Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 93 - Mengalah (Mikhail)


__ADS_3

"Kamu belum pulang?"


Mikhail mengerutkan dahi kala menyadari Syakil masih duduk santai di ruang tamu seraya menikmati cemilan yang menjadi teman Zia menghabiskan harinya. Sudah cukup lama Syakil menunggu, hendak pulang namun tujuannya belum tuntas. Dia belum mendapatkan izin resmi dari Mikhail agar Zia bisa mengunjungi Zidan secepatnya.


"Belum, ngusir?"


Syakil mendongak, rasa-rasanya tidak salah jika dia bersantai sejenak. Selagi tidak mengusik Zia, semua baik-baik saja, pikir Syakil.


"Siapa yang ngusir, cuma tanya, Syakil."


Adiknya akhir-akhir ini emosian, entah apa sebabnya dan Mikhail sangat merasakan perbedaan sikap Syakil. Terlebih lagi setelah Aleena masuk rumah sakit, Syakil memilih bungkam dan baru kembali menghubungi Mikhail ketika hendak datang ke rumahnya beberapa jam lalu.


"Ck, kenapa duduk juga? kakak sudah ditunggu kak Zia sepertinya, ... sana."


Maksud hati Mikhail sudah baik, dia ingin menemani Syakil untuk sesaat saja. Akan tetapi sepertinya Syakil tak ingin bersahabat dengannya kali ini.


"Kalau begitu pulanglah, aku ingin berdua dengan istriku," usir Mikhail terang-terangan.


"Aku ingin tetap di sini, pulangnya nanti."


"Kamu tetap di sini mau apa? Pasti ada maunya kan? Ulang tahunmu empat hari lagi, aku tidak lupa, Syakil."


Mikhail tidak lupa, sama sekali dia tidak melupakan janjinya meski memang tidak pernah dia bahas lagi. Mobil yang Syakil mau dan izin untuk memiliki SIM akan dia berikan segera.


"Oh iya, padahal aku sudah lupa ... hahaha aturan Papa tidak berlaku untukku kan?"


Baru kali ini Mikhail memilih mengalah, perdebatan antara dia dan Ibra yang meminta kebebasan untuk Syakil cukup berat bagi Mikhail. Akan tetapi, mau bagaimanapun Syakil juga berhak hidup sesuai kemauannya karena memang dia sudah beranjak dewasa.


"Hm, tapi tetap aku berhak membatasimu ... dilarang balap liar!"


"Beres."


Ini berita baik, hadiah dari Mikhail biasanya lebih mahal dan lebih mewah dari Ibra. Kakaknya memang tidak pernah mempermasalahkan perihal jumlah uang yang harus dikeluarkan, baginya mahal tak mengapa asal penerima merasa puas.


Usai dengan Syakil, Mikhail menghampiri Zia yang sudah menunggunya di ruang makan. Mereka hanya berdua tapi yang Zia siapkan seakan cukup untuk satu RT, mungkin karena Syakil datang kali ini.

__ADS_1


"Puasa kata dia," jawab Mikhail kala Zia memintanya memanggilkan Syakil juga untuk bergabung makan bersama.


"Puasa apanya? Orang dia tadi minum," tutur Zia berdecak heran, kenapa suaminya ini tak bisa sama sekali diandalkan. Padahal yang Zia minta tidaklah sulit, hanya meminta agar Syakil dia ajak makan.


"Dia bilang sama Mas puasa, anggap saja khilaf."


Tidak bisa dipercaya, Zia terpaksa meminta Rani untuk memanggilkan Syakil. Dia sudah lama berada di rumah ini, rasanya tidak mungkin jika tidak lapar sama sekali, pikir Zia.


"Yaah Mas nggak bisa makan ya?" tanya Zia sedikit kecewa, dia lupa suaminya alergi seafood.


"Kamu makan saja sendirian ... Mama pasti sengaja masak buat kamu, Mas bisa makan yang lain, Zia."


Tahta Mikhail sebagai anak manja sepertinya tergeser begitu Zia hadir. Buktinya kini Kanaya hanya masak makanan kesukaan Zia tanpa menyertakan ayam bakar yang Mikhail suka, pilih kasih tapi tidak begitu masalah bagi Mikhail.


"Syakil boleh nggak? Ini kebanyakan kalau aku makan sendiri."


