Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 44 - Adab Tarzan.


__ADS_3

Berpura-pura tenang padahal hati bergemuruh luar biasa itu bukanlah hal yang mudah, terutama saat ini Syakil tak henti-henti melihat ke arahnya.


BRAK


"Syakil, mau Kakak congkel bola matamu?"


Huft, demi Tuhan Zia bersyukur sekali Mikhail melakukan hal itu. Walau ulahnya berhasil membuat Ibra tersedak, namun ada manfaatnya karena kini Zia bisa sedikit lebih tenang.


"Mikhail, orang sepertimu harusnya makan malam di kamar ... adabmu persis tarzan."


"Salahkan Syakil, Pa! Sejak tadi aku diam tapi dia masih curi-curi pandang ke arah Zia."


Mana mau dia mengalah, sudah hampir selesai makan dan memang pandangan Syakil selalu ke arah Zia. Mikhail menyadari jika calon istrinya tak nyaman akan tatapan maut Syakil yang tidak bisa diartikan.


"Dia di depanku, mana mungkin aku melihat ke arah Papa," jawab Syakil tak mau kalah, keributan seperti ini sebenarnya biasa. Mikhail yang marah dan Syakil tak merasa salah adalah hal lumrah, dan sebagai wanita yang melahirkan keduanya, Kanaya tidak mau ikut campur malam ini.


"Alasan, kamu jangan macam-macam ... masih kecil sudah berani lirik-lirik perempuan, belum lagi perempuan yang kamu lirik itu calon Kakak iparmu, Syakil."


Andai tidak ada Ibra, mungkin Mikhail sudah menumpahkan air mineral ke kepala Syakil agar tentram sedikit.


"Hahah masih kecil katamu? Bukankah Zia juga juga seumuranku? Seharusnya dia juga belum boleh menikah denganmu."


Syakil keceplosan, sudah berusaha sebaik mungkin agar terlihat benar-benar asing dan tidak pernah mengenal sebelumnya. Akan tetapi adanya Zia di sini benar-benar membuat kerinduannya tak bisa berbohong.


"Tau dari mana?" tanya Mikhail kemudian yang berhasil membuat Syakil gelagapan, bingung hendak menjawab apa lantaran ini lebih gila dari bayangannya.


"Ya aku menebak saja ... dia masih kelihatan sangat muda, pasti seumuran denganku ... benarkan, Ma?"


Syakil meminta validasi dari sang mama yang sejak tadi menikmati makan malamnya. Tampak tak peduli dengan perdebatan kedua putranya sama sekali.


"Sesuai tebakan kamu, kasihan sekali Zia sebenarnya."


Jawaban sarkas yang Kanaya berikan sengaja menyindir putranya. Pria itu hanya menatap sang Mama datar seakan pasrah dengan sindiran keras yang Kanaya berikan.


Zia menarik sudut bibir mendengar ucapan calon mertuanya, mereka memang sebaik itu. Setelah mengenal Mikhail dia menduga keluarganya lebih menyebalkan lagi, ternyata dugaannya salah besar.


Hingga dia benar-benar merasa lega kala Syakil memutuskan lebih dulu ke kamar dengan alasan tugasnya yang luar biasa banyak. Tidak heran jika dia begitu, di kampus Syakil memang berprestasi.


"Dia harapan Mama satu-satunya sekarang ... sampai saat ini Mama belum izinkan Syakil pacaran, cukup Kakaknya saja yang pernah gila karena perempuan." Kanaya membuyarkan lamunan Zia pasca Syakil masuk dalam kamarnya.

__ADS_1


"Ehem ... Mama jangan membuat pikiran Zia semakin berbelit, dia lelah."


Jika diteruskan, bisa-bisa sejarah kelam hidup Mikhail terungkap semua dan hati Zia akan terluka. Dia tidak mau itu terjadi, sekalipun dia memiliki masa lalu yang luar biasa buruk, bersama Zia dia ingin menjadi pria yang baik tentu saja.


"Ah iya, Mama lupa, kamu lagi hamil juga." Kanaya mengelus perut Zia pelan-pelan, takut jika calon cucuknya mengikuti jejak Mikhail nantinya.


"Apa hubungannya?" tanya Mikhail sedikit meninggi, Ibra menghela napas kasar lantaran putranya kian menjadi.


"Mama tidak mau nanti cucu Mama lahirnya persis kamu, jangan sampai sifat buruk kamu turun ke cucu Mama." Seakan benar-benar buruk, Mikhail mencebik kesal namun itu memang benar.


"Sifatku turunan Papa, jangan salahkan aku yang begini."


"Heh tidak sopan, Papa masih di sini berani sekali mulutmu, Mikhail." Piring Ibra sudah kosong, sepertinya sangat cocok mendarat di wajahnya.


"Lihat, ketahuan kan salah-satu sifat buruknya selain yang kamu tau dia pemaksa itu," tutur Kanaya menunjuk putranya, Zia lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Kanaya.


"Dia juga tidak punya sopan santun, Zia ... adabnya memang persis tarzan," tambah Ibra kemudian, keduanya tidak ada yang membela. Tinggalah kini Mikhail yang memendam kekesalan luar biasa.


