
"Mas nggak lama kan?"
Mikhail menggeleng, dia hendak memenuhi permintaan Jenny. Ini adalah hal yang Mikhail nantikan sejak kemarin, tidak perlu menunggu lama dan kini Jenny justru memintanya datang.
Ingin membawa turut serta Zia, dia tidak tega. Mikhail tidak terbiasa mengajak Zia keluar malam, bisa jadi Kanaya mengamuk jika sampai ketahuan.
"Jangan tunggu Mas di balkon lagi, tunggu di kamar dan kalau ngantuk tidur duluan."
"Iya ... Mas juga, jaketnya jangan dilepas, jangan minta Babas ngebut dan jangan coba-coba mampir ke tempat yang nggak jelas." Peraturan Zia nyatanya lebih banyak hingga Mikhail dibuat menganga pasca mendengar celotehan sang istri.
"Iya bawel."
Mikhail mencubit hidung bangir Valenzia pelan, tidak bermaksud menyakiti sama sekali. Sebenarnya hampir saja tidak dapat izin karena memang Mikhail memilih pergi setelah makan malam. Tentu saja hal itu terjadi akibat dia menyelesaikan urusannya dengan para pekerja di rumah itu.
"Dah, Honey."
Pria itu berlalu setelah sempat mengecup bibir Zia. Berjanji tidak akan lama karena tujuannya memang hanya satu saja. Bersama Bastian yang sudah siap menunggunya sejak tadi, meski beberapa saat sebelumnya jantung Bastian dibuat ketar-ketir akibat wejangan Mikhail, dia harus tetap sigap tentu saja.
"Pelan-pelan, Bas."
Bastian yang biasanya selalu menjawab dengan cepat apapun perkataan Mikhail, kini mendadak jadi pendiam. Meski memang pada akhirnya ancaman Mikhail tidak terlaksana dan gajinya aman-aman saja, Bastian masih merasakan takut mengingat gertakan Mikhail.
"Cepat sedikit, Bas ... pelan bukan berarti hampir tidak jalan."
Padahal perintah itu sangat biasa Mikhail berikan, kenapa justru dia bingung sendiri, pikir Mikhail. Jika dengan kecepatan begitu, mungkin waktu mereka akan tersita cukup banyak hanya untuk di jalan saja.
"Ma-maaf, Bos."
Mikhail bersandar sembari memejamkan mata, sepertinya cara dia menggertak Babas keterlaluaun. Padahal itu adalah cara Mikhail agar mereka lebih berhati-hati lagi, terutama Jackson dan Rohman yang ketahuan tidur saat berjaga hingga tidakmenyadari jika Edgard hampir saja berhasil mneyelinap ke rumahnya.
Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah berada di rumah sakit tempat Jenny di rawat. Bastian sengaja ikut karena takut haus menunggu di luar. Ya, memang itu adalah kekurangannya, penakut luar biasa.
-
.
__ADS_1
.
.
"Bryan."
Mikhail memberikan kode agar Bryan keluar, nampaknya Jenny memang benar-benar hanya ingin bicara dengannya.
"Katakan, apa yang kau sembunyikan, Jenny."
Belum juga Jenny mnyapa, Mikhail sudah bicara langsung ke intinya. Pria itu berdiri serya bersedekap dada, melihat kondisi Jenny sama sekali dia tidak iba.
"Khail."
Dia ragu untuk mengatakan ini, takut juga jika Mikhail akan semakin marah padanya. Akan tetapi, mau tidak mau dia harus menepis rasa malunya.
"Selama ini ... Edgard menusukmu dari belakang, ketika di Bali dia memintaku menukar minumanmu, dan sebelum kau benar-benar tidak sadarkan diri Edgard memintamu menandatangi surat-surat yang aku sendiri tidak paham untuk apa, Khail ... maaf, aku tau kau tidak akan memaafkanku atas kesalahan ini."
Tampak tidak terkejut, sudah Mikhail duga keduanya memang tidak beres sejak awal. Entah itu Edgard maupun Jenny, keduanya sama-sama licik tak berhati.
"Lalu?"
"What?" Firasat Mikhail mendadak tidak enak usai dia mendengar pengakuan Jenny, apa maksudnya mendapatkan Mikhail secara utuh.
"Maksudmu apa?" tanya Mikhail meninggi dan entah kenapa dia merasa terhina mendengarnya.
"Maaf, Khail ... aku benar-benar menginginkanmu tapi kau tidak pernah menyentuhku seperti wanita sesungguhnya, kau benar-benar menganggapku budak yang dan hanya peduli tentang kesenanganmu tanpa peduli bagaimana aku?"
