
Keputusan Kanaya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Malam ini sudah dipastikan dia tidak bisa memeluk Zia seerat malam kemarin, Kanaya benar-benar merealiasikan rencananya.
Zia melihat sekeliling, sepertinya memang lebih nyaman dia tidur sendiri. Bersama Mikhail terkadang membuat malamnya terasa panas, pelukan Mikhail membuat sesak dan bahkan keram ketika terbangun lantaran posisinya yang tidak berubah.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuyarkan pikiran Zia, dia baru saja selesai mandi. Setelah tidur siang yang cukup panjang, hingga akhirnya terbangun dan Kanaya minta pindah kamar satu jam lalu.
"Hai ... sudah selesai mandinya?"
Baru saja ditinggal satu jam, Mikhail sudah berada di hadapan Zia dengan senyum lebarnya. Pria itu tampaknya lebih segar, masih berdiri dengan tegapnya dan Zia hanya menatap dengan mata membola.
"Sudah," jawab Zia dengan suara lembutnya, terlalu lama menatap pria ini membuat Zia tak sadar jika dirinya terpana.
"Makan malam sudah siap ... Mama sudah menunggu, ayo."
Tidak ada penolakan ketika Mikhail meraih pergelangan tangannya amat lembut. Meski Zia belum memiliki keberanian sebesar itu di rumah ini, ketakutan itu masih di hadapan Kanaya dan juga Ibra.
Mereka persis pasangan suami istri yang baru menikah beberapa bulan lalu, melewati beberapa ruangan dengan langkah pelan demi membuat Zia nyaman.
Semakin mendekati ruang makan jantung Zia semakin tidak aman. Padahal, Kanaya bukanlah sosok yang menakutkan ataupun kasar meski pada orang baru sepertinya.
Telapak tangannya bahkan terasa dingin, entahlah sebenarnya apa yang Zia rasakan saat ini. Dari jarak yang masih cukup jauh, Kanaya menyambutnya dan menarik pergelangan tangan Zia hingga keduanya terpisah, menyisakan wajah kesal Mikhail karena Kanaya hanya memedulikan Zia seorang.
"Sini-sini, kamu duduk di deket Mama."
Zia sedikit gugup dengan perlakuan Kanaya yang begini, dia benar-benar melayani dan memperlakukan Zia sebaik itu.
"Iya, Nyo...."
"Mama, kan udah diajarin jangan manggil begitu, Zia." Kanaya sedikit gemas lantaran Zia masih saja memanggilnya begitu. Sejak lama menantikan anak perempuan namun tidak Tuhan izinkan, adanya Zia seakan menjawa doa Kanaya sejak lama.
"I-iya, Ma."
Kanaya hanya sibuk dengan Zia saja, tak peduli dengan wajah masam yang kini menarik kursi di hadapannya. Sengaja kasar demi mencari perhatian, namun yang terjadi justru teguran sang papa yang risih dengan cara Mikhail duduk seheboh itu.
"Sekalian mejanya kamu tarik juga, Khail."
"Hm, tidak sengaja, Pa."
Dia ingin duduk di samping Zia, tapi mamanya menyebalkan luar biasa. Masih terdiam dan melihat apa yang Kanaya lakukan, walau itu sebuah pertanda baik yang artinya kehadiran Zia benar-benar diterima. Akan tetapi, Mikhail kesal saja kala Kanaya justru lebih posesif daripada dia.
"Dia tidak bisa makan ikan, Ma."
__ADS_1
"Hah?"
Setelah dia berucap demikian barulah Kanaya menoleh ke arahnya. Zia memang tidak bisa makan ikan, bukan karena alergi melainkan durinya. Mereka menghabiskan waktu bersama hanya dalam waktu singkat akan tetapi Mikhail mampu memahaminya.
"Bener begitu, Zia?" tanya Kanaya kemudian, baru saja dia memilihkan ikan goreng dengan ukuran paling besar di sana, nyatanya Zia tidak bisa.
"Banyak durinya, Ma."
Kanaya terkekeh mendengar jawabannya, tanpa berpikir akan dianggap bagaimana Zia menjawab dengan polosnya. Ini terlalu lucu, dengan santainya dia menjawab tidak bisa makan ikan karena durinya.
"Mama pisahin dagingnya mau?"
"Tidak usah repot-repot, Ma... serahkan padaku."
Mikhail menawarkan diri dengan suara lantangnya, dia sedang menjalankan aksi agar Zia bisa duduk di dekatnya. Sesulit itu membuat Kanaya mengizinkan mereka berdekatan.
"Biar Mama saja, kamu pikir Mama tidak paham isi otakmu?"
Padahal dia baru saja hendak meraih piring Zia, dan Kanaya sudah bertindak sebelum pria itu benar-benar melanjutkan aksinya.
"Astaga, kalian hanya akan meributkan hal ini ... kapan makannya?"
Ibra yang sejak tadi jadi pemantau lama-lama kesal sendiri. Bukan karena perhatian Kanaya pada Zia, melainkan putranya yang sejak tadi uring-uringan dan itu sangat menyebalkan.
