
Menunggu dengan sabar sang papa yang kini masuk ke ruangan pria berjas putih itu. Mikhail menyibukkan diri dengan benda pipih di tangannya. Ada banyak hal yang menarik dan ingin dia pantau. Bagaimana perusahaan selama dia tinggal, begitupun dengan keadaan rumah yang ternyata baik-baik saja. Syukurlah, setidaknya Mikhail bisa fokus bersama Zia dalam beberapa waktu ke depan.
Hingga, dia berselancar di sosial media dengan menggunakan akun istrinya. Kenapa demikian?Karena mikhail memegang semua akun Zia dengan alasan agar zia tidak lupa. Padahal, alasan sebenarnya adalah karena dia takut masih banyak pria yang menginginkan istrinya.
Akun sosial media zia yang awalnya penuh dengan postingan kata-kata manis dan tertata begitu rapinya. Kini berganti dengan wajah Mikhail dengan berbagai pose semau dirinya. Zia ingin protes? Jelas saja tidak bisa. Karena pria itu mengancam akan menghapus akun Zia untuk selamanya, rugi sekali pengikutnya sudah mencapai 75 ribu itu.
Tak sedikit yang berkomentar mmepertanyakan apa mungkin akun Zia dibajak pria tak bertanggung jawab. Sempat menjadi huru-hara dan postingan Mikhail mendadak banjir komentar dan memintanya mengembalikan akun trsebut kepada pemiliknya.
Dugaan semacam itu berhenti kala Mikhail dengan sengaja memposting foto pernikahan mereka yang pada akhirnya kolom komentar dipenuhi tangisan mereka yang mengharapkan Zidan dan Zia bersatu. Ck, pola pikir anak remaja memang sama sekali tidak dewasa, pikir Mikhail kala itu.
Cukup lama dia menunggu sang papa, sedari tadi sudah sedikit malas tiba-tiba Mikhail membenarkan posisi duduknya kala melihat postingan terbaru Zidny dan Laura di jam yang sama. Ya, Mikhail kecolongan dan kini mereka tengah memperlihatkan kepada dunia betapa bahagianya memeluk Mikhayla.
"Sudah kuduga, awas saja kalian."
Caption Zidny yang bertuliskan "My Sunshine" membuat jari Mikhail gatal untuk segera terjun ke kolom komentar.
Don't touch my baby.
Jauhkan tangan-tangan kotot kalian.
Kembalikan kepada mamanya, kalian berda belum vaksin, Zidny!
Belum ada balasan, Mikhail semakin dibuat kesal kala Zidny kembali memposting satu buah video yang mana putrinya tengah di gendong Zico daengan caption "Wisata masa depan". Berani sekali mereka, pikir Mikhail kian gusarsaja.
Kemarin-kemarin Zico memang belum memeluk Mikhayla. Bukan hanya karena tidak ada izin Mikhail, melainkan memang dia yang belum memiliki keberanian.
Dua insan yang memang tidak jelas apa hubungannya itu terlihat begitu dekat, jika dari fotonya memang lebih cocok Zidny yang memiliki seorang anak. Akan tetapi cocok atau tidaknya, bagi Mikhail putrinya hanya milik Zia dan dirinya.
"Hapus, Zidny ... jangan bertingkah seperti kau adalah ibunya."
Mikhail saja belum berani mempublikasikan Mikhayla. Apalagi akun yang dia gunakan adalah milik Zia, dia jelas saja tidak ingin membuat istrinya semakin dinilai buruk jika belum begitu lama menikah posting foto bayi.
Alih-alih takut Zidny justru membalas komentarnya dengan santai. Seolah-olah tak berdosa dan menyapa Miikhail sebagai dengan santainya.
Hai, Aunty ... my name is Mikhayla.
__ADS_1
"Aunty kepalamu!!" umpat Mikhail kesal sendiri, jika saja bukan karena menemani papanya, mungkin Mikhail sudah pergi duluan dan kembali ke rumah sakit. lagipula kenapa Ibra sengaja meminta di temani ke dokter gigi di rumah sakit lain? Sengaja sekali membuatnya uring-uringan, pikir Mikhail mulai sadar jika Ibra juga dalang dari semua yang kini terjadi padanya.
"Dasar papa durjana!!"
Semuanya kena imbas, dia baru menyadari jika tengha terjebak taktik Ibra. Pria itu mekini gemas memukul angin. Berkali-kali dia hubungi Kanaya namun sengaja ditolak dengan begitu mudahnya.
-
.
.
.
"Ck, Papa juga kenapa lama sekali ... bersihkan karang gigi atau karang taruna, Pa?"
