Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 47 - Resmi Pasangan


__ADS_3

"Jangan terlalu dipaksa, Ma ... perut Zia bisa sesak."


Kanaya menghela napas pelan, ini semua ulahnya hingga dia menikahi Zia dalam keadaan begini. Pria itu bahkan lebih sibuk dari sang mama, dia pengantin pria tapi tanggung jawab kepada Zia dia yang ingin pegang sendiri.


Kebaya yang membalut tubuhnya memang sengaja sedikit longgar, tidak bisa menyembunyikan perut Zia keseluruhan akan tetapi setidaknya tertutupi. Mikhail tidak malu sama sekali, dia meminta sang mama menyiapkan pakaian yang longgar hanya karena takut Zia tersiksa, itu saja.


"Kamu tu pengantin, masalah ginian bukan tugas kamu, Mikhail."


"Iya tidak masalah, Ma ... aku hanya ingin memastikan istriku nyaman hari ini." Mikhail menjelaskan dengan santainya.


"Iya tapi kamu juga harus siap-siap, Khail, sudah serahkan pada Mama saja."


Kanaya mencoba menenangkan putranya, sejak tadi dia bahkan tak beranjak dan mengatur apa-apa saja yang boleh Zia gunakan. Bukan hanya perkara baju, melainkan make-up juga dia pedulikan.


Jangan terlalu pucat, jangan terlalu mencolok dan jangan memberatkan wajah Zia. Dia tidak mau istrinya terlihat lebih tua dari umurnya, bahkan jika bisa Mikhail ingin memoles wajah imut Zia dengan tangannya sendiri.


"Perfect ... tidak kesulitan kan?"


Mikhail bertanya dengan senyum tipis di bibirnya, setelah sempat berdebat lantaran Kanaya menginginkan Zia menggunakan korset agar tubuh Zia terlihat lebih ramping, sementara Mikhail tak mengizinkannya lantaran takut bayinya terjepit.


"Enggak, tapi kalau begini apa tidak malu?" Zia bertanya dengan mata yang polosnya, entah apa yang dipikirkan Mikhail hingga sebebas itu dalam melakukan segala sesuatunya.


"Siapa yang malu?" Bukannya menjawab dia malah balik bertanya, Mikhail mengerutkan dahi dan merasa sedikit tak suka dengan pertanyaan Zia.


"Mama, Papa ... kamu juga, apa tidak malu?"


Dia saja dilihat pelayan malu, lalu kenapa Mikhail biasa saja padahal ada orang lain yang hadir di pernikahan mereka. Apalagi citra seorang Mikhail seharusnya baik-baik, alangkah tidak indahnya jika rusak hanya karena dia menikahi seseorang dalam keadaan hamil besar.


"Dia titipan Tuhan, dan aku yang memang menginginkannya, Zia ... buang jauh-jauh pikiran burukmu, paham?"


Zia mengangguk, berusaha mengerti penjelasan Mikhail yang luar biasa lembut itu. Kanaya bisa mendengar ucapan putranya, meski jujur saja ada sedikit kemarahan kala dia mengetahui bahwa Mikhail memang sengaja membuat Zia hamil anaknya.


"Sudah cepat, penghulunya sudah menunggu ... dia juga punya tanggung jawab lain, bukan hanya menikahkan kalian saja."

__ADS_1


Sangat bahaya jika tidak ditegur, Mikhail akan terus berlama-lama dan melakukan hal manis di sini hingga lupa jika akad seharusnya dimulai jam 09 pagi.


Pernikahan tak terduga, sama sekali Zia tidak punya rencana menikah di umurnya yang masih begitu muda. Cita-cita untuk menjadi wanita karir seperti bayangannya beberapa tahun lalu hilang sudah, saat ini cita-cita paling pastinya hanyalah menjadi ibu rumah tangga.


Suasana kini semakin tenang dan hening, Syakil berada tak jauh dari mereka. Mimpinya benar-benar harus dikubur dalam-dalam, ucapan Zia beberapa hari lalu masih saja terbayang. Faktanya benar, cinta semudah itu menentukan pilihan.


Dia mendengarkan dengan seksama bagaimana lantangnya suara Mikhail mengucapkan kalimat kabul tersebut, jelas dan dalam satu tarikan napas. Mata Syakil terpejam, puncak dan batas terakhir yang menjelaskan jika Zia resmi menjadi milik Mikhail.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"SAH."


Satu kata yang berhasil membuat Zia menitikkan air mata pada akhirnya. Sebelumnya dia memang sudah merasa sesedih itu, namun sama sekali menitikkan air mata. Hingga butiran kristal itu berurai seketika tanpa dia duga.


