
"Khail tunggu!!"
Shitt, kenapa juga harus bertemu di saat yang seperti ini. Mikhail mengepalkan tangan kala wanita itu benar-benar nekat menghampirinya, sengaja menghalau dan berdiri di hadapan Mikhail.
"Ternyata benar kamu sudah menikah ya?"
Wanita itu tersenyum getir menatap Zia yang kini dalam genggaman Mikhail. Beberapa bulan lalu dia sempat menghampiri Mikhail, hanya saja pengakuan Mikhail sebagai pria beristri tak begitu dia percayai.
"Mas kenal?"
Sebagai orang yang tidak mengerti apa-apa jelas saja Zia bingung sendiri. Apa yang terjadi dan mengapa Mikhail menghindari wanita cantik itu sebegitunya.
"Nggak, salah orang mungkin."
Dia tidak ingin kembali mengenal, sudah Mikhail katakan beberapa bulan lalu jika berniat kembali itu salah besar. Tak peduli meski niat wanita itu baik atau apalah, yang jelas Mikhail tak mau tahu apa-apa lagi tentangnya.
"Kamu sebenci itu ya, Khail? Aku cuma mau menyapa istri kamu, nggak lebih."
"Apa pentingnya? Istriku dilarang mengenal wanita murahaan sepertimu."
"Mas ...."
Zia sempat terkejut dengan apa yang keluar dari bibir Mikhail. Padahal di sana ada beberapa pembeli yang lain dan Mikhail tak berpikir akan membuat lawan bicaranya merasa malu atau bagaimana. Mikhail yang Zia kenal tidak begini, mulutnya tidak setajam itu merendahkan perempuan.
"Ayo pergi, Zia."
Sumpah, ucapan Mikhail sukses membuat Sera menganga. Mikhail benar-benar berubah, kala pertemuan terakhir dia tidak sejudes ini, kenapa sekarang justru begini, pikir Sera.
Hanya mengenal, menyapa ataupun berjabat tangan takkan pernah Mikhail izinkan. Dia benar-benar membenci Sera sampai ke tulang-tulangnya. Apalagi kala dia menemukan sosok pengganti yang tentunya lebih baik, jelas saja dia takkan melihat Sera meski hanya seujung kuku saja.
Tanpa basa-basi Mikhail pergi dari hadapan Sera yang kini tengah berperang dengan rasa malu pasca disemprot mulut pedas Mikhail. Padahal, niatnya hanya sekadar menyapa dan mengenal istri Mikhail saja. Akan tetapi, nampaknya pria itu benar-benar tak ingin diusik sedikit saja.
"Dia masih sama, beruntung sekali jadi miliknya."
Mata Sera masih mengikuti kemana arah Mikhail berlalu, pria itu benar-benar membuat jiwanya porak poranda. Empat tahun lalu Sera pernah berada di posisi Zia, diutamakan, tangan selalu digenggam dan perlakuan semanis itu pernah Sera rasakan.
__ADS_1
Sayangnya, dia menyia-nyiakan pria sebaik Mikhail hanya demi pria lain yang mengajarkannya kesenangan di atas ranjang. Hendak menyesal mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur dan kenikmatan yang dahulu dia agung-agungkan nyatanya tak selamanya indah bahkan kini pria pilihannya membuang Sera bagaikan sampah.
Sera hanya menghela napas pelan, berapa banyak barang yang harus dia rapikan karena Mikhail tak jadi membelinya. Hidup kembali mulai dari bawah dan mencoba mandiri dengan bekerja sebagai kasir di tempat ini memang cukup sulit bagi seorang Sera yang terbiasa foya-foya dari saldo seorang pria.
-
.
.
Sementara di sisi lain, Mikhail benar-benar membawa Zia pergi sejauh-jauhnya. Bukan hanya pindah store melainkan pindah ke mall yang lain. Zia sejak tadi memilih diam dan enggan bertanya lebih dulu karena nampaknya suasana hati Mikhail benar-benar buruk pasca bertemu wanita itu.
"Mantan kamu ya, Mas?"
Pada akhirnya Zia tak mampu menahan rasa penasarannya lebih lama. Jika bukan pada Mikhail lalu kepada siapa lagi dia bertanya, pikir Zia.
"Bukan."
