
Sejak resmi menjadi istri Mikhail, Zia benar-benar menjaga jarak dari siapapun terutama Syakil. Perubahan Zia semakin terasa kala pernikahan mereka berjalan satu bulan, Syakil bahkan tidak punya kesempatan untuk bicara berdua.
Terlebih ini libur semester, jelas saja Syakil menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dibandingkan di luar. Demi menghindari Syakil dia rela berdiam diri di kamar tanpa melakukan apa-apa setelah selesai melakukan rutinitas ringannya bersama Kanaya maupun Rani.
Pagi ini dia mulai bosan dengan rutinitasnya, hanya itu-itu saja bahkan mungkin tubuhnya sudah hapal apa yang harus dia lakukan setiap jamnya. Zia menatap Mikhail yang kini mengenakan kemejanya, dia sudah selesai mandi pagi namun malas bergerak untuk melakukan kegiatan selanjutnya.
"Zia tolong ambilkan dasi biru muda, ini kurang biru muda."
Banyak alasan, padahal sama saja menurut Zia. Suaminya memang seseorang yang sempurna dalam segala hal, dan hal kecil saja bisa membuat Mikhail berubah pikiran seketika.
"Sama-sama biru, apa bedanya?"
"Ini bukan biru yang Mas maksudkan, tolong ya ...."
Zia menghela napas pelan, berjalan dengan langkah gontai dan mencari dasi biru yang Mikhail maksud. Tak butuh waktu lama dia segera menghampiri Mikhail dengan wajah cemberutnya.
"Nih!" seru Zia menyerahkan dasi yang Mikhail minta, bukannya segera diambil Mikhail kini menghela napas kasar.
"Astaga, kenapa semuanya ... satu saja, Valenzia."
Dia menyerah, sepertinya memang Zia pantang diperintah berlebihan. Istrinya memperlihatkan kekesalan dengan mengambilkan semua dasi yang berwarna biru, dia tidak paham biru yang mana dan demi menghindari diperintahkan kembali Zia mengambil jalan pintas terbaiknya.
"Pilih sendiri, nanti aku salah ... kemudaan lah, ketuaan lah."
Istrinya marah tapi Mikhail tertawa sumbang kini, dia tak kuasa menahan gelak tawa akan tingkah lucu Zia. Semakin kesini istrinya semakin berani, meski bukan kategori melawan kehendak suami namun dia memperlihatkan kekesalan jika perintah Mikhail mulai macam-macam.
"Hahaha kamu marah ceritanya?" goda Mikhail sengaja menyentuh hidung bangirnya, kecantikan istrinya membuat Mikhail seluluh itu bahkan tak kuasa marah sedikitpun.
"Nggak ... sudah cepet pilih, biar sisanya aku balikin."
Meski tawanya bahkan belum selesai, Mikhail tetap memilih salah satu dasi yang dia inginkan. Selera pria itu memang tidak tertebak, dan menurut Zia memang luar biasa tinggi.
"Ganas sekali, Mas salah ya?"
Sudah tau masih bertanya, suasana hatinya sudah tak baik-baik saja sejak tadi malam. Mikhail yang gagal nembawakan jambu kristal untuknya masih membuat Zia kesal luar biasa, dan ketika pagi dia justru memerintah layaknya seorang raja.
Zia hanya menggeleng, dia enggan bicara dan berharap Mikhail mengerti tanpa dia mengatakan kekesalannya.
__ADS_1
"Hari ini kamu ikut Mas kerja mau? Sekalian pulangnya cari jambu, supaya kamu tau sesulit apa aku mencarinya, Zia."
"Boleh?" tanya Zia dengan manik indah yang membulat sempurna, bak mendapatkan angin segar dia benar-benar sebahagia ini mendengar ajakan Mikhail.
"Ehm boleh, kamu tidak bosan di rumah terus?"
Jika boleh jujur jelas saja dia akan berteriak bahwa bosannya bahkan lebih besar dari apapun. Beberapa hari pertama mungkin dia tenang-tenang saja, namun seterusnya berbeda.
"Apa nggak masalah kalau aku ikut?" tanya Zia ragu, dia belum pernah sama sekali menampakkan dirinya di publik setelah menikah, bahkan keluar rumah saja hampir tidak pernah, sekalipun keluar itu hanya ke rumah sakit untuk kontrol kandungan ditemani Mikhail.
"Masalah kenapa memangnya?" Sebuah pertanyaan yang paling Mikhail benci, dia sedikit kesal setiap Zia melontarkan pertanyaan yang sama padanya.
