
...... Lanjut dari episode sebelumnya.
"Mas," bisik Zia seraya mencubit lengan suaminya, sadar betul maksud tatapan mata Kanaya. Jantung Zia sempat berdetak dua kali lebih cepat kala menyadari sebab Kanaya menatap begitu fokus.
"Apa? Kamu belum tau ya, Sayang? Papanya Zico itu pacarnya Mama dulu ... tapi setelah itu om Gibran malah lamar tante Kiara, Mama jadi merana terus ketemu Papa langsung dinikahin padahal mereka nggak pacaran bahkan nggak pernah kenal sebelumnya." Sesaat dia menarik napas sebentar,
Mikhail semangat sekali, tanpa sadar saat ini suasana sudah begitu menakutkan. Jika biasanya Zia akan antusias kini dia memilih diam dan membuat Mikhail bertanya-tanya.
"Kenapa, Zi? Muka kamu kok tegang gitu?"
"Mama juga, kenapa?" Mikhail bingung sendiri, sesat kemudian dia mengikuti kemana arah mata Kanaya. Dalam satu detik pria itu loncat dari sofa dan kaget luar biasa kala tatapan menyeramkan dari sang papa menuju ke arahnya.
"Pa-papa?" Mikhail sudah mengambil ancang-ancang untuk menghindari amukan sang macam asia, sungguh dia benar-benar khilaf kali ini.
"Dasar kurang ajar, Mikhail!!"
Ibra masih cukup tangkas untuk meringkus putranya, dia berlari dengan langkah panjang sementara Mikhail yang sudah mewanti-wanti serangan maut dari sang papa jelas tak tinggal diam. Dengan kecepatan tinggi dia berlari dan terjadilah adegan kejar-kejaran kedua pria itu, Kanaya hanya menghela napas kasar dan enggan untuk mengeluarkan suaranya.
"Sini kau!!"
"Aku bicara fakta, Pa ... hanya cerita, istriku perlu tau kisah mertuanya di masa muda." Mikhail masih berusaha membela diri, sepertinya dia akan kelelahan menghadapi kegilaan papanya.
"Minta apa tadi? Selingkuh? Mulutmu memang kurang ajar sepertinya," tutur Ibra masih bersemangat memberikan pelajaran pada putranya, sudah lama mereka tidak olahraga seperti ini, pikirnya.
"Bercanda, Pa, mana mungkin aku serius!!"
Zia dan Syakil melongo melihat mereka, rumah itu cukup besar dan memang leluasa untuk lari-lari sebenarnya. Ibra belum terlihat lelah, sementara Mikhail mulai ngos-ngosan dan keringat di keningnya mulai membasah.
Terbukti jelas kekhawatiran Kanaya tentang kedewasaan usia mental Mikhail. Sepertinya memang belum pantas untuk memiliki istri, sementara dia biarkan dan tunggu mereka lelah sendiri.
Berawal dari rebutan pembantu, penjaga dan kini justru kejar-kejaran bersama sang papa. Terserah Mikhail sebenarnya, nampaknya pria itu memang semakin tidak waras pasca kelekaan.
"Kamu mungkin terkejut, tapi itu sudah biasa, Zia."
Selain sebagai papa, Ibra juga menempatkan diri sebagai sahabat untuk putranya. Jadi wajar saja jika mereka terkadang tidak berbatas dan sedekat itu. Bukan karena tidak sopan, akan tetapi memang begitu cara Ibra menciptakan keluarga yang hangat menurutnya.
"Biasa? Papa nggak marah, Ma?"
"Ya kadang marah, apalagi mulutnya sembarangan pasti marah, Zia."
Benar juga, dan kali ini sepertinya memang Ibra marah. Pasalnya, dia memberikan saran agar Kanaya selingkuh bersama Gibran. Di antara ribuan candaan, Ibra paling tidak terima kala siapapun membahas makhluk bernama Gibran itu meski hubungan mereka baik-baik saja saat ini.
__ADS_1
Sekejap mereka menghilang, dan teriakan Mikhail kian terdengar samar. Hendak kemana dia berlalu, jelas saja kabur lewat pintu belakang. Syakil memilih berlalu lebih dulu, sedikit bingung sendiri kenapa dia masih menetap di sini.
"Jangan lupa minum obat, Syakil," tutur Kanaya kemudian, putranya yang satu itu tampaknya tidak begitu fit akhir-akhir ini.
"Hm."
Yang satunya banyak bicara, sementara yang satu irit luar biasa. Kedua putranya lengkap sudah, Syakil memang sedikit lebih kalem sebenarnya dibandingkan Mikhail.
-
.
.
.
"Papa stop!! Aarrrgghh kakiku sakit, stop Pa."
Baru saja Syakil berlalu, dari pintu depan kedua pria berbeda usia ini muncul dengan keadaan basah dan membuat lantainya kotor. Kanaya naik darah dan kali ini dia harus angkat tangan sepertinya.
"Kalian berdua bisa berhenti?!!"
