
Dia tidak salah lihat, Erika bersama Zidan tampaknya juga kehujanan dan berteduh di depan ruko sebelah bengkel. Jarak mereka memang cukup jauh, namun mata Zia masih bisa melihat dengan jelas sahabat dan mantan kekasihnya itu.
"Kamu lihat apa, Zia? Belum kamu jawab tadi, Sayang."
Mata Mikhail tak setajam Zia, apalagi kini di hadapannya Zia sengaja menghalangi pandangannya hingga pria itu lama-lama menyerah.
"Nggak ada, tukang tahu gejrot ... memangnya boleh?"
"No, nanti perut kamu sakit."
Bersyukur sekali di sana juga ada pedagang tahu gejrot yang bernasib sama. Cukup mudah membuat Mikhail tidak banyak tanya, dia tak mencari lagi dengan jeli siapa yang sebenarnya Zia lihat.
"Yaudah kalau nggak diizinin," ucap Zia pasrah, alasan dia saja sebenarnya. Padahal, sama sekali dia tidak tertarik karena sempat masuk rumah sakit akibat makan tahu gejrot bersama Erika satu tahun lalu.
Menunggu cukup lama, Zia masih curi-curi pandang ke arah sana. Sepertinya Zidan baik-baik saja, sudah lama dia tidak melihat senyum itu. "Syukurlah," batin Zia menghela napasnya pelan-pelan. Jujur saja Zia memang merindu
Hanya rindu, bukan berarti ingin kembali. Dia sadar siapa dan bagaimana keadaannya sekarang, dia adalah istri Mikhail yang juga mengandung anak dari pria itu. Hanya saja, untuk melupakan dia tidak mungkin bisa.
Zidan adalah pria baik dalam hidupnya, meski memang pria itu belum tentu mampu memberikan segalanya seperti Mikhail, akan tetapi sewaktu menjadi kekasihnya Zidan memberikan apa yang dia punya.
"Sayang," panggil Mikhail membuyarkan lamunan Zia, pria itu mengecup punggung Zia yang berbalut jaket tebal itu.
"Iya, kenapa, Mas?"
"Kalau anak kita lahir, Mas mau namain dia pakai unsur semesta boleh ya?" tanya Mikhail sembari menatap langit yang masih gelap di ujung sana. Pria itu memang sedikit aneh, dia menyukai suasana yang sedikit suram ataupun kegelapan.
"Boleh ... misalnya apa?"
Zia sudah seserius itu menatap wajahnya yang menengadah ke langit. Mikhail menggemaskan, dan memang tampan.
"Guntur," ucap Mikhail santai.
"Dih nggak mau, itu nama Om-om mesu*m di kampus." Belum apa-apa Zia sudah geli sendiri, lagipula kenapa bisa Mikhail punya ide nama anak begitu.
"Kalau petir?"
Zia menggeleng, guntur saja dia tidak mau apalagi petir, pikirnya.
"Terus apa? Mega mendung? Cumulonimbus? Culumus? Sitrus? Atau apa?" Pertanyaan Mikhail ngasal, entah kenapa justru menyebutkan jenis-jenis awan.
"Ck, udah deh serahin sama Mama aja ... ngasal banget heran," celetuk Zia lelah pada akhirnya, dia pikir Mikhail serius namun nyatanya masih saja bercanda.
__ADS_1
"Hahaha, biar suasananya hangat, Zia ... dingin soalnya."
Mikhail tertawa sumbang, istrinya terlalu serius padahal dia memang sedang bercanda. Dia memang tidak sekreatif Ibra yang bahkan menciptakan nama dengan filosofi masing-masing.
"Peluk dong, jaket Mas ketipisan." Dia meminta dengan sungguh-sungguh, Mikhail tak peduli sekalipun ada orang lain di sini.
"Sini, tangannya aku angetin."
Zia menggenggam tangan Mikhail erat, kemudian menggosok-gosokan kedua telapak tangannya untuk menciptakan kehangatan di sana. Cara lama yang Zia dapatkan dari Zidan kini dia praktikan pada pria lain.
"Abis gosok-gosok tempel di pipi Mas, gini ... hangat kan?"
Mikhail menarik sudut bibir, meski dia juga mengetahui cara ini sejak lama pria itu tetap mendengarkan Zia begitu seksama.
"Kamu memang pintar, Zia ... nggak sia-sia Mas kejar sampai ujung dunia," ujar Mikhail kemudian, kalimat sederhana yang selalu berhasil membuat Zia benar-benar berharga.
-
.
.
.