"Nanti kita jadi trending topik dan dibahas karyawan-karyawan kamu sampai tahun depan ... ih kok tau-tau hamil, ih kok udah segede itu nikahnya kapan dan blablabla ... nggak malu kamu, Mas?" tanya Zia terang-terangan, hal yang membuat dia masih menutup diri bahkan merahasiakan kehamilannya adalah itu.
Pletak
"Siapa yang berani mengunjingkanku? Kalaupun sampai ada artinya mereka sudah bosan hidup."
"Lagipula kenapa harus malu, Zia ... kamu hamil anakku artinya memang pria tulen, tidak impoten," tambah Mikhail kemudian, sedikit sebal dengan Zia yang masih saja selalu menutup diri dengan alasan takut Mikhail malu.
Demi apapun Mikhail tidak malu, jika merasa bersalah memang jelas saja ada. Akan tetapi malu sama sekali bukan pilihan yang terbaik menurut Mikhail, tanggung jawab sepenuhnya tanpa perlu merasa anak dalam kandungan istrinya adalah aib.
-
"Lama ya, Bos?" tanya Bastian sedikit menggerakkan tubuh gempalnya, menunggu tuan putri ternyata cukup lama.
"Begitulah perempuan, istrimu juga begitu kan?"
Jika beberapa pria akan mengeluh dengan lambatnya persiapan sang istri, berbeda dengan Mikhail. Dia tidak keberatan meski Zia begitu lama, entah apa yang dia lakukan hingga persiapan yang seharusnya cukup sepuluh menit menjadi dua kali lipat seperti ini.
"Iya, Bos ... istri saya juga begitu cuma bedanya saya ngarang," jawab Bastian sekenanya, mereka memang cukup santai. Sejak dipilih menjadi sopir pribadi Mikhail dia merasakan kehidupan normal dan mengerti tak semua orang kaya haus akan kehormatan.
"Artinya belum punya, Babas!!" Mikhail menggeleng pelan, entah itu Bastian maupun Bryan sama gilanya.
Mikhail masih sabar menanti, hingga kini sang istri menghampirinya dengan langkah cepat, Zia berlari kecil dan itu sukses membuat Mikhail ketar-ketir.
"Astaga, Zia!! Jangan lari!!"
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Mikhail membentak Zia karena takut istrinya celaka. Darahnya seakan tumpah, dada Mikhail berdebar tak karuan.
"Kenapa harus lari?" tanya Mikhail melemah kala istrinya kini sudah dekat, Zia hanya meminta maaf berulang kali. Dia tidak sengaja, terlalu bahagia membuat Zia terlalu aktif bahkan membuat Mikhail berdesir.
Cukup lama waktu terbuang, mereka kini menuju kantor dengan kecepatan sedang. Pertama kalinya Zia kembali melewati jalanan ini, dia merindukannya dan kini dengan suasana dan orang yang berbeda.
Wajahnya berseri, dan Mikhail kesal sendiri kala Zia lebih memilih menatap ke luar dibandingkan dengannya bahkan Zia berdecak kagum kala beberapa pesepeda berlalu di luar sana. Padahal saat ini pria blasteran surga sudah ada disampingnya.
"Ck, kamu lihat apa? Aku di sini, Zia."
Mudah sekali Mikhail merasa diabaikan, Zia yang lebih fokus pada hal selain dirinya saja bisa merusak suasana hatinya. Pria itu menarik bahu istrinya hingga keduanya tidak berjarak, pemandangan yang sangat-sangat menenangkan di mata Babas sebagai sopirnya.
"Jangan begini, aku nggak bisa napas nanti," tutur Zia kemudian, dia merasa pria ini sedikit menyakitinya.
"Jangan jelalatan makanya, senyum-senyum tidak jelas ... pasti mata kamu lihat cowok-cowok yang pakai sepeda tadi kan?" Mikhail asal menuduh, padahal memang Zia sempat melihatnya bahkan menganga lantaran salah satu di antara mereka mirip idolanya.
"Nggak, enak aja main tuduh! Aku liat itu tuh ... anu ... tukang obat keliling," jawab Zia asal ceplos, ketampanan pria yang tadi memang sempat membutakan matanya.
"Tukang obat mana? Tidak ada tukang obat di sini, Zia." Mikhail menenggelamkan wajah sang istri ke dadanya, baru diajak keluar sekali sudah berulah, pikirnya.
"Adaaa!! Mata kamu aja ketutup belek, ada kok di ujung sana."
-
-
-
Jangan lewatkan ritual vote Zimi ini hari senin❣️
Zimi ape, thor? Zia Mikel✨
Tbc
Rekomen Novel hari ini, buat temen baca sambil makan bakwan❣️
__ADS_1