Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 52 - Perang Batin


__ADS_3

Hal yang sedikit aneh tapi Mikhail suka, Zia sejak tadi siang mengikuti kemana dia pergi. Entah itu ke ruang makan, ruang tamu dan bahkan ketika dia keluar memberi makan peliharaannya juga Zia ikut.


"Kamu kenapa?" tanya Mikhail menarik sudut bibirnya, yang menjadi pertanyaan Mikhail bukan hanya karena Zia tidak bisa jauh saja, melainkan bergelayut di lengannya.


"Kata ustadz istri itu harus selalu dekat-dekat suami," jawabnya asal tapi itu tidak salah. Zia melakukannya bukan tanpa alasan, sikap Aleena yang tadi semanja itu pada Mikhail menjadi alasan Zia berubah selengket ini.


"Ya tapi jangan begini, kamu tunggu di sana saja."


Mikhail tidak keberatan jika dia ingin menempel bak prangko seperti ini, akan tetapi tidak sekarang. Mikhail kesulitan hendak menjangkau burung-burung kesayangannya.


"Nggak mau, di sana banyak tikus."


"Hamster, Zia ... siapa yang pelihara tikus."


"Sama saja, sama-sama berbulu dan kecil ... ih geli," tutur Zia membayangkan betapa menakutkannya hewan itu.


Mikhail menghela napas perlahan, dia yang memaksa ikut tapi dia juga yang selalu berteriak lantaran takut dengan hewan kecil itu.


"Masih lama ya, Mas ... banyak nyamuk," rengeknya mulai tidak tahan, bertahan demi bisa membuat Aleena kian panas di balkon lantai dua cukup membuatnya tersiksa.


Sedikit heran juga kenapa bisa di rumah ada kebun binatang seperti ini, Mikhail begitu berbeda dari Syakil. Di antara banyak hobi kenapa Mikhail justru merelakan banyak uang untuk mengumpulkan hewan-hewan ini.


"Ya sudah, nanti Mas minta Bastian saja lanjutkan."


Mau bagaimanapun Mikhail meminta dia bersabar, tampaknya tetap akan sama. Sejak tadi memang terlihat dia tidak nyaman ada di sini, Mikhail juga heran kenapa dia enggan menjauh meski hanya sebentar.


Zia tersenyum senang kala Mikhail memilih mengalah, mungkin jika mereka semua bisa bicara, jelas saja burung yang tadinya baru hendak Mikhail beri perhatian akan mengeluarkan sumpah serapahnya pada Zia.


"Nggak ada beruang ya, Mas?" tanya Zia basa-basi, takut jika suasana hati Mikhail berubah karena ulahnya yang sejak tadi selalu meminta pergi dari tempat ini.


"Ini bukan kebun binatang, Zia ... tidak semuanya Mas pelihara di sini."


"Syukurlah kalau nggak ada."


"Hah?"


Mikhail pikir dia bertanya karena ingin melihatnya, diluar dugaan yang Zia maksudnya justru bersyukur hewan itu tidak berada di sini. Benar-benar sulit ditebak apa mau istrinya ini.

__ADS_1


"Hewan-hewannya udah lama ya di sini? Kenapa bisa sebanyak ini?" Pertanyaan kali ini serius, Zia memang penasaran kenapa bisa sebanyak itu bahkan butuh satu lahan khusus.


"Mereka semua peliharaan Papa, tapi Mas juga suka jadi makin banyak," tutur Mikhail kemudian, hobi keduanya memang sama. Meski sempat di tentang Kanaya lantaran dia memiliki kekhawatiran yang sama seperti Zia sebelumnya, semua itu bisa teratasi dengan bujuk rayu Ibra.


"Mas kan nggak sekaya dulu, kenapa nggak dijual aja? Burung sama ikan-ikannya pasti mahal," ungkap Zia seenteng itu, sepertinya memang bagi Zia semua bisa dijual dan ujung-ujungnya adalah uang.


"Mas belum semiskin itu sampai jual ikan, Zia." Istrinya benar-benar menganggap ucapan tadi pagi separah itu sepertinya, padahal dia tidak juga jatuh miskin karena pengobatan.


Pembicaraan yang sangat-sangat jauh dari dugaan, keduanya terlihat serasi, bahkan mungkin saat ini Syakil dibuat ternganga dengan Zia yang tak malu berdampingan dengan Mikhail tanpa jarak.


Hal yang benar-benar sukses membuat hati yang lainnya panas membara. Puas memandanginya di balkon, Aleena berpindah ke ruang tamu demi mencari keberadaan Syakil.


