
Pemandangan pagi-pagi yang selalu menyejukkan mata Mikhail semenjak menikah ialah wajah cantik yang selalu menyambutnya setiap bangun tidur. Zia membuka semua tirai jendela demi membuat Mikhail benar-benar beranjak dari tidurnya.
Pagi ini tampaknya akan lebih cerah dari kemarin, sisa hujan semalam begitu menyejukkan mata, dan Zia menyukainya. Mikhail masih terlalu betah berada di tempat tidur, sejak tadi dia hanya mengikuti gerak gerik istrinya tanpa henti.
"Mas, bangun ... jangan tidur lagi astaga," tutur Zia menarik pergelangan tangan Mikhail, jika akhir pekan biasanya penyakit malas Mikhail muncul begitu saja dan ini memang sedikit menyebalkan bagi Zia.
"Masih ngantuk, lima menit lagi boleh ya?"
Terlalu aktif di malam hari membuat Mikhail tersiksa esok harinya. Pria itu kurang tidur lantaran semalam dia benar-benar begadang demi menemani Zia main ludo. Memang salah dia yang mengganggu tidur Zia awalnya, akan tetapi dia tidak berpikir jika istrinya akan sesulit itu untuk tidur tadi malam.
"Udah hampir jam delapan ... ayo, Mas, katanya mau lihat rumah baru hari ini."
Memang pantang berjanji pada kaum wanita, sejatinya dia akan terus menagih dan itu akan menjadi harapan untuknya. Zia sudah memberikan pelukan untuknya, namun sama sekali Mikhail belum semangat.
"Ngantuk, Zia. Kasih Mas waktu sebentar saja, jam 10 kita ke lokasi."
Ingin memaksa, tapi Zia tak tega. Mikhail benar-benar terlihat lelah, matanya bahkan sedikit memerah akibat kurang tidur. Namun, yang menjadi beban Zia adalah suaminya ini tidur minta ditemani hingga nanti dia benar-benar bangun.
"Baiklah, tiga puluh menit cukup ya?"
Mikhail mengangguk tanpa peduli bagaimana hasilnya nanti. Yang terpenting saat ini Zia mau menuruti kemauannya untuk tetap menemani tidur beberapa saat lagi.
Kejadian seperti ini bukan pertama kali, Mikhail akan lebih lelap tidur dalam pelukan istrinya. Memang sedikit terbalik, jika pasangan lain suami yang memeluk istri namun dalam beberapa momen tidak berlaku untuk pasangan ini.
Mikhail terlelap dengan menjadikan lengan Zia sebagai bantalnya, tak lupa tangan Zia yang sebelahnya mengusap pundaknya. Jika hanya beberapa menit saja mungkin dia kuat menahannya, namun tidak jika harus semalaman.
Deru napas Mikhail mulai teratur, ini menandakan jika pria itu sudah benar-benar tertidur. Ada secebis rasa bersalah dalam dada Zia, semalam memang dia keterlaluan tapi mau bagaimana jika dia benar-benar tidak bisa sendirian.
Satu menit, dua menit, tiga menit dan dua puluh menit berlalu. Tangan Zia mulai terasa pegal namun ini belum memenuhi janji Zia yang mengizinkan suaminya tidur lagi selama tiga puluh menit.
Berharap sekali suaminya sadar dengan segera dan mandiri untuk ke kamar mandi segera. Lengan sekecil Zia harus menahan beban seberat Mikhail, terdengar tidak adil namun beginilah yang terjadi.
-
.
.
.
Tok tok tok
__ADS_1
"Zia ... Mama boleh masuk?"
Kanaya mengetuk pintu kamarnya, mungkin karena sudah terlalu siang dia belum juga keluar dari kamar adalah sebabnya.
"Bo-boleh, Ma."
Dia tidak bisa membukakan pintu untuk Kanaya, namun tidak mungkin juga melarang mertuanya untuk masuk. Tentu wanita itu ke kamarnya ada tujuan.
Ceklek
Pelan-pelan sekali, Kanaya tetap harus menjaga batas dan berhati-hati meski ini adalah kamar putranya.
"Ya Allah ... dia belum bangun, Zi?"
Mata Kanaya membulat sempurna kala mendekati tempat tidur putranya. Terakhir kali Mikhail dia perlakukan begitu sekitar 19 tahun lalu, dan kini menantunya akan merasakan untuk waktu yang lama.
"Tidur lagi, Ma," jawab Zia sopan, meski jujur saja dia sedikit malu pada mertuanya pagi ini.
"Kamu nggak pegel dia begitu?"
"Sedikit, tapi nggak terlalu, Ma."
"Astaga ... terakhir kali dia minta kelonin begitu sama Mama pas umurnya masih 10 tahun, setelah itu dipeluk aja dia geli."