"Apa iya? Tapi kenapa dia begitu kalau bukan? Padahal dia cuma mau nyapa aku katanya."
"Hanya masa lalu, Zia ... Mas nggak mau pengkhianat seperti dia mengenalmu."
"Pengkhianat gimana?"
Aroma perselingkuhan di masa lalu, Zia kian penasaran dan akan terus bertanya hingga Mikhail jujur. Meski cukup sulit membuat pria itu buka mulut, akhirnya kini dia bersedia juga mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Kenapa agak mirip-mirip ya, Mas."
Setelah mendengar bagaimana pengkhianatan yang Sera lakukan. Mendadak Zia sedikit tersentil, ini seperti persis kisahnya meski memang Zia mengkhianati Zidan bukan atas nama cinta.
"Mirip apanya?"
"Sama aku ... pengkhianat."
Mikhail berpikir sejenak. Benar juga, dia adalah korban pengkhianatan yang membuat seorang wanita menjadi pengkhianat juga. Meski caranya berbeda tetap saja intinya sama, hanya saja bagi Mikhail Zia bukan wanita murahan dan jujur saja di antara banyak wanita, Zia lah yang cukup sulit dan begitu mahal hingga bisa dia dapatkan.
__ADS_1
"Itu berbeda, Zia ... dia berkhianat dari Mas karena dulu Mas nggak jago goyang dan nggak pernah belai dia di atas ranjang, kamu nggak begitu kan?"
Sedikit geli dia mendengar jawaban Mikhail. Kenapa bisa terpikirkan jawaban sefrontal itu, padahal dia sudah wanti-wanti untuk tak bicara macam-macam.
"Mungkin."
"Kok mungkin, sekarang Mas tanya apa kamu ke Mas karena Zidan nggak pernah ngajakin tidur? Kan tidak, Zia."
"Ih!! Nggak usah dipertegas juga."
"Biar jelas, karena kamu berharga di mata Mas."
Mungkin di mata orang lain Zia tidak ada bedanya dengan wanita-wanita lainnya. Sama-sama rela disentuh pria lain padahal dia sudah meniti harapan bersama kekasihnya. Akan tetapi, di mata Mikhail istrinya tidak begitu. Sekali saja dia mendengar kalimat "Murahan" tentang istrinya dia akan semarah itu.
Lupakan yang tadi, kini Mikhail berusaha untuk memberbaiki suasana hatinya. Sama seperti tadi tidak ada batasan untuk semua yang Zia inginkan. Sayangnya, karena terlalu bebas sang istri lupa diri hingga kini hampir semua yang dia menarik dia beli.
Mikhail menarik sudut bibir kala Zia selalu menampilkan gigi rapihnya sebagai ucapan terima kasih kala Mikhail mengangguk setiap dia minta persetujuan.
Hingga tiba giliran Mikhail yang menentukan apa yang dia inginkan. Zia mendengkus kesal dan mencubit perut Mikhail ketika pria itu menunjukkan lingerie berwarna hitam dengan senyuman tengil seperti biasa.
"Kenapa selalu itu yang Mas mau, di rumah udah banyak banget masa kurang juga."
Sedikit heran juga sebenarnya, jika para suami kerap memberi hadiah tas ataupun perhiasan, lain halnya dengan Mikhail. Menurut Mikhail itu adalah baju wajib dan kebanyakan hanya sekali pakai, itulah alasan Mikhail selalu memberikan Zia pakaian dinas keramat itu dengan jumlah yang tak sedikit setiap kalinya.
"Buat ganti yang kemarin mas robek," bisik Mikhail lembut tepat di telinga Zia, wanita itu bersemu merah namun hendak menolak dia juga takkan bisa.
"Terserah."
"Yakin terserah?"
Pertanyaan jebakan, biasanya Mikhail akan semakin seenak jidat jika sudah mendapat izin dengan kata terserah.
"Iya yakin, lagian aneh istri hamil belinya itu mulu."
"Buat koleksi, lima bulan lagi Mas pastikan kamu persis gadis lagi, Zia." Koleksi kata dia? Yang benar saja, di antara hobi unik pria pengoleksi barang antik sementara dia hobi koleksi baju haram, Zia sungguh tak habis pikir.
__ADS_1
Tbc