
Ada satu hal yang belum Zia lakukan, dan hari ini akan dia penuhi. Terlepas bagaimana nantinya, diterima atau tidak, niat Zia baik dan mengenalkan Mikhayla kepada keluarganya.
Mereka tidak hanya pergi bertiga, jelas saja masih bersama Kanaya dan juga Ibra. Hitung-hitung menjalin silahturahmi, kalau kata Kanaya begitu. Enam bulan usia Mikhayla, meski sempat mendapat penolakan namun menurut Zia, orangtua serta adiknya berhak untuk melihat putrinya saat ini.
"Mau gantian? Perjalanan kita masih jauh," tutur Mikhail meminta istrinya menyerahkan Mikhayla.
Tubuh putrinya yang gembul membuat Zia terlihat kesulitan memeluknya. Belum lagi sejak tadi Mikhayla tidak bisa diam, bukannya tidur tapi matanya begitu segar selama perjanan.
"Nggak, bentar lagi juga dia tidur, Mas."
Sebentar lagi apanya, sejak tadi mata Mikhayla sama sekali tidak ada lelahnya. Tingkahnya yang terlalu menggemaskan tidak bisa membuat Mikhail menahan diri hingga menggigit jemari putrinya tanpa sadar.
Menangis? Tentu saja, Ibra bahkan menepi lebih dulu akibat tangisan Mikhayla sebesar itu. Sempat berpikir cucunya kenapa-kenapa namun yang terjadi putranya sendiri yang jadi pelaku utama.
"Yaaah gitu aja nangis, Mikhayla gigit jari papa mau ... masa digigit balik nggak mau, kalah ah sama Mama."
"Mas."
Zia mendelik, pasalnya di mobil bukan hanya ada mereka, tapi mertuanya juga. Jelas saja Zia dibuat malu lagi dan lagi, sementara Kanaya yang terkejut dan mengetahui jika sebab cucunya menangis adalah Mikhail, jelas tidak tinggal diam.
PLAK
"Memang dasar nggak punya akal si Mikhail, tangannya masih lembut begitu kenapa juga kamu gigit."
Meski sulit untuk dijangkau, Kanaya rela mengeluarkan tenaga dan usaha ektsra demi bisa mendaratkan telapak tangannya di dahi Mikhail. Hal ini bukan hanya sekali, berkali-kali Mikhayla menangis karena ulahnya.
Sebabnya pun bervariasi, digigit, dicubit, cium kelewatan, peluk terlalu erat dan masih banyak lagi. Jika saja Mikhayla sudah mengerti, mungkin dia akan memilih bersama Syakil saja dibandingkan Mikhail.
"Sini, Sayang ... Khayla sama Oma saja."
Mikhail luar biasa posesif pada putrinya, pantang disentuh sembarangan. Sementara dirinya, sebebas itu berbuat dengan alasan gemas bahkan membuat putrinya menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Hadeuh, orang kayak kamu mau punya anak banyak, yang ada mereka tekanan batin, Mikhail."
Ibra menggeleng pelan, ajaran siapa Mikhail jadi begitu. Rasa-rasanya ketika muda dia tidak begitu, tidak pernah sama sekali Mikhail menyakiti putranya walau sekecil apapun.
"Papa provokator, kalau Zia benar-benar nggak mau punya anak lagi gimana?"
"Bukan provokator, tapi lihat sendiri gimana ... satu saja kamu buat nangis hampir tiap hari," tutur Ibra sembari melaju pelan-pelan, Mikhayla yang mulai tenang dalam pelukan Kanaya membuat Ibra menghela napas lega.
"Kalau nggak begitu Khayla nggak mau nangis, Pa."
Putrinya terlalu tenang, bahkan memang hampir tidak pernah menangis jika di pelukan Zia maupun Kanaya. Sebagai papa yang baik, Mikhail menyukai tangis bayi dan tnagisan Mikhayla akan terdengar jika dia mengusik putrinya.
"Apa nggak kasihan liat dia nangis begitu, ckckck pipinya sampai merah, kasihan, Khail."
Ibra menoleh ke arah Kanaya, dan seperti yang Mikhail jelaskan memang Khayla sudah setenang itu meski tadinya suara tangisannya membuat gendang telinga Ibra seakan mau pecah.
"Biarkan saja, sini Khayla ... Papa buat nangis lagi."
"Ck, Mas kamu apaan sih!! Seneng banget liat dia nangis heran," sentak Zia menahan suaminya yang hendak kembali meraih kaki Mikhayla, sepertinya dia punya anak hanya untuk diminta menangis.