"Kamu kenal dia?"


Merasa kesal jadi penonton sejak tadi, Aleena mendesak penjelasan dari Syakil. Sungguh dia amat benci, hampir satu jam dan yang dia lihat selalu sama.


"Istri Mikhail, kenapa masih bertanya juga."


Syakil yang sejak tadi diam di ruang tamu lama-lama emosi lantaran ketenangannya dikacaukan Aleena. Sudah bertengkar hebat dan anehnya wanita itu masih bersikap santai seakan tidak ada yang salah dengan hidupnya.


Firasat Aleena mengatakan lain, dia yakin jika Zia dan Syakil saling mengenal sebelum ini. Terlihat jelas dengan cara Syakil yang membela Zia bahkan berani berkata kasar padanya tadi pagi, pikir Aleena.


"Tidak, jangan bertanya jika tidak penting, Kak ... kalau memang penasaran tanyakan sendiri padanya."


Syakil sudah berusaha melupakan dan Aleena justru membuat ingatannya kembali terfokus pada Zia, sungguh hal ini luar biasa menyebalkan.


-


.


.


Perang batin keduanya tak berhenti dengan sampai di sana, gagal di siang hari dia tidak mau kalah di malam hari. Kali ini dengan formasi lengkap, Kanaya dan Ibra sudah kembali, mereka sudah siap untuk makan malam.


"Kak Mikhail mau pakai apa? Aku siapkan ya?"


"Biar aku saja," ucap Zia cepat-cepat kemudian merebut piring di tangan Aleena dengan lembutnya, tak lupa dengan suara luar biasa sopannya.

__ADS_1


"Aku saja, aku sudah biasa melakukannya."


Mikhail menatap keduanya bergantian, mereka terlihat baik-baik saja, senyum keduanya tidak pudar meski memperebutkan piring.


"Biar aku saja, aku istrinya ... ini kewajibanku."


Ibra menghela napas pelan, sementara Syakil memilih tak peduli dan mulai menikmati makan malamnya. Entah kapan akan usai, mungkin setelah subuh, pikir Syakil.


"Tapi kamu belum paham selera makan kak Mikhail kan? Malam ini biar aku saja," tutur Aleena lembut, dia memang menjaga sikap di hadapan mereka, Mikhail terutama. Kejadian tadi pagi kesalahan dan tidak mengira jika Syakil akan mendengarnya.


"Paham, jadi tolong lepaskan, Kak Aleena ...." pinta Zia terakhir kalinya namun tak juga membuat Aleena melepaskan piringnya.


"Jangan membantah, aku saja ya."


"Lepaskan, Aleena ... biarkan itu menjadi tugas istriku," titah Mikhail dengan suara dinginnya, dia tidak sesabar yang Zia kira.


"Tante." Berharap akan ada pembelaan, namun yang dia dapatkan justru sama.


"Itu memang tugas Zia, Ale, kamu harus pahami Kakakmu sudah menikah ... bukan lajang lagi, kamu tidak bisa sebebas itu."


Sebelum menikah memang Mikhail dan Aleena dapat dikatakan dekat. Mikhail memang penyayang kepada setiap saudara sepupunya, persis seperti cara dia menyayangi Syakil.


Aleena mengepalkan tangan kini, menatap Zia penuh dendam dan kebenciannya semakin bertambah saja. Selera makannya sudah hilang namun hendak marah dengan cara pergi ke kamar tentu tidak berlaku di sini, dia sama sekali tidak akan dibujuk seperti di rumahnya


"Kak Mikhail alergi udang, kamu bilang paham, tapi buktinya tidak."


"Ck, aku yang makan kenapa kamu yang pusingnya?" protes Mikhail dengan wajah datar dan dia tetap menerima apa yang Zia ambilkan untuknya.


"Maaf, Mas aku nggak tau." Zia menggigit bibir bawahnya, tampak menyesal karena memang dia belum memahami Mikhail sepenuhnya.


"Tidak masalah, kita pindahkan saja ke piring Papa. Boleh kan, Pa?" Mudah sekali dia mengambil keputusan, bagi Mikhail tidak ada yang perlu dipusingkan, jika dia tidak bisa maka Ibra siap menampungnya.


"Terserah kamu saja, Mikhail ... seluruhnya juga boleh kamu tuang ke piring Papa."


Ibra yang sudah biasa menerima hal-hal seperti ini tidak mempermasalahkan sikap putranya, selagi bisa dimakan kenapa tidak bagi Ibra.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2