Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 71 - Marah Sekeluarga.


__ADS_3

"Siapa? Hm?"


Aleena gelagapan, mata tajam pemilik bibir tipis itu membuatnya ciut seketika. Sejak dulu bermasalah, bahkan hubungan mereka memang tidak baik-baik saja lantaran Lorenza pernah menginginkan Mikhail sebagai menantunya juga.


"Kenapa diam? Siapa yang Aleena maksud, Zico?"


Zico menelan salivanya pahit, jujur saja jika Lorenza sudah bicara, pedasnya mulut sang mama tidak ada apa-apanya. Tidak bisa dibohongi sepertinya Lorenza mendengar dan mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Kurang-kurangin ngatain orang, ngaca dulu ... sekalipun sudah sempurna kamu tetap nggak berhak menghakimi orang, Aleena."


Baru saja hendak membela diri, Aleena dibuat mati kutu dengan perkataan Lorenza. Yang ditakutkan Aleena bukan hanya marahnya seorang Lorenza, melainkan khawatir Lorenza akan mengatakan hal ini pada Kanaya.


"Maaf, maksud Tante apa ya? Aku nggak berniat menghakimi siapapun."


Sudah tertangkap basah dan masih mampu berkilah. Lorenza memang tidak mendengar semuanya, namun dia mendengar beberapa kalimat di akhir percakapan antara Zico dan Aleena.


"Hahaha sepertinya Kanaya benar, terlahir sebagai perempuan di keluarga Chandrawyatama membuat kamu merasa sebagai putri di antara pangeran ya?" sarkas Lorenza tak peduli meski kali ini sama saja dengan dia menabuh genderang perang.


Paham sekali jika Aleena adalah putri kesayangan Abygail dan Adiba, putri tunggal dan cucu kebanggaan Mahatma ini sepertinya kian besar kepala.


"Maksud Tante apa ya?" tanya Aleena sedikit bergetar dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Masih bertanya? Kamu dengar ya ... kalau memang tidak suka di sini pulang saja, tidak ada yang mengharapkan kamu ada di sini, Aleena."


Kehadirannya memang tidak berguna sebenarnya, sejak tadi siang hanya menyendiri di luar dan mencari kesibukan sendiri. Sama sekali tidak mau bergabung bersama Zidny dan Laura ataupun lainnya.


Entah bagaimana cara Adiba mendidik putrinya hingga menyebalkan begini, Lorenza benar-benar tak habis pikir.


"Kenapa nggak Tante aja yang pergi? Aku punya hak di sini, sementara kalian tidak punya malu dan bahkan menginap di rumah tante Naya tanpa diminta ... kalian sadar keberadaan kalian mengganggunya? Kampungan semua!"


Aleena terpancing dengan ucapan Lorenza sebelumnya, dia merasa Lorenza sok berkuasa padahal dia yang lebih berhak dalam hal ini. Dia bahkan melupakan kemungkinan terburuk dan benar-benar tidak berpikir akibat yang nantinya dia dapat.


"Waw ... miris sekali, kasihan Papamu punya putri tidak punya etika seperti ini," ejek Lorenza tersenyum miring, dia sangat suka jika seseorang dengan mudahnya terpancing emosi seperti ini.


"Tante diam!! Tante nggak berhak mengatakan hal seenaknya tentang aku!!" sentak Aleena benar-benar tak mampu menahan diri, Zico sudah berusaha menenangkan Aleena dan mengatakan jika hal itu tidak seharusnya dia lakukan.


"Begitu ya? Terus kamu sendiri bagaimana? Sejahat itu mengecap seseorang sebagai pelaccur padahal kamu belum mengenal dia sebelumnya? Bisa jadi kamu sama ... atau bahkan lebih buruk loh dari dia," ujar Lorenza tetap santai, dia akan semakin senang jika lawannya terpancing emosi begini, hatinya bersorak dan benar-benar merasa merdeka.

__ADS_1


"Najish!! Tante tolong jaga mulutnya ya, jangan samakan aku dengan pelacur seperti dia," desis Aleena sembari menunjuk Zia di sana, tadi Zico membuatnya emosi dan kini Lorenza datang lebih menggila lagi.


"Jadi benar Zia yang kamu maksud?" Lorenza tersenyum tipis, Aleena terpancing dengan umpan yang dia berikan.


"Iya!! Memang fakta dia pelacur!! Mau apa?!" tantang Aleena kini tak lagi peduli apa yang akan terjadi setelahnya.


PLAK


"Tan ...."


PLAK


"Ulangi lagi!!" sentak Lorenza setelah mendaratkan tamparan di kedua pipi Aleena hampir tanpa jeda. Sudah lama dia tidak begini dan telapak tangannya benar-benar puas sekali.


