Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 68 - Jodoh Masa Lalu.


__ADS_3

Pasca pulang dari rumah sakit, Mikhail tidak diizinkan pergi kemanapun. Ruang geraknya kembali dibatasi, bukan hanya perintah Kanaya melainkan juga keinginan Zia. Ya, mereka sama-sama khawatir dan saat ini Mikhail persis korban kecelakaan.


"Ckckck ... kenapa juga lari-lari? Om pikir kamu sudah dewasa, Khail." Abygail berdecak heran dengan tingkah Mikhail, sungguh jauh berbeda dari Kanaya.


"Om tanya saja sama Papa, kenapa dia mengejarku persis maling sore itu," jawabnya sedikit lemas, jujur saja dia malas.


Sungguh rasanya ingin sekali Mikhail pindah saat ini ke rumah barunya. Setelah Kanaya dan Ibra yang sama hebohnya, kini keluarganya juga demikian. Abygail dan Adibah datang dengan membawa buah tangan yang tak sedikit, begitupun Adrian dan istrinya.


Pernah hampir kehilangan Mikhail membuat mereka setakut itu meski memang yang kali ini hanya kecelakaan kecil. Bahkan kakeknya marah besar pada Ibra lantaran kaki Mikhail keseleo akibat kejar-kejaran bersama Ibra.


Seketika kediaman keluarga Megantara ramai, sanak saudara datang begitupun dengan sahabat kedua orang tuanya. Bukan hanya membawa pasangan masing-masing melainkan anak-anak mereka juga ikut.


"Aduh-aduh ... mantan calon suamiku sakit lagi, Abang juga ngapain kejer-kejeran padahal udah tua."


Seorang wanita yang tak begitu jauh umurnya dari Mikhail menghampiri dengan wajah khawatir namun penuh ejekan, meski sempat membuat kedua orang tuanya malu wanita itu tidak menyimpan dendam pada Mikhail sama sekali.


"Ck, kamu belum pernah masuk peti mati, Zidny?"


Mikhail berdecak kesal menatap wajahnya, beruntung sekali dahulu dia melarikan diri tepat di hari pertunangan mereka. Mulut Mikhail sudah gatal ingin mengusir setiap orang yang terus saja berdatangan padanya.


"Aw galaknya, untung dapet istri penyabar ... iya gak, Lau?"


"Hm betul, Bang ... mana muda lagi, Laura jadi minder," sahut Laura mengangguk setuju dengan pertanyaan Zidny, memang mereka akui Zia sangat cantik dan itu adalah fakta yang tidak bisa mereka bantah.


"Hm, kata tante Naya seumuran Syakil ... berarti kalau tuaan aku 9 tahunan. Iya kan, Bang?" Zidny duduk lebih dekat di sisi Mikhail, wataknya tidak jauh berbeda dari Lorenza sewaktu muda sebenarnya.


"Wuih keren ... Laura pikir udah paling kecil di antara kalian berdua, berarti sama aku lebih muda 5 tahun ya, Bang?"


Mereka berdua justru sibuk membahas Zia yang saat ini tengah Kanaya banggakan di hadapan Lorenza dan juga Siska. Ya, kebetulan sekali kecelakaan kecil Mikhail ini bisa membuat mereka bertemu dan berbincang hangat.


"Abang nembaknya gimana? Katanya nggak suka sama yang lebih muda ... itu hampir 10 tahun jaraknya, gimana sih?" Zidny merasa tertipu sekali, teringat jelas alasan Mikhail kabur hanya karena Zidny lebih muda darinya.


"Tembak dalam lah," jawab Mikhail santai.


Mereka memang tidak cocok untuk menjadi pasangan. Sejak kecil memang cukup dekat namun lebih pantas jadi sahabat saja.


"Tembak dalam gimana, Kak Zid?"


"Heleh, anak gadis Om Haikal sok polos sekali ... minta ajarin pacar kamu sana," ujar Zidny seraya melemparkan tisu yang dia gumpalkan jadi bola-bola kecil sejak tadi.


"Ih kak Zidny!!" teriak Laura marah lantaran bola dari tisu itu justru masuk mulutnya, sontak hal itu membuat dia marah besar dan membalas dengan melemparkan tisu beserta kotak-kotaknya.

__ADS_1


"Aarrgghh!! Sakit, Laura!!"


"Kakak yang mulai!!"


Dalam waktu singkat, pertikaian antara mereka tak bisa terelakan. Mikhail enggan melerai dan mereka bergulat di sofa sampingnya, terserah kepala Mikhail sudah pusing sejak tadi. Sekarang, dua wanita yang bersaing sejak dalam kandungan untuk menjadi jodohnya ini membuat kepala Mikhail lebih sakit lagi.


"Hiyyaaaaa!! Aku habisi kau, Zidny Wiradhyatama!!"


Gubrak


"Eeuugghh, tunggu pembalasanku Laura Abdi Maros!"


Jika banyak yang berpikir anak Kanaya paling berulah, jawabannya adalah salah. Meski Mikhail laki-laki, namun bisa dikatakan dia yang paling waras diantara anak Siska dan Lorenza.


Sama-sama jago karate, Siska dan Lorenza benar-benar berusaha agar putri mereka bisa berada di dekat Mikhail. Itulah alasan kenapa mereka selalu mengikuti dimana Mikhail berada.


