Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 54 - Tidak Menyadari


__ADS_3

Di kantor Zia sebahagia itu bisa kembali, dan seperti dugaannya tatapan aneh jelas saja menyerbu ke arahnya. Dalam genggaman Mikhail, Zia berusaha untuk mengikuti perintah suaminya sebelum masuk kantor.


Tegap, menatap ke depan dan jangan pernah perlihatkan jika takut. Itu adalah hal yang selalu dia tekankan kepada adik-adiknya, baik itu Syakil maupun adik sepupunya yang lain.


Pria itu paling pantang direndahkan, dia tidak menerima toleransi sedikitpun terhadap seseorang yang menganggap remeh siapapun itu.


Semua berjalan baik-baik saja, menemani Mikhail bekerja bukanlah hal yang buruk. Hingga wanita itu mulai bosan dan memilih keluar ruangan kala Mikhail mengatakan dia harus rapat, dan Zia tidak sebetah itu Mikhail tinggalkan sendirian.


"Aku boleh keliling ya?" tanya Zia dengan tatapan penuh harapnya, wanita itu merindukan suasana yang sempat membuatnya hampir menyerah beberapa bulan lalu.


"Hm boleh, jangan terlalu jauh ... Mas tidak akan lama."


Mikhail menepikan anak-anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya. Sebenarnya dia tidak rela meninggalkan Zia sendirian, meski yang mengenal istrinya memang cukup banyak tetap saja dia tidak tega.


"Iya, nggak jauh-jauh."


Takut sekali, padahal Zia bahkan menginginkan bisa menghabiskan waktu dengan menginjakkan kaki di semua lantai yang pernah dia rasakan ketika magang dahulu.


Setelah beberapa lama dia menjadi kaum rebahan, kini Zia kembali memiliki kesibukan. Meski hanya sekadar jalan-jalan, hanya di dalam kantor dan dia paham Mikhail takkan mengizinkannya keluar.


Tidak banyak yang berubah, beberapa orang masih mengenalnya sebagai Zia yang sama. Tidak sedikit dari mereka menyapa dan basa basi menanyakan kabarnya. Hingga, salah satu di antara mereka terlalu mendalami peran dan lupa siapa Zia sebenarnya.


Memang tak begitu sulit bagi Zia, sebelumnya dia bahkan melakukannya dengan senang hati. Menyiapkan kopi untuk mereka, begitupun dengan saat ini. Zia bersedia tanpa protes apapun, dan Anya jelas saja merasa senang lantaran Zia masih bisa diandalkan.


"Kamu nggak salah? Ketahuan pak Mikhail gimana, Anya."


Temannya yang berbuat tapi Vivian yang panik, dia paham bagaimana sifat Mikhail. Takut sekali jika hal semacam ini membuat Mikhail marah besar dan menyeret namanya juga.


"Ck, santai aja lah ... lagian dia juga mau."

__ADS_1


Merasa baik-baik saja, menurutnya Zia menerima dengan nyata dan tidak akan menimbulkan dampak buruk nantinya. Anya percaya jika posisi Zia masih seorang Zia yang biasa, tak peduli sekalipun Mikhail menikahinya.


"Ya tapi kan? Dia juga lagi hamil, kalian berdua memang nggak ada hati sama sekali."


"Halah santai aja, aku nggak yakin pak Mikhail menikahinya karena cinta, paling juga karena kecelakaan makanya terpaksa." Kali ini Ruth yang ikut-ikutan, dia berada di pihak Anya sebagai primadona kantor dua tahun berturut-turut.


"Kecelakaan pak Mikhail maksudnya?" tanya Lutvi yang dengan polosnya masih bingung dengan pembicaraan mereka.


"Dasar bodoh, maksud Ruth itu dia dinikahi karena hamil duluan ... begitu aja masih nanya," celetuk Anya sedikit kesal, wanita itu bahkan memutar bola matanya malas.


"Itu urusan mereka, bisa jadi Pak Mikhail dan Zia sudah menikah sejak lama ... kan zaman sekarang banyak kejadiannya menikah sirri lebih dulu karena sesuatu atau lain hal, pikiran kalian jangan terlalu jahat lah," ungkap Vivian membenarkan, usianya dengan Zia tak begitu jauh dan berusaha memahami situasi dari pihak Zia. Rasanya tidak mungkin anak sebaik Zia akan melakukan kesalahan semacam itu, pikirnya.


