Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 116 - Kerinduan


__ADS_3

"Kuat banget kak Zidan ... hem jadi pen peluk."


Kelakuan juniornya masih saja sama. Persis seperti ketika Syakil dirawat pasca donor darah untuk Mikhail. Bukan hanya satu melainkan hampir semua. Padahal Zidan di sini tampak baik-baik saja, dengan keadaannya yang baru pulih sudah harus dipertemukan dengan gadis-gadis centil semacam ini.


"Beruntung banget jadi kak Zia, punya pacar ganteng ih pas dapat suami ganteng juga."


"Ganteng banget sih menurut gue, gilaaaaa!! Wajar aja Zidan ter-eliminasi," sahut Erika sengaja meninggi dan berhasil membuat ZIdan mengerutkan dahi.


"Hehe kak Erika, gandengannya mana, Kak? Kak Zia udah punya bayi itu, nggak ada niatan nyusul juga?"


Pertanyaan seperti ini wajar saja, apalagi jika sahabat dekat sudah maju beberapa langkah lebih dulu. Pertanyaan klise, kapan nikah, kapan nyusul dan kapan-kapan yang lain akan lebih banyak lagi menghantui Erika nanti.


"Ck, kalian bisa berhenti nggak? Sudah bubar sana, nggak baik ghibah."


Itu bukan ghibah, Zidan hanya tidak ingin Erika tidak nyaman dengan pertanyaan asal mereka. Paham betul posisi Erika saat ini, hanya saja untuk mengikatnya dalam hubungan seperti bersama Zia dahulu ZIdan belum mampu. Takut, keduanya tersakiti sebelum Tuhan persatukan.


"Dengerin kata wakil presiden mahasiswa kita," tutur Erika sedikit kesal, pertanyaan adik juniornya memang membuat hatinya sedikit tersentil.


Percakapan anak muda, banyak sekali orang-orang di sini. Pandangan mata Zidan masih kerap mencari dimana sosok itu berada. Dari kejauhan tampaknya Valenzia begitu bahagia dengan balutan gaun putih bersama Mikhal di sana.


"Masih mau ngobrol sama dia?" Erika menyadarkan Zidan yang tenggelam dalam lamunan.


"Ehm? Enggak ... lihat doang, masa salah."


Bukan salah, tidak ada yang salah sama sekali dengan Zidan. Hanya saja, Erika ingin memastikan saja apa yang Zidan mau sebenarnya. Meski memang sudah diberikan kesempatan untuk berbincang bersama Zia, mungkin saja Zidan merasa kurang, pikirnya.


"Cita-cita Zia sudah terwujud, meski kecepatan ya nggak masalah lah."


"Iya. Cita-cita kamu sendiri apa, Ka?" tanya Zidan kmeudian.


"Hm, nggak ada ... paling nanti kalau lulus ya kerja," jawab Erika seadanya, toh hidupnya memang tidak pernah muluk-muluk.


"Bantu wujudin cita-cita aku mau nggak?" tanya Zidan tiba-tiba. Kenapa pembicaraan mereka jadi seserius ini.


"Bantuin gimana? Cita-cita yang mana lagi? Aku nggak bisa, mana bisa bantuin ... jurusan kamu terlalu sulit buat aku, Zidan."


Dasar tulalit, siapa juga yang meminta mewujudkan cita-citanya yang itu. Zidan menghela napas pelan, kenapa dia mendadak bingung kala hendak mengutarakan ini pada perempuan.

__ADS_1


"Bukan itu astaga!!"


"Lah terus yang mana? Udah deh cita-cita tu jangan kebanyakan."


"Terserah kamu, Erika ... mau dilamar saja susah."


Zidan mengucapkan hal itu sembari meninggalkan Erika hingga wanita itu tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Zidan. Hanya setengah kalimat dia dengar dan kini gadis cantik berambut pendek itu dibuat mati penasaran.


"Zidan!! Kamu tadi bilang apa? Jangan bete duluan lah, kamu kan tau IQ aku rendah ... jelas-jelas kalau ngomong."


IQ rendah, mungkin dampak negatifnya tidak peka dan tidak menyadari perasaan orang lain padanya. Zidan adalah pria yang anti perempuan, sementara pada Erika dia bahkan rela menahan lapar jika bukan Erika atau sang mama yang menyuapinya selama dua bulan di rumah sakit.