"Huft Mama ... kenapa aku harus mengenal orang-orang seperti ini?" Mikhail menghela napas kasar, dengan kaki yang masih terasa sedikit sakit dia kembali ke kamar dan berharap Zia akan mengerti dan mencarinya dengan segera.


-


.


.


.


"Aaahh leganya."


Mikhail menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, akhirnya terlepas dari mereka-mereka yang membuatnya sakit kepala. Masih pukul 14:00, belum sore dan Mikhail berharap orang-orang itu segera pergi dari rumahnya.


Beberapa saat dia menanti Zia naik, Mikhail menatap langit-langit kamar. Jika terus begini bisa-bisa dia mengantuk, pikirnya. Mikhail merogoh ponsel di sakunya, menghubungi Kanaya dan meminta agar istrinya segera ke kamar saat ini juga.


"One ... two ... three."


Ceklek


Patuh sekali, Mikhail sangat menyukai sifat Zia yang penurut dan tidak pernah membantahnya. Mikhail tersenyum kala istrinya muncul dari balik pintu, Zia hanya menatapnya bingung lantaran khawatir pada suaminya.


"Kenapa, Mas?" tanya Zia hendak menghampiri Mikhail, namun sebelum itu Mikhail melarangnya untuk mendekat.


"Kunci dulu pintunya, Zia."

__ADS_1


Permintaan horor di siang hari, Mikhail meminta pintu kamarnya dikunci. Hendak berpikir buruk namun sepertinya dia tidak akan macam-macam lantaran kakinya masih sakit, pikir Zia.


"Kenapa minta aku naik? Kakinya makin sakit atau butuh apa?" tanya Zia lembut mengacak pelan rambut Mikhail kala sudah berada di sisi suaminya.


Mikhail menggeleng pelan, dia hanya ingin sedikit ketenangan sebenarnya. Maka dari itu dia meminta Zia naik, telinganya sudah terlalu sakit akibat pertengkaran Laura dan Zidny.


"Kamu kenapa lama? Banyak yang mereka tanyakan?" Mikhail melingkarkan tangan di pinggangnya, menarik Zia lebih dekat hingga mereka tidak lagi berjarak.


"Lumayan ... mereka bahas banyak banget, aku cuma dengerin," jawab Zia seraya membuat pola bulat-bulat kecil di dada Mikhail dengan jemarinya.


"Bahas apa?" tanya Mikhail kemudian, matanya menatap lekat-lekat wajah cantik Zia.


"Bahas masalah Mas kabur pas dijodohin, tante Lorenza bilang dia sekarang kesulitan cari calon menantu baru karena Mas udah nikah sama aku." Bercerita sebagaimana mestinya dan tanpa dibuat-buat, Mikhail mendengarkan begitu seksama sembari menarik sudut bibirnya.


"Hahaha ... terus muka kamu kenapa begitu?"


"Akunya bingung, tante Lorenza jadi sedih bahkan sampai nangis tadi ... aku jadi merasa perebut jodoh orang, Mas," ucapnya kemudian menatap mata Mikhail, pembicaraan bersama Lorenza dan Siska tadi memang membuat hati Zia tersentil sebenarnya.


"Shut, kamu bukan perebut jodoh orang, Zia ... itu semua sudah terjadi di masa lalu dan Mas yang mengambil keputusan." Zia begitu mudah memikirkan perasaan orang, hanya karena Lorenza bercerita masa lalu dia justru berpikir macam-macam.


"Tapi kan tetap aja, Mas ... kata mereka sejak dalam kandungan udah dijodohin eh kalah sama yang baru ketemu pas kamu sedewasa ini," jawab Zia sedikit menekan pola bulatan kecil di dada Mikhail lantaran kesal.


"Namanya juga jodoh, kamu juga begitu kan? Haha, pacaran 2 tahun kalah sama yang baru kenal dua minggu," jawab Mikhail kemudian, sadar jika dalam hal ini yang pantas disebut perebut jodoh orang adalah dia, bukan Zia.


"Itukan karena Mas curang, itu bukan hanya rebut ... tapi rampok."


"Terserah, Mas suka kamu tapi ternyata pacar orang ... salah sendiri kenapa Zidan punya pacar secantik ini," ungkap Mikhail kemudian menghujani Zia dengan kecupan, istrinya terlalu menggemaskan, dan waktu berdua memang harus dimanfaatkan.


"Hhhmmppp, gerah, Mas!! Peluknya kekencengan, si comel kejepit." Zia mencoba melonggarkan pelukan Mikhail yang kian lama kian erat saja.


"Haha maaf, Zia."


Beberapa detik dia terdiam, dan Mikhail tidak lagi menciumnya sebutral tadi. Begitu lembut namun tetap tanpa henti.


"Sayang," panggil Mikhail menatap lekat manik indah sang istri.


"Apa?"


"Tutup tirainya dong." Mikhail menatap semua tirai jendela yang memang masih terbuka, kamar mereka juga terang benderang lantaran cahaya matahari masuk dengan sempurna.


"Bu-buat apa? Kenapa harus ditutup?"

__ADS_1


"Mas nggak nyaman kalau terbuka, berasa ditonton satu negara," tuturnya dengan senyum tipis yang tetap dapat Zia tangkap sebagai senjata paling ampuhnya.


Tbc


__ADS_2