"Papa duluan kan bisa, memang harus disuapi Mama?" Seenteng itu dia bicara pada orangtua, tanpa membentak dan kalimat itu benar-benar terdengar menyebalkan.
Mata Mikhail membulat seraya menutup bibirnya dengan jemari. Dia hanya diam setelahnya, jika sampai benar-benar diparut, bibir ranum Zia akan kesepian, pikirnya.
-
.
.
"Selamat malam, kenapa aku tidak dipanggil, Mama!!"
Terlalu perhatian dengan Zia hari ini, dia lupa dengan salah satu pangerannya yang baru pulang beberapa saat lalu. Kanaya memanjakan mereka sama, dan malam ini dia benar-benar lupa memanggil Syakil.
"Mama lupa, Mikhail juga kenapa diam saja."
Saling menyalahkan, Ibra sudah menghela napas kasar sejak tadi. Entah itu serius atau tidak, akan tetapi putranya ini memang terbiasa cari perhatian hanya karena lupa dipanggil makan malam.
"Manja, turun sendiri kan bisa ... sudah tau waktunya makan malam, kenapa harus dipanggil."
__ADS_1
"Sewot!! Suka-suka aku lah."
Syakil duduk di samping Mikhail dan belum menyadari siapa di hadapannya. Pria itu memang sedikit tak peduli dengan orang baru, meski tadi sore para pekerja di rumahnya sudah sibuk membahas tamu di rumahnya, sama sekali Syakil tidak penasaran.
Hingga, semua itu terbantahkan ketika tatapan mereka bertemu. Syakil membeku sesaat dan berusaha memahami keadaan, matanya benar-benar tidak salah lihat.
"Ma?"
Sorot matanya meminta penjelasan, Zia juga tiba-tiba menunduk dan membuang pandangan. Syakil juga demikian, dia tidak menyapa Zia secara langsung maupun memperlihatkan jika dia mengenal Zia.
"Zia, yang selalu Kakak kamu cariin sewaktu sakit ... cantik kan, Syakil?" Kanaya berucap dengan cerianya, tanpa tahu saat ini Syakil terpukul dan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Meski sudah mengetahui Zia yang dimaksud adalah Valenzia, akan tetapi melihat dia benar-benar berada di hadapannya ini Syakil jelas saja terkejut.
"Iya, cantik."
Memang cantik, dan itu alasan Syakil sangat menginginkan Zia saat masih menjadi kekasih Zidan. Ada secercah kebahagiaan dalam hati Syakil, karena pada akhirnya seseorang yang dia cari-cari dengan segala cara kini hadir di hadapannya.
Meski secara sadar Syakil pahami, jika Zia sudah pindah ke lain hati dan tidak mungkin ada kesempatan baginya karena saingannya bukan Zidan lagi, melainkan kakaknya sendiri.
"Zia, ini anak Mama yang paling kecil ... tidak kalah tampan dari Mikhail kan?" Kanaya bertanya dengan senyum manisnya, begitulah cara Kanaya mengenalkan putranya kepada siapapun.
"Salam kenal, Zia, akhirnya Khail berhasil menemukanmu ... dia hampir gila tiga bulan lalu." Percayalah, yang hampir gila bukan hanya Mikhail saja, melainkan dia juga sama.
"Syakil!!" bentak Mikhail tak suka lantaran selalu disebut gila oleh adiknya, jujur saja dia kesal sekali sebenarnya.
Zia hanya diam, bingung sekali hendak bagaimana. Dia malu, tidak pernah dia duga jika akan kembali bertemu Syakil dengan keadaan yang begini, hamil besar tanpa ikatan pernikahan.
"Dia cantik, wajar Kakak selalu berusaha mencarinya."
"Berhenti memujinya, dia calon istriku! Paham anak kecil?" Mikhail mengusap puncak kepala Syakil, masih benar-benar diperlakukan bak remaja.
Ingin lari, dia ingin pergi saat ini. Dia pernah malu tapi tidak pernah sebesar ini, mau bagaimana dia nanti bersikap jika Syakil menyadari perutnya sudah sebesar ini.
Saat ini mungkin dia tidak menyadari karena Zia duduk dan perutnya terhalang meja makan. Namun untuk selanjutnya bagaimana? Demi Tuhan Zia kelimpungan.
"Zia, ada yang salah?" tanya Kanaya menepuk pundak Zia yang kini terdiam dan menunduk sejak tadi.
"Ah? Enggak ... maaf, Ma."
Syakil menatapnya kian teliti saja, entah itu tatapan rindu atau tatapan segudang tanya lantaran penasaran. Zia salah tingkah, dan gerak-geriknya mencurigakan di mata Syakil.
"Zia kamu kenapa? Perutnya nggak nyaman? Sakit atau apa?" Pertanyaan beruntun Mikhail yang membuat Zia semakin memerah, demi apapun dia ingin menghilang saat ini juga jika bisa.
__ADS_1
"Iya, kenapa? Mual?" tambah Kanaya dan membuat Zia semakin tenggelam dalam perasaan malunya.
Tbc