"Dasar naif! Buka mata, Vivian ... lagipula sejak kapan pak Mikhail bisa menjalin hubungan seserius itu, terlebih lagi sama bocah ingusan seperti dia."


Anya menekan setiap kalimatnya, sejak kehadiran Zia sebagai anak magang yang berhasil menyita perhatian banyak teman-temannya sudah membuat geram. Hal itulah yang menyebabkan dia menyamakan Zia sebagai seorang office girl yang bisa dimintai ini dan itu. Kini, kekesalannya semakin bertambah, dia paling tidak suka anak ingusan seperti Zia selalu berhasil menjadi peran utama.


"Terserah kalian, jangan pernah menyeretku dalam masalah ini nanti." Vivian berlalu, sebelumnya memang dia meyakini jika Mikhail seburuk itu perihal wanita. Akan tetapi, setelah desas-desus pernikahan pewaris MN Group itu terdengar dia menyerah.


Anya bahkan berpikir akan melakukan yang lebih gila lagi, meminta Zia membelikan roti kesukaannya seperti biasa nampaknya seru juga. Bersama Ruth, Anya tertawa sebegitu cerianya seraya menatap satu sama lain.


"Lama ya ternyata, apa mungkin dia lupa cara bikin kopi ya?" tanya Ruth tak sabar menunggu kehadiran Zia di ruangan kerjanya, sudah hampir sepuluh menit dan Zia belum juga kembali.


"Sabar, namanya juga hamil ... lambat, keberatan perut."


Sesaat kemudian tawa mereka meggelegar, mereka benar-benar lupa tengah mempermainkan siapa. Berbagai candaan mereka lontarkan, menyamakan Zia sebagai badak padahal tubuhnya tidak sebesar itu.


-


.

__ADS_1


.


.


Dia sepolos itu, tidak menyadari jika sambutan orang-orang yang dianggap seniornya itu adalah bullyan. Zia membawa kopi panas yang mereka minta dengan wajah cerianya, sama sekali tidak berpikir jika senyum dan tawa mereka adalah ejekan.


"Kak Anya satu sendok gula, Kak Ruth satu setengah dan Kak Lutvi tidak pakai gula ... benar kan?"


Benar-benar mendalami peran, Zia begitu rela dan menyukai apa yang kini dia lakukan. Sekalipun terasa sulit, Zia tidak memperlihatkan wajah lelahnya.


"Kok lama, Zi? Biasanya kamu nggak selelet ini deh," ungkap Anya setelah menyesap kopi miliknya, Ruth sudah tersenyum dan berusaha menahan tawa lantaran masih mengingat julukan untuk Zia tadinya.


"Maaf, Kak ... tadi aku lupa dimana gulanya, udah lama nggak kesini soalnya." Zia menjawab jujur dan apa adanya, memang dia benar-benar lupa dimana letaknya.


"Ehm, Zi ... kok punya Kakak rada kemanisan ya, bikinin lagi dong." Ruth mengutarakan protesnya, tanpa ragu dia mengembalikan gelas itu pada Zia.


"Kemanisan? Aduh seingetku udah bener kak Ruth satu setengah sendok gula, sekarang sudah berbeda ya?" tanya Zia sopan dan tetap menjaga sikapnya seperti dahulu dia masih menjadi anak bawang di kantor ini.


"Hahaha kamu kenapa sih? Kopi pak Mikhail kali uang kamu ingat ... udah sana bikinin lagi, Kakak diet, Zi."


Cara mereka bicara benar-benar sebaik itu hingga Zia tidak sadar jika itu adalah cara mereka membuat Zia persis kacung di sana.


"Jangan, Zia ... dapur jauh dan kamu lagi hamil, itu bukan tugas kamu lagi." Vivian mengambil peran, sejak tadi dia geram dengan mereka yang berpura-pura baik dengan tutur katanya.


"Eh, nggak apa-apa, Kak, lagian udah lama Zia nggak begini."


"Hm bener, Zia, kamu dulu sebelum magang selesai udah keluar ya? Anggap saja ini ganti hari-hari yang hilang itu," tutur Anya kemudian, pikiran Zia sama sekali tidak buruk lantaran sejak awal kedatangannya hanya mereka yang berada di ruangan ini yang menyambut tanpa memperlihatkan tatapan bingung seperti karyawan lainnya.


"Hehe iya, Kak. Tunggu sebentar ya," ungkapnya kemudian benar-benar berlalu begitu cerianya, dia mengira mereka benar-benar menganggapnya adik sehingga tidak berbatas seperti itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2