
Sakit sehari, itupun bukan sakit parah tapi Mikhail seakan sekarat dan sejak tadi malam dia hanya terbaring di tempat tidur. Memang dia sabar menunggu Zia selesai dengan Mikhayla, namun setelah itu Mikhail meminta waktu Zia untuk fokus pada dirinya juga.
Baru satu bulan usia putrinya, sepertinya ide Kanaya untuk menyewa pengasuh dapat dipertimbangkan. Bukan karena Zia tidak mampu mengurus putrinya, akan tetapi jika sudah begini maka dirinya kesulitan untuk membagi waktu dan tidak melupakan salah satu.
"Masih pusing ya?"
Mikhail menggeleng, sebenarnya tidak lagi. Hanya saja dia masih ingin beristirahat lebih lama saja. Jam tidur Mikhail berantakan demi melakukan yang terbaik untuk istri dan putrinya. Walau sudah Zia jelaskan tidak seharusnya memaksakan diri jika memang tidak mampu.
"Nggak panas lagi, Mas masih sakit atau udah sembuh sebenarnya."
Semenjak menikah ini adalah kali pertama Mikhail tiba-tiba panas. Aneh memang, namun ketika ditanya alasan Mikhail tentu saja hanya menjawab ini adalah akibat kerinduan berlebih yang sudah tibak bisa lagi terbendung.
"Menurut kamu?"
Ya memang tidak, dari mana juga asalnya dia masih sakit. Suhu tubuh sudah kembali normal, hanya saja suaranya masih terdengar berbeda. Mungkin karena dia belum mandi saja.
Putrinya sudah kembali terlelap di sisinya, sengaja meminta agar tidak dijauhkan meski Zia khawatir Mikhail justru menularkan virus untuk putrinya yang masih rentan.
"Cantik sekali, jangan cepat besar, Khayla."
Dimana-mana orang menginginkan putra-putri mereka tumbuh dengan cepat. Hanya Mikhail saja yang menginginkan putrinya kecil selalu. Memeluknya begitu erat hingga Zia khawatir putrinya akan menangis sebentar lagi.
"Mas!! Dia kejepit kalau kamu begitu."
"Nggak, Zia."
Mikhail memang tidak sadar jika dia yang gemas mungkin akan membuat Mikhayla justru sesak. Belum lagi sejak tadi tak henti menghujani wajah putrinya dengan kecupan.
Aroma bayi memang candu yang paling tidak bisa ditolak siapapun. Setelah kecanduan aroma istrinya, kini Mikhail dibuat tergila-gila dengan aroma tubuh Mikhayla. Sungguh ingin rasanya dia loncat saat ini juga.
"Emmmmmmuuuuuaaaahhh!!"
"Ih, bisa biasa aja nggak sih, pipinya jadi merah begitu, Mas." Jika Mikhayla sudah berada dalam pelukan suaminya, Zia memang kerap senam jantung. Pria itu teramat brutal dalam melakukan segala sesuatu.
"Hahaha bayi ini terlalu menggemaskan, aku nggak kuat, Zia."
__ADS_1
Bingung sendiri kenapa suaminya begini, padahal jika orang lain mencium Mikhayla dengan sedikit kekuatan saja dia marah. Memang dia benar-benar tidak berkaca.
Mikhail hanya terlalu bahagia dengan kehadiran Zia yang kini menyempunakan hidupnya. Titik dimana dia membuktikan kepada Kanaya, bahwa dia memang pria bertanggung jawab pada satu wanita sebagaimana yang mamanya harapkan.
"Kamu pindah kesini, kenapa masih di situ?" Mikhail menagih janji Zia untuk pindah di sisinya setelah selesai menyusui Mikhayla.
Ribet sekali, Mikhayla belum bisa protes ketika mamanya dipaksa pindah demi mengikuti keinginan sang papa. Padahal jika posisi Mikhayla yang ditengah akan lebih adil bukan.
"Kan begini pas, Mas berasa pangeran yang diapit dua bidadari."
"Terserah, awas aja sudah begini nggak sembuh juga," ancam Zia memeluk Mikhail erat-erat, dia melakukan hal semacam ini memenuhi keinginan Mikhail yang mengutarakan dia akan sembuh total setelah dipeluk pagi ini.
"Sembuh, buktikan saja besok kalau nggak percaya."
Mengambil kesempatan untuk menikmati waktu bertiga bersama keluarga kecilnya. Bagi Mikhail, pekerjaan memang utama, tapi bukan berarti seluruh waktu dikorbankan hanya untuk mencari uang.
-
.
.
.
