
Hendak dilamar tapi dia gugup sendiri, bingung harus menjawab apa. Karena bagaimanapun ayah dan ibunya tidak akan terima kesalahan semacam ini. Apalagi perutnya sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
"Lalu kamu maunya bagaimana? Hm?"
Entahlah, pertanyaan Mikhail sejak tadi belum dia jawab. Setelah Ibra meminta mereka menunggu di luar dan memberikan ruang untuk Kanaya beristirahat, kini Mikhail justru membawanya ke kamar.
Atas perintah siapa? Jelas saja dia yang memutuskan sendiri. Dia tidak nyaman jika membicarakan hal ini di ruang tamu, karena baginya Zia bukan tamu. Hal ini dia lakukan tanpa sepengetahuan Kanaya, mana mungkin Kanaya mengizinkan putranya kembali mengambil kesempatan.
"Kalau misal tanpa sepengetahuan mereka gimana?" tanya Zia pelan, ada banyak alasan yang membuat dia merasa lebih baik sendiri saja.
"Kita durhaka, Zi ... kata Papa, dengan atau tanpa izin nantinya, mereka tetap harus tau."
Syukurlah, sepertinya otak Mikhail berguna untuk mengingat beberapa ucapan Ibra walau tidak seluruhnya. Meski jujur saja saat ini dia sedikit kacau dan bingung sendiri hendak melakukan apa sebenarnya.
"Zia," panggil Mikhail kala wanitanya itu hanya diam, sejak tadi dia mempertimbangkan perkataan Mikhail sebenarnya.
"Hm, apa?"
"Astaga, kamu dengar aku?" tanya Mikhail menatap Zia putus asa, padahal lidahnya sudab terasa sedikit ngilu usai menjelaskan panjang lebar tentang hal ini.
"Dengar kok."
Zia menunduk, yang Zia takutkan bukan hanya kemarahan dan kekecewaab orang tuanya. Melainkan penilaian orang lain kepada keluarganya, dia berasal dari keluarga yang cukup besar dan beberapa saudara dari ibunya adalah orang terpandang.
Meski tidak pernah sekalipun mengulurkan tangan, akan tetapi percayalah, jika ada kabar yang tidak mengenakan mereka akan berbondong-bondong mencaci bahkan tega nenghina seakan tak pantas disebut manusia.
Sempat berpikir untuk tetap menerima Mikhail tanpa memberitahukan apapun pada orang tuanya. Akan tetapi, saat ini Ibra memegang kendali dan dia tidak mau jika Zia tiba-tiba dinikahi semudah itu.
"Yang kamu takutkan apa sebenarnya? Kamu takut orang tuamu melarang dan kamu gagal jadi istriku?" tanya Mikhail menarik sudut bibirnya tipis, jika saja ada penghargaan manusia paling percara diri sedunia, mungkin dialah orangnya.
"Bukan begitu, tapi takut jika nanti pihak keluarga ibuku menghina keluargaku, itu saja." Zia memainkan jemari Mikhail yang sejak tadi berada di atas pahanya, sedikit membuat tenang sebenarnya.
"Persetan dengan apa yang dikatakan orang lain, Zia, yang akan menikah kita dan yang menjalaninya adalah kita ... kalaupun kamu takut orang tuamu jadi sasaran, aku yang akan bertanggung jawab atas kehidupan mereka."
Cara pikir Zia sempit sekali, ingin rasanya dia teriak kuat-kuat di telinga Zia. Mengapa calon istrinya ini terkadang bodoh sendiri, pikirnya. Zia menatap lekat wajah serius Mikhail, tatapan itu seakan mengungkapkan bahwa semua kekhawatiran Zia tidak ada gunanya.
"Istirahat ya, kamu kurang tidur sepertinya."
__ADS_1
Meyakinkan Zia sepertinya memang sedikit rumit, pria itu membopong tubuh Zia agar posisinya lebih nyaman untuk tidur. Berlebihan sekali, padahal dia bisa pindah sendiri tanpa perlu bantuan Mikhail layaknya orang sakit.
"Bapak mau kemana?"
"Menemui Papa lagi, ini sangat-sangat serius jadi harus dibahas."
Pembicaraan mereka sebelumnya belum usai, Kanaya butuh Ibra dan sang papa ingin membahas semuanya bersama Mikhail empat mata, pembicaraan antara pria tentu saja.
"Aku tidak akan lama-lama, andai aku belum kembali ketika kamu bangun ... minta bantuan orang lain saja, mereka tidak akan berani menolak permintaanmu."
