Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 89 - Cari Obat Lain.


__ADS_3

"Kamu salah lihat mungkin, Zidan."


"Aku yakin, Erika ... memang dia, tapi mau aku samperin nggak bisa karena ada Mama," jelas Zidan serius, meski dia tidak yakin Zia juga melihatnya, akan tetapi dia yakin 100 persen memang benar Zia.


"Hm, sudah berapa kali kamu begini? Waktu di mall minggu kemaren buktinya salah orang kan? Meski awalnya kamu udah yakin banget itu Zia," tutur Erika lembut namun terdengar seperti sebuah penegasan jika memang Zidan selalu salah menduga.


"Kali ini berbeda, Erika."


"Mungkin ini bawaan sakitmu, Zidan ... ingat kata dokter jangan terlalu banyak pikiran," ungkap Erika mencoba memberikan pengertian sebagai sahabat Zidan.


"Yang sakit kepalaku, mataku masih normal kalau kata dokter," tutur Zidan tersenyum getir, setidaknya organ penting tubuhnya masih ada yang baik-baik saja.


Jawaban andalan yang kerap kali Erika dengar. Sejak kepergian Zia pria itu seakan mencintai kesakitan yang dia derita. Bahkan, dia memilih berdamai dan membiarkan penyakitnya semakin berkuasa dengan cara menolak pengobatan dalam bentuk apapun. Akan tetapi, sebagai orangtua, sang mama jelas takkan membiarkan semua itu terjadi.


"Kalau memang benar Zia lalu kamu mau apa? Kan sudah tau dia sudah punya suami, Zidan."


"Aku ingin egois sekali saja, mungkin tubuhku nggak akan semanja ini kalau dia jenguk."


Zidan menatap nanar tanpa arah, sejak dulu dia biasa saja. Bagaimanapun rasa sakitnya, selama bertemu Zia, pria itu merasa lebih baik. Sayangnya, obat itu tak lagi jadi miliknya.


"Jangan begitu, obat kamu bukan dia lagi ... dan kamu sadar seharusnya," tutur Erika menatap sendu pemilik bibir pucat di hadapannya ini, bukan maksud Erika menginginkan Zidan untuk berpaling padanya sebagai pengganti, akan tetapi Erika hanya ingin Zidan membuka mata dan tidak lagi mencintai luka.


"Hm, seseorang merebut obatku secara paksa ... sakit, Erika!" lirih Zidan menggigit bibir pucatnya, setelah sekian lama dadanya kembali dibuat berdebar kala melihat wajah cantik yang kian bersinar tadi siang.


"Zidan, dia bukan obat yang sesungguhnya."


"Sekalipun dia racun, aku rela meminumnya asal hausku hilang, Ka." Dia tertawa sumbang, memang terlalu sulit menginginkan seseorang yang bukan lagi miliknya.


Mulai, Zidan yang begini membuat Erika semakin kesal. Padahal, sejak awal kepergian Zia dia yang paling santai, bahkan benar-benar merelakan. Kenapa sekarang justru begini? Sungguh membingungkan, dua pria yang sama-sama gila selalu melibatkan Erika dan pemeran utamanya adalah Zia. Andai Tuhan berikan kesempatan untuk bertemu, ingin sekali rasanya Erika memasukan Zia dalam peti mati.


"Sudah, kamu ingat nggak apa yang kamu katakan waktu Zia sakit?"


"Apa?"


"Kalau nggak sembuh sama obat yang ini, maka kamu harus coba sama obat yang lain ... kita nggak tau, mana yang lebih mujarab."


"Itu kan cuma cara aku hibur Zia, Ka. Pada faktanya nggak begitu," tutur Zidan paham maksud Erika, mereka tidak sedang membahas obat-obatan dalam dunia medis, melainkan obat terkait penyembuhan luka batin.


Memang sulit meyakinkan monyet bahwa apel lenih manis dari pisang. Harus dengan cara apa agar Zidan membuka mata dan menatap dirinya sebagai orang yang berbeda.


-


.

__ADS_1


.


.


"Tidurlah, kamu dari tadi berkicau nggak ada abisnya."


"Kamu mau kemana?" Zidan menahan pergelangan tangan Erika, dengan mata sayu dia menatap wanita itu sebagai ungkapan jangan pergi juga meninggalkan dia.


"Cari angin, karena aku nggak bisa cari obat yang kamu mau." Erika membuang muka kala mengucapkan kalimat itu, Zidan dibuat hancur sahabatnya dan ini menjadi luka bagi Erika.


"Jangan keluar, kamu mau kemana? Ini sudah hampir larut malan ... di sini saja, jadilah obatku sementara."


"Zidan." Erika menghela napas perlahan, kenapa harus ada kata sementaranya, pikir gadis itu.


"Aku hanya punya kamu selain Mama saat ini, Ka ... tetap di sini sampai aku sembuh atau benar-benar pergi nanti," tuturnya dengan senyum hangat dan membuat Erika mendelik dan sontak menepuk bibirnya cepat, sungguh dia benci sekali dengan mulut asal-asalan seperti Zidan.


"Jangan asal, Zidan ... kematian bukan candaan!! Pikirkan lagi kalau bicara, kamu bilang otak kamu masih mampu berpikir dengan baik. Gunakan jika memang masih berfungsi." Kali pertama dia semarah itu, bukan maksud mengatakan Zidan bodoh tapi dia benci Zidan mempertegas tragisnya keadaan.