"Hahaha gosoknya santai aja, Erika ... melepuh tangannya nanti," ujar Zidan seraya tertawa sumbang, pria itu menggeleng pelan dengan tingkah sabahatnya ini.
"Ck, nggak ada rasanya, Zidan."
"Dasar manja, gini ... gosok-gosok bentar, setelah itu ... tempel."
Begitu saja tidak bisa, Zidan meratapi kebodohan sahabatnya yang memang loading lama. Pria itu mengacak rambut Erika hingga wanita itu hanya bisa menatap dengan wajah kesalnya.
"Nggak ngaruh, emang paling hangat cuma selimut titik."
"Itu lain cerita, Erika," tutur Zidan menghela napas pelan, sepertinya memang percuma bicara pada wanita ini.
Zidan menghela napas kasar, sudah tujuh bulan dia hidup dalam tanda tanya. Berpura-pura tidak peduli dengan kepergiannya ternyata melelahkan, Zidan menyesali keputusan lantaran dia memilih benar-benar pergi malam itu.
Hujan, berdua dan terjebak di tempat ini adalah hal yang akan selalu dia ingat. Zidan mengacak rambut tebalnya, berharap sekali dia bisa menatap wajah pemilik hati yang tak lagi dia miliki itu.
"Kamu mikirin apa?"
__ADS_1
"Hm? Enggak, cuma takut Mama khawatir," jawabnya berbeda dengan apa yang sebenarnya terpikir dalam benak.
"Jujur aja, Zia kan?"
"Cih, buat apa mikirin dia? Orang udah putus," tutur Zidan seakan masih menyisakan benci dalam jiwanya, padahal saat ini Zidan setengah mati merindukannya.
"Halah, mata kamu nggak bisa bohong, Zidan ... kamu kangen dia kan?"
Sulit sekali untuk berkata iya, namun sampai kapan dia terus menyembunyikan ini padahal tanpa dia bicara siapapun mampu menebak isi hatinya.
"Masih sayang?"
"Masihlah, bohong kalau enggak." Zidan tersenyum getir menatap Erika saat ini, mungkin yang paham bagaimana sakitnya hanya Erika selain dia sendiri.
"Kamu bilang, selama Zia bahagia kamu juga bahagia ... ayo semangat dong, karena saat ini dia pasti sangat-sangat bahagia, percaya sama aku."
Menyedihkan sekali sebenarnya, meski jujur saja Erika tidak mengerti bagaimana keadaan Zia. Namun, dia yakin pria bernama Mikhail Abercio yang mengaku sebagai calon suami Zia beberapa waktu lalu akan menggantikan sosok Zidan dalam kehidupan Zia.
"Kamu yakin, Erika?"
"Sangat-sangat yakin, suaminya adalah laki-laki yang baik ... Zia tidak akan salah pilih," tutur Erika tidak sadar dan cepat-cepat dia menutup mulut dengan jemarinya.
"Suami? Zia benar-benar sudah menikah?"
"Hm, sepertinya begitu ... tapi, aku tidak tau pastinya, Zidan." Tidak ada niat untuk dia mengatakan ini jika Zidan tak membahas Zia sebelumnya.
"Menikah, syukurlah jika badjingan itu bertanggung jawab."
Zidan mengepalkan tangannya, jika kembali dia ingat yang tersisa hanya ada rasa sakit. Kekuasaan dan uang memisahkan cinta sucinya pada Zia, meski pada akhirnya Zia lah yang memilih mengakhiri, namun Zidan tidak pernah menjadikan Zia sebagai sosok yang menyakiti.
"Tanggung jawab gimana? Maksud kamu apa, Zidan? Kamu tau lebih banyak dari aku ya?"
Pada faktanya mereka sama-sama menyembunyikan segala sesuatu yang mereka ketahui tentang Zia. Erika tutup mulut demi menjaga hati Zidan, sementara Zidan tutup mulut demi menjaga nama baik Zia.
"Lupakan, cepat pulang ... aku lupa Mama harus ke rumah sakit lagi sore ini," ajak Zidan kini beranjak menghampiri motornya.
"Ih masih hujan begini, kita bisa basah, Zidan," teriak Erika mungkin terdengar beberapa orang yang ada di sekeliling tempat itu. Erika menutup mulutnya seketika kala sadar suaranya sebesar itu, dan matanya justru harus melihat adegan manis yang menjadi impiannya sejak lama di ujung sana.
"Sholawat dulu ah, kali aja tahun depan bisa kayak pasangan itu ... bikin iri aja hujan-hujan pelukan, mana dipangku lagi." Masih sempat mengomel meski dia tengah berusaha mengikuti langkah Zidan.
Tbc
__ADS_1