Zia mengangguk, walau dalam hatinya menolak semua perkataan Mikhail. Memangnya siapa dia berani memerintah, pikir Zia luar biasa sadar diri untuk saat ini.
Menatap punggung Mikhail yang kini menjauh, berada di sisi pria itu benar-benar membuatnya nyaman dan merasa aman. Sebuah perasaan yang belum pernah dia rasakan sejak dahulu.
-
.
.
.
Dengan langkah lesu dia berlalu, dan kemudian matanya tertuju pada dua orang pelayan yang terlihat sibuk sekali. Dengan membawa sprei baru dari kamat Kanaya dan mereka berjalan mengarah kamar tamu.
"Tunggu, ada apa?" tanya Mikhail menghentikan salah satu di antara mereka dengan cepat, perasaannya mendadak tidak enak saat ini.
"Nyonya minta menyiapkan kamar tamu, Den."
"Hah? Kamar tamu? Untuk siapa?"
Dia yang bertanya akan tetapi dia yang meninggalkan wanita itu. Baru saja hendak menjawab dan Mikhail sudah berlalu seenaknya.
Ini adalah bencana baginya, secepat mungkin Mikhail berlari ke kamar tamu. Kakinya sudah benar-benar baik saja hingga beberapa orang di sana dibuat menganga.
"Mama!! Mam ... buat apa?"
Kanaya menatap heran putranya yang kini luar biasa panik. Mikhail bahkan menahan mereka yang tengah menyiapkan kamar itu sebaik mungkin.
__ADS_1
"Kamar Zia dong, Sayang ... kamar siapa lagi?"
"Kenapa harus? Kita bisa tidur bersama, kamarku cukup luas dan juga nyaman pastinya."
PLETAK
"Mama tau isi otak kamu, siapa yang mengizinkanmu tidur sekamar? Kalian belum menikah, kamu jangan macam-macam di rumah ya, Khail."
Tidak diragukan jika Mikhail memang anak Ibra, suaminya dulu hampir sama. Bahkan dia rela menerobos masuk ke apartemen Siska demi bisa bertemu dan bercumbu mersa.
"Tapi, Ma ... jangan begitu."
"Tidak ada tapi-tapian, kalian berdua baru boleh sekamar setelah menikah ... yang lalu lupakan Mama tidak terima alasan."
Sudah dapat Kanaya tebak bahwa Mikhail jelas akan membenarkan tindakannya dengan alasan yang sudah berlalu bahkan lebih dari sekadar tidur. Dia tidak mau dan mengerti di posisi Zia tidak akan senyaman itu jika tidurnya diganggu.
"Ma, biarkan kami sekamar ... Mikhail janji hanya tidur, tidak akan macam-macam, Mama ayolah."
"No, Mikhail keputusan Mama sudah bulat titik." Kanaya berucap tegas dan tidak menerima keluhan setelah ini.
"Zia hamil, Ma ... dia pasti tidak akan nyaman tidur di sini."
Mikhail merengek layaknya bocah TK, kebebasannya dibatasi begini dan rasanya sangat tersiksa sekali. Tidak ada yang aneh dengan kamar tamu, ukurannya sama dan tentu saja nyamannya akan sama. Mikhail saja mengada-ngada demi menggoyahkan hati Kanaya.
"Kalau begitu tukar saja, kamu yang di kamar tamu mau?"
Bukan itu yang dia inginkan, yang Mikhail mau adalah mereka satu selimut dalam menghabiskan malamnya. Bukan sendiri-sendiri begini, pria itu memasang wajah melas seakan Kanaya ibu tiri terkejam di dunia.
"Mama Jahat, tega memisahkan anak dari papanya ... baru juga ketemu udah dipisahin." Dia menggigit ujung kukunya dan demi apapun Kanaya luar biasa kesal mendengar penuturannya.
"Kamu atau Mama yang jahat? Bayi seperti Zia diajak buat bayi. Dasar pedofil."
"Mama astaga," celetuk Mikhail seakan tak percaya kalimat itu keluar dari sosok bidadari seperti Mamanya.
"Teruskan, pastikan calon menantuku bisa nyaman ... dan nanti salah satu di antara kalian temani Zia tidur di sini," titah Kanaya yang semakin berhasil membuat Mikhail menganga, benar-benar tidak punya kesempatan sedikitpun kali ini.
Tbc
__ADS_1
Rekomendasi Novel Siang ini.