
Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, jika dikatakan baik-baik saja jelas demikian. Mikhail menjalankan peran sebagai sosok papa dan suami yang baik bagi kedua bidadarinya. Rapat di kantor pagi ini terpaksa ditunda lantaran Mikhail ketiduran.
"Berapa lama mereka menunggu?"
"Hm, dua jam ... belum terlau lama," jawab Bryan santai, karena dia merasa sama sekali tidak salah.
Sesuai dengan perintah Mikhail jika dia tidak boleh diganggu kecuali memang mendesak dan berhubungan dengan keluarga terutama anak dan istrinya. Sementara dua jam yang lalu, para petinggi di perusahaan tidak mempermasalahkan telatnya Mikhail dalam rapat tersebut. Mungkin mereka paham bagaimana sibuknya menjadi seorang pria yang memiliki seorang anak.
"Dua jam? Kenapa tidak membangunkanku?"
"Anda terlihat lelah, lagipula mereka mengerti jadi tidak masalah.'
Jelas saja tidak masalah, yang jadi masalah itu ialah ketika Mikhail sudah siap sementara yang lain masih berada di jalan raya. Akan tetapi, untuk kali ini sebagai pemimpin, mikhail harus menerapkan kedisiplinan tinggi seperti dahulu.
"Astaga, kalau hal ini sampai ke telinga papa habislah aku."
Mikhail memang setakut itu pada Ibra jika berkaitan dengan pekerjaan dan tanggung jawab seperti ini. Meski beberapa saat dia sedikit kurang ajar, akan tetapi tetap saja jika sudah serius begini, dia masih memiliki titik takluknya.
Bryan mengikuti langkah panjang Mikhail, mereka tergesa-gesa namun tidak menghilangkan wibawanya. Yang da di pikiran Mikhail saat ini jelas saja meminta maaf lebih dulu.
"Astaga? Bryan ... apa yang terjadi? Kenapa jadi begini?"
Betapa terkejutnya Mikhail kala memasuki ruangan yang dia temui juga sama, tidur semua. Bryan menatap bingung semua orang yang di sini, kelelahan menunggu atau bagaimana hingga ketiduran juga.
"Sepertinya mereka kelelahan karena terlalu lama menunggu, Pak."
Mikhail menghela napas perlahan, kika memang dia yang memulai hal ini maka akan tidak sopan jika Mikhail memaksa mereka bangun saat ini juga.
"Bagaimana? Ingin lanjutkan atau tunda saja?"
Raut wajah Mikhail membuat Bryan ragu sebenarnya, di sisi lain dia ingin marah namun yang lebih dulu tidak disiplin adalah dirinya. Kali pertama Mikhail merasa tidak enak kepada bawahan, hingga pria itu memilih membatalkan rapat yang sebenarnya cukup penting hari ini.
"Lusa saja, aku juga tidak fokus lagi."
Bryan mengangguk, sudah dia duga hal ini akan terjadi. Mikhail bukan sosok pria yang suka menunda, jika sampai tertunda dia lebih memilih untuk membatalkannya.
Gagal rapat mau kemana dia? Jelas saja pulang. Mikhaill meminta Bastian untuk cepat, pria itu bersandar seraya memejamkan matanya. Lanjut tidur lagi karena kantuknya belum sepenuhnya usai.
"Sakit, Bos?"
__ADS_1
"Hm."
Sudah tahu bosnya hanya terpejam, Bastian justru bertanya dan mengangu tidurnya,. Hanya sebagai bentuk kekhawatiran sebenarnya, karena beberapa hari terakhir ini, Mikhail bekerja ekstra.
"Rumah sakit nggak nih, Bos?"
"Pulang, Bas ... tanya sekali lagi kujahit mulutmu."
Dengan cara yang begitu barulah Bastian bisa diam, kesal sekali sebenarnya kenapa dia harus begini. Meski mulutnya diam, Bastian tetap berusaha menatap Mikhail, aneh saja manusia seperti Mikhail tiba-tiba sakit, pikirnya.
-
.
.
Tiba di rumah, tidak seperti kemarin. Zia tidak menyambutnya di pintu utama, ya jelas saja karena ini pulang tanpa direncanakan dan masih siang. Mikhail melangkah dengan kepalanya yang sedikit pusing.
"Ini resep mamaku, zia ... dijamin tubuh kamu bakal balik jadi seperti gadis!!"
"Ehm, selain itu berkhasiat bikin kamu makin rapet!! Biar Mikhail lengket.'
