Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 94 - Pesan Terakhir


__ADS_3

"Zia ... kamu gendutan, aku pikir kemarin salah lihat."


Zidan menatapnya lekat-lekat dengan mata sendu yang berbalut kerinduan. Lama tak berjumpa, tanpa diduga Tuhan izinkan dirinya menatap pemilik senyum manis dalam hidup Zidan yang kini kian dewasa.


Sadar betul yang dia tatap bukan lagi Zia yang dulu, peri kecilnya sudah menjelma jadi calon ibu namun bukan ibu untuk anaknya. Memang sempat terkejut, akan tetapi kembali dia ingat alasan Zia tiba-tiba memutuskan cintanya dahulu karena apa. Zidan kecewa? Tidak, kehamilan Zia tidak sama sekali membuatnya kecewa. Zidan bersyukur jika Mikhail bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat pada Zia.


"Kamu baik-baik saja, Zia?"


"Hm, aku baik, Zidan ... seperti yang kamu lihat."


"Syukurlah, aku senang bisa lihat kamu lagi." Demi apapun, kerinduannya luar biasa membendung, tapi Zidan tidak memiliki keberanian untuk memeluknya meski sebentar saja.


"Orang itu ... maksudku suami kamu, dia baik kan?"


Memilih mengangguk sebagai jawaban, Zia juga heran kenapa Zidan masih mampu bicara dan tersenyum di hadapannya. Melihat Zidan yang begini rasa bersalahnya semakin menguasai, sebelumnya dia bisa bersembunyi dibalik punggung Mikhail. Akan tetapi, saat ini tidak lagi.


"Syukurlah, aku bahagia jika memang kamu jatuh dipelukan laki-laki yang tepat."


Bohong sekali, hati Zidan masih sakit sebenarnya. Mau sebahagia apapun Zia, lukanya tetap terasa. Apalagi, pria yang kini memiliki Zia adalah seseorang yang menempatkan Zia bagai wanita tak berharga waktu itu.


"Zidan, boleh aku tanya sesuatu?" Zia memberanikan diri untuk menatap mata itu sekarang.


"Hm, boleh. Kamu mau tanya apa, Zia?" tanya Zidan lembut masih seperti dulu, tidak ada yang berubah dari pemilik mata teduh itu.


"Kenapa kamu memilih diam? Sakitnya ... dari lama kan?"


"Soal itu, aku tidak ingin membuatmu khawatir. Lagipula waktu itu aku merasa baik-baik aja, mana aku tau kalau akan separah ini." Dia menjawab sesantai itu, benar-benar terlihat bukan masalah bahkan senyum hangatnya masih terus bertahan seperti tadi.


Ketika ada Zia di sisinya, harapan Zidan begitu besar meski kesehatannya belum membaik juga. Hanya saja alasan dia untuk tetap hidup kala itu begitu menggebu dan yakin seratus persen jika dirinya akan sembuh total. Akan tetapi, ketika Zia memilih pergi, jangankan harapan sembuh, harapan untuk hidup saja sudah tidak ada lagi.


"Dasar boddoh ... kamu paling peduli kesehatanku tapi kamu sendiri sakit."

__ADS_1


Zia yang dia kenal kini kembali, pria itu menarik sudut bibir ketika mendengar bentakan Zia. Sejak tadi dia menunggu dan baru dia dapati setelah lima menit berlalu.


"Karena aku tau sakit itu nggak ada enaknya sama sekali, Zia. Selagi sehat harus dijaga, jangan sampai sakit kalau bisa."


Memang, apa yang Zidan ucapkan adalah fakta. Hanya saja cara Zidan mengutamakan hidup orang lain di atas dirinya bukanlah hal yang tepat. Wanita itu hanya bisa diam merenungi keputusan Zidan yang nyatanya hanya menjadi sesal.


-


.


.


.


Kanker otak, bukan penyakit yang bisa dianggap remeh bahkan Zia dibuat bungkam kala Zidan menjawab pertanyaannya begitu santai. Zidan terlalu menerima keadaan yang membuat dia begitu santai padahal Zia ketar-ketir mendengar semua penuturannya.


"Jangan cengeng ... aku baik-baik saja, lihat nggak ada yang berubah dariku kan?"


Pada akhirnya Zia menangis juga, sekuat apapun dia mencoba tetap saja Zidan membuatnya seakan tak bertenaga. Walau selama Zidan berada di titik terendah ada Erika, sebagai wanita yang pernah bertahta di hari Zidan, kesedihan begitu mendalam dalam diri Zia saat ini.