"Mulutnya kurang ajar, sini kau ... Papa belum selesai."
"Udah, Pa, stop! Ini sakit, aku tidak bohong!!" Mikhail benar-benar meminta ampun.
Ibra memang kerap bodoh jika bercanda, kening Mikhail tergores dan mengeluarkan darah lantaran membentur kandang burung kesayangannya di halaman belakang.
"Papa belum sempat memukulmu dan sudah mengeluh sakit?"
Pria itu sama sekali belum puas, dia baru sempat menepuk pundaknya dan itupun tidak terlalu kuat. Salah Mikhail saja yang tidak fokus melihat hingga kepalanya menjadi korban.
"Maaf, Pa ... JANGAAAAAN!!!"
Sejahil-jahilnya Mikhail, Ibra lebih tidak tertebak. Pria itu tampak diam namun yang dia incar adalah adik kecil Mikhail, dan itu sudah jadi kebiasaan sejak Mikhail remaja agar tidak berani macam-macam.
"Ck, Mas!! Dia sudah punya istri, bukan remaja lagi."
Meski mulut Mikhail kerap membuat darah Kanaya naik, pada akhirnya sang mama juga yang membelanya. Mikhail mengacak rambutnya kesal lantaran Ibra masih terus memegang gagang sapu dan yakin yang Ibra incar adalah alat tempurnya.
"Bersyukur kau selamat kali ini, Mikhail ... besok-besok Papa serang pakai palu biar mulutmu itu sopan sedikit."
__ADS_1
Mikhail sontak memegang adik kecilnya cepat-cepat, ngilu sekali ancaman Ibra. Zia serba salah, dia mengerti apa yang mertuanya katakan. Beruntung saja di sini ada Kanaya juga.
"Sudah sana naik, istri kamu juga mungkin capek."
Mendengar itu, Mikhail seakan mendapat angin segar. Segera dia meraih tangan Zia dan berlalu dengan langkah pelan. Penuh kehati-hatian dan takut sekali jika Ibra tiba-tiba menyerangnya.
Tatapan Ibra masih begitu tajamnya, Zia takut sendiri melihatnya. Tanpa melupakan jambu kristal yang sudah siap dinikmati itu, Zia meniti anak tangga begitu pelan mengikuti langkah Mikhail.
"Mas, kenapa jalannya begitu? Sakit ya?" tanya Zia khawatir namun Mikhail jawab dengan senyumnya.
"Mas mikirin kamu, kan jalannya lambat," jawab Mikhail kemudian, hanya saja Zia benar-benar tak yakin dengan jawaban suaminya.
Biasanya langkahnya tak seperti itu, ini lebih pelan dari biasanya bahkan bisa dikatakan sedikit pincang. Zia khawatir? Tentu saja, bahkan ketika masuk kamar segera dia meminta Mikhail duduk di tepian ranjang dan membuka sepatunya.
"Mas bisa buka sendiri, Zia."
"Diem," bentak Zia mendongak dan melihat suaminya meringis.
Tidak salah lagi, memang ada yang perlu dikhawatirkan. Zia membukanya pelan-pelan dan ketika dia sentuh pergelangan kakinya, Mikhail semakin meringis.
"Sakit kan?" tanya Zia lagi, sudah jelas-jelas wajahnya menahan sakit ketika disentuh akan tetapi Mikhail masih menggeleng dan tersenyum getir.
PLAK
"Arrrgghhh, Zia!!"
Harus dengan cara itu agar kesakitannya bisa Zia ketahui. Demi apapun saat ini Zia ketar ketir, terlebih beberapa bulan lalu suaminya bahkan tidak bisa berjalan. Ingin menyalahkan Ibra, namun sepertinya dia tidak berhak.
"Mas, sakitnya bagian mana? Sini? Sini? Atau mana?" Zia menyentuh pelan pergelangan kaki hingga jemari-jemari Mikhail dengan tangannya yang gemetar, istrinya panik bahkan matanya kini mengembun.
"Pergelangan kaki, Zia ... jangan khawatir, nanti sembuh sendiri, Sayang."
"Sembuh sendiri apanya?!! Kamu jangan anggap remeh ya, Mas, kalau sampai kenapa-kenapa gimana?" Mikhail menahan pergelangan tangan Zia yang sepertinya hendak keluar kamar, tentu tujuannya Kanaya atau Ibra.
"No, Zia ... jangan turun, cukup kamu yang tau! Percaya sama Mas, nanti sembuh sendiri," ucapnya penuh harap Zia tidak turun dan membuat heboh satu keluarga, Mikhail yakin ini hanya kecelakaan kecil dan tidak ada hubungan dengan kecelakaan sebelumnya.
"Tolong ambilkan handuk, rambut Mas sedikit basah." Hati Zia sudah kacau, hingga dia lupa bahwa seharusnya Mikhail harus segera melepaskan pakaian di tubuhnya yang juga lembab.
Kalau dah begitu salah siapa?
Tbc
__ADS_1