
Mereka terlalu mendalami peran, dan tidak menyadari jika tingkah mereka sampai ke Mikhail dalam waktu cepat. Tidak sulit bagi Mikhail mendapatkan informasi itu, Mikhail bahkan meninggalkan ruang rapat segera kala mengetahui jika istrinya melakukan hal yang tak seharusnya dia lakukan.
"Pak, bagaiamana dengan rapatnya?"
Bryan panik dan kini berusaha mengejar langkah Mikhail, pria itu pergi tanpa mengucapkan apa-apa dan meninggalkan banyak orang dengan segudang tanya.
"Tunda, kalau perlu batalkan hingga minggu depan."
Mikhail melangkah panjang, tujuannya kali ini adalah ruangan dimana Zia berada. Sudah dia jelaskan paling tidak suka orang-orang sekitarnya direndahkan, Mikhail mempercepat langkah bahkan setengah berlari.
"Dasar boddoh, aku tidak membawamu untuk melakukan hal-hal seperti itu," umpat Mikhail menggenggam erat ponselnya, foto Zia yang tengah menyiapkan kopi dengan sejumlah pertanyaan terkait benar atau tidak jika wanita itu adalah istrinya membuat Mikhail murka.
"Berani sekali kalian, benar-benar cari mati."
Semakin dekat, amarahnya kian membuncah dan kini membuka pintu dengan cara yang sudah tidak sewajarnya.
BRAK
"Zia!!"
Mikhail berteriak usai berhasil menendang pintu hingga dan membuat mereka yang berada di ruangan itu sontak berdiri. Mereka menunduk dan menggigit bibir bawahnya, terutama Anya yang kini berada paling dekat dengan Mikhail.
"Dimana istriku? Apa yang kalian lakukan padanya? Hah?!" bentak Mikhail menatap tajam satu persatu di antara mereka.
Tidak ada Zia di sini, padahal sesuai laporan seseorang karyawan lainnya dia melihat Zia masuk ruangan ini beberapa waktu lalu.
"Jawab!! Kalian punya mulut untuk memerintahkan istriku tapi tidak bisa menjawab pertanyaanku?" Mikhail mulai kehilangan kesabaran, dadanya kembang kempis dan kakinya spontan menendang meja kerja Anya hingga wanita itu berteriak ketakuan.
"Kau pelakunya? Atau kau? Kau? Atau siapa? Hah?!!"
Mikhail menunjuk satu persatu di antara mereka, Anya yang masih panik kala mejanya dibuat berantakan bahkan gelas dan peralatan kerjanya jatuh berhamburan kini hanya bisa diam dengan jantung yang sama sekali tidak aman.
__ADS_1
"Hai, Kak ... maaf lam...."
Mikhail menoleh, suara istrinya terdengar berubah setelah beberapa saat. Dengan tatapan penuh amarah Mikhail memperhatikan sang istri dari atas hingga bawah, keringat di kening dan leher dengan membawa kresek di tangannya membuat Mikhail memejamkan mata.
"Ke-kenapa?"
Zia yang bingung melihat keadaan di tempat ini hanya bisa menatap bingung mereka. Sama sekali belum memahami keadaan dan dia berpikir jika Mikhail hanya marah karena hal lain, bukan karena dia.
"Dari mana saja kamu? Hm?" tanya Mikhail dengan nada dinginnya, pria itu belum menghampiri Zia, dia masih setia di tempatnya semula.
"Dari depan ... beliin roti kak Anya sama cemilan Kak Ruth." Zia menunjukkan apa yang berhasil dia dapatkan, dan itu sungguh-sungguh membuat hati Mikhail sakit luar biasa.
PRANK
"Aaarrgghhh." Zia terperanjat kala Mikhail kini menendang meja kerja Ruth hingga benar-benar tak karuan, Mikhail menarik pergelangan tangan Zia dan memerintahkan orang-orang di sana untuk menatapnya.
"Lihat kesini!!" titah Mikhail tak terbantahkan, Lutvi yang juga ikut-ikutan minta dibuatkan kopi sebelumnya jelas saja panik.
"Kalian anggap istriku apa? Apa hak kalian berani memintanya melakukan hal sinting semacam ini?!"
"Diam kamu!! Mas bawa kamu ke sini bukan untuk melakukan hal semacam ini, Zia! Kenapa kamu sebodoh ini, hm?" Rasanya gemas sekali ingin menghukum Zia siang ini juga, istrinya terlalu bodoh dan tidak mengerti keadaan sepertinya.
