Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 69 - Kanibal.


__ADS_3

Katanya sakit, tapi tenaganya masih sama dan mampu membuat Zia terkulai lemas. Mikhail terkekeh lantaran sang istri cemberut dan mendorong dadanya saat ini.


Jika tau tujuan Mikhail untuk ini, menyesal sekali Zia naik dan rela meninggalkan Kanaya dan teman-temannya tadi siang. Terjebak permainan Mikhail dan dia terpaksa mandi di penghujung sore ini dua kali. Ya, memang suaminya sesinting itu.


"Udah sana-sana ... bilangnya sakit, tapi begitu," decak Zia kesal seraya mengeringkan rambutnya.


"Hahah begitu gimana? Yang sakit cuma pergelangannya, asal pintar cari posisi ya nggak berasa lah, Sayang."


"Diam!! Atau aku keringkan mulut kamu sekalian!" ancam Zia mengarahkan hair dryer itu ke wajah suaminya, jika Mikhail membahas hal ini dia masih kerap memerah sebenarnya.


"Kamu pikir seram begitu? Coba lihat muka kamu di cermin, Zia ... lucu yang ada," tutur Mikhail mencubit pipi istrinya hingga memerah.


Sepertinya Mikhail memang memiliki ciri-ciri masa kecil kurang bahagia. Mungkin Kanaya yang melarangnya begitu keras untuk tidak main boneka ketika kecil berimbas ketika dia dewasa.


Mendapatkan istri, Mikhail justru merasa Zia sama seperti mainan kesayangannya. Pria itu berdiri di sisi istrinya, rambut Zia yang masih lembab dengan aroma khas yang menjadi candu bagi Mikhail juga tak lepas dari genggamannya.


"Mas udah deh jangan bercanda ... mending kamu mandi sana, bau keringat sumpah!!" teriak Zia karena kesalnya sudah luar biasa, jika rambutnya sudah kering bisa dipastikan dia akan memilih kabur dan enggan menemani Mikhail lagi.


"Masa iya? Wangi begini bau keringat?"


Bukan Mikhail namanya jika tidak percaya diri, pria itu merasa dirinya tidak pernah bau keringat sekalipun tubuhnya bahkan basah.


"Aku serius, Mas ... ini sudah sore, aku mau bantuin Mama masak bentar lagi."


Zia memintanya baik-baik lantaran khawatir suaminya celaka di kamar mandi. Meski memang di tempat tidur staminanya tidak berbeda, akan tetapi Mikhail cukup mengkhawatirkan jika di tempat lainnya.


"Kan tugas Rani, kamu cukup ngurus suami," tutur Mikhail memang setakut itu Zia tinggalkan dari kamarnya.


"Ngurus suami bukan cuma di kamar, Mas, tapi di dapur juga harus bisa ... kata Mama begitu," ucap Zia tanpa dibuat-buat.


"Yang makan juga bukan Mas sendiri, Papa sama Syakil ikutan makan hayo ... Mas nggak rela kamu masak buat mereka juga."


Mikhail memang pelit soal wanita, dia enggan berbagi meski itu hanya sepercik perhatian. Zia hanya untuknya dan jerih payah Zia hanya boleh untuknya saja.


"Ya Tuhan, Mikhail ... nama kamu seperti malaikat, tapi kenapa rada persis Jin ya?"


Zia menatap heran suaminya yang kini masih acak-acakan. Ucapan Mikhail memang serius dan wajahnya sama sekali tidak bercanda kala mengutarakan kalimat itu.

__ADS_1


"Apalah arti sebuah nama, Zia. Mas memang bukan malaikat, Sayang."


Ada saja memang jawabannya, dan Zia terkadang lebih memilih mengalah lantaran jawaban Mikhail memang tak bisa dibantah.


"Tapi walau bukan malaikat Mas dapatnya tetap bidadari," tambahnya kemudian dan membuat hati Zia yang mudah terbuai itu menghangat seketika.


Selang beberapa saat setelah menemani Zia mengeringkan rambutnya, Mikhail berlalu ke kamar mandi dengan langkah pelan. Memang sepertinya Mikhail sudah lebih baik, meski memang masih tetap Zia khawatirkan.


"Zia, jangan turun duluan ... hari ini kamu nggak perlu masak, Mama juga pasti mengerti."


Dia benar-benar serius, Zia pikir hanya bercanda. Nyatanya sore ini Mikhail benar-benar melarangnya, meski memang di bawah sana ada Aleena dan Zico juga. Bisa jadi alasan Mikhail tidak mengizinkan istrinya melakukan hal-hal semacam itu demi menjaga harga diri Zia agar tidak dijatuhkan mulut pedas Aleena.


"Iya, Mas," tutur Zia, dia memang sepatuh itu pada faktanya pada suami.