Masih ada yang mau menerimanya, kala dunia bahkan seakan berakhir, Zia justru menemukan tempat pulang sesungguhnya. Seseorang yang menghancurkan namun dengan niat sebaik itu untuk kembali menata hidupnya yang sudah hancur berkeping-keping.


Mikhail mengikatnya secara sempurna, nama mereka terukir indah dalam buku nikah. Mikhail mengakuinya tanpa perasaan malu, dengan jelas-jelas dia mengatakan jika memang istrinya tengah hamil anak pertama.


Akan tetapi, satu hal yang sangat amat Zia syukuri ialah lingkungan hidup Mikhail tidak berpikir sempit seperti ibunya, apalagi pasca kecelakaan maut yang menimpa Mikhail bahkan tak bisa berjalan itu.


-


.


.


.


Hanya pernikahan biasa, tanpa perayaan mewah ataupun dekorasi yang megah. Mikhail mengikatnya secara sempurna, dengan mahar yang tidak memberatkan Mikhail sebagai pria dan tidak merendahkan Zia sebagai wanita.


"Kenapa kamu tidak meminta lebih, Zia? Padahal ini kesempatan kamu untuk memerasku," tutur Mikhail kemudian, siang ini keduanya sudah berada di kamar lantaran Zia yang memang cepat lelah.


"Kan sebelum ini aku sudah terima banyak," jawab Zia seadanya, dia mendongak dan menatap sekilas mata yang sejak tadi menjadikannya pusat perhatian.

__ADS_1


"Tapi itu berbeda, Sayang ... lagipula memang uangnya masih ada?"


Mikhail justru penasaran dengan jumlah dan kemana larinya uang itu. Meski dia percaya saja jika benar uangnya Zia gunakan untuk melunasi hutang keluarganya.


"Masih sebenarnya, bahkan bertambah karena gajiku waktu di sana."


Dia memang benar-benar jujur kali ini, tidak ada yang dia sembunyikan apapun itu. Kalaupun benar dia berikan untuk orang tuanya, itu adalah setengah dari uang yang Mikhail berikan kala itu.


"Kamu kerja, apa dulu tidak sulit, Zia?"


Sekarang saja wanita yang sudah resmi jadi istrinya itu cepat lelah, lalu bagaimana ketika awal-awal kehamilan, pikir Mikhail.


"Sedikit ... aku sering mual, tapi itu tidak bahaya karena biasanya berhenti sendiri."


Mikhail bungkam mendengarnya, andai saja dia sembuh lebih cepat, mungkin penderitaan Zia takkan selama itu. Sebagai seorang yang sudah membuat hidupnya kacau, Mikhail hanya bisa mengeratkan pelukannya sebagai permintaan maaf.


"Maaf, seharusnya aku menjagamu sejak dulu," bisik Mikhail mengecup kepalanya, hanya sebuah penyesalan tapi ini terlampau dalam.


"Jangan minta maaf terus, tidak ada yang salah di sini ... kalaupun ada, itu adalah aku. Seharusnya ada di samping Bapak selama sakit, Mama bilang Bapak sembuhnya lama ya."


Zia menghela napasnya perlahan, malam itu seharusnya dia menemui Kanaya dan mengatakan yang sebenarnya. Bukan malah lari setelah membuat Mikhail terbangun dari tidurnya di rumah sakit.


"Bapak? Kamu masih memanggilku Bapak? Sampai kapan, Zia? Apa memang nyaman begitu?" tanya Mikhail heran, sudah diajarkan berhenti memanggilnya seperti rekan bisnis Zia terkadang tetap saja begitu.


"Kan memang Bapak ... Bapak dari anakku." Pertama kalinya dia bercanda dan terbahak mendengar candaannya sendiri, memang terkadang hidupnya sedikit tidak normal.


"Masa manggilnya Bapak? Bisa-bisa kita diledekin sama Papa, Zia." Mikhail menggeleng pelan, tampak pasrah dengan apa yang Zia lakukan.


"Oh iya, sewaktu aku terbaring di rumah sakit ... beberapa malam aku selalu bermimpi kamu datang dan memberiku kekuatan untuk bertahan, sayangnya Mama mengatakan itu halusinasi ... tapi sepertinya memang halusinasi ya, Sayang?" Mikhail lupa menanyakan hal ini, dia masih penasaran pemilik tangan mungil yang selalu menenangkan dadanya yang bergemuruh kala saat-saat sulitnya.


......... "Zia."


Tbc

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak kalian, yang selalu like dan baca bener-bener othor doain masuk surga❣️


__ADS_2