Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 59 - Nekat


__ADS_3

Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar juga pada akhirnya. Takut sekali jika Ibra akan memberikan kultum untuk kesekian kalinya, Mikhail menghela napas lega lantaran Zia tidak mengadu pada sang papa.


"Marahnya lebih awet dari hujan kemarin," gumam Mikhail menatap Zia melalui ekor matanya.


Istrinya hanya diam sembari membalik-balikan halaman novel yang dia baca. Duduk begitu damai dalam kesendirian di sofa sudut kamar, Mikhail belum berani nekat merayunya lagi.


Mereka diam-diaman persis remaja bila bermasalah, Zia malas bicara dan Mikhail takut kembali mencoba. Sementara dia biarkan dulu istrinya sibuk dengan hal-hal yang disukai, nanti juga Zia akan tertidur di sisinya, pikir Mikhail.


Di saat dia begitu serius memandangi Zia, ponsel Mikhail berdering. Panggilan dari Edgard dan sebenarnya dia sedikit kesal kembali berhubungan dengan pria ini.


Bukan tanpa alasan, Edgard yang menganggap Zia adalah halusinasi belaka membuat pria itu kecewa dan malas melihat wajahnya. Sungguh, hingga saat ini Mikhail masih sama dendamnya.


Beberapa kali dia diamkan, namun kala sorot tajam Zia mulai menatapnya Mikhail segera keluar menuju balkon karena paham makna tatapan Zia. Ya, sepertinya sang istri terganggu dengan panggilan yang memang sengaja dia abaikan itu.


"Ck, mengganggu saja ... ada apa?"


Dia sedikit berbisik, Mikhail sangat berhati-hati lantaran takut istrinya justru memintanya tidur di luar malam ini. Sejak dahulu selalu berkuasa sesukanya, kini Mikhail sedikit cupu lantaran sore ini dia memang salah.


"Wanitamu ini merepotkan sekali, Jenny menerorku karena kau tidak pernah menghubunginya!!"


Mikhail berdecak kesal mendengarnya, mana dia peduli mereka mau apa. Selama tidak dia butuhkan lagi maka wanita-wanita yang meyimpan harapan untuk MIkhail itu akan luntang-lantung tanpa kejelasan.


"Aku tidak peduli, bukan urusanku ... lagipula sejak dulu hal semacam ini kerap terjadi, kenapa kau bingung."


Sejak dulu memang Mikhail selalu begini, dia tidak merasa memiliki tangung jawab untuk mereka. Lagipula uang yang Mikhail keluarkan selama mereka menempel juga tidaklah sedikit, jika tidak ada lagi hubungan timbal balik lantas untuk apa dia pusing, pikirnya.


"Ck dasar gila, kau memalsukan alamatmu dengan menggunakan alamatku! Dan kau tau? Sekarang Jenny ada di apartemenku ... kalau Gaby datang bagaimana?"


Dari suaranya terdengar Edgard panik sekali, dia memiliki kekasih dan status mereka jelas meski hanya sekadar untuk mencari kepuasan. Berbeda dengan Mikhail yang benar-benar menganggap para wanita itu adalah mainan.


"Dengan menghubungiku begini kau berharap apa? Aku sudah memiliki istri, sekalipun belum aku juga tidak akan tertarik untuk menyelesaikan masalahmu." Dia sudah pusing dengan Zia yang belum baik-baik saja, dan kini wanita terakhir yang sempat dia bodohi sebelum bertemu Zia juga cari masalah.

__ADS_1


"Astaga, ayolah Mikhail ... setidaknya bicara baik-baik kalau memang kau tidak menginginkan dia dan hubungan kalian sudah selesai."


Permintaan Edgard menyulitkan, dia tidak suka dan sama sekali tidak tertarik. Hubungan apa yang dia maksud hingga harus ada penyelesaian, pikir Mikhail.


"Dia yang meganggap itu hubungan, tapi tidak denganku ... usir saja jika memang takut ketahuan pacarmu itu," ujar Mikhail santai, apa yang membuat Edgard enggan megusirnya, pikir Mikhail sedikit bingung sebenarnya.


"Astaga, ini sudah malam ... bagaimana bisa aku mengusirnya begitu saja, Mikhail!!"


"Aku akan kirimkan 25 juta ke rekeningmu, berikan padanya sebagai tanda hubungan yang dia maksudkan itu selesai."