Sementara sang suami membersihkan diri, Zia menyiapkan pakaian untuk Mikhail. Pintu kamar mandi tidak dia tutup atas perintah Zia yang tidak ingin hal-hal buruk terjadi pada suaminya.


-


.


.


.


"Maaf, Mba ... Zia nggak bisa bantuin hari ini," bisik Zia pelan, dia takut Mikhail mendengar permintaan maafnya ini.


"Nggak apa-apa, Non, kan memang tugas saya." Rani merasa tak enak hati kala majikannya justru minta maaf begini.


"Semua udah nunggu ya, Mba?" tanya Zia lembut, sepertinya tamu-tamu Mikhail belum pulang. Samar-samar suara bersahutan masih terdengar.


"Iya, ayo turun, Non ... makan malamnya sudah siap."


Baru saja hendak kembali masuk dan memanggil Mikhail, pria itu justru sudah berada di belakang Zia. Memang kebiasaan mengejutkan begini, jantung Zia sepertinya akan bermasalah beberapa tahun lagi.


"Mereka belum pulang?"


"Belum, Den. Kemungkinan besok pagi kalau dari yang saya dengar," ujar Rani yang membuat Mikhail memutar bola matanya malas.

__ADS_1


Bukan karena dia tak suka kedatangan tamu, akan tetapi jika begini dia merasa terganggu dan kebebasannya terusik saja.


"Nggak boleh gitu, Mas."


"Mereka menyebalkan, Zia."


Dengan langkah pelan dia mengikuti Mikhail, pria dengan tubuh tegap dan tinggi yang begitu jauh darinya ini belum bisa berjalan secepat hentakannya di tempat tidur. Siallan, Zia kenapa berpikir kesana? Sontak wanita itu menggeleng cepat dan menepuk wajahnya sendiri.


"Kamu kenapa?"


"Ah? Enggak, Mas, barusan ada nyamuk," tuturnya cari alasan dan justru membuat perjalanan ke ruang makan semakin lama, Mikhail berhenti dan memastikan apa benar wajah Zia digigit nyamuk.


"Gatel? Bagian mana yang digigit?" tanya Mikhail seraya memeriksa pipi Zia begitu teliti dari jarak yang begitu dekat.


"Udah pergi, udah cepetan, Mas. Nggak enak sama yang lain," bisik Zia gemas sendiri, wajahnya sudah terasa tebal lantaran langkah mereka diikuti Rani dari jarak yang juga begitu dekat.


Pria itu menurut apa kata Zia, semakin dekat dengan ruang makan dia melingkarkan tangan di pundak istrinya. Jelas saja hal itu membuat mereka yang menunggu di sana tak kuasa menahan diri untuk tidak memuji kemesraan mereka.


"Sepertinya juara bertahan pasangan paling romantis di antara kita sudah pensiun ... benar kan, Gavin?" Haikal menautkan alisnya, bertahun-tahun Ibra pemenangnya dan kini Mikhail menggeser tahta sang papa.


"Hahaha benar, tergantikan oleh Ibra junior!" sahut Gavin membenarkan, seketika ruang makan terasa hangat dengan candaan para pria tampan yang sudah berumur itu.


"Bibit Ibra memang tidak pernah gagal, kakinya sakit tapi hampir lima jam mengurung diri di kamar ... luar biasa," sahut Abygail bertepuk tangan dan berhasil membuat Zia bersemu merah.


"Iya, Om!! Mana sengaja dikunci lagi, tadi Laura sama kak Zidny dorong pintunya tapi nggak bisa!!" sahut Laura, bukan hanya Zia yang terkejut melainkan Mikhail juga.


"Hahaha dasar bocah, kalian juga kenapa bisa di sana? Sudah tau Mikhail punya istri main masuk mana bisa!!" ungkap Lorenza yang tiba-tiba turut bicara.


Meja makan yang biasanya hanya terpakai lima kursi saja, kini personilnya berkali lipat bahkan Zia merasa tengah berada di pesta. Selama itu juga, Mikhail tak melepaskan sang istri dari pelukannya, tak peduli dengan apa tanggapan mereka. Tak selamanya senang dengan bahagianya Mikhail, termasuklah Aleena yang sejak tadi seakan tak peduli dengan kehadiran mereka berdua.


"Mas, aku malu," bisik Zia pelan, mencubit pelan lengan Mikhail karena dia memang sudah salah tingkah.


"Tenang, Sayang ... biasa saja, mereka bukan kanibal," jawab Mikhail asal dan berhasil membuat Zia mencubitnya semakin keras.


"Mas doang yang kanibal berarti!"


"Kenapa Mas?" tanya Mikhail heran dengan julukan sang istri.

__ADS_1


"Iya, kan hampir tiap hari selalu minta sarapan, makan malam, makan siang ... tapi menunya aku," jawab Zia sukses membuat Mikhail tak kuasa menahan tawanya.


Tbc


__ADS_2