"Sudah 10 menit, keluarlah ... nanti suami kamu marah," titah Zidan seakan tak rela melepas Zia, pertemuannya singkat sekali tapi percayalah Zidan merasa Tuhan mengembalikan saat-saat tanpa pertemuan yang dia lewati sendirian.


"Hm, nanti aku datang lagi, mas Mikhail bilang kita masih boleh berteman ... kamu tidak keberatan kan?"


"Terima kasih sebelumnya, Zia. Tapi, seperti yang aku katakan pada suamimu, ini pertemuan terakhir kita ... jangan pernah membuka hati pada siapapun jika sudah bersuami, sekalipun itu cuma teman ... kamu ingat kan, kita dulu berawal dari apa? Teman, Zia."


Ya Tuhan, kenapa lagi ini. Demi apapun Zia tak lagi memiliki getaran cinta saat menatap Zidan. Akan tetapi, mendengar ucapan yang begini hati Zia porak poranda dan sakit sekali rasanya.


"Kamu benci aku, Zidan?" lirih Zia dengan matanya yang kini mengembun, entah kenapa Zidan yang menolaknya untuk sekadar menjadi teman membuat Zia terhenyak.


"Bukan begitu, tapi status kamu sekarang sudah bersuami. Jadilah istri yang baik dan patuh, Zia, tetap jaga kesehatanmu dan juga calon buah hatimu ... maaf pernah jadi sumber dosa untukmu."

__ADS_1


'Zidan stop!! Hatiku benar-benar sakit mendengarnya ... berhenti karena aku tidak sekuat yang kamu kira,' Zia menjerit dalam batinnya, benar jika sebenarnya dialah yang tidak pantas untuk Zidan hingga Tuhan jauhkan.


"Aku ingin tidur, terima kasih sudah datang, sampaikan salamku untuk suamimu."


"Baiklah, aku pergi ... baik-baik ya dan titip salam buat Erika, tetap semangat!! Baik-baiknya kamu adalah hal yang ditunggu banyak orang, ingat Mama dan Azzoya." Zia mencoba terlihat sedikit ceria karena sebentar lagi dia akan bertemu Mikhail, akan tidak lucu jika nanti dia harus klarifikasi perihal matanya yang mambasah.


"Oh iya, tos dulu ... biar kamunya cepat sembuh."


"Hahah bisa saja, Tos!!" Pertama kali setelah beberapa bulan Zidan dibuat tersenyum lebar oleh sosok Zia.


Punggung Zia kian menjauh, sebelum benar-benar keluar Zia sempat tersenyum dan melambaikan tangannya beberapa kali. Perpisahan mereka terlampau manis, dua kali selalu ditutupi dengan cara begini.


Keduanya tercipta memang hanya sebagai kenangan, membekas dalam hati dan ditempatkan dengan versi masing-masing. Mungkin bagi Zia posisi Zidan sebagai sosok pria dalam hidupnya akan terganti dengan Mikhail, namun tidak bagi Zidan. Baginya, Zia adalah cinta terakhir kala maut benar-benar menghampirinya.


Sementara di sisi lain, Zia yang telah berhasil keluar kini menatap pria tampan di hadapannya. Sejak tadi Mikhail sabar menunggu, meski harus berdebat dengan Syakil yang kesal luar biasa dengan ulahnya, pria itu bisa terlihat tenang di hadapan Zia.


"Mas," tutur Zia bergetar, sejak tadi dia butuh pelukan sebenarnya. Untuk menopang tubuhnya saja terasa sulit, keadaan teramat sakit.


"Menangislah, untuk hari ini kamu boleh bersedih karena dia."


Mau apapun alasannya, Mikhail dapat melihat kesedihan dalam mata Zia. Dia tak membatasi jika memang Zia ingin menangis, karena tak selamanya air mata itu berurai dengan alasan masih cinta.


"Tumben dewasa, tadi saja marah-marah," celetuk Syakil berlalu melewati Mikhail yang tengah menenangkan Zia dalam pelukannya.


"Dasar siallan, mulutmu memang benar-benar minta diparut." Mikhail sengaja menarik rambut Syakil hingga adiknya mundur beberapa langkah, sepertinya jurus Kanaya menurun pada Mikhail.


"Aarrgghhh!! Cara marahmu cupu, Kak!!" desis Syakil menggosok kasar kulit kepalanya yang tiba-tiba sedikit panas, andai saja tidak ada Zia di sana mungkin Syakil akan membalas meski pada akhirnya dia kalah juga.


Tbc


Rekomendasi novel by Kak Opi, mampir ya gengs✨

__ADS_1



__ADS_2