
Detik, menit, jam dan hari-hari berlalu secepat itu. Waktu takkan menunggu, melainkan akan terus berjalan sebagaimana harusnya. Entah bagaimana cara Mikhail menyembuhkan batinnya lebih dulu hingga dokter bahkan dibuat terpana dengan perkembangannya kini.
Kemungkinan sekecil apapun yang mereka utarakan dahulu kini terpatahkan. Doa sang mama, kesabaran sang papa, ketulusan hati perawatnya serta tekad Mikhail untuk pulih mungkin sebab Tuhan memberikan kesempatan pria itu bisa sembuh total saat ini.
Lima bulan bukan waktu yang singkat, dalam keadaan ganti pakaian saja harus dibantu Mikhail tentu merasakan hari-harinya terasa sangat lama. Tuhan masih baik dengan memberikan dia kesempatan untuk kembali merasakan nikmatnya naik turun tangga, setelah lima bulan turun dengan bantuan kursi roda dan lift kini dia bisa bebas melangkah.
"Susu?"
"Aku bukan bayi, Ma."
Semenjak sakit, Mikhail memang lebih dimanjakan dan membuat Syakil sedikit cemburu. Meski Kanaya memberikan perhatian yang sama, namun dia sedikit terhenyak lantaran Mikhail selalu didahulukan.
Pagi ini mereka sarapan bersama, Kanaya bahkan tak henti-hentinya menatap wajah Mikhail yang kini begitu tampan dan terlihat gagah dengan kemeja maroonnya. Meski hatinya sedikit tak mengizinkan Mikhail disibukkan dengan dunianya secepat itu, dia tidak bisa melarang sang putra.
"Kau yakin, Mikhail? Jangan paksakan jika belum kuat, Papa masih mampu mengendalikan perusahaan sendiri."
Mikhail mengangguk, dia sudah membuang banyak waktu di tempat tidur. Jangankan keluar rumah, keluar kamar saja hanya beberapa kali. Ibra menatapnya khawatir namun Mikhail memberikan tampang percaya diri jika dia mampu melakukan hal itu.
"Aku baik-baik saja, Pa ... tidak perlu khawatir," tutur Mikhail menyakinkan sang papa, ada banyak hal yang ingin dia selesaikan.
Mikhail sudah lama menunggu hari ini, hari dimana dia kembali menjadi Mikhail Abercio yang mampu mendapatkan keinginannya. Sudah terlalu lama dia menanti, namun sepertinya memang dia yang harus datang sendiri.
"Papa tidak izinkan kamu bawa mobil sendiri, mulai hari ini kamu akan diantar Bastian kemanapun kamu pergi."
"What? Pa ...."
"Tidak ada penolakan, SIM kamu Papa tahan dan jangan coba-coba bawa mobil sendiri."
Syakil menarik sudut bibir, like father like son. Sejak dulu Mikhail melarangnya membawa mobil sendiri bahkan belum diizinkan membuat SIM di saat umurnya sudah menginjak 19 tahun. Kini, Ibra justru melakukan hal itu pada Mikhail, jelas saja dia berseru "Yes" dalam hatinya.
"Aku tidak keberatan jika memang harus dengan bantuan sopir, tapi SIM-ku?"
"Tidak bisa, peraturannya sudah begitu dan Papa akan tahan dengan batas waktu yang tidak ditentukan."
Siallan, matilah dia. Ekor matanya dapat melihat bagaimana Syakil terlihat bahagia padahal dirinya tengah bersedih saat ini. Pria itu sontak mendelik dan melemparkan garpu pada sang adik, beruntung saja dia menghindar.
"Jangan harap kamu bisa punya SIM sebelum milikku kembali, Syakil." Itu bukan ancaman biasa, bisa dipastikan dia benar-benar akan merealisasikannya.
"Hah? Kenapa begitu? Kakak bilang sampai ulang tahunku ... ulang tahunku bulan depan, kenapa sekarang jadi berubah dan ikut aturan Papa?"
__ADS_1
"Tidak bisa, peraturannya memang begitu."
Sudah dia duga, meski kesehatan kakaknya membaik, sikap menyebalkannya tetap sama dan ini membuat Syakil tertekan sebagai seorang adik. Beberapa waktu ketika dia sakit, Syakil sempat merasakan kebebasan walau harus curi-curi kesempatan dari sang papa.
Dan lebih menyebalkannya lagi, Kanaya dan Ibra hanya tersenyum. Seakan mendukung semua yang Mikhail putuskan, dia yang sakit tapi Syakil juga turut merasakan imbasnya.
-
.
.
.
Kabar baik bagi yang mengaguminya, namun tidak bagi mereka yang membenci Mikhail di sana. Dia tidak seramah Ibra dan kerap mengambil keputusan sesