
PLAK
"Astaga!!" sentak Zia kala sesuatu mendarat di bagian belakangnya.
Setelah tadi pagi dibuat berang lantaran anjiingnya dibawa pergi tanpa izin, Mikhail kini tersenyum senang usai sengaja menepuk pantaat Zia sebelum kemudian memeluknya.
"Kebiasaan, jahil banget heran."
Mikhail jelas saja tersenyum tanpa sedikitpun merasa bersalah. Menyadari suaminya yang kian menjadi ini Zia hanya bisa menghela napas kasar, gelagatnya benar-benar mencurigakan siang ini.
"Sayang, Mas baru pulang loh ... kok nggak disambut."
Spesial sekali dirinya sehingga harus disambut. Padahal, dia hanya pergi beberapa jam demi menjemput hewan berisik yang kerap membuat gendang telinga Zia terusik.
"Kenapa senyam-senyum begitu? Seneng banget kayaknya."
"Iya dong," ucapnya kemudian mengecup pipi sang istri berkali-kali.
"Seneng kenapa? Xavier sama Satrianya udah dibawa pulang?"
Zia tidak suka, akan tetapi ini adalah hal yang suaminya sukai. Zia tak ingin membantah, karena menurutnya, apapun yang Mikhail sukai takkan bisa hilang walau dia menentangnya.
"Xavier pulang, tapi Satria nggak."
"Loh? Kok gitu? Tumben banget baik."
"Om Haikal nggak kasih izin Satria balik, tapi Mas bawa gantinya kok, Sayang kamu tenang saja," jelas Mikhail pada Zia karena takut istrinya justru kecewa anjiingnya tidak pulang, padahal sama sekali tidak demikian.
"Gan-ganti apa?"
Perasaan Zia semakin tidak enak kala Mikhail mengungkapkan hal ini, pria itu menarik pergelangan tangan Zia keluar.
"Ih jangan tarik-tarik, Mas ... bisa kan."
Terlalu bahagia, langkahnya begitu cepat hingga sulit Zia sesuaikan. Pria itu berambisi sekali untuk memperlihatkan sesuatu yang menurutnya akan membuat wajah Zia berseri layaknya Mikhayla.
.
.
.
"Tara!! Kejutan ... gimana? Kamu suka nggak?"
Suka? Sama sekali tidak. Zia mendengkus kesal kala Mikhail menunjukkan sepasang burung hantu berbulu tebal dan memiliki mata tajam yang begitu menakutkan.
"Mama sini, it's so cute ...."
__ADS_1
Mikhayla berseru bahkan berteriak sesenang itu kala Zia menghampirinya. Dengan di awasi Babas, Mikhayla tanpa takut mengulurkan tangannya untuk meraih bulu hewan mengerikan itu.
"So cute dari mananya, Khayla ... serem yang ada."
Mitos terkait burung tersebut begitu membekas dalam diri Zia. Sungguh dia tidak berpikir jika suaminya pulang bawa burung, sudah bersyukur anjiingnya Mikhail hanya pulang satu, kini dia tiba-tiba menyesal setelah sebelumnya terlalu bahagia.
"Bastian!!! Nanti tangan Khayla luka!!"
Khawatir sekali, paruhnya membuat Zia bergidik ngeri. Meski tidak setajam elang, tetap saja hewan itu mungkin melakukan serangan tak terduga.
"Gapapa, Mama ... bulungnya baik," tutur Khayla begitu percaya diri jika makhluk berbulu itu akan baik.
Anak sekecil Khayla mana paham dengan bahaya, mengucapkan huruf R saja belum bisa dan dia bisa yakin dengan keadaan bahwa semuanya akan baik-baik saja, aneh memang.
"Iya dong, ini namanya burung apa, Khayla?" tanya Bastian layaknya seorang pengasuh yang baik.
"Bulung Papa," jawab Khayla seraya menepuk tangannya, jawaban paling tepat yang berhasil membuat Bastian terbahak.
"Buahahaha ... bukan, Khayla."
"Ih benel ini bulung Papa, bukan bulung Om Babas!!"
Mikhayla memukul dada Bastian dengan tangan gempalnya, putri Zia ini memang terkadang main tangan jika merasa tidak suka.
"Eh, Khayla nggak boleh mukul-mukul gitu."
