
Diam, bungkam, melirik balik saja dia tidak berani. Ibra memang keras padanya sejak kecil, namun Kanaya lebih membuat mampu membuat Mikhail takut. Pria itu terdiam membisu kala tatapan tajam Kanaya masih sama buasnya seperti awal kedatangan.
Tidak hanya Mikhail, Zia juga terkena imbasnya. Padahal, menurut pengakuan Mikhail dia sudah pamit pada Kanaya maupun Ibra. Ingin marah, tapi tak bisa. Omelan Kanaya sukses membuat Zia ikuta kenyang pagi ini.
"Kalian berdua ... astaga, Zia juga kenapa ikut-ikutan, Khail?"
Berusaha menurunkan emosinya, Kanaya mondar mandir di hadapan mereka yang kini persis siswa tertangkap basah guru BK. Rasanya Kanaya sudah kehabisan kata lantaran sang putra yang benar-benar membuatnya sinting tiba-tiba.
"Maaf, Ma ... tapi Mas Mikhail bilang sudah pamit sama Mama kemarin," tutur Zia membela diri, secinta-cintanya dia pada Mikhail untuk kali ini dia tidak mau ikut terseret amarah mertuanya.
"Astafirullahaladzim, Mikhail!! Memang bener-bener jago bohong ya!! Ajaran siapa kamu begini?"
Ibra yang mendengar mulai ciut duluan, dia paling takut jika Kanaya sudah bahas masalah kebohongan begini. Pelan-pelan mulai beranjak sebelum ikutan disemprot Kanaya. Karena biasanya, Ibra akan terkena imbas juga jika amarah Kanaya sudah benar-benar membuncah.
"Mas mau kemana?"
Belum juga berhasil, Ibra bahkan baru melangkah satu meter dan suara Kanaya sudah berhasil membuat kakinya berhenti. Pemilik wajah tampan meski tak muda lagi itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari berusaha mencari alasan.
"Duduk, kamu kenapa dari tadi cuma diam? Ini anak kamu juga, Mas," lirih Kanaya sedihnya luar biasa, baru kali ini dia merasa Mikhail kurang ajar tingkat dewa.
Ibra bingung hendak bagaimana, namun hendak marah lantaran kebohobgan Mikhail di sadar diri dan Mikhail pasti akan mengulik masa lalunya. Sama-sama pembohong, belum lagi mulut Mikhail biasanya tak pandang bulu jika membuka aib. Jujur saja, Ibra masih berusaha menjaga citra dihadapan menantunya.
"Haus, Nay."
Hanya bisa menghela napas perlahan, Kanaya mengelus dadanya dan menatap tajam Ibra hingga pria itu kembali duduk pada akhirnya. Tatapan mata Kanaya adalah sorot paling dia takuti di dunia sejak dahulu.
"Papa haus? Aku ambilkan minum ya," sela Mikhail sengaja membuat suasana sedikit berbeda, siapa tahu dengan dia yang begini Kanaya sedikit luluh dan tidak marah-marah lagi.
"Mikhail!! Mama belum selesai," bentak Kanaya kembali memekakan telinga Mikhail, sungguh pria itu dibuat mati kutu oleh sang mama.
"Aawwwh," keluh Mikhail kala Kanaya menekan pundaknya dan memaksa Mikhail tetap duduk di tempat.
__ADS_1
Zia menggenggam erat tangan Mikhail, demi apapun baru kali ini dia merasakan betapa mengerikannya amarah seorang ibu. Selama hidup dia tidak pernah merasakan amarah orang ibunya karena sebuah kesalahan, yang ada hanya acuh dan tidak begitu peduli selagi Zia masih pulang dalam keadaan utuh.
Jika boleh jujur, Kanaya ingin sekali menangis sebenarnya. Meski alasan Mikhail pindah dadakan masuk akal tetap saja sangat sulit dia terima. Hanya karena keberadaan Zidny dan Laura yang memberatkan, pria itu benar-benar memutuskan pergi tanpa pamit.
"Mama tekankan ya, Khail ... adab itu di atas segalanya, kamu begini buat Mama khawatir bahkan Mama pikir rumah kerampokan!!" ungkap Kanaya kesal luar biasa, semalam dia bahkan tak nyenyak tidur akibat ulah putranya ini.
"Kamu sudah dewasa, sebentar lagi jadi seorang papa ... kamu mau anak kamu nanti terlahir jadi pembohong juga? Nggak mau kan?"
