Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BONUS CHAPTER VIII


__ADS_3

Rintik hujan pagi ini membuat Mikhail begitu betah bergumul dalam selimut. Pria itu biasanya akan bangun pagi dan melakukan perannya sebagai seorang papa, akan tetapi pagi ini berbeda. Zia terpaksa bangun lebih dulu dan memandikan putranya dengan bantuan Rani.


Atas dasar pertimbangan Mikhail, pria itu memilih untuk tidak melibatkan seorang pengasuh untuk bayinya. Bukan karena Zia khawatir suaminya main api, melainkan Mikhail yang tidak begitu percaya akan ada orang yang menyayangi putranya dengan tulus selain mereka.


"Sekarang Sean bangunin Papa," ucap Zia sembari meletakkan bayinya yang kini sudah mulai bisa menjadi alarm untuk membangunkan sang papa.


Celoteh dari mulut putranya terdengar begitu serius, mungkin ngomel karena papanya bangun siang. Pria itu menyadari kehadiran Sean meski matanya belum terbuka, tentu saja aroma tubuh putranya yang luar biasa candu itu tidak bisa Mikhail tolak.


"Hai ... kamu mandi pagi-pagi begini, mau kemana sayangnya Papa?" tanya Mikhail seolah menghadapi seseorang yang sudah mengerti arti dunia.


"Papa!! Ayo siap-siap ... Khayla dah siap nih."


Beberapa saat, sang putri ikut masuk dan kini naik ke tempat tidur demi mengganggu Mikhail. Sama-sama sudah wangi dan rapi, Mikhail heran sebenarnya ada apa hingga anak-anaknya seolah hendak pergi ke pesta.


"Siap-siap? Memangnya mau kemana?"


Ini pertanyaan serius, jika kepada Sean mungkin hanya pertanyaan isengnya saja, maka lain halnya dengan Mikhayla. Ya, meski Mikhayla belum dewasa, akan tetapi kemungkinan putrinya bisa menjawab dengan sungguh-sungguh lebih besar.


"Ke lumah om Zidan, kemalen Papa yang bilang."


Tunggu, apa iya dia bilang begitu. Wajah Mikhail tampak bingung, keningnya berkerut kemudian menatap Sean yang kini tengah sibuk menggigit jemarinya sendiri.


"Apa iya? Sean, Kak Khay becanda ya kan?"


"Papa mah bleguk, dedeknya belum bisa ngomong ditanya," ungkap Mikhayla dengan tatapan tajamnya, jika sudah berdekatan mereka biasanya akan bersitegang begini.


"Shuut, Sayang belajar dari mana bilang begitu?"


Kaget, dia bingung dari mana Mikhayla mendapatkan kosa kata semacam itu. Dia sangat menjaga ucapan jika sedang di hadapan anaknya, lagipula selama menikah sama sekali dia tidak pernah mengucapkan kata-kata itu.


"Om Babas," jawabnya santai, benar-benar santai dan wajah tanpa dosa dia perlihatkan kini.


"Bastian benar-benar minta dihajar," umpat Mikhail pelan berusaha agar tidak terdengar oleh Mikhayla, bahaya jika sampai sekutu Babas ini paham rencana Mikhail.


"Khayla jangan bilang gitu lagi ya, Sayang ... itu dosa, sama kayak bohong."


Begitu lembut dia menasehati sang putri, jangan sampai pagi ini akan dipenuhi drama dengan tangisan bayi besar itu.


"Om Babas bilang gapapa."

__ADS_1


"Besok-besok jangan temenin Om Babas, temenin om Syakil aja biar jago bahasa inggris."


Sulit sekali bagi Mikhayla memilih antara Babas atau Syakil. Keduannya sama-sama memiliki ruang dalam hati Mikhayla, Syakil begitu baik dan lembut sementara Babas adalah teman yang selalu berhasil membuatnya tertawa senang setiap harinya.


Terlalu percaya pada Babas membuat putrinya kini terkontaminasi mulut pria gemuk berambut keriting itu. Sayang sekali adiknya sedikit sibuk dan tidak bisa selalu ada seperti Bastian untuk Mikhayla.


"Gamau ... maunya Om Babas," ucap Mikhayla dengan matanya yang kini berkaca-kaca, beberapa saat lagi putrinya akan menangis perkara takut dipisahkan dari Bastian.


Huuuuaaaaaaa


Benar saja, belum juga selesai Mikhail menarik napas putrinya sudah meraung meratapi hubungannya dengan Bastian yang kini tidak direstui.


.


.


.


.