"Kamu kenapa sebenarnya?"
"Tadi aku baca berita," jawab Zia kemudian berhenti di hadapan Mikhail.
"Hm, lalu?" tanya Mikhail bingung apa yang sebnarnya Zia maksud.
"Suami selingkuh karena sama pembantu setelah istrinya melahirkan," ucap ZIa tanpa aba-aba dan sukses membuat Mikhail menghela napas kasar. Sudah pasti arah pembicaraan Zia kesana, nampaknya Lorenza dan Zidny berhasil membuat istrinya berpikir macam-macam.
"Ya biarin, rumah tangga mereka kenapa kamu yang pusing, Zia."
"Bukan begitu ... Mas, beneran nggak boleh yang kemaren Mommy Loren bilang? Biar keset lagi masa nggak boleh."
__ADS_1
Sudah Mikhail duga, arah pembicaraan Zia pasti kesana. Ingin sekali rasanya dia melabrak Lorenza dan menghentikan produksi obat herbal yang dia ciptakan dan kini sudah sukses di pasaran wanita muda yang takut suaminya berpaling.
"Nggak!! Jangan dengerin perkataan mereka, itu cuma taktik marketing, Zia ... jangan tertipu, produk abal-abal dan kamu nggak tau efek sampingnya nanti," tutur Mikhail menegaskan jika semua yang Zia dengar hanya membuat Lorenza semakin kaya saja.
"Masa begitu, kata tante Lorenza sudah terdaftar badan POM terus udah halal lagi."
Zia yang ngeyel, Mikhail yang kesal. Sejauh itu pikiran istrinya. Takut sekali jika dirinya masih nakal, padahal sama sekali Mikhail tak punya pikiran sedikitpun untuk berpaling mencari wanita lain setelah menikah.
"Dengar sini, alasan selingkuh bukan melulu soal itu saja ... kembali lagi kepada pihak laki-lakinya. Jika memang tabiatnya tukang selingkuh, sebaik apapun istrinya merawat diri maka dia akan tetap berpaling, Sayang," jelas Mikhail pelan-pelan namu begitu lembut dengan harapan istrinya akan mengerti bahwa tidak semua laki-laki memiliki pikiran yang sama.
"Mas nggak akan begitu kan?" tanya Zia menunduk pelan, memang kemarin ZIa bisa sedikit tenang. Akan tetapi, pesan singkat Lorenza tadi malam dalam melancarkan promosi produknya semakin membuat Zia ketar-ketir.
"Astafirullahaladzim ... kenapa pertanyaanmu begitu? Kamu meragukan kesetian suamimu ini, Valenzia?"
Sudah lama dia tidak memanggil Zia dengan sebutan itu, bahkan dia sampai istighfar lantaran Zia yang begini. Sepertinya memang pergaulan Zia harus diperhatikan lagi, petaka sekali membiarkan semua orang masuk ke rumahnya.
"A-aku takut saja, Mas. Bukan ragu, karena Mas dulu juga memilihku dengan cara berkhianat dari cewek yang, rambutnya merah itu."
"Mau berapa kali Mas jelaskan Jenny bukan siapa-siapa, mulai besok Mas larang kamu ketemu siapapun selain Mama." Sepertinya mereka memang sudah tidak lagi sehat, akan lebih baik jika Mikhail batasi lagi saja.
"Ih masa begitu, besok Erika mau kesini padahal."
Suaminya sudah serius tapi ZIa masih biasa saja, seakan pura-pura tidak mengerti jika Mikhail hampir marah.
"Ya sudah kecuali Erika, mau apa anak kecil itu datang kemari." Hubungannya dengan Erika belum baik hingga saat ini, Erika pendendam dan Mikhail takkan pernah menurunkan ego untuk meminta maaf sama sekali.
"Hm katanya mau pamit, dia mau pindah ke Aceh ikut papanya ... ketahuan nggak masuk kuliah buat rawat Zidan, dia dihukum, Mas. Kasihan tau."
"Salah sendiri nggak pamit, jadi dia rawat Zidan tanpa sepengetahuan orang tuanya?" tanya Mikhail heran, wajar saja jika orang tuanya marah.
"Iya, padahal baru pacaran tiga minggu lalu." Mereka yang berpisah, ZIa yang terbawa suasana.
"Mungkin hanya perkara waktu, lagipula Zidan masih muda ... beberapa tahun kemudian takdir Tuhan akan mempertemukan mereka dalam keadaan pantas untuk saling memiliki, Mas yakin itu."
Tbc
__ADS_1
Rekomendasi Novel siang ini ya, Bestie.