"Mas Mikhail bilang tubuhku nggak jelek, Kak."
"Halah, itumah karena dia mau nyenengin kamu aja, atau kalau nggak mikhail pelit ngeluarin uang makanya dia bilang kamu cantik-cantik aja," ujar Zidny kian membuat Mikhail semakin memanas.
"Masa begitu?"
"Dih nggak percaya, kamu lupa Bang Cio dulu sukanya sama cewek yang gimana? Mantannya amboy ... kek gitar spanyol tau."
"Mana ada, si Sera persis ukulele Mikhail masih mau," ujar Zidny membuat Zia tersedak ludah. kedatangan mereka kesini memang hanya membuat ZIa berpikir macam-macam sepertinya.
"Ya tapi kan setelah Sera, yang suka nemenin dia kondangan atau kemana gitu seksoy abis, Kak Zidny."
Untung saja mental Zia sudah terlatih sejak dahulu. Bagaimana Mikhail sebelum menikah juga bisa dia simpulkan sendiri meski hanya mengenal beberapa bulan saja. Jadi hal semacam ini tidak begitu dia permasalahkan.
"Ya sudah terserah, yang jelas kita sebagai isri itu wanti-wanti, Zia. Jangan hanya karena dia kelihatan sayang kita jadi terlena, jaga badan itu perlu ... ini resep turun temurun dari keluarga Mommy, dijamin Mikhail bertekuk lutut."
Zia hanya menarik sudut bibir, bingung hendak merespon mereka bagaimana. Masa nifasnya bahkan belum selesai, tapi sejak kemarin mereka sudah memberikan resep ini dan itu pada Zia.
__ADS_1
"Udah pokoknya kam_"
"Ehem!! Sayang."
Hah? Ketiganya panik begitu mendengar suara berat Mikhail. Mulut siapa yang tadi bicara buruk tentangnya jelas bungkam seketika, Mikhail menghampiri tanpa memperlihatkan raut kemarahan di sana.
"Seru sekali bahas apa?"
"Hah? kamu pulang kok nggak negtuk pintu dulu, Khail!! Bikin kaget tau nggak." Lorenza panik seraya mengelus dadanya.
"Sudah, tapi sepertinya tenggelam dengan pembicaraan kalian."
Zidny dan Laura saling pandang, mereka mencari berbagai cara untuk menghindari Mikhail. Cara terbasi yang pernah Mikhail lihat, pura-pura angkat telepon penting padahal sama sekali tidak ada yang menghubungi.
"Ehm, Bang Cio ... aku pamit juga ya, Mama minta jemput di bandara." Laura memilih benar-benar pergi daripada harus menelan kegugupan tanpa henti.
"Oh iya, Mommy lupa Mamsky baru sampe ya?" Demi menjaga kesehatan jantungnya, Lorenza memilih ikut bersama putri Siska saja.
"Ya, silahkan ... hati-hati, sampaikan salamku untuk mamamu." Mikhail menarik sudut bibir menyaksikan mereka bubar tanpa harus diusir lebih dulu.
Meninggalkan mereka berdua saja di ruang keluarga, Mikhail membenamkan wajahnya di dada Zia, biasa cari perhatian. Pria itu menghela napasnya gusar kemudian mendongak menatap wajah sang istri.
"10 hari lagi kan?" tanya Mikhail tiba-tiba, satu bulan tanpa makan Mikhail disiksa kelaparan.
"Nggak tau, bisa jadi 20 lagi." Zia tak ingin memberikan harapan besar pada Mikhail, sesuai dengan pernyataan Kanaya bisa jadi lebih lama nantinya.
"Kenapa begitu? Mas nggak mungkin salah hitung, ZIa." MIikhail memperlihatkan wajah kekecewaannya.
Mikhail seyakin itu, dia tidak mungkin salah ingat karena setiap hari sengaja mencoret tanggal di kalender yang ada di atas meja kerjanya.
"Sabar, Mas ... bukan aku yang mau, keadaanya begini mau bagaimana lagi."
"Mas sampai sakit terlalu lama menunggu, Zi." Mikhal meraih tangan Zia untuk merasakan jika tubuhnya memang sedikit panas.
"Hem? Sakit beneran? Kamu pulang cepet karena ini ya?"
"Iya, tapi pembicaraan kalian buat Ms semakin sakit kepala ... mulut Zidny sepertinya benar-benar minta disetrika."
Tbc
__ADS_1