
...- Selamat membaca -...
Menjalani hidup seperti biasa, Mikhail ke kantor dan Zia tetap di rumah. Hanya bertemankan Rani di rumah sebesar itu, karena Ningsih benar-benar Kanaya bawa setelah di mengunjungi kediaman menantunya.
Tak butuh waktu lama bagi Zia untuk menyesuaikan diri di sini, karena memang sejak awal dia sudah betah berada di rumah ini. Menjelang siang, dia sedikit terperanjat dengan bunyi bel yang benar-benar berulang. Jika itu Mikhail rasanya tidak mungkin, namun jika tamu kenapa langsung diizinkan masuk oleh Jackson tanpa izin lebih dulu, pikir Zia.
"Astaga, santai!! Ini siapa sih, mau bertamu apa ngajak berantem?" gerutu Zia sembari membuka pintu utama.
"Boleh aku masuk?"
Zia terdiam sebentar, cukup lama menjaga jarak kini pria yang menjadi alasan utama dia meminta pindah rumah datang dengan menenteng kotak makanan ukuran besar di tangannya. Syakil, dengan penampilan yang menawan seperti biasa kini berdiri di hadapannya.
"Syakil?"
"Hm, kenapa ngeliatnya begitu? Kayak udah nggak ketemu bertahun-tahun."
Meski tanpa deklarasi jika Zia menghindarinya, sejak awal kakak iparnya itu berubah sikap dia sangat menyadarinya. Tanpa menunggu Zia persilahkan dia masuk dan berusaha untuk tidak canggung karena memang dia datang dengan maksud dan tujuan yang jelas.
"Bu-bukannya gitu, kenapa nggak kabarin aku dulu kalau mau dateng?" tanya Zia hati-hati, setidaknya jika Syakil memberi kabar dulu dia tidak akan ketir begini, pikir Zia.
"Sudah, aku kabarin kak Mikhail ... nomorku kamu blokir, gimana mau ngabarin?"
Jika dia mengingat hal itu sungguh kesal sekali rasanya, hanya karena Syakil bertanya sejak kapan Zia hamil besoknya nomor Zia tidak lagi bisa dia hubungi. Belum lagi, ketika kakaknya kerja Zia hanya di kamar dan itu luar biasa menyebalkan bagi Syakil.
"Ooh, begitu ya."
Zia dibuat bingung jika sudah begini, dia melakukan itu hanya karena berusaha membatasi diri. Demi menjaga agar Syakil tidak selalu bertanya tentang ini dan itu, Zia harus melakukannya.
__ADS_1
Mengikuti langkah Syakil ke ruang makan, sedikit heran juga kenapa pria yang menjadi adik iparnya ini sudah hapal denah rumahnya. Apa mungkin sebelumnya Syakil memang sudah sempat datang, pikir Zia.
"Kamu bawa apa?" tanya Zia demi mengurangi rasa canggung lantaran ketahuan sengaja memblokir nomor ponsel Syakil.
"Nggak tau, Mama masak banyak katanya buat kamu ... oh ya keluarin, Mama bilang kotaknya jangan sampai ketinggalan." Meski sedikit aneh, ini harus Syakil sampaikan, karena itu lebih berharga dari nyawa Syakil sendiri. Entah kenapa seluruh naluri ibu-ibu itu sama, dia heran juga sebenarnya.
Zia mengangguk kemudian memindahkan oleh-oleh dari Kanaya untuknya itu ke tempat lain. Masih dengan Syakil yang terlihat biasa saja mencari minuman dingin di sana, entah karena Syakil yang memang biasa saja atau Zia yang terlalu kaku sebenarnya.
Diam beberapa saat, Syakil menatap kakak iparnya melalui ekor mata. Sialan, memang cantik sebenarnya. Wajar saja Mikhail dan Zidan tergila-gila, termasuk dirinya beberapa bulan lalu.
"Zia, aku mau bilang sesuatu boleh nggak?"
Dengan ragu-ragu, Syakil sangat takut jika istri kakaknya ini akan marah dan tidak terima, belum lagi Mikhail yang tempramental jika perkara Zia menjadi pertimbangan sulit juga bagi Syakil. Akan tetapi, di sisi lain Syakil juga kasihan kepada sahabatnya.
