Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BONUS CHAPTER II


__ADS_3

"Papa."


Mikhayla tumbuh begitu cepat, meski kerap dibuat menangis hampir tiap hari. Pemilik mata bulat itu selalu menanti kepulangan sang papa. Langkah kecilnya berlari meninggalkan Zia, setelah membuat darah Zia seakan tumpah kala dia menuruni anak tangga begitu cepatnya, kini Mikhayla sudah berada dalam pelukan Mikhail.


"Papa kenapa lama? Khayla lindu-lindu."


Jika Mikhail sudah pulang, Mikhayla memang akan menjelma seperti putri kerajaan. Zia hanya tersenyum dari kejauhan melihat Mikhayla mulai mengadu. Tentu aja semua yang dia alami akan sampai ke telingan Mikhail.


"Maaf, Sayang ... tadi macet, Khayla nggak marah kan?"


"Nggak, Khayla nggak malah, tapi belbinya mana?"


Sama seperti Zia, Mikhayla adalah pengingat paling baik Jika sudah dijanjikan demikian maka akan dia tagih hingga nanti Mikhail berikan. Pria itu bingung hendak menjawab apa, karena memang dia lupa. Lagipula, janji tadi pagi dia ucapkan karena Mikhayla tak mengizinkannya pergi bekerja.


"Aduh, besok ya Papa beli ... hari ini nggak dijual, Sayang."


Mikhail menatap istrinya yang kini tengah menggeleng pelan, mungkin kalimat kebohongan yang Mikhail ucapkan membuatnya justru geli.


"Papa boong telus, kata Oma kalau boong telus nanti matanya pindah ke bibil, Papa."


Ajaran Kanaya memang begini, memiliki suami dan putra yang jago bohong membuat Kanaya menanamkan nilai kejujuran pada cucunya. Kini, apa yang Kanaya tanamkan benar-benar membekas dalam diri Mikhayla hingga Mikhail saja bingung kalau putrinya sudah begini.


"Hm, besok saja ya? Papa bawa Khayla sekalian, nanti Khayla pilih sendiri mau yang mana."


Meski hanya sepele, hati Mikhail tergores kala menyadari dia memberikan harapan palsu pada putrinya. Pria itu memeluk Mikhayla sebagai permintaan maafnya, Mikhail mengecup pipi gembul Khayla berkali-kali, sengaja membuat Zia iri.


"Janji ya, Papa?"


"Iya, janji ... Papa nggak bohong lagi, besok kita pergi."


Semudah itu senyumnya kini kembali terlihat, Mikhail tersenyum hangat seraya menatap lekat mata indah tanpa dosa itu.


"Maafkan Papa, Sayang,"


"It's okay, Papa." Jemarinya menelusuri wajah Mikhail dengan lembut, kebiasaan yang menurun dari Zia ini sepertinya awet sekali.


"Khayla wangi, pakai shampo Mama ya, Sayang?"


"Iya, Papa ... kan punya Mama stlobeli, Khayla suka."


Hingga putrinya berusia dua tahun, Zia masih sama, Sepertinya sulit untuknya lepas dari sampo itu. Mikhail hanya menarik sudut bibir sembari melirik sang istri yang kini tengah mengandung anak keduanya.


Sempat meminta Zia hamil kala Khayla masih berusia enam bulan. Akan tetapi, Kanaya dengan cepat melarang Mikhail lantaran khawatir Zia belum siap nantinya. Pemikiran Miikhail yang ingin menjadikan Zia pabrik bayi jelas saja dilarang sang mama.


"Papa, ini apa?"


"Itu jakun namanya," jawab Mikhail kemudian mengendong putrinya, menghampiri ZIa dan memberikan tas kerjanya.

__ADS_1


"Kenapa Khayla nggak punya?"


Mikhayla bertanya sembari mendongak dan memperlihatkan lehernya, mencari perhatian agar Mikhail tetap terfokus padanya.


"Mikhayla perempuan nggak punya, Sayang ... sama kayak Mama, tuh lihat leher Mama nggak ada kan," tutur Mikhail sembari menelusuri leher istrinya dengan sentuha yang tidak biasa.


"Ck, kamu apaan sih, Mas ... udah ke kamar sana, aku siapin makan malam."


Mikhail tertawa sumbang kala Zia menepis jemarinya kasar. Kehamilan kedua ini sedikit berbeda, jangankan manja. Zia sedikit risih jika Mikhail kerap menyentuhnya.


"Zia ... Mas mau mandi, masa Khayla diajak. Nanti saja siapkan makannya, temenin Mas dulu."


"Ih Papa!! Khayla cendili aja, bialin Mama di dapul bental."


Ternyata memang benar, seorang ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Akan tetapi, malaikat kecil yang mencintai Mikhail ini sedikit cemburuan dan posesif luar biasa, bahkan terhadap mamanya sendiri.


"Tuh, udah sama Khayla aja ... dia anteng kalau sama kamu, suruh duduk di tempat tidur pas kamu mandi, dia nggak bakal kemana-kemana kok, Mas."


