Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BONUS CHAPTER III


__ADS_3

"Bastian pelan-pelan!!"


"Katanya cepat, si Bos gimana sih?"


Tak ingin kehilangan moment, kelahiran anak keduanya lebih cepat dari perkiraan. Ada sedikit kesalahan hingga memaksakan operasi itu harus segera dilakukan lebih cepat dari jadwal seharusnya.


Semua sudah di rumah sakit, Mikhail yang memang tengah melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya jelas harus pulang segera. Syakil menghubunginya agar segera datang jika tidak ingin anak keduanya lebih dulu bertemu Syakil dibandingkan dirinya.


"Astaga, Zia ... kenapa harus melahirkan hari ini, besok atau lusa kan bisa, Sayang."


Dia gusar, Bastian panik sendiri lantaran ngebut salah pelan juga salah. Sementara dari rumah sakit masih cukup jauh, jika Bastian pelan maka dipastikan akan terlambat.


"Cepetin dikit, Bas ... tapi jangan seperti tadi," sentak Mikhail masih kesal lantaran kepalanya sampai terbentur akibat Bastian benar-benar memacu laju kendaraan secepat itu. Ya, Mikhail sedang tidak tertarik untuk ikut balap liar, pikirnya.


"Begini?"


"Iya."


Teleponnya masih terus tersambung bersama sang mama, demi memastikan bahwa operasi Zia berjalan lancar. Kanaya sudah tegaskan hati-hati dan Mikhail tidak perlu sebar-bar itu, khawatir jika yang terjadi justru hal yang tidak diinginkan.


Hati-hati saja, Khail ... semua baik-baik saja, jangan ngebut.


Papa Khayla di lumah sakit ... Om Babas jangan kebut-kebut ajak Papa!!


Teriakan Kanaya dan Khayla terdengar begitu jelas, sengaja dia loudspeaker agar Bastian mendengar dengan jelas bahwa yang menginginkan Mikhail hidup masih banyak.


"Ma, jangan ada yang menyentuh anakku sebelum aku datang."

__ADS_1


Iya-iya, jangan khawatir


"Satu lagi, Mama jangan minta Syakil mengazani anakku seperti dulu!!"


Ini yang paling penting, demi apapun Mikhail khawatir sekali. Karena peran Syakil sudah hampir sama denganya, sang adik kerap mengambil langkah sigap kala dia sedang di luar seperti ini.


Iya, Mikhail ... masalah itu masih saja dibahas, Syakil Mama minta jemput Papa di Bandara, mungkin 30 menit lagi baru selesai.


Percuma, Syakil adalah pria yang cepat bertindak. Kalaupun dia di bandara atau apapun itu tetap saja dengan mudah dia akan kembali lagi. Cara Syakil yang kerap bermain halus dan sudah datang tanpa aba-aba adalah hal yang membuat Mikhail khawatir di saat begini.


Meski sudah cukup cepat, masih butuh waktu yang lama bagi Mikhail untuk tiba ke rumah sakit. Pria itu berlari dengan langkah panjang dan menelusuri koridor rumah sakit. Bastian bagaimana? Jelas saja tidak dia pedulikan lagi.


"Ma, gimana?"


Dia datang di saat yang tepat, tidak terlambat dan operasi sudah selesai dilakukan. Tidak ada drama pingsan ataupun marah-marah lagi karena Syakil juga tidak tertarik untuk berlomba menemui anak kedua Mikhail, bukan karena tidak sayang. Akan tetapi, khawatir saja jika pria itu justru mengajaknya perang.


"Syukurlah ... kalau begitu." Mikhail menghela napas lega, meski napasnya masih memburu, kini sang putri sudah meminta pelukan sang papa. Ya, sudah jelas Mikhayla harus menjadi pemeran utama.


-


Anugerah tiada hentinya menghampiri hidup Mikhail. Setelah Tuhan menghadirkan Zia, kini Tuhan juga menghadirkan malaikat-malaikat kecil dalam hidupnya.


