
Mikhail tak selengah itu pada nyatanya, dia menyadari gongonggan anjing yang sempat Zia permasalahkan satu jam lalu adalah pertanda buruk. Setelah mendapatkan apa yang dia mau dan kini Zia sudah terlelap begitu tenangnya, Mikhail turun dan mencari tahu dengan jelas apa yang terjadi sebenarnya.
Sengaja mandi tengah malam, hal itu tentu saja membuat siapapun yang melihatnya mengerti tanpa perlu dijelaskan. Pria itu menuruni anak tangga dengan tatapan tajam yang sudah dia lemparkan pada Bastian.
"Ada apa, Bas?"
Raut wajah Mikhail sudah tidak bersahabat sama sekali, saat ini sudah larut namun pria itu terlihat kian panas saja.
"Bos ...."
Belum sempat Bastian menjawab, Mikhail berdecih kala menyadari pria yang bersandar di sofa ruang tamunya adalah Edgard. Sungguh hal yang tidak dia duga, pria yang merupakan pengkhianat handal itu tampak tak berdaya dengan banyak memar di wajahnya.
"Siapa yang menghajarnya?"
Pertanyaan itu sontak membuat Rohman ketar ketir, pria itu yang menghajar Edgard hingga lebam tak berbentuk. Jika sampai Mikhail marah, maka habislah dia.
"Siapa? Apa sulit mengaku?"
"Sa-saya, Den," jawab Rohman gugup semakin ketar-ketir kala Mikhail membentak mereka.
"Bagus!! Gaji Bapak saya naikkan jadi tiga kali lipat bulan ini!" seru Mikhail membuat pemilik kumis tipis itu menganga, dia bingung sekali kenapa Mikhail justru berbaik hati padanya.
"Serius, Den?"
"Hm, serius ... kalian keluarlah, ini urusanku."
Menyesal sekali Bastian tak ikut mengakui jika dirinya juga berperan dalam penyerangan Edgard. Jika dia tahu memukuli Edgard akan naik gaji, maka sudah tentu dia akan benar-benar membuat Edgard babak belur tanpa ampun.
Tidak ada kalimat bercanda, Mikhail serius dan dia ingin menyelesaikan semuanya dengan Edgard malam ini. Melihat raut Mikhail, tidak ada yang berani membantah dan mereka benar-benar berlalu pergi.
"Khail."
Sepengginggal ketiga orang itu pergi, Edgard bersuara dengan sisa-sisa tenaganya. Pria itu menyadari seberapa besar perbedaan Mikhail terhadapnya kali ini, tatapan tajam pria itu membuat Edgard ciut.
"Mikh ...."
"Mau apa kau kemari? Uang lagi? Untukmu atau jallangmu itu, Edgard?"
__ADS_1
Mikhail bertanya dengan sudut bibirnya tertarik tipis, saat ini dia sama sekali tak tertarik untuk membuat Edgard tak bisa bernapas. Baginya sangat disayangkan jika tenaga yang dia punya digunakan untuk membuat Edgard jera.
"A-aku ...."
Jangankan menjilaat seperti dahulu, untuk meminta maaf saja Edgard sudah tak lagi mampu. Pria itu benar-benar terlihat kecil di hadapan Mikhail kini, bahkan untuk membalas tatapan Mikhail dia tak berani.
"Kenapa harus dengan cara itu? Kau tau bagaimana aku sangat menghargaimu sebagai sahabatku, Edgard ... sepertinya mataku benar-benar tertutup tentang semua kemunafikanmu," ujar Mikhail santai namun benar-benar membuat Edgard seakan tertampar keadaan.
"Khail, aku tidak bermaksud." Hendak melawan akan tetapi lidahnya kenapa jadi sekaku itu malam ini.
"Selama ini aku tidak keberatan biaya hidupmu untuk bersenang-senang meminta dariku, tapi ternyata kurang ya sampai-sampai kau menggunakan wanita jallang yang kau jadikan budak sekss itu untuk menjebakku begini? Sudah kukatakan gunakan tenaga dan otakmu untuk bekerja, jangan mencuri harta, Edgard!!"
"Budak sek*s apa maksudmu, Mikhail? Aku sama sekali tidak...."
"Tidak katamu? Bagaimana dengan video ini, apa kau bisa mengelak lagi, Edgard? Hahaha kau terlihat sangat-sangat menikmati ... bahkan di sini kau dan dia jelas-jelas bekerja sama untuk menusukku dari belakang!!" balas Mikhail tanpa jeda sembari memperlihatkan video yang sempat dia rekam ketika memergoki keduanya tengah berhubungan int*im di apartemen Edgard.
Edgard dibuat bungkam, semua yang dia lakukan sudah terbaca jelas oleh Mikhail. Jika sudah begini, jangankan memberikan maaf, mendengar namanya saja mungkin Mikhail takkan sudi.
"Mikhail ... soal itu aku hanya melakukannya untuk bersenang-senang saja, sungguh. Tapi soal mencuri harta seperti yang kau tuduhkan ... aku minta maaf, aku bingung karena ketika menikah kau memang benar-benar meninggalkanku, Khail."
Memang benar, semenjak Mikhail menikah, memang dia sudah tak lagi peduli tentang Edgard seperti dahulu. Jika sebelumnya dia akan sangat peduli tentang Edgard, setelah menikah dia benar-benar berbeda.