.
.
.
Perjalanan cukup jauh itu kini terbayarkan, hamparan sawah menyambut mereka dan udara dingin kian terasa. Mikhail menggenggam tangan Zia begitu eratnya, mereka turun dan berjalan berdampingan persis pengantin baru.
Mikhayla lebih aman bersama Kanaya saat ini, sementara Mikhail akan menghabiskan waktu bersama Zia tentu saja.
"Tenang, Mas yakin semua akan berbeda ketika mereka melihat Mikhayla."
__ADS_1
Mikhail berbisik kala menunggu pintu terbuka, pria itu sadar apa yang sebenarnya membuat Zia resah. Penolakan untuk kedua kali dan demi apapun dia khawatir sekali.
"Semoga."
Hanya itu yang bisa ZIa harapkan, sepertinya kehidupan mereka kian membaik saja. Terlihat jelas dari bangunan rumah yang kini sudah lebih layak meski hanya memperbaiki rumah lama, sepertinya sisa uang yang dahulu Ricko minta untuk operasi digunakan untuk renovasi rumah, akan tetapi sepertinya tidak akan cukup jika hasilnya sebagus ini, pikir Zia.
Hingga beberapa waktu menunggu, pintu terbuka dan memperlihatkan wajah sang ibu yang sejak dahulu selalu dia rindu. Zia masih begitu kaku, padahal dia menyambut sangat baik kali ini.
"Kenapa nggak kabarin? Kan seharusnya bisa dijemput Ricko."
Mikhail menjawab pertanyaan-pertanyaan mertuanya dengan sopan. Ya, seperti yang sudah Mikhail tekankan, tidak akan ada penolakan ketika sudah membawa Mikhayla.
Sekeras-kerasnya hati, mau sekecewa apapun sebagai wanita yang pernah melahirkan Zia itu, begitu melihat Mikhayla hatinya luluh juga. Sempat mengatakan jika Zia tidak perlu kembali datang karena akan membuatnya malu, kini wanita itu justru menitikkan air mata kala memeluk Mikhayla.
"Seratus persen anak Papanya, tidak ada Zia sama sekali," tuturnya kemudian, 20 tahun lalu dia menimang putrinya. Kini, wanita itu justru menimang cucu di hadapan putrinya yang seakan tak percaya dengan responnya sebagai ibu.
"Benarkan, kamu nggak percaya kalau dia mirip aku semua."
Zia mencebik, sepertinya memang hanya dia yang merasa Mikhayla adalah dia versi kecil. Sementara yang lain mengatakan hal berbeda. Di mata mereka, Mikhayla adalah Mikhail dalam versi yang berbeda.
Hadirnya Khayla menjadi sebuah ikatan yang melibatkan banyak hati. Dua keluarga menyatu di sini, dan sebagai orangtua Zia hanya bisa mengutarakan syukurnya berkali-kali.
Apa yang dia takutkan tidak semengerikan itu, benar kata Mikhail bahwa pikirannya terlalu berlebihan. Pada faktanya, dunia benar-benar menerima Zia apa adanya. Meski dia paham kesalahan itu tidak dapat dibenarkan, namun dengan hadirnya Mikhayla kasih sayang yang sempat hilang dari relung hati sang ibu kini kembali.
"Tidur di sini dulu, kamar kamu sudah Ibu perbaiki beberapa bulan lalu. Kata Mikhail kalau kalian kesini sekalian bulan madu."
Hati Mikhail jelas saja menari-nari saat ini, tersenyum simpul dan tiba-tiba salah tingkah di hadapan mertuanya. Tanpa Zia ketahui dia memang menjalin komunikasi dan melakukan pendekatan dengan caranya sendiri.
Idih bulan madu apanya? Dikit-dikit bulan madu, pantang tidur di tempat selain di rumah Mikhail akan menganggapnya bulan madu. Apalagi di sini, suasana pedesaan dan posisi kamar Zia yang menghadap ke hamparan sawah dan sungai di sana jelas membuat Mikhail makin terbawa suasana.
"Mikhayla tidur sama Mama berarti ya," tutur Kanaya cepat-cepat, perannya memang luar biasa dibutuhkan karena paham putranya merasa kurang dalam merasakan kehidupan sebagai pengantin baru.
__ADS_1
"Ck, sebenarnya aku nggak bisa tidur tanpa Khayla ... tapi karena Mama yang memaksa mau bagaimana lagi," ucapnya melas dan membuat Zia memutar bola matanya malas.
Tbc