Zia hanya tersenyum simpul, dia tatap sebentar wajah suaminya yang kini terlelap. Memang, ketika tertidur dia terlihat lebih tenang dan tidak banyak ulah.
"Mama pergi lagi hari ini, arisan di rumah Mommy Lorenza ... kamu ikut ya, Sayang?"
Kanaya bermaksud mengajak Zia berkumpul bersama teman-temannya hari ini, sudah beberapa hari mereka selalu menanyakan Zia, Zia dan Zia.
"Aduh maaf, Ma, Zia pengen ikut tapi kata Mas Mikhail hari ini mau lihat rumah."
"Yaaah, kamu sama Mama aja hari ini ... tunda aja besok-besok lihat rumahnya, Zi."
Dia ingin menghabiskan waktu bersama menantunya hari ini. Begitupun dengan Lorenza dan Siska yang sudah berharap banyak akan hadirnya Zia.
"Mommy Lorenza udah siapin jambu kristal yang dari kemaren kamu cari-cari loh, mau ya?" rayu Kanaya bagai seorang mama yang menginginkan putri kecilnya turut serta.
"Beneran, Ma?" sahut Zia dengan mata yang kini berbinar, sejak dua hari lalu jambu itu benar-benar menghantui pikirannya.
"Hm beneran." Kanaya mengangguk mantap, Zia mulai tergoda dan tenggorokannya terasa haus membayangkan betapa manisnya.
__ADS_1
"Mama ... jangan pernah mengajaknya pergi tanpa izinku."
Suara berat Mikhail mengejutkan keduanya, mungkin terlalu berlebihan aksi Zia hingga membuat dia terbangun. Akan tetapi, mata Mikhail masih terpejam dan posisinya masih sama seperti tadi.
"Dia bangun atau ngigo, Zi?"
"Bangun, Mama kenapa pagi-pagi masuk ke sini?" Mikhail membuka matanya dan duduk di tepian ranjang, wajahnya masih terlihat kusut. Sepertinya benar-benar terganggu.
"Mau ajak Zia arisan, boleh ya, Khail?"
Mikhail menggeleng, dia masih malas bicara dan memang benar-benar merasa tidurnya terganggu.
"Kok nggak boleh? Baru kali ini juga," keluh Kanaya merasa Mikhail tidak adil sama sekali.
"Kalau Mama mau ajak Zia ke rumah Mommy Lorenza jelas tidak aku izinkan ... jarak kesana jauh dan kandungan Zia sudah besar, meski dibawah pengawasan Mama aku tetap khawatir." Mikhail benar-benar serius mengatakannya, hal yang menjadi alasan utama kenapa Zia dia larang pergi kemanapun hanya karena itu.
"Tapi nggak enak sama Momny Lorenza, dia sudah siapkan jambunya buat Zia loh," ungkap Kanaya masih berharap Mikhail memberikan izin untuknya.
"Kalau memang Mama ingin memenuhi keinginan Zia, bawa pulang saja jambunya."
Benar juga ucapan Mikhail, untuk pertama kali Kanaya merasa Mikhail benar dan tidak terbantahkan. Meski mungkin nanti ketika dia masuk ke rumah Lorenza akan diterpa pertanyaan kenapa Kanaya tidak memenuhi janjinya untuk mengajak Zia turut serta.
Ini sebuah hal yang normal, namun Zia merasa tak enak hati kala menatap Kanaya yang berlalu keluar sendiri. Meski memang apa Mikhail ada benarnya, tak seharusnya Zia ikut pergi bersama Kanaya dalam keadaan hamil besar begini.
"Mas, kasihan Mama tau."
"Nanti, Zia ... jarak kesana jauh, Sayang. Kalau anak kita sudah lahir Mas yang akan kamu kemanapun."
Mikhail bukannya jahat, akan tetapi memang dia sekhawatir itu pada Zia. Dia amat sangat menyayangi istrinya, meski cara Mikhail yang seakan membatasi ruang geraknya ini terlihat tidak adil tetap saja bagi Mikhail ini adalah yang terbaik.
"Udah sana mandi, nanti ngantuk lagi," pinta Zia mendorong pundak Mikhail dengan telapak kakinya.
"Sopannya mana," celetuk Mikhail sembari menepuk kaki Zia, baru kali ini istrinya berani bertingkah.
"Hahaha udah sana, air angetnya udah aku siapin dari tadi." Berucap seakan sudah benar sekali langkah yang dia lakukan, padahal itu sangat-sangat salah.
"Astaga, artinya sudah dingin, Zia."
"Ya makanya kalau aku suruh mandi tu cepet, airnya dingin ya salah sendiri lama banget." Mana mau Zia mengalah, berdebat dengan wanita itu memang hanya akan membuat Mikhail jadi abu.
Tbc
__ADS_1