
"BOS!!"
Pagi-pagi sekali, Mikhail yang baru saja selesai memandikan Zean dibuat panik kala Bastian mengetuk pintu kamar, sepertinya memang panik sekali.
"Ck, mengganggu saja ... sebentar ya, Sayang kita lihat om Babas mau apa." Dengan membawa serta Zean yang kini masih bulat dalam keadaan basah, pria itu lebih baik bajunya basah dibandingkan meninggalkan putranya.
"Ada apa, Bas?"
"Anjiing!!" Karena panik, Bastian justru terlihat tengah memakinya.
"Kau memakiku?" sela Mikhail mengerutkan alis, benar-benar membuat marah, pikirnya kesal.
"Bukan, Bos ... ini belum selesai," tutur Bastian kemudian mengatur napasnya.
"Apa? Bicara yang jelas!!"
Kesabaran Mikhail tidak sebesar itu, jelas saja dia kesal kala Bastian mendatanginya dengan sejuta kepanikan tapi membingungkan begini.
"Anjiingnya hilang dua, Bos ... bahkan sama tali-talinya, sudah saya cari di sekeliling rumah tetap tidak ketemu."
"What!!"
Zean bahkan menangis kala papanya berteriak sekuat itu. Mungkin telinganya terasa sakit, bayi lima bulan sudah harus terbiasa dengan tingkah papanya yang persis tarzan begini.
"Astaga, Sayangnya papa kaget ya? Maaf-maaf, Sayang ... Papa lupa kalau lagi gendong kamu," ucapnya lembut sembari mengecup pipi gembulnya, semudah itu Zean tersedu padahal itu papanya sendiri.
"Sebentar, Bas ... anakku menangis," ujar Mikhail menunda adegan marah-marahnya, Zean butuh ketenangan, padahal beberapa waktu lalu putranya sebahagia begitu menyentuh air.
"Sean masih tidur, Bos?"
"Iya, kalau Sean memang bangunnya siang, Bas," jelas Mikhail yang justru sama sekali tidak terlihat sedang marah.
Semenjak Mikhail punya anak, Bastian bingung sebenarnya Mikhail ini manusia seperti apa. Kadang di tengah amarahnya dia bisa berhenti dan lembut tiba-tiba, begitupun sebaliknya.
Beberapa menit dia membuat Zean tenang, dan tentu saja dia masih ingat batas pembicaraan sebelumnya. Pria itu kembali menatap Bastian dengan tatapan tajamnya, pasti kekacauan ini terjadi karena Bastian yang tidak menjaga anjiingnya dengan benar.
"Yang hilang siapa saja?"
"Satria dan Xavier, Bos."
"Xavier? Kau jangan bercanda, Bas!! Itu yang paling mahal."
"Serius, Bos ... memang benar Xavier, yang telinganya putih satu," jelas Bastian tidak segugup sebelumnya, mungkin karena marahnya Mikhail tertunda beberapa menit lalu.
"Itu Satria."
Lega rasanya, Mikhail mungkin bisa merelakan anjiingnya hilang tapi jangan Xavier, sungguh dia tidak rela jika pejantan tangguh dengan keberanian paling menonjol itu hilang begitu saja.
"Oh berarti yang lidahnya hitam itu Xavier?"
__ADS_1
"Itu baru Xavier," jawab Mikhail tampak tenang-tenang saja, pria itu masih menepuk-nepuk punggung Zean lembut.
"Nah itu hilang juga, Bos," tambah Bastian dengan santainya.
JEDUAR
Mata Mikhail kembali membulat. ketenangannya yang sempat menghampiri hilang seketika. Matilah dia, dia bahkan menghabiskan 9000 USD demi bisa membeli Xavier .
Mungkin untuk orang kaya lainnya, harga segitu tidak seberapa. Akan tetapi berbeda jika yang kehilangan itu adalah Mikhail, pria kaya yang super perhitungan ini jelas saja merasa kehilangan begitu dalam.
"Kau benar-benar sinting, Bastian ... sudah kukatakan jangan selalu di ajak main keluar, pasti tetangga kita yang diujung jalan sana pelakunya."
Tujuan awal untuk memakaian Zean baju tertunda begitu lama. Pria itu membawa serta Zean yang masih bulat tanpa sehelai benang itu dalam pelukannya.
Langkah cepat Mikhail yang setengah berlari Zean kira adalah candaan sang papa. Gelak tawa Zean terdengar begitu bahagia, ya memang antara anak dan ayah satu ini sama sekali tidak ada ikatan batin sepertinya.
.
.
.
"Ya Tuhan ... tidak mungkin Xavier dan Satria kabur, mereka anjiing yang setia."
Mikhail lemas kala melihat hanya tersisa Hengky dan Niel di sana. Pria itu sangat menghargai apa yang sudah dia miliki, hewan peliharaan yang dia rawat dengan harga begitu luar bias telah menghilang begitu saja, dia tentu saja kehilangan.
"Iya, Bos?"