Tahun ini kebahagiaannya benar-benar berlipat, kelahiran putra kembarnya semakin membuat kebahagiaannya lengkap. Zia memiliki dua pangeran sekarang, setelah hampir tiga tahun dia menjadi yang kedua lantaran Mikhail membagi cintanya untuk bidadari kecil itu, kini saatnya balas dendam.


Sama seperti kelahiran anak pertama, kini yang kedua Mikhail juga yang berperan penuh. betapa beruntungnya Zia diratukan pria semacam ini, bukan hanya mengurus Kedua bayinya, melainkan juga zia.


Kali ini memang sedikit sulit, karena itu peran kanaya dibutuhkan demi membuat pekerjaan Mikhail lebih mudah. Akan tetapi, sudah dua minggu usia mereka masalah yang Kanaya ungkapkan masih perihal hal yang itu-itu saja.

__ADS_1


"Zean yang rada sipit, ma ... kalau Sean yang matanya bulat.'


Sama saja, tidak ada bedanya di mata kanaya. lagipula bayi seumuran mereka hanya bisa tidur. Mana bisa dibedakan sipit atau tidaknya. Pria itu hanya terkekeh dengan kanaya yang kini menatapnya datar, sementara zia tersenyum simpul seraya menyuapi mikhayla yang ikut-ikutan manja padahal sudah punya adik.


"Oh ini Zean ya?" tanya Kanaya menyentuh pipi cucunya.


"Itu Sean, Ma." Salah lagi, sampai kapan Kanaya akan terus tertukar, nama hampir sama begitupun dengan wajahnya.


"Mama kenapa Mikhayla lahilnya sendili?"


Lucu sekali, sejak diperlihatkan jika dia mempunyai dua adik sekaligus. Mikhayla hanya mempertanyakan hal itu tanpa henti. Mana teman Mikhayla? Kenapa Mikhyala sendiri? Papa pindahkan kemana teman Mikhayla dan lain sebagainya.


"Dedek Zean sama Sean itu kembar, Sayang ... kalau Mikhayla memang sendirian, muatnya di perut mama Khayla sendiri," jelas Zia begitu lembutnya pada sang puttri, penasarannya ini sudah membuat batinnya bersedih dan Zia takut jika Mikhayla akan terus begini.


"Belalti nanti kalau dedek Zean punya dedek lagi, meleka beltiga ya, mam?" tanya Mikhayla sembari menunjukkan tiga jarinya, putrinya memang sedikit banyak sudah pandai berhitung dan berpikir dalam, wajar saja ucapan Zia membuatnya berkesimpulan seperti itu.


"Hahahahah Khayla-khayla ... kamu pikir mama kucing hamilnya bisa berlipat ganda begitu."


Mikhail yang mendengar pembicaraan putri dan istrinya jelas saja tidak kuasa menahan tawa, jujur ini terlalu lucu bagi Mikhail. ada-ada saja, dan Mikhayla tidak terima menjadi bahan tertawaan Mikhail.


"Papa diam!! khayla cuma tanya sama mama ... kita ga temenan lagi," ucapnya dengan bibir yang kini maju beberapa centi, mulai sedikit cemburu lantaran sang papa lebih fokus pada adiknya sejak beberapa hari terakhir.


"Hilih, besok-besok juga nyariin Papa ... Papa peluk, Papa mandi, Papa baju Khayla mana, Papa minum, Pap_"


"Papa!!! Khayla gamau temenan sama Papa lagi!! Mau sama om Babas aja!!"


"Sana sama om Babas, biar dimasukkin perutnya mau?"

__ADS_1


Ancaman sekali, Mikhayla takut Babas tapi sedikit-sedikit ancamannya akan meninggalkan dan memilih Babas sebagai pelarian. Padahal ada Syakil yang lebih waras, entah kenapa selalu nama Bastian yang dia bahas.


Tbc


__ADS_2