"Alergi juga Zia, dia memang tidak punya pendirian ... sampai alergiku saja dia ikuti." Dia bicara seenaknya tanpa sadar jika Syakil sudah berada di belakangnya, kakaknya memang benar-benar pintar berbohong seperti yang sang mama katakan.


"Bohong aja terus, Mama masak itu buat aku sama kak Zia."


"Dari mana teori begitu, dasar aneh."


Hendak makan siang saja harus berdebat dulu, sebenarnya Syakil sedikit canggung makan bersama mereka berdua. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri dia lapar juga sebenarnya.


-


.


.


.


Sebagaimana tujuan Syakil sebelumnya, dia memohon izin pada Mikhail agar Zia bisa menjenguk Zidan ke rumah sakit. Pembicaraan serius dan Syakil tak bermaksud membuat rumah tangga mereka kacau sedikitpun.


Cukup lama merayu Mikhail, bahkan dengan dalih kemanusiaan Syakil sangat-sangat berharap hati Mikhail luluh. Hingga, pada akhirnya sore itu dia mengalah dan mengizinkan Zia bertemu Zidan dengan syarat dia ikut ke rumah sakit.

__ADS_1


"Jangan baperan, kemungkinan Zidan akan minta peluk dan Kakak tolong maklumi."


"Mana bisa seperti itu, saat ini Zia istriku!! Heh, jangan hanya karena sakit parah dia bisa ambil kesempatan ya?"


Padahal belum tentu, Syakil hanya mengatakan kemungkinannya. Bisa jadi Zia tanpa sadar memeluk Zidan jika sudah bertatap mata berdua di dalam sana, karena bagaimanapun yang mejadi orang ketiga dalam hubungan pasangan kekasih paling manis sekampus itu adalah Mikhail.


"Dasar licik, Kakak dulu merebut Zia tanpa pikir panjang dia masih milik Zidan."


"Ck, kamu cari ribut denganku ... kakak kamu itu Zidan atau aku sebenarnya?"


"Sshuuutt!! Ini rumah sakit, jangan banyak bicara dan Kakak tenang saja ... Zia tau batasan, begitupun dengan Zidan."


Mereka menunggu di depan ruang rawat Zidan, demi memenuhi keinginan Zidan agar diizinkan berbicara empat mata bersama Zia, Mikhail terpaksa menunggu dengan perasaan was-was dan takut sekali pria itu akan macam-macam.


"Lama sekali, Syakil! Apa yang mereka bicarakan?" Mikhail ketar-ketir, menunggu Zia keluar dengan kesabaran yang kian menipis saja.


"Lama apanya? Baru lima menit, Zidan tadi meminta waktu 10 menit."


Mikhail melihat pergelangan tangan kirinya, memang baru lima menit akan tetapi kenapa terasa lama sekali. Di sisi lain, Mikhail yakin Zidan sangat tulus dan tidak akan berbohong padanya, bahkan dengan sopan Zidan meminta waktu berdua bersama Zia sebentar saja kepada Mikhail beberapa saat lalu.


"Tapi ...."


"Cukup tunggu, Zidan tidak seburuk yang Kakak pikirkan ... dia hanya minta 10 menit bersama wanita yang seharusnya menjadi miliknya seumur hidup, Kakak jangan egoislah, kali ini saja."


Mendapat ocehan Syakil baru dia bisa sedikit tenang, mungkin memang dia yang terlalu egois. Yang Zidan inginkan hanya sebuah pertemuan, itupun dia utarakan secara langsung ketika Mikhail ikut masuk menjenguknya, meski Mikhail sudah menghancurkan asmara antara dia dan Zia, akan tetapi Zidan tetap bersikap sopan kala mengetahui jika Mikhail adalah kakak kandung Syakil.


"Syakil, kamu baik-baik saja setelah ini?" tanya Mikhail pelan, jika dia ingat ketika Syakil memperkenalkan Mikhail sebagai kakak kandungnya, Zidan terkejut luar biasa.


"Maksudnya?"


"Kamu mengetahui semua yang terjadi antara kami bertiga sejak lama, jika Zidan ternyata marah besar bagaimana?"


"Zidan berbeda, Kak ... tidak semuanya dia hadapi dengan amarah, berbeda denganmu." Syakil berlalu usai mengucapkan kalimat sarkas itu pada Mikhail, adiknya memang ahli dalam singgung menyinggung sepertinya.


"Ck, dia private dimana? Lidahnya tajam sekali."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2