-


.


.


.


"Ck, Sialaan!! Mama benar-benar meresahkan."


Dia menendang angin dan cepat-cepat beranjak dari tempat tidurnya. Tidak ada tujuan lain, langkah kakinya menuntun Mikhail untuk ke kamar tamu saat ini juga. Berlari meniti anak tangga, dia sama sekali tak takut jatuh demi bisa tiba dengan cepat ke kamar Zia.


Sedikit berlari namun berusaha sebaik mungkin agar tidak berisik, Mikhail membuka pintu begitu pelan lantaran khawatir seseorang yang menjaga Zia di dalam akan sadar dengan kehadirannya.


"Huft, syukurlah."


Tidak dikunci, beruntung sekali dia malam ini. Kamarnya sudah gelap, hanya mengandalkan penerangan dari lampu tidur yang temaram. Dengan teliti dia tatap sekeliling kamar dengan penerangan seadanya, memastikan dimana pelayan yang diminta menemani Zia tidur berada.


"Dasar boddoh, besok kupastikan kau dipecat."


Dia mengumpat begitu pelan namun luar biasa bersyukurnya kala dia menyadari seorang wanita muda yang biasa membantu Ningsih memasak di dapur itu tidur di sofa. Padahal tempat tidurnya luas, mungkin karena mereka tidak berani untuk tidur bersama Zia.

__ADS_1


Mikhail menggigit bibirnya, berjalan menuju tempat tidur dengan jantung yang berdegub tak karuan. Wajah tenang Zia membuatnya luluh, cukup lama Mikhail menunduk demi menatap setiap inci wajah mungil wanitanya.


Selimutnya hanya menutupi kaki, posisi tidur yang luar biasa brutal dan membuat sesuatu dalam diri Mikhail seakan naik seketika. Kaki yang membuka begitu lebar seakan pasrah dan membebaskan seseorang berbuat apapun padanya, memang pikiran Mikhail segila itu.


"Ays ... kamu benar-benar mengujiku, Zia."


Sebelum pikirannya semakin buruk, Mikhai segera menarik selimut hingga menutupi dadanya. Menatap sejenak perut Zia yang sudah membesar karenanya dengan perasaan bersalah.


Meski di waktu terakhir berhubungan dia memang sengaja melakukannya dengan harapan hadirnya seorang anak di dalam rahim Zia akan mampu merebut wanita ini seutuhnya dari Zidan. Sayangnya, semua rencana Mikhail dulu hancur seketika sebuah kejadian sial itu menimpanya.


"Maaf, Zia ... hidupmu menjadi sesulit ini karena aku."


Dia tidak bisa menahan ini lebih lama, Mikhail membenamkam bibirnya begitu lembut. Zia yang sadar seseorang tengah mengacaukan tidurnya kini membuka mata dan terperanjat luar biasa kala melihat Mikhail dari jarak yang sedekat itu.


"Hhhmmpp." Mencoba mendorong dada Mikhail pelan, namun secepat itu Mikhail menahan tangannya.


"Shut ... jangan bersuara, nanti dia dengar." Mikhail membekap mulut Zia dengan tangannya kini, tampaknya hanya dengan bibir Zia masih bersuara.


Zia mengangguk pelan-pelan, persis tawanan yang mengikuti apa kata penculiknya.


"Ngapain ke sini?" tanya Zia kala dirinya bisa bernapas lega pada akhirnya, dia merinding meski sebenarnya Mikhail pernah melakukan hal yang lebih gila dari ini.


"Aku tidak bisa tidur, Zia ... sumpah." Mikhail menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zia, tampak frustasi sekali dia berpisah walau baru beberapa jam saja.


"Lalu aku harus bagaimana? Bapak jangan macem-macem ya, ketauan Mbak Rani mati kita." Wanti-wanti, kode keras Mikhail sudah terlalu jelas dan sebagai wanita dia jelas saja mengerti apa maksudnya.


"Hahaha kamu mikirnya apa? Pikiranku tidak kesana, aku hanya ingin memelukmu malam ini." Mikhail tersenyum tengil, dia kini menatap lekat-lekat wajah Zia.


"Memangnya boleh? Kalau ketahuan Mama gimana? Aku dipindahin ke gudang nanti." Semenjak bertemu setelah perpisahan yang cukup lama itu, Mikhail belum pernah macam-macam. Walau tetap saja bibirnya masih nakal seperti dulu, setidaknya dia mengurangi kadar kegilaannya.


"Boleh saja, kamu milikku bukan milik Mama ... berani dia pindahkan ke gudang, kita pindah ke Belanda."


Peraturan ada untuk dilanggar, Mikhail kini naik ke atas ranjang dan tidur di sebelah Zia tanpa peduli aturan Kanaya. Kunci kamar juga berada di kantongnya, jadi wanita yang menjaga Zia tidak akan bisa mengadu jika nanti dia bangun lebih dulu.


"Aku serius," ucap Zia tetap saja khawatir Kanaya marah besar.


"Tidak akan, percayakan semua pada suamimu ini." Sebelum malam berakhir, dia kembali berbual dan menghujani Zia dengan kecupan tanpa ampun hingga wanita itu bingung sendiri.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2