu sebelum Zia datang ... dan jangan lupakan seberapa dekat kalian dulu, partner ranjang tanpa imbalan yang paling setia adalah dia, Khail."


"Tutup mulutmu, Edgard ... just oral se*ks!! Tidak lebih," tekan Mikhail menggeleng pelan, mana mungkin dia bisa menerima ini semua.


"Itu kau dalam keadaan sadarnya, saat mabuk bagaimana? Kalian berdua di Bali bagaimana? Kau lupa, Khail!!"


"Aaaaaakhhhhhh!!!" Mikhail mendengkus kesal, sekalipun memang demikian tidak mungkin Mikhail bisa benar-benar lupa, semabuk apa dia kalau memang sampai segila itu.


"Mas .... ini minumnya."


"I-iyaa, Sayang."


Zia datang, mereka kembali diam dan sesaat pembicaraan terhenti. Mikhail menggigit jemarinya, dadanya berdebar dan ketakutan yang tiba-tiba menjalar tak bisa dia ungkapkan kini.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2