Bukan itu maksudnya, semenjak ZIa hamil Mikhail memang harus terbiasa mandiri. Istrinya yang kerap malas berhadapan dengannya kadang kala membuat Mikhail sedih dan bingung kesalahannya apa, akan tetapi Bimantara mengatakan itu wajar saja karena pengaruh hormon wanita hamil memang berbeda-beda.


"Hm, Mas mandi dulu."


Zia juga tidak mengerti kenapa dia kesal sekali jika suah melihat wajah Mikhail. Padahal, ketika Mikhail bekerja, ada kalanya dia merasakan rindu dan ingin memeluknya. Akan tetapi, hal itu memang benar-benar berubah setelah Mikhail pulang.


"Jangan lama, nanti nasinya dingin."


-


.


.


.


Malam mulai larut, setelah dia menidurkan Mikhayla, pria itu kembali ke kamar menghampiri sang istri. Meski yang kerap dia hadapi adalah wajah cemberut, dia takkan pernah bosan merayu sang istri.


"Belum tidur?" tanya Mikhail pelan, lampu bahkan belum dimatikan dan Zia masih begitu fokus dengan ponselnya sembari membelakangi Mikhail.


"Belum, Miikhayla udah tidur, Mas?"


"Hm, udah."


"Yakin?" selidik Zia teliti, jangan sampai putrinya tiba-tiba merengek lantaran belum terlalu nyenyak sudah mencari Mikhail yang berakhir Zia harus tidur di sofa karena posesifnya Mikhayla benar-benar tidak tertolong.


"Udahan main hpnya, tidur, Zia."


Bukan hanya bicara, Mikhail bertindak dengan menarik ponsel sang istri kemudian menguncinya dalam pelukan. Jika tidak begini Zia biasanya menolak dan enggan menerima pelukan Mikhail.

__ADS_1


"Mas, aku belum selesai loh ... postingan Erika belum aku komentarin."


Zia mendengkus kesal lantaran Mikhail merusak kesenangannya, pria itu memmbuat niatnya untuk mengucapkan selamat pada Zidan dan Erika urung begitu saja.


"Besok lagi, sudah malam ... tidur dulu."


Mikhail mengeratkan pelukannya, mengecup kepalanya berkali-kali sembari menghirup aroma rambut Zia yang begitu wangi. Sebelum istrinya berontak, Mikhail sengaja membuat tubuh Zia kesulitan bergerak.


"Mas, lepas."


Sudah dia duga, belum juga lima menit Zia sudah merasa tidak nyaman. Dia tidak berbohong, deru napas Mikhail membuatnya benar-benar kesal, bahkan aroma tubuh Mikhail tidak dia sukai.


"Ya Tuhan, Zia ... kamu kenapa begini terus? Hampir lima bulan dipeluk nggak mau, dicium nggak suka. Kamu maunya Mas gimana?" tanya Mikhail putus asa kemudian melepas pelukannya, dia beranjak dan turun dari tempat tidur. Tidak ingin marah, namun Zia yang begini membuatnya bingung luar biasa.


"Mas tunggu," tutur Zia kala Mikhail mulai melangkah dan ini sungguh membuat batinnya bergejolak tiba-tiba.


"Mas mau kemana?" tanya Zia melemah dan membuat Mikhail kembali tak tega.


"Tidur di kamar Mikhayla, kamu merasa terganggu kalau Mas pulang kan?"


Memang benar, tapi ketika Mikhail bicara begini Zia bingung sendiri. Suasana hatinya memang berantakan, bingung namun perasaan ini tidak bisa dia defenisikan. Jika Mikhail benar-benar meninggalkannya, jelas saja Zia tidak rela.


"Mas kok gitu? Kamu beneran nggak sayang aku lagi ya?"


Serba salah, digertak begini Zia hampir menangis. Namun jika Mikhail ingin bermanja dia lelah sendiri. Jika sudah begini, Mikhail mana bisa meninggalkannya. Pria itu menghela napas kasar dan kini kembali dan menatap lekat-lekat mata Zia.


"Jadi maunya gimana? Tidur sama Mas? Kalau nggak suka Mas bisa tidur di kamar Khayla," ucapnya masih terkesan datar dan sukses membuat Zia menggeleng pelan.


"Sama aku, kamu sama Khayla terus kalau di rumah."


Umurnya dan Khayla jauh berbeda, bisa-bisanya pola pikirnya sama persis. Seperti Khayla yang cemburu jika Mikhail bersama Zia, kini istrinya juga sama.


"Tapi boleh peluk?" tanya Mikhail sebelum dia menuruti keinginan Zia.


"Iya, boleh."


"Boleh ciium?"


"Boleh, tapi jangan kelamaan."


"Boleh_"


"Mas jangan macem-macem ya, udah cepetan tidur ... besok kamu ingkar janji lagi sama Mikhayla awas aja." Mikhail tertawa sumbang, belum juga selesai permintaan ketiganya tapi Zia sudah larang.


Tbc


Bonusnya tambah nggak nih?🤣

__ADS_1


Btw Syakil sudah rilis ya, cus ke sana juga. Cuplikan Bab di eps selanjutnya.


__ADS_2