
Tidak ada yang sia-sia, meski Zia memendam kekesalan pada Mikhail, akan tetapi Zidny dan Laura justru lebih menyukai hasil karya Mikhail. Ya, pria itu berhasil membuat kedua wanita itu kagum dengan keahliannya, bahkan Zidny tidak malu sama sekali untuk meminta sisa donat lonjong itu sebagai oleh-oleh untuk Lorenza, sang mama.
"Akhirnya, mereka pulang juga."
Bersyukur sekali Mikhail karena pada akhirnya duo pengacau itu pergi juga. Meninggalkan dirinya dan Zia yang kini masih duduk di ruang keluarga. Mikhail menarik sudut bibir kala melihat istrinya makan kembali menikmati donat dengan berbagai toping itu, entah apa enaknya, pikir Mikhail.
"Mas mau?"
Mikhail menggeleng, sejak tadi dia memang tidak tertarik. Lidahnya tidak selera dan sejak dahulu dia memang tidak suka.
"Kenapa nggak mau? Enak padahal," tutur Zia sedikit heran kenapa ada orang yang tidak menyukai maknan surga ini.
"Terlalu manis, Mas nggak suka."
Jawaban yang bisa diterima, Zia tak terlalu memaksakan suaminya harus suka. Selagi Mikhail tidak melarang apa maunya bagi Zia tidak masalah.
Tidak ingin mengganggu Zia kali ini, Mikhail sibuk sekali dengan benda pipih di tangannya. Memastikan semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah. Bukan hanya perihal jenny di rumah sakit, melainkan tentang Zidan juga.
Mikhail benar-benar bertanggung jawab penuh pada mantan kekasih istrinya. Sebelumnya Zia sempat ragu jika hal yang Mikhail lakukan akan benar-benar tulus, nyatanya pria itu adalah orang yang juga menanti kesembuhan Zidan.
Di posisi Mikhail tidaklah mudah, ada Zia yang harus dia perhatikan karena kelahirannya tinggal beberapa minggu lagi. Kemudian perusahaan yang benar-benar membutuhkan perannya, belum lagi soal Edgard yang tiba-tiba membuatnya terluka. Wajar saja jika Mikhail sesensi itu kala seseorang datang mengusik kehidupannya.
Sementara di sisi lain, jangankan untuk bersantai seperti bosnya. Bastian tengah melamun di pos jaga bersama Jackson dan juga Rohman.
Ini belum malam, akan tetapi mereka sudah ketar-ketir akibat berita buruk yang Rani sampaikan. Rohman yang baru saja mendapat janji kenaikan gaji tadi malam, kini mendadak ciut dan tidak berani berharap banyak.
"Kita mau bilang apa nanti?"
"Mau bagaimana, non Zidny datang sama nyonya, masa kita larang masuk."
__ADS_1
Alasan Jackson memang kuat, namun sebagai orang yang baru mengenal Mikhail beberapa bulan lalu, Babas tetap saja ketar-ketir. Dia paham Mikhail sangat anti dengan kelalaian, apapun bentuknya Mikhail memang tidak menyukainya.
"Habislah gajiku, kemarin sudah dipotong karena telat jemput ...." Bastian mengusap wajahnya kasar, ancaman Mikhail beberapa hari lalu masih menjadi momok bagi Babas, meski memang salah dia yang salah tempat menjemput Mikhail akibat tidak fokus membaca pesan dari bosnya.
"Ck, mana udah janji mau kasih kalung buat Rani, aku harus gimana, Bang?"
"Itu bukan urusanku, Bastian ... pertanyaanmu membuat semakin runyam saja."
Mana mungkin mereka bisa peduli, seharusnya paham kebutuhan masing-masing sudah banyak. Lantas Bastian mengeluhkan hal semacam itu padahal posisi mereka sama-sama terancam potong gaji.
Detik demi detik teramat berat bagi mereka, berharap malam akan segera berganti dan Mikhail akan melupakan perihal ini.
"Apa kita minta bantuan pak Ibra saja?" tanya Rohman sejenak membuat kedua orang itu menoleh.