"Maaf, Erika."


"Kamu mimisan, jangan bergerak." Belum apa-apa, tanpa aba-aba dan hal ini biasa terjadi. Erika meraih tisu yang memang disiapkan untuknya dan mengelap cucuran darah yang keluar perlahan dari hidung Zidan.


Mendapat perlakuan yang begini, Zidan menarik sudut bibir. Benar-benar cerewet, mengalahkan mamanya. Meski sedikit tulalit dalam beberapa hal, Erika tidak pernah main-main memberikan perhatian.


"Ngomong apa sih, aku colok matamu lama-lama," kesal Erika mendengar pesannya.


"Aku serius, sahabat aku cuma kamu yang paham aku dalam kondisi apapun ... kalaupun mau nikah nanti dulu, tunggu setelah aku udah nggak...."


"Jangan terusin, basi banget pesan kamu yang begini. Berapa kali aku harus bilang, nggak ada kematian yang pasti dan sembuh itu masih bisa terjadi selama kamu bernapas, Zidan." Baru juga beberapa menit lalu dia marah akibat ucapan Zidan, kini pria itu mengulang kesalahan yang sama.


"Astafirullah, Erika! Dengerin dulu, maksud aku setelah aku udah nggak sakit lagi." Zidan membenarkan maksudnya, wanita ini memang sedikit tidak sabaran sepertinya.


Ceklek


"Boleh aku masuk?"


Di antara banyaknya waktu, kenapa dia harus datang jam segini. Syakil, tamu tak diundang itu kini menghampiri Zidan dengan tangan kosong tentu saja, ini bukan kali pertama dia menjenguk Zidan.


"Kalian lagi pacaran atau bagaimana? Ganggu gak?" tanya Syakil memastikan, pasalnya jika sampai mengusik bahaya juga.


"Mau apa lo? Kalau cuma ngajakin berantem mending keluar sono."


"Dih ngusir, gue jambak botak lo," balas Syakil tetap mendekat tanpa dia sadari tatapan tajam sudah memburunya kini.

__ADS_1


"Syakil mulutnya!!!" tekan Erika paham maksud ucapan Syakil, rambut Zidan yang mulai mengalami kerontokan dia jadikan candaan entah apa tujuannya.


"Bercanda, Ka ... santai," tutur Syakil kemudian berdiri di dekat Zidan, melihat keadaannya rasa bersalah Syakil semakin besar padahal yang merebut Zia dari Zidan adalah kakaknya.


"Gimana? Baikkan?" Seperti biasa, mana mungkin dia akan bicara lembut pada temannya ini.


"Gini-gini aja, lo ngapain malem-malem kesini? Bokap lo nggak marah anaknya keluyuran malem-malem?" tanya Zidan kemudian.


"Sekalian jengukin kakak gue, lagi dirawat juga," jawab Syakil seadanya, gumpalan tisu dengan noda darah yang sempat tertangkap matanya semakin membuat jiwa Syakil bergejolak dan ingin menghajar Mikhail tiba-tiba.


"Sakit juga?" tanya Erika penasaran, dia juga tidak paham silsilah keluarga Syakil sebenarnya, sejak kapan dia punya Kakak.


"Korban kekerasan, hampir mati di tangan pria gila yang obsesinya seluas angkasa," jawab Syakil dengan nada bercanda tapi memang begitu adanya.


"Oh masalah cewek ya?" Zidan masih tetap tertarik, meski kepalanya terasa sakit.


"Hm, istrinya dihina sama kakak gue ... eh kakak gue dicekek sampe masuk rumah sakit, sadis gak tuh?!!" seru Syakil bercerita padahal tokoh dalam cerita ialah kedua kakaknya.


"Yaelah itumah salah kakak lo!! Gue juga kalau hal itu terjadi bakal lakuin yang sama, gue kulitin kalau bisa!!" Erika terkejut kenapa jadi Zidan yang marah, aneh sekali.


"Hm, pasti! Gue yakin lo akan lakuin hal yang sama kayak dia, Zidan .... gue percaya itu."


Tbc


Hai-hai, aku up panjang makanya lama ... maaf ya, semalem ga kekejer buat up pagi-pagi buta. Hari ini aku bawain rekomendasi novel keren by Mama Reni.


Judul : Cinta Tanpa Kata



Blurb :


Diandra Zivana Athalla seorang gadis yatim piatu yang mencari nafkah dengan berjualan di taman kota setiap malamnya.


Diandra memiliki seorang sahabat yang bernama Galen Baim Pratama Syahputra. Galen sering menemani Diandra berjualan.


Suatu malam, Galen ada acara sehingga tidak bisa menemani Diandra. Gadis itu pulang dengan sepedanya.


Di tengah perjalanan seorang pria menghentikan sepedanya. Diandra diberi obat bius hingga pingsan. Setelah itu Diandra diperkosa. Trauma karena perkosaan membuat Diandra menjadi bisu.


Merasa bersalah dan juga kasihan dengan nasib Diandra, Galen menikahi Diandra.


Saat ijab kabul berlangsung, Diandra mengetahui jika pria yang memperkosanya itu adalah kakak kandung Galen yang bernama Adyatma Mahavir Alister Bagaskara.

__ADS_1


Happy Reading✨


__ADS_2