"Apa?" tanya Zia tanpa menatap mata Syakil walau sebentar saja, karena memang sejak menikah dia sangat-sangat berusaha menjaga pandangan dari pria manapun.
"Ini tentang Zidan."
Zia menghentikan kegiatannya sesaat, sejak kemarin hal ini mengganggu pikirannya. Saat dia mencoba mencari jawaban, siang ini Syakil datang membawa titik terang dan seharusnya dia sedikit lebih tenang.
"Zidan? Dia kenapa memangnya?"
"Zidan sakit, setelah kalian putus kondisi dia semakin memburuk." Syakil menyadari Zia tengah menghindari pandangannya, curi-curi kesempatan untuk menyeka air mata.
"Sakit apa?"
"Demi menjaga amanah Zidan, aku nggak bisa kasih tau kamu, Zia ... maaf ya," tutur Syakil penuh sesal, karena bagaimanapun memang dia tidak bisa megatakan ini secara gamblang pada Zia.
__ADS_1
Diam, dia membeku dan bingung hendak mengatakan apa. Sebenarnya, dari yang dia lihat kemarin memang sudah jelas Zidan sakit parah, tanpa Syakil beritahu Zia paham sebenarnya.
"Aku tau ini akan berat, tapi Zia ... aku minta sama kamu, setidaknya temui dia sebagai sahabat untuk saat ini."
Jika saja tadi malam Syakil tidak mengunjungi Zidan, mungkin dia tidak akan nekat menemui Zia hari ini. Hanya saja, kondisi Zidan mengharuskan dia untuk bertindak agar kerinduan sahabatnya itu terobati segera.
"Akan kuusahakan, tapi sebelum itu aku harus izin suamiku dulu."
Jawaban yang sebelumnya sudah Syakil duga, tapi dia bersyukur karena setidaknya pintu hati Zia terbuka untuk menjenguk Zidan dari dalam dirinya. Tinggal meminta persetujuan dari sang pemilik hati wanita ini, dan Syakil paham akan sangat sulit meminta izin dari pria seperti Mikhail.
"Nanti aku bantu bicara, aku harap kak Mikhail akan bisa bersikap dewasa dalam masalah ini."
Zia mengangguk, itu yang dia inginkan sebenarnya. Sejak kemarin, dia sudah ingin mengatakan hal ini pada Mikhail. Meski memang pilihan memutus hubungan ialah darinya, tetap saja melihat wajah pucat dan tubuh kurus Zidan hati Zia terketuk untuk sekadar bertanya kabarnya.
"Jangan nangis, aku cuma kasih tau, Zia."
"Aku nggak nangis," elak Zia yang nyata-nyata meneteskan air mata, hanya dia sembunyikan saja sejak tadi. Sudah berusaha untuk tidak menangis, hanya saja hatinya terlalu lemah karena lagi-lagi Zidan berada di posisi sulit karenanya.
"Lah itu, air mata di pipi kamu apa namanya kalau bukan nangis?" tanya Mikhail menunjuk pipi Zia yang sudah berubah kemerahan, suaranya sedikit berubah dan sudah jelas-jelas itu adalah sebuah tangisan.
"Ini cuma air yang tiba-tiba keluar dari mataku, bukan nangis." Zia berlalu kemudian, lagipula kenapa dia jadi selemah ini, pikirnya kesal mengutuk diri.
"Ckckck, apa bedanya coba? Suami istri sama-sama peak," ujar Syakil sebelum kemudian menghabiskan minumannya, kotak makan yang kotor itu terpaksa dia yang selesaikan karena Zia memilih pergi usai dia menangis.
Tbc
Oh iya, untuk karya selanjutnya mau cerita Syakil pas dewasa atau tokoh baru guys, aku rada bingung soalnya karena ini akan sedikit berbeda dan bisa dipastikan nggak akan sama dengan Ibra/Mikhail. Love-love sekebon jagung, jangan lupa ritualnya bestie.
__ADS_1
Sementara daku up, boleh mampir ke novel temen-temen aku guys❣️ Happy Reading✨