"Laporkan polisi, sepertinya anjiingku dicuri dan memang sudah diincar sejak lama," tutur Mikhail menatap nanar kemudian beralih pada Zean yang kini tengah menatapnya.
"Bagaimana, Zean? Setuju dengan pendapat Papa?"
Zean tertawa begitu lebarnya, padahal saat ini suasana hati Mikhail kacau balau bahkan dia sudah menuduh tetangga barunya.
Bastian melongo, perintah Mikhail memang selalu ada-ada saja. Akan tetapi bersyukur saja bosnya tidak marah bahkan memotong gaji seperti kejadian-kejadian sebelumnya.
"Tumben, tapi syukurlah tidak marah ... kalian berdua jangan sampai hilang juga, kalian itu mahal, paham tidak?" tanya Bastian pada dua makhluk yang hanya menjulurkan lidah sejak tadi.
"Jawab!!!"
Memang benar, Bastian adalah pengabdi Mikhail yang tidak terbantahkan. Dimana orang waras yang berbicara sedemikian rupa pada hewan, ya dia sendiri.
Meninggalkan Bastian yang sedang berinteraksi dengan kedua hewan peliharaannya, pria itu kini mendengkus kesal kemudian duduk di sofa ruang tamu demi menenangkan pikirannya sebentar.
"Mas, kenapa belum selesai juga ... Zean masuk angin nanti."
Zia yang menghampiri suaminya hanya bisa menghela napas pelan kala melihat putranya masih dalam keadaan polos seraya berusaha meraih dirinya.
"Mas sedang kehilangan, Zia ... kamu saja yang lanjutkan," tuturnya lemas, kehilangan Xavier dan Satria benar-benar membuat pria ini terpukul nampaknya.
__ADS_1
"Kehilangan apa?"
"Xavier dan Satria, mereka hilang, Zia ... Mas sedih sekali."
Zia memutar bola matanya malas, yang mana Xavier dia juga dia mengerti, nama anjiingnya terlalu bagus bahkan Zia protes kala pertama kali mendengar nama-nama hewan peliharaan Mikhail.
"Sayangnya Mama sudah mandi? Eeum wanginya, rambutnya bahkan hampir kering tapi belum dipakein baju ya sama Papa?"
Zean belum bisa mengadu, dia hanya bisa tertawa kala sang mama menghujani perutnya dengan kecupan.
Sementara Mikhail kini semakin gusar kala melihat respon Zia biasa saja bahkan terlihat sedikit tidak perduli. Benar-benar istri sayang suami, pikirnya.
"Kamu kok nggak sedih, Sayang? Mas lagi kehilangan loh?"
"Nggak hilang, Mas," jawab Zia santai karena memang faktanya tidak ada yang hilang di rumah ini.
"Terus dimana kalau nggak hilang, Zia?" tanya Mikhail penasaran, ada harapan hewan itu akan kembali padanya, pikir Mikhail.
"Kemaren Om Gavin minta satu, ya aku kasih aja kan kamu punya empat," jelas Zia santai, bersyukur sekali dia kala ada yang berniat mengadopsi hewan peliharaan Mikhail yang membuatnya takut ke halaman belakang sejak beberapa tahun lalu.
"HAH?! Zia, kenapa di kasih, Sayang?"
"Kata Mama nggak enak kalau nggak dikasih, lagian ganggu Mas kalau udah sebanyak itu, orang pada takut ke rumah kita gara-gara Babas suka pindahin mereka di depan pagar," tutur Zia menyampaikan keresahannya, Erika tidak lagi berani berkunjung ke rumahnya juga karena hewan peliharaan Mikhail yang luar biasa ramah itu.
"Terus yang satunya siapa yang ambil?"
"Om Haikal," jawab Zia santai, kemarin mereka bertamu di saat Mikhail masih di luar. Sementara itu, Mikhail pulang hampir larut malam, jadi wajar saja jika Bastian baru menyadari ada sesuatu yang hilang tadi pagi.
"Menyebalkan, Mas pergi dulu."
Pria itu beranjak pergi, meski dalam keadaan emosi Mikhail tetap menyempatkan diri untuk mengecup bibir Zia sebagai tanda pamitnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Zia menahan kepergian Mikhail secepat mungkin.
"Jemput Satrio sama Xavier, enak saja main ambil-ambil ... dah, sayangnya Papa," ucapnya berlalu usai menggerutu tidak jelas dan Zia benar-benar angkat tangan dengan ulahnya.
"Kamu nanti kalau udah gede jangan kayak Papa yaa," tutur Zia pelan sembari mencubit pipi putranya begitu pelan.
"Eoouuhh," sahut Zean belum jelas makanya, namun menurut Zia itu adalah jawaban iya dari seorang Zean.
"Anak pintar."
"Sayang ...."
"Astaga, apalagi?" Zia meninggi kala Mikhail kembali masuk dengan tiba-tiba.
"Kunci mobil, Mas nggak biasa naik motor, masuk angin." Terdengar lebay tapi memang nyata dia tidak bisa sejak dahulu, Mikhail memang selemah itu.
Tbc
__ADS_1