Matilah dia, Mikhail mencengkram dagu Edgard hingga pria itu merasakan kembali sakit yang berlipat. Demi apapun malam ini Mikhail sungguh menakutkan bahkan kilatan amarah sudah menjalar dari dalam kedua bola matanya.
"Khail ... dengarkan penjelasanku."
"Hahaha penjelasan apa lagi? Kau pikir aku akan percaya dengan semua bualanmu? Aku tegaskan padamu ... jika ingin menipu pintar sedikit, Edgard ... kalaupun melibatkan Jenny dalam permainanmu, setidaknya pastikan kehamilan wanita itu lebih dulu dari istriku."
-
.
.
.
Tidak salah lagi, nyatanya Mikhail memahami siasat bejaat Edgard yang menggunakan kehamilan Jenny untuk membuatnya berada di posisi sulit. Kemarahannya kian memuncak hingga pada akhirnya Mikhail mendorong kasar wajah Edgard hingga pria itu meringis sakit.
__ADS_1
"Ampun, Khail ... jangan bunuh aku, tolong!!" jerit Edgard kala pria itu dengan sengaja menginjak kakinya yang memang sudah terluka sejak tadi, jeritan Edgard sama sekali tak membuatnya simpati, yang ada dia kian menikmati kesakitan yang Edgard rasakan.
"Bunuh? ah iya aku lupa, aku dengar dari Bryan budak ranjangmu itu ditemukan dalam keadaan mengenaskan di apartemen ... apa kau berniat membunuhnya, Edgard?"
Edgard menggeleng, dia bukan sedang menjawab pertanyaan Mikhail tersebut. Akan tetapi, Edgard tengah menahan sakit yang kian tak tertahan kala Mikhail kembali menginjak kakinya dengan sengaja sementara menunggu Bryan membaca pesan singkat yang dia kirimkan.
"Kau menyiksanya ya? Bagaimana caranya, Edgard?"
"Aarrgghh!! Ampun, Khail cukup!! Aku mohon maafkan aku!!"
BUGH
Pada akhirnya hal yang Mikhail tahan tak terbendung jua. Dia mendaratkan bogem mentah hingga darah segar itu mengalir dari hidungnya, sekali pukul tepat di batang hidung dekat mata, Mikhail berhasil membuatnya mimisan hingga pria itu hanya bisa terpejam saat ini.
"Aaayss, Mikhail. Aku memang salah, tapi ku mohon tolong maafkan aku," lirih Edgard mungkin takkan menduga Mikhail bisa sekasar itu padanya, jika sudah begini Edgard benar-benar harus merendahkan diri agad pria itu tak kembali dikuasai amarah.
"Maaf katamu? Kau pikir semuanya bisa selesai dengan kata maaf? Gunakan otakmu dengan baik, Edgard!!" sentak Mikhail benar-benar tidak bisa menerima perlakuan Edgard padanya.
"Aku tahu ini tidak akan selesai dengan kata maaf, Khail ... kumohon, ampuni aku sekali ini saja. Aku akan mengembalikan semua yang sudah aku ambil paksa darimu, tapi tolong jangan penjarakan aku," pintanya terbata-bata lantaran menahan sakit yang luar biasa.
Polisi yang mulai mencarinya membuat Edgard ketar-ketir. Belum lagi saat ini Bryan sudah ikut campur dan berperan melindungi Jenny yang juga merupakan korban kekerasannya semakin membuat Edgard takut jika dia akan mendekam di penjara untuk waktu yang lama.
"Aku tidak peduli tentang hartaku yang sudah kamu curi, Edgard ... akan tetapi, pengkhianatan dan akal-akalanmu yang justru hampir membuat kacau rumah tanggaku tidak bisa aku terima sana sekali."
Marahnya Mikhail mungkin saja besar, akan tetapi kekecewaannya lebih besar dari amarah tersebut. Seperti yang Bryan katakan, berhenti untuk menilai orang sebaik itu. Kali ini, Mikhail tak ingin merasakan kebodohan untuk kedua kalinya.
"Tanggung jawab atas perbuatanmu, Edgard. Apa yang kau lakukan pada Jenny itu sama sekali tidak mencerminkan prilaku manusia, melainkan binnatang!!" ujar Mikhail kemudian, ekor matanya menatap ke keluar seolah menunggu seseorang yang datang hingga deru mobil itu terdengar menuju kediamannya.
"Khail? Polisi?"
"Serahkan dirimu sekarang, Edgard ... dengan begitu aku rasa hukumanmu tidak akan seberat yang kau bayangkan." Mikhail tak percaya, persahabatan di antara mereka harus berakhir dengan cara yang begini.
"Jangan bergerak!! Tempat ini sudah dikepung!!" Salah seorang pria berbadan tegap itu sudah siap dengan senjatanya jika nanti Edgard berontak.
"Khail? Kau benar-benar licik ... apa maksudmu begini? Lepaskan saya, Pak!! Saya tidak salah!!" teriak Edgard berontak dan meminta bantuan Mikhail dengan sorot matanya.
"Ikut kami ke kantor, saudara diduga melakukan tindak kekerasan dan penganiayaan terhadap Nona Jenny Handazira, silahkan Anda jelaskan di kantor!!"
__ADS_1
Tbc