PLAK
Mikhail jijik mendengar pengakuannya, untuk hal itu demi appaun Mikhail benar-benar lupa. Bukan pura-pura lupa dan sama sekali dia tidak pernah merasa pernah menyentuh Jenny seperti menyentuh istrinya.
"Najish!! Kau memang benar-benar gila, Jenny!! Kau lupa statusmu apa? Sedari awal sudah aku jelaskan .. kau dibayar, dan di antara kita tidak ada yang istimewa sama sekali."
Melihat air matanya Mikhail kembali dibuat marah besar, meski tangisan itu memang benar-benar tangisan penuh sesal. akan tetapi, sedikitpun Mikhail tidak tersentuh sedikitpun.
__ADS_1
"Iya, aku memang gila, Khail ... aku mencintaimu saat itu, aku pikir dengan cara yang begitu kamu bisa menjadi milikku."
Salah besar, dengan mengatasnamakan cinta dia memang sudah serendah itu. Bahkan ketika cara itu gagal, Jenny menuruti perintah Edgard agar mempertahankan kandungannya untuk bisa menjerat Mikhail dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Tapi ternyata, bahkan dengan cara aku mempertahankan kandunganku saja kau tetap tidak bisa aku dapatkan," keluhnya kemudian baru menyadari jika dalam hal ini yang paling bodoh adalah dia.
"Dasar boddoh, anak itu ... akan yang kau tuduhkan sebagai anakku, anak siapa? Anak Edgard?"
Jenny menggeleng, dia bingung sebenarnya ini anak siapa. Jika bukan anak Edgard lalu siapa lahi? Dia memang sempat berhubungan dengan beberapa pria tapi hanya sekali saja.
"Bukan?"
"Aku tidak tau, Mikhail ... Edgard bilang dia tidak bisa punya keturunan, jadi tidak mungkin aku hamil anaknya," jawab Jenny masih sedikit ragu, dia menatap sendu Mikhail berharap ki ini akan ada sedikit kelembutan dari pria itu.
"Dan kau percaya mulutnya? Cih, itu alasan dia saja karena malas pakai pengaman!!" sentak Mikhail merasa lucu namun juga kasihan pada Jenny, sebodoh itu wanita di hadapannya kini.
"Maksudmu?"
Harus pakai cara apa Mikhail menjelaskannya. Dia memahami bagaimana Edgard, dan memang pengakuan itu pernah dia dengar ketika mereka masih cukup dekat. Prinsip Edgard yang terllau bebas memang amat berbeda dengan Mikhail yang masih bebgitu berbatas.
"Dia ayah dari bayimu, kenapa kau sebodoh ini jadi manusia, Jenny."
Jenny menunduk lagi, kalaupun benar yang dia kandung adalah anak Edgard. Maka, ini adalah hal yang lebih buruklagi. mau bagaimanapun mereka takkan punya masa depn, calon nerapidana dan kalaupun bebas rasanya tidak mungkin Jenny mampu hidup bersama Edgard lagi.
"Iya, Mikhail, aku paham memang bodoh jadi tidak perlu dipertegas."
Jeny meraba perutnya yang sudah terasa sedikit membesar itu, dia terpejam sejenak dan berpikir lagkah apa yang harus dia ambil kali ini. Semua sudah terlambat, andai saja bisa dia gugurkan mungkin Jenny takkan berpikir dua kali.
"Terima kasih sudah datang, aku hanya ingin mengatakan itu padamu ... maaf sempat mengusik ketenanganmu, aku hanya ingin mengatakan kebusukan temanmu dan juga menegaskan jika aku tidak sedang mengandung anakmu, Mikhail. Itu saja."
Jenny kembali bersandar di tempat tidurnya, ucapan Mikhail yang mengatakan jika kemungkinan besar Edgard adalah ayah dari bayinya membuat keyakinan Jenny semakin bulat. Hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ini, setelah berhasil membuat Edgard benar-benar terpenjara maka tugasnya akan benar-benar usai.
"Oh iya, aku sempat mencuri cincin ini dari jemarimu waktu kita di Bali ... aku kembalikan karena ternyata kau memang tidak bisa aku miliki," tutur Jenny menyerahkan cincin yang biasanya tersemar di kelingking Mikhail, wajar saja dia kesulitan mencarinya, pikir pria itu.
Tbc
__ADS_1
Rekomendasi Novel siang ini by Indah Mala.