"Dan kalian bertiga! Jangan harap bisa lepas begitu saja," ungkap Mikhail menunjuk wajah mereka satu persatu, kecuali Vivian.
"Maaf, Pak ... kami tidak bermaksud jahat, hanya saja Zia memang menawarkan diri dan kami tidak bisa meno_" Belum selesai Ruth membela diri, Mikhail menghampiri dan mendaratkan tamparan di pipi kirinya cukup kuat.
"Aku tidak memintamu bicara!" sentak Mikhail menggelegar bahkan mungkin terdengar dari jarak beberapa meter di luar.
"Berlutut," titah Mikhail kemudian, suaranya terdengar dingin dan tidak sudi menatap mereka.
"Hah? Mas kenapa harus_"
__ADS_1
"Diam, Mas tidak memintamu bicara." Tidak hanya pada mereka, Mikhail juga sama dinginnya pada Zia.
"Berlutut!! Sampaikan permintaan maaf kalian pada istriku sebelum meninggalkan perusahaan ini," perintah Mikhail tak terbantahkan, dia benar-benar melakukan hal itu lantaran tak terima Zia diperlakukan serendah itu bahkan sama seperti babu.
Mereka saling menatap satu sama lain, sementara Vivian masih berdiam diri di meja kerjanya karena amarah Mikhail tidak tertuju padany.
Cukup mereka bertiga berlutut, untung saja Mikhail tak meminta mereka untuk bersujud. Zia menatap mereka iba namun tak kuasa membela karena Mikhail tak memberikan dia izin untuk bicara.
"Silahkan angkat kaki dari kantor ini, jangan mengharapkan apapun karena kalian dipecat tidak hormat di sini." Pernyataan Mikhail berhasil membuat ketiganya menganga, dipecat tidak hormat dan sama sekali dia tidak memperlakukan mereka sama seperti mantan karyawan lainnya.
"Pak, maafkan kami ... sungguh ini tidak seperti yang Bapak pikirkan, saya dan Ruth menganggap Zia sebagai adik kami, dan kami hanya merindukan kopi buatannya," jelas Anya memohon dengan suara lembutnya, Zia yang memang buta dan tidak sepeka itu menganggap jika Anya tidak berbohong, sementara Mikhail sama sekali takkan luluh dengan air mata buaya mereka.
"Simpan alasanmu, silahkan pergi dari sini!"
Mikhail berlalu dengan menarik tangan Zia sedikit kasar. Dia marah bukan hanya pada mereka tapi juga pada Zia. Sudah dia katakan jika saat ini statusnya adalah istri Presdir, bukan lagi anak magang yang bisa diperintah ini dan itu.
"Mas, pelan-pelan sakit."
Langkah Zia terseok-seok, Mikhail terlalu cepat dan dia juga mengenggam pergelangan tangan Zia kuat. Mikhail tetap diam meski Zia meringis bahkan kini hampir menangis, sama sekali Mikhail tidak santai saat ini.
"Huft, pakai bahasa yang bagaimana agar kamu paham maksud Mas, Zia?"
Mikhail menghempas tangan Zia kala mereka kini sudah berada di ruangannya. Pria itu menatap datar Zia yang menggosok pelan pergelangan tangannya, baru kali ini dia merasakan kasarnya Mikhail, sebelumnya memang beberapa kali marah namun tidak sekasar ini.
"Sudah Mas katakan sejak awal kan? Kamu istriku maka bersikaplah sebagai istriku! Bukan lainnya, Zia!" bentak Mikhail membuat Zia kini memejamkan mata, kemarahan pria itu bahkan memekakan telinganya.
"Maaf, Mas ... aku hanya terlalu senang dan apa yang mereka perintahkan tidak memberatkan lagipula aku suka, Mas," jelas Zia kemudian, penjelasan yang berhasil membuat emosi Mikhail naik ke ubun-ubun.
"Oh, suka diperintah? Kamu suka diperlakukan seperti itu? Jika memang suka, maka Mas akan lakukan seperti yang kamu mau," tutur Mikhail lembut namun terdengar persis ancaman yang kini membuat Zia merinding.
"Maksudnya?"
__ADS_1
Tbc
Maaf ya terlambat, beneran sibuk jadi baru sempet malam🙏