"No, jika minta bantuan big bos kita mungkin selamat kali ini. Tapi, tidak untuk selanjutnya ... jadi, aku rasa lebih baik jangan, Man."
Benar juga, mungkin mereka bisa selmaat jika melibatkan Ibra. Akan tetapi sifatnya hanya sementara dan bisa jadi kemarahan Mikhail akan kian membara setelahnya.
-
.
.
.
"Hati-hati, kau masih lemah."
Meski hari ini bukan hari kerja, akan tetapi pekerjaan Bryan masih saja ada. Sejak tadi pagi dia sudah menjaga Jenny, menggantikan Tono dan Ucok yang masih trauma akibat kejadian malam itu.
__ADS_1
Ini bukan perintah Mikhail, dia melakukannya hanya karena alasan kemanusiaan. Wanita itu sendirian di rumah sakit, tidak ada keluarga yang mungkin rela menjenguknya.
"Kenapa kau masih di sini? Aku baik-baik saja sendiri," ucapnya pelan, Bryan yang selalu berada di sampingnya membuat Jenny sedikit bingung apa alasannya.
"Tidak apa-apa, lagipula aku tidak punya kesibukan hari ini."
Ada banyak alasan Bryan tetap di sisi Jenny, yang pertama jelas saja demi membuat wanita itu buka mulut karena pernyataannya sangat dibutuhkan. Bukan hanya membuat Edgard terpenjara tapi juga demi membuat rumah tangga Mikhail utuh tanpa salah paham nantinya.
Untuk bangun Jenny masih cukup sulit, bagian intinya benar-benar terasa sakit dan tak sedikit luka yang begitu perih kala dia sentuh. Hendak menangis namun percuma, siapa yang nantinya akan peduli padanya.
"Mikhail dimana?"
"Untuk apa kau mencarinya? Mikhail bukan lagi pria yang membutuhkan jasamu untuk memuaskannya. Jangan pernah mengusiknya lagi, Jenny ... dia sudah beristri, aku harap kau mengerti dan berhenti sampai di sini."
Sejak lama dia ingin menegaskan pada Jenny masalah ini. Rumah tangga Mikhail yang hampir terguncang tapi dia yang ketar-ketir. Kali ini, tidak ada kesempatan untuk Jenny bisa membuat pernyataan palsu yang mungkin akan membuat Zia tersakiti sebagai istri dari Mikhail.
Jenny terdiam, penegasan Mikhail cukup membuatnya terhenyak. Benar, tugasnya sudah selesai dan tidak seharusnya merengek kembali pada Mikhail tentang apa yang terjadi padanya.
"Bukan, aku tidak akan mengusiknya lagi ... aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya sebelum hidupku berakhir," ucap Jenny menatap nanar tanpa arah seraya tersenyum getir.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada alasanku untuk hidup, aku sedang hamil dan pria mana yang mau membayarku lagi dengan keadaan begini ... jika harus sabar menanti anak ini lahir, aku tidak sekuat itu."
"Dasar gila, dalam keadaan begini kau masih memikirkan hal itu? Otakmu kemana, jenny? Lagipula apa kau tidak bosan jual diri?" tanya Bryan benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir Jenny, ternyata benar-benar ada wanita semacam ini.
"Haha bosan? Sebenarnya iya ... tapi, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk bisa hidup normal, kau bisa bicara begitu karena tidak berada di posisiku," ucapnya menatap tajam mata Bryan seakan tak terima penuturan Bryan tentangnya yang masih sempat berpikir untuk jual diri dalam keadaan hamil.
Bryan memilih diam dan tidak ingin berkomentar lebih, mau bagaimanapun wanita ini tetap harus diwaspadai. Kembali ke tujuan awa, yang dia butuhkan pengakuan jujur dari Jenny, itu saja.
__ADS_1
"Nanti malam, apa kau bisa memintanya untuk menemuiku, bryan? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padanya," pinta Jenny benar-benar berharap Mikhail akan mau menemuinya kali ini, meskipun untuk yang terakhir kali.
Tbc