Ibra baru saja keluar dan sudah disemprot Mikhail yang sejak tadi sudah mengamuk tidak jlas. Putranya memang blum sedewasa itu, namun sama sekali Ibra tak pernah berpikir jika Mikhail akan seperti anak-anak, benar-benar diluar dugaan.
"Cuma ngobnrol sebentar," jawab Ibra enteng kemudian menhampiri putranya tanpa rasa bersalah. Sepertinya memang sudah nasib Mikhail hari ini dikerjai seluruh anggota keluarga besarnya. Igin marah, namun yang dihadapannya ini adalah sang papa. Rasanya sangat tidak mungkin jika Mikhail bentak seperti yang lainnya.
"Hm, biasa .... urusan orang tua, kamu masih muda, Khail."
Ibra memberikan senyum tipisny usai bicara, ini aneh sekali. Papanya bercanda atau kenapa sebenarnya.
"Seius, Pa? Warisan ya? Aku dapat apa saja dari Papa? Perusahaan? Dua-duanya milikku, Pa?"
Ibra terdiam, sejak kapan putranya jadi rakus begini. padahal semuanya memang sudah Ibra tentukan sejak lama dan sama adilnya,
Kamu sudah kaya, tanpa warisan Papa juga kamu bisa berdiri sendiri, Khail."
Memang benar jika Mikhail merupakan seorang pewaris dan meneruskan kejayaan sang papa. Akan tetapi, sembari dia menjalani peran sebagai pewaris itu, Mikhail juga sudah berusaha berdiri sendiri dan menurut Ibra apa yang kini terjadi pada MN Group adalah jerih payah Mikhail, bukan karena dia lagi.
"Tapi tetap aku kurang kaya, Pa ... rumah untukku juga kan?"
Kenapa jadi serius sekali begini, padahal yang Ibra bicarakan pada dokter Yudho bukanlah membahas warisan sama sekali. Melainkan terkait putra keduanya, Syakil. Percaya diri sekali Mikhail menduga jika Ibra tengah membahas dirinya.
__ADS_1
"Kamu sudah punya rumah, dasar tamak!!"
"Itu rumah Zia, Pa." Lagi-lagi Mikhail tidak akan pernah kekurangan jawaban sama sekali, baginya selagi sang Papa belum meninjunya maka belum salah.
Berbincang singkat menurut Mikhail, tapi ini rasanya sangat-sangat lama. Langkahnya terburu-buru hingga Ibra merasa jika putranya tengah kesal sendiri. Memang tidak berperikemanusiaan, untung saja Ibra sehat wal-afiat. Jadi meskipun ditinggalkan semacam ini dia tetap bisa menyesuaikan langkah Mikhail.
"Bastian saja yang bawa mobil," tutur Ibra sebelum putranya menguasai kendaraan itu.
"Kenapa begitu?"
"Ya memang aturannya begitu, lagipula tugasnya."
Sudah tertebak apa tujuan Mikhail, dia meminta Bastian keluar. Sudah tentu karena dia merasa Bastian terlalu lambat, apalagi jika di perjalanan dia bersama Ibra.
"Astaga, Pa."
Sebenarnya memang hingga saat ini, dia belum memiliki izin untuk mengemudi. Hanya Bastian yang Ibra percayai, sekalipun Mikhail berhasil mengemudi sendiri itu karena diluar pengawasan Ibra.
"Ya sudah, tolong cepat sedikit, Bas ... jangan kelamaan, tua di jalan nanti." Kembali lagi tujuan Mikhail pulang hanya demi Mikhayla, itu saja. Dia tidak ingin para manusia durjana itu berlama-lama bersama putrinya.
"Tetap hati-hati, Bas, jangan buru-buru," titah Ibra ikut bersuara.
"Siap, Bos!!"
Ada dua bosnya, siapa yang akan Bastian turuti. Tentu saja titah yang lebih tua, mana mungkin Bastian mampu melawan kehendak papa ibra. Karena sejatinya, di atas Mikhail masih ada Ibra.
Tbc
Jangan lupa ritual bestie, ini hari senin 😘
Buat nama-nama dibawah, DM nomor hp kalian ke ig (desh_puspita) kalau enggak ada masuk gc, konfirmasi nomornya di gc. Seperti yang sudah aku janjikan tanggal 15 artinya pengumuman give away.
Buat yang belom jangan syedih dan merasa dikucilkan dlu, tetap dukung Mikhail😘 Ketika End Mikhail akan kasih kejutan lagi, yang ini aku pilih dari komentar-komentar paling mood❣️
__ADS_1