Ya Tuhan, Bastian .... gumam Mikhail dalam hatinya, putrinya baru tiga tahun tapi sudah mulai banyak drama.


"Khayla, hey kenapa jadi nangis, Sayang?"


Tidak tega melihatnya, Mikhail menarik sang putri dalam pelukan. Menenangkan Mikhayla memang butuh usaha, isak tangis kian menjadi dan Mikhail dibuat panik kali ini.


Mendengar tangisan sang kakak, Sean justru tertawa tiada henti padahal sama sekali tidak ada yang mengajaknya bercanda. Sean menendang-nendang angin seraya menggigit jemarinya, sepertinya Sean suka sekali menari-nari di atas penderitaan orang.


"Papa ... Sean ledekin Khayla."


Mikhail tidak bisa menahan tawanya kali ini, gelak tawa Sean dan tangisan Mikhayla meninggi di saat yang sama. Sungguh perutnya seakan tergelitik dengan interaksi mereka.


Ceklek


"Astaghfirullahaladzim, kalian bertiga kenapa, Mas?"


Dengan membawa serta Zean yang juga sudah siap, kini Zia hanya menganga kala melihat Mikhayla yang menangis dalam pelukan sang suami sementara Mikhail sendiri tertawa tiada henti.


"Mama, aku maunya sama Mama."

__ADS_1


Mikhayla melepaskan diri dari Mikhail kemudian memilih Zia sebagai tempat pelarian. Wanita itu jelas saja bingung dan kini mengusap air mata putrinya begitu lembut.


"Kenapa, Sayang?"


"Pap-pa sama Sean ja-hat, meleka ket-ketawain Khayla." Khayla mengadu dengan isak tangis yang begitu jelasnya, hendak tak percaya namun Mikhail memang sedang tertawa tiada henti.


"Hahahaahahah putrimu dramatis sekali, Valenzia ... persis kamu ketika kutemui setelah kabur berbulan-bulan," ungkap Mikhail benar-benar tiada simpatinya pada Khayla, meski memang benar Mikhayla yang kini tengah menangis di hadapannya persis dia ketika berhasil Mikhail temukan di saat kandungannya berusia enam bulan.


"Tuh kan, Papa ledekin Mama juga."


Zia mendengkus kesal dan menghampiri sang suami. Zean yang kini berada di gendongannya tengah bingung hendak berpihak pada siapa, dukung mamanya atau gabung Sean dan juga sang papa.


"Bilang apa tadi?"


"Nggak bilang apa-apa, iya kan, Sean?"


Sean belum bisa bicara, hanya saja senyuman lebar itu dia berikan dan membuat Mikhail membusungkan dada lantaran putranya dapat di ajak kerja sama.


"Udah sana kamu mandi, akad Erika jam 10 pagi ... jangan sampai kita ketinggalan gara-gara kamu ya," tutur Zia ingin marah tapi tidak bisa, dia mengacak rambut Mikhail yang mulai panjang namun belum juga berniat untuk memangkasnya.


"Cie mau ketemu mantannya nikah, bahagia sekali sepertinya."


"Serius, Mas ... jangan bercanda terus hidupnya," ujar Zia kini merapikan menepuk pundak Mikhail agar segera bergerak dan tidak banyak ulah lagi.


"Hidup Mas udah serius, Zia, kamu aja Mas seriusin."


Bukannya bergerak mandi namun dia justru menggendong Zean lebih dulu, pagi ini memang dia belum mencium putra bungsunya ini. Setelah membuat Khayla menangis, kini Mikhail membuatnya tebakar cemburu.


"Khayla mana?"


"Lah, kan sama kamu tadi, kok bisa nggak tau, Sayang?" Mikhail juga bingung dimana putrinya.


Perlu beberapa waktu untuk menemukan keberadaan putrinya. Hingga Mikhail menarik sudut bibir kala melihat sepasang kaki mungil ada di dekat jendela sementara tubuhnya tenggelam di balik gorden.


"Persis kamu, sedih dikit kabur-kaburan ... bakatnya memang nurun sepertinya," sarkas Mikhail pada sang istri masih membahas tentang kejadian Zia yang kabur dari Mikhail bahkan hingga ke luar negeri.


"Nggak usah nyindir terus kenapa sih, cuma sekali itu doang aku kabur-kaburan." Zia mencebikkan bibirnya kemudian berlari ke arah Mikhayla yang kini tengah merajuk lantaran sang papa membuatnya terluka pagi ini.


Prahara Cinta Khayla-Babas😎

__ADS_1


Terhalang restu papa Khail kurang asem✨


...Mereka berlima manis banget woey😭❣️...


__ADS_2