Zidny dan Laura yang sedang berbincang bersama Zia mendengar suara Lorenza sontak terkejut dan mereka terdiam dari jarak yang memang cukup jauh. Jika Mamanya berkelahi ataupun marah, Zidny lebih memilih menjadi pengamat dari jauh.


"Berani-berani ...."


PLAK


"Aarrrggggghhh Papa!!!" Tamparan ketiga Aleena menjerit dan memanggil sang Papa pada akhirnya.


.


.


.


"Ada apa ini?"


Teriakan Aleena memang mengejutkan beberapa orang di sana. Abygail yang sedang fokus berbincang-bincang di ruang keluarga bersama Ibra dan lainnya sontak berlari ke sumber suara.


Tak hanya Abygail, akan tetapi semuanya turut berkumpul di sana. Sudah terlanjur basah dan Lorenza akan menyelesaikan ini semua hingga akarnya.


"Mba ... kenapa? Apa yang salah dengan putriku?" tanya Adiba yang juga muncul dari dapur, ramai sekali persis anak SMA bertengkar di tengah lapangan.


"Kalian berdua, tolong didik anak kalian dan ajarkan sopan santun!! Jangan terlau dimanjakan hingga dia lupa daratan begini!! Kalian sebagI orangtua harusnya bertanggung jawab penuh!!"

__ADS_1


Aleena pikir dengan memanggil Abygail dirinya akan selamat dari cercaan Lorenza. Nyatanya, wanita itu justru semakin membuat dia terlihat salah dan bisa dipastikan Abygail juga akan marah padanya.


"Jangan bawa-bawa orang tuaku, aku hanya bicara fakta dan memang pelaccur seperti dia tidak pantas jadi istri kak Mikhail!!" Aleena bersuara dengan lantangnya karena merasa dia sama sekali tidak salah.


Zidny menutup telinga Zia sementara Laura menutup matanya. Mengerti jika ucapan Aleena benar-benar menyakitinya, meski percuma karena semua sudah Zia dengar dengan jelas.


Gavin melongo dengan sikap buruk putri Mikhail, pria itu geram sendiri dan dia berharap istrinya lebih brutal lagi jika bisa.


"Dasar anak kurang ajar!!"


"Mommy tunggu!! Berhenti menyakitinya!!" Mikhail baru saja datang entah kenapa lambat sekali, pria itu menahan tangan Lorenza yang sudah ambil ancang-ancang untuk kembali mendaratkan tamparan di wajah Aleena.


"Kamu dari mana saja? Lambat sekali, jadi suami jangan pengecut, Mikhail!!" Pertama kali Mikhail disemprot Lorenza hingga pria itu terpejam sesaat.


"Aku pipis, Mommy."


Dia menjawab santai karena memang begitu adanya, dia juga terkejut ketika keluar dari toilet tempat ini sudah ramai saja, dia juga bingung ada pameran apa sebenarnya.


"Ada masalah apa? Kamu nggak terima Zia jadi Kakak iparmu, Aleena?"


Diluar dugaan, bicara Mikhail benar-benar lembut dan ini membuat Lorenza gemas sekali bahkan ingin mencakar wajah Mikhail saat ini juga.


"He-em, Alee nggak suka Kakak menikahi dia, seperti tidak ada wanita lain saja," lirihnya kemudian menangis dan mengeluarkan air mata buayanya, dia merasa menang karena kini Mikhail tetap berbaik hati padanya.


"Kamu mau Kakak melakukan apa?" tanya Mikhail kemudian, demi apapun satu ruangan dibuat bingung bahkan Zico melongo dengan semua ini.


"Aku mau_"


"MIKHAIL SADAR!! OTAK KAMU IKUT MASUK KLOSET ATAU BAGAIMANA??"


Lorenza menguncang bahu Mikhail dan marah besar dengan sikap Mikhail yang begini, semetara Zidny dan Laura sampai lupa tugasnya dan membiarkan Zia melihat Zidny yang kini tersedu di hadapan suaminya.


"Katakan, Aleena ... apa yang kamu inginkan sebenarnya? Hm?"


"Kakak tidak marah kan?" tanya Aleena mendongak dan menatap lekat wajah Mikhail yang benar-benar tak terbaca kini.


"MIKHAIL JANGAN MACAM-MACAM YA!! LIHAT ISTRI KAMU DI DEPAN SANA!! ASTAGAA MALIK!!" Lorenza panik sampai-sampai salah menyebut nama, entah apa yang mau Mikhail lakukan sebenarnya.

__ADS_1


"Diam, dengarkan dulu apa maunya ... jangan main hakim sendiri," ucap Mikhail benar-benar dingin dan melayangkan tatapan penuh amarah pada Lorenza saat ini.


Tbc


__ADS_2