"Lain kali saja, tunggu ketika aku kaya dan kita sama-sama dewasa."


Satunya berharap tapi tidak peka akan keadaan, sementara yang satu memberikan penjelasan tanpa bicara dan masih malu untuk mengatakan yang sejujurnya.


-


.


.


.


"Mas ... sini, jangan tidur di sana!!"


Hendak dia bangunkan tapi Zia malas berjalan, lagipula putrinya baru saja kembali terlelap setelah sebelumnya diganti popok.


"Astaga, dia beneran tidur apa gimana?" Zia mengheka napas pelan, dipanggil sejak tadi tidak mendengar ataupun bergerak.


"Mas!!"


Tidak punya cara lain yang menurut Zia paling mudah, wanita itu melemparkan bantal dengan kekuatan penuh hingga mendarat tepat di wajah Mikhail. Mendapat perlakuan seperti ini bukannya terbangun melainkan balik melemparkan bantal itu kearah Zia, dia tidak sengaja atau bagaimana sebenarnya.


"Ini suami satu apa-apaan!!" Beruntung saja tangan Zia cepat bergerak sehingga berhasil menepis bantal tersebut dan kini tergeletak seakan tak berharga di lantai.


"Mas!!"

__ADS_1


Satu detik, satu menit Zia menunggu Mikhail merespon akan tetapi tidak juga dia dapatkan. Sepertinya benar kata Kanaya, jika Mikhail kelelahan tidurnya persis mati suri.


"Mas, tidurnya jangan di sana .. buruan sini."


Sepertinya memang Zia harus mengalah. wanita itu menghampiri Mikhail meski hatinya terasa berat. Tepatnya lelah, dia sudah ingin tertidur namun tidak tega jika Mikhail tidur di sofa.


Pelan-pelan mendekat, Zia menatap lekat wajah lelah Mikhail. Wanita itu memanfaatkan waktu sebentar untuk bersama memandangi pria yang kini menjadi super heronya.


"Mas, bangun bentar nanti tidur lagi." Zia menggoyangkan pundak Mikhail, mungkin bisa saja Zia mengambilkan selimut untuk Mikhail dan membiarkannya tidur di sofa, sayangnya sebagai istri dia tidak rela jika pisah ranjang.


"Mikhail!! Bangun astaga ... Mas lagi mimpi ketemu Jibril apa gimana?"


"Berisik!!" Tanpa aba-aba Mikhail menarik tangan Zia hingga wanita itu terjerambab ke arahnya.


Mencoba membuat suaminya bangun namun kini justru dia yang terperangkap dalam pelukan Mikhail. Itu bukan tempat tidur, hanya sofa dan jelas saja Zia takut jauh.


"Mas, jatuh nggak lucu!! Ayo pindah, biar nyaman besoknya nggak ngeluh sakit pinggang."


"Sebentar, Mas rindu kamu, Zia."


"Rindu apanya, tiap menit kita ketemu ... kamu kenapa sih, Mas." Zia hendak berotnak dengan bentakan tertahan karena putrinya bisa saja terganggu.


"Rindu saja, jangan berisik ... nanti Khayla bangun."


Mikhail sepertinya belum punya pikiran untuk menuruti keinginan Zia pindah ke tempat tidur. Karena jika sudah pindah, biasa dipastikan di antara mereka ada Khayla dan Mikhail tidak bisa memeluk istrinya terlalu erat.


Butuh waktu berdua, anaknya bahkan belum bisa mengusik apa yang dia lakukan namun Mikhail sudah merasakan jika dia tidak akan sebebas itu. Apalagi ketika nanti Mikhayla sudah bisa melihat kelakuan orang tuanya.


"Mas, kamu belum mandi ya?"


"Lupa, sepertinya belum."


Jawabannya enteng sekali, Mikhail akui jika dia memang belum mandi. Zia tidak mengatakan jika suaminya bau, hanya saja dia berpikir apa mungkin Mikhail nyaman tidur dengan tubuhnya yang masih lengket begini.


"Bau?" tanya Mikhail dengan suara berat karena sepertinya nyawa Mikhail sudah kemana-mana.


"Iya, sedikit." Zia menjawab demikian namun dia justru membalas pelukan suaminya hingga keduanya kian erat.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2