"Tunggu, jadi kau lupa memberikan kompensasi untuk Jenny?" tanya Edgard tak percaya, wajar saja wanita itu rela mengusiknya.


"Hm lupa."


Dia benar-benar lupa jika Jenny memang belum menerima uang sebagai tanda mereka benar-benar selesai. Mikhail selalu menjanjikan ini di awal pada semua wanita yang berhasil menarik perhatiannya.


Beberapa waktu lalu memang wanita itu pernah berniat menemuinya di kantor, akan tetapi sebelum hal itu terjadi Mikhail sudah mengantisipasinya dari awal.


-


.


.


.


Uang lagi, memang hal semacam itu seakan jadi biasa bagi Mikhail. Kembali masuk dengan langkah pelannya, sementara Zia sudah tertidur di sofa dengan novel tersebut sudah tergeletak di lantai.


Istrinya memang semudah itu terlelap, apalagi jika dia mengantuk dalam keadaan kenyang. Mungkin hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk dia menyelami lautan mimpi.


"Benar-benar tidur?"

__ADS_1


Mikhail ragu, takut jika istrinya justru mengeluarkan bogem mentah jika dia sentuh tiba-tiba. Dia duduk perlahan, memastikan jika istrinya memang ketiduran, deru napasnya terdengar teratur menandakan jika tidurnya tidak bohongan.


Begitu hati-hati Mikhail membopong tubuh istrinya, memang cukup terasa berbeda dari sebelum hamil dahulu. Pria itu bahkan menggigit bibir bawahnya takut jika Zia justru tersadar.


"Astaga, kenapa dia seberat ini?"


Pria itu menggerakkan tangannya yang terasa sedikit ngilu seperti ini. Apa mungkin karena istrinya tertidur berat badannya jadi naik dua kali lipat? Entahlah, yang jelas Mikhail masih bertanya-tanya.


Sebelum tidur, Mikhail memastikan lebih dulu tirai kamar yang sempat terbuka ataupun pintu kaca menuju balkon sudah terkunci dengan baik. Tidak lucu jika kejadian horor seperti kemarin terulang lagi, Zia yang terbangun tiba-tiba akibat hembusan angin dari luar kemarin cukup membuat jantung Mikhail berdetak tak karuan.


"Maafkan Mas, Honey."


Meski diabaikan berhari-hari MIkhail akan tetap begini. Bukan hanya permintaan maaf pada Zia, tapi juga calon buah hatinya. Selesai menghujani wajah istrinya dengan kecupan, Mikhail berpindah ke perut Zia.


Merasa tak puas hanya mengecup perut Zia dari luar, pria itu menyingkap pelan-pelan daster istrinya. Dia memang tengah bunuh diri saat ini, Mikhail menarik sudut bibir kala menatap pergerakan calon bayinya di sana, seakan bahagia ditatap sang papa sebelum tidurnya.


"Kamu belum tidur? Shuut ... jangan banyak gerak, Mama lagi marah." Dia berbisik sepelan itu, biasanya Zia akan meringis jika pergerakan bayinya terlalu kuat. Mikhail mengelusnya lembut-lembut, takut sekali istrinya justru terbangun dan menendang wajahnya kini.


Beberapa menit dia bertahan dengan posisinya di hadapan perut Zia, namun sesaat kemudian Zia yang membukakan kakinya lebar-lebar demi mecari posisi nyaman membuat Mikhail berdesir seketika.


Matanya tidak lagi fokus ke perut, melainkan ke arah yang lainnya. Mikhail mengatur napasnya, sudah sejak sebelum makan malam dia gundah dan kini dia kembali terpancing dengan gerakan istrinya.


"Tahan, Khail ... dia masih marah!!" ungkap Mikhail mencoba menahan dirinya, namun sepertinya dia tidak sekuat itu kala Zia melenguh dan berbalik ke arahnya.


"Kamu ngode atau sedang mengujiku, Zia?"


Dia tidak bisa menahannya, mana bisa dan tidak akan bisa pada akhirnya. Jika dia berhati-hati istrinya tidak akan terbangun bukan? Mikhail beranjak dan menempatkan diri di atas istrinya dengan bertumpuan siku agar tidak menyakiti Zia.


"Sayang, Mas izin ya? Sebentar, tidak akan lama," bisiknya begitu pelan, sengaja agar tidak terdengar dan istrinya tidak menyadari ulahnya.


Tb**c**

__ADS_1


__ADS_2