Mulai melembut dan itu adalah tahap yang biasanya membuat hati Mikhail akan terketuk dan merasa bersalah. Dia terbawa suasana dengan kelembutan seorang Kanaya, begitupun dengan Zia.
"Zia mau begitu?"
"Enggak mau, Ma!! Jangan," desis Zia takut jika nanti sifat buruk Mikhail diwariskan pada anaknya.
"Makanya jangan berada di pihak dia, Mama masih baik mau maafin kamu, Zia ... kalau nggak, Mama pasti sudah coret kamu dari KK," ancam Kanaya dan membuat Zia melongo mendengarnya, jujur saja dia panik luar biasa.
"Tapi, Zia kan memang tidak ada di KK Mama ... kami sudah punya KK sendiri jadi apa yang mau Mama coret?"
Apapun itu, tetap saja Mikhail kurang ajar dan Zia dianggap mendukung perilaku Mikhail. Kanaya sama sekali tidak akan memasang wajah ramahnya kali ini, kekesalannya pada Zia tak jauh berbeda. Karena menurutnya, sekalipun Mikhail mengatakan dia sudah pamit, seharusnya sebagai menantu dia juga harus menyampaikan sepatah atau dua kata padanya.
-
.
.
.
Kedatangan Kanaya dan Ibra bak perangkap yang benar-benar membuat Mikhail tak bisa bergerak. Selesai dengan Kanaya, kini dia mendekam di ruang kerja dan Ibra akan memakinya dengan bebas karena tak perlu khawatir akan Mikhail jatuhkan di hadapan Zia.
Jika kini Mikhail tengah menikmati hukuman dari Ibra, di tempat berbeda Zia kini tengah dimanja Kanaya. Kuku menantunya sudah sedikit panjang dan Kanaya tak nyaman melihatnya, sepertinya Mikhail harus dia ajari lebih dalam lagi agar memerhatikan kondisi kuku-kuku istrinya.
__ADS_1
"Jangan, Ma ... Zia bisa sendiri," tolak Zia kala Kanaya hendak memotong kuku kakinya, meski mertuanya begitu baik tetap saja Zia tak nyaman.
"Nggak apa-apa, Mama tau kamu sulit potongnya. Usia kehamilan segitu mulai susah geraknya, jangankan mau potong ... mau lihat aja udah ketutupan perut, Zia."
Kanaya begitu memahami keadaannya, memang benar apa yang dikatakan sang mertua. Akan tetapi, untuk hal ini Zia tidak bisa menerimanya, jujur saja dia khawatir akan disangka durhaka nantinya.
"Tapi jangan, Ma, nggak sopan kalau aku minta Mama potongin kukunya." Zia menarik kakinya menjauh lantaran benar-benar merasa malu jika Kanaya masih terus begitu padanya, padahal beberapa jam lalu dia marah, pikir Zia heran.
"Ya sudah, nanti Mikhail saja yang potong kalau begitu," tutur Kanaya menyerah pada akhirnya, mungkin perhatiannya justru membuat Zia terbebani dan tidak nyaman.
"Oh iya, kata Siska di sini susah signal ... apa iya?" Kanaya mengalihkan pembicaraan, dia paham jika menantunya merasa canggung akibat kemarahannya beberapa saat lalu.
"Ada kok, Ma, tapi HP Zia masuk kolam makanya jadi nggak tau deh kalau sekarang." Zia ingin memperlihatkan bukti namun bingung lantaran ponselnya tak lagi bisa diselamatkan.
Kanaya mengangguk mengerti, wajar saja menantunya tidak bisa dihubungi. Pada akhirnya memang Kanaya tidak bisa marah, melihat mata tulus Zia dia seakan tak tega.
BRAK
"Mas?"
"Mikhail!!"
Keduanya terkejut kala terdengar Mikhail membanting pintu ketika dia keluar. Pria itu berlalu dengan langkah panjang seraya mengusap sudut bibirnya yang Zia yakin saat ini tengah berdarah.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Mikhail meniti anak tangga dan sepertinya masuk ke kamar dengan emosi yang membuncah dalam jiwanya. Ini tidak beres, pasti ada yang terjadi di antara dua pria itu.
"Kenapa, Ma?"
"Kamu temui Mikhail, Mama mau tanya Papa ada masalah apa sebenarnya." Jika sudah begini, perasaan Kanaya sudah tak baik-baik saja lagi. Kedua watak sama-sama keras dan enggan mengalah itu biasanya memang kerap berakhir kekerasan.
Tbc
__ADS_1