"Om Babas nyebelin, bulung Papa, Om ... itu bulung Papa." Dia gemas sendiri bahkan mencubit wajah Bastian, Mikhayla tidak sadar jika saat ini dirinya lah yang ingin Bastian gigit.
"Iyaya burungnya Papa, banyak bulunya ya, Khay? tanya Bastian pada Khayla yang kini membuat Mikhail memijat pangkal hidungnya.
"Iyaah walnanya putih-putih ... Khayla suka."
Ada-ada saja ide Mikhail, di antara banyak oleh-oleh kenapa harus dia membawakan burung hantu untuk anak kecil seumuran Khayla. Zia tak ingin lagi turut campur dan memilih berlalu meninggalkan mereka yang tengah mengagumi penghuni baru rumah itu.
"Kamu tu ya, kalau nggak mau kasih dia boneka minimal jangan dikasih hewan begitu, Mas ... dia masih kecil loh," ketus Zia kesal lahir batin akibat ulah sang suami, memang benar-benar sinting.
"Ya mana Mas tau kalau yang suka malah Khayla, tadinya itu buat kamu, Sayang ... kan kamu suka burung," ujar Mikhail mengejar sang istri yang melangkah secepat itu padahal kakinya pendek sekali.
"Ck, sejak kapan aku suka burung!!"
"Lah, kemarin kamu di kebun binatang bilangnya suka burung," ujar Mikhail merasa dirinya sama sekali tidak bersalah.
"Nggak juga semua burung, aku sukanya merak ... sama burung hantu ya takutlah," ucap Zia menatapnya dengan kekesalan penuh, pria itu memang benar-benar menguras emosi.
"Sama-sama burung, apa bedanya, Zi?"
"Menurut kamu semua burung itu sama? Berarti burung kamu gitu juga?" tanya Zia mulai mengarah kemana-mana sampai ke bagian bawah sana.
__ADS_1
"Ya enggaklah ... mau Mas liatin kali lupa bentuknya."
"Idih apa-apaan sih, Mas!!"
Zia melemparkan bantal yang dia sambar dari sofa di dekatnya kala Mikhail hendak membuka ritsletingnya tiba-tiba.
"Hahaha gitu aja panik, padahal sudah hapal wujudnya," ujar Mikhail menggeleng pelan sembari menghampirinya.
Jika sedang berdua begini memang mereka kadang masih terlihat layaknya pasangan yang baru saja menikah. Adanya Bastian memang sangat berguna untuk menjaga Khayla, dan kebetulan sekali kedia putranya tengah tidur siang ini.
"Sayang, jalan-jalan yuk," ajak Mikhail kala sudah berhasil melingkarkan tangan di pinggang sang istri.
"Kemana?" tanya Zia tampak tenang dan berpikir memang Mikhail mengajaknya jalan-jalan.
"Surga dunia cari madu, Mas rindu Zia."
Mata Zia berkedip berkali-kali kala mendengar tempat yang hendak Mikhail kunjungi.
"Nanti malam ya, kalau tiba-tiba Mikhayla cari aku bahaya, Mas."
"Ck, bentar aja ... nggak lama, 25 menit cukup," bisik Mikhail tepat di telinganya.
"Kamu suka bohong, nggak mungkin cuma segitu."
"Mas buktikan saja kalau tidak percaya, Three ... two .... one!! Kita ke kamar sekarang," ujar Mikhail kini memikul tubuh istrinya layaknya karung beras.
"Aarggh aku bisa sendiri, jangan lari!! Nanti jatoh, Mikhail!!" teriak Zia khawatir sekali jika dirinya
"Diam, Zia ... kita harus manfaatkan waktu sebelum Zean dan Sean bangun, Mas belum olahraga hari ini."
Lanjut gak? Request mau bonus bagian apa kalau mau lanjut😘
Hallo semua✨
Siapa nih yang belum mampir di Syakil juga? Kalau mau lihat nakalnya Zean sama Sean yang brutal sejak dini tengokin di sana ya.
Jan lupa sajen, like sama dan hana-hininya.
Babay😘
.
.
.
Sayang Mikhail lahir batin. Salam sayang dari Keluarga Megantara❣️ Mari wujudkan Dinasti Keluarga ini sampai anak cucunya. Tapi, kalau sampai aku nulis kisah cucunya dan cucunya lagi huaaaa Ibra meninggoy dong, kok ga rela😭
__ADS_1