Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 58 - Kacau Semuanya.


__ADS_3

"Ck, cuma sekecil itu padahal," gumam Zia pelan, lebih ke menggerutu sebenarnya. Terpaksa namun tetap dia lakukan, dan ini menjadi celah Mikhail untuk melingkarkan tangan di pinggangnya.


"Lepaskan sendiri," tutur Zia kemudian berlalu dan meletakkan jas Mikhail ke tempat pakaian kotor.


Gagal lagi, Mikhail pikir hati Zia sudah lebih baik dan ternyata belum sama sekali. Istrinya memilih berlalu keluar setelah membuat Mikhail bungkam, dia memukul angin karena kesalnya.


"Heuh!! Mulutmu memang kurang ajar, Mikhail!! Sepertinya ucapan om Adrian memang benar."


Mikhail bermonolog sebegitu kesalnya, pria itu mengutuk dirinya sendiri. Kerap adu mulut bersama pria itu membuat Adrian menganggap dia sebagai anak kurang ajar dan kurang didikan, sebuah kalimat candaan namun setelah dia sadari sepertinya memang benar.


"Ck, seharusnya tadi lukanya lebih besar."


Tak punya pilihan lain, sore ini sepertinya dia memang harus mandiri. Tidak apa-apa, jika menunggu Zia kembali sepertinya hingga subuh dia tidak akan mandi.


Sejenak menikmati guyuran air dingin di tubuhnya, mungkin Zia hanya perlu waktu sebenarnya. Meski jujur saja Mikhail tak begitu paham cara membujuk wanita yang masih begitu belia seperti Zia bagaimana, selama ini dia selalu menjalin hubungan dengan wanita yang cukup dewasa. Selain itu dia juga tak pernah peduli mau mereka marah atau menggila, namun kini Zia adalah istrinya yang jelas saja berbeda.


"Menyebalkan sekali, apa dulu Zidan merasakan hal yang begini juga?" Mikhail Tidak habis pikir jika bocah seperti Zidan harus menghadapi marahnya pasangan dengan cara seperti Zia.


Terlalu sibuk memikirkan sang istri, dia sampai salah menggunakan shampo miliknya. Wajar saja aromanya berbeda, Mikhail cepat-cepat membaca petunjuk pemakaian di kemasannya lantaran merasa aromanya berbeda meski familiar baginya.


"Shitt!! Kenapa juga Zia letakkan di sini," umpat Mikhail cepat-cepat membilas rambutnya.


Mikhail kembali memastikan apa mungkin dia salah baca, tapi yang terjadi memang demikian. Pembersih bagian sensitif istrinya dia gunakan sebagai shampo dan itu cukup banyak, wajar saja busanya lebih sedikit dari biasanya, pikir Mikhail.


"Ekstrak daun sirih? Hahah sialan ... aku merindukan dia karena benda ini."


Memang otak Mikhail yang sudah terkontaminasi itu begitu mudah untuk berpikir ke arah yang iya-iya. Dia salah tingkah dan justru menikmati aromanya sebelum kemudian dia kembalikan ke tempat semula.


Dia benar-benar bisa melupakan fakta jika Zia tengah semarah itu padanya. Imannya luar biasa tipis, kehidupan pria itu memang didominasi oleh kesenangan dan kenyamanan dari seorang wanita sepertinya.

__ADS_1


Meninggalkan Mikhail yang tengah fokus dengan kesibukannya, Zia kini menghampiri Kanaya untuk melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Dia memang membiasakan diri untuk membantu Rani walau hanya sekadar mengelap sendok yang tidak berdebu itu.


Kanaya mencoba bicara baik-baik pada Zia, dia paham menantunya tidak bisa dikasari sama sekali. Pelan-pelan dia bicara dari hati ke hati, bukan maksud membela putranya. Akan tetapi, Kanaya tak ingin mereka berlarut-larut dan putranya akan marah dengan cara yang lain nantinya.


"Maaf, Zia ... Mama sudah berusaha, sejak kecil Mama dan Papa mengajarinya sopan santun dan menjaga setiap ucapannya, tapi ketika dewasa pengaruh lingkungan membuat Mikhail pelan-pelan berubah," jelas Kanaya penuh sesal, andai bisa diulang mungkin 6 tahun ketika Mikhail menginjak dewasa dia akan terfokus pada Mikhail seorang.


Zia menghela napas pelan, ternyata benar dugaannya Mikhail mengadu dan meminta dukungan. Sayangnya, hati Zia belum tersentuh meski Kanaya sudah turun tangan.


"Kamu berhak marah, Zia ... karena selama ini memang dia tidak mempan jika yang marah adalah Mama, mungkin dengan kemarahan kamu dia akan berubah nantinya."


Kanaya tak memaksa Zia harus memaafkan Mikhail saat itu juga. Dia juga memahami bagaimana sensitifnya wanita seperti Zia, kehamilan yang kian membesar dan bergerak saja sulit kemudian mendengar hal yang mencubit hatinya jelas saja akan berpengaruh dengan suasana hatinya.


"Zia nggak marah, Ma, mungkin maksud mas Mikhail bukan kesana, tapi aku tersinggung."


Mikhail pelakunya, dan dia juga mengatakan hal yang tidak-tidak di hadapan Zia yang tengah mengandung anaknya. Mengubur fakta itu sebenarnya sudah Zia lakukan sejak lama, sejak awal dia sudah setakut itu seseorang akan menyinggung hal itu padanya. Hari ini justru Mikhail membuatnya kembali merasa demikian.


"Mama paham, tapi marahnya jangan terlalu lama ya ... kasian, bayi kamu pasti butuh Papanya setiap saat kan?"


"Iya, Ma."


Zia masih malas bicara, meski dia tidak janji ketika berdua akan dia maafkan Mikhail semudah itu. Demi Tuhan rasanya dia ingin merasuki makanan untuk Mikhail dengan irisan cabai setan, sayangnya yang tidak bisa makan pedas bukan hanya Mikhail tapi juga Syakil dan Ibra. Alangkah tidak sopannya dia jika ketahuan membuat mertua pingsan, pikir Zia.


-


.


.


.

__ADS_1


Hampir dua jam, Zia belum juga kembali dan Mikhail sudah bosan menunggu kedatangan istrinya sejak tadi. Biasanya Zia akan naik untuk mengajaknya makan malam, dan dia masih menunggu hingga detik ini.


"Ck, dasar tega ... dia sebegitunya, aku ini suami tiri atau bagaimana?"


Membuat istilah sendiri, dimana dia menemukan istilah suami tiri. Pria itu menyerah pada akhirnya, sampai kapan dia menunggu dan kini memilih turun sendiri lantaran perutnya sudah demo sejak tadi.


Ceklek


"Astaga!"


Beruntung saja kepalanya tidak terbentur pintu itu, Mikhail berdecak kala menyadari yang datang justru Syakil, bukan Zia. Malas sekali rasanya, napsu makannya hilang seketika melihat wajah datar Syakil di hadapannya.


"Ck, ditunggu ... makan malam tertunda cuma karena menunggu Anda, Den." Syakil memanggilnya seperti Ningsih pada sang kakak, sebagai ungkapan kesal lantaran kebagian tugas memanggil Mikhail dari sang mama.


"Tidak perlu, aku bisa turun sendiri tanpa dijemput."


"Bohong, buktinya sampai sepuluh menit Kakak belum turun juga," jawab Syakil tak mau kalah, jika saja bukan karena memikirkan kasian Zia, demi apapun dia enggan memanggil Mikhail untuk makan malam ini.


"Kenapa bukan istriku yang naik? Selera makanku hilang sekarang," ujarnya yang semakin membuat Syakil kesal luar biasa.


"Kak Zia hamil, Kakak seharusnya jadi suami jangan manja ... mandiri dikit kan bisa."


"Ck, diam kamu, Syakil! Dari tadi aku juga sudah mandiri," ketus Mikhail mendahului Syakil yang sudah merelakan diri menjemputnya malam ini.


Mikhail sedikit berlari menuruni anak tangga, matanya melihat ke arah Zia yang sudah duduk manis di sana. Matanya masih sama, terlihat santai namun tanpa senyuman padanya.


"Kamu ngapain sih? Mandi selama itu, jangan manja, Mikhail." Ibra berbicara tegas pada putranya, kala masih dalam kandungan Mikhail paling tidak banyak ulah, entah kenapa sekarang berbeda.


"Hm, maaf."

__ADS_1


Hari siall bagi Mikhail, setelah Zia dan Kanaya. Sang Papa juga sama sensinya, apa mungkin Ibra juga mengerti permasalahannya, pikir Mikhail tiba-tiba khawatir Ibra akan membuatnya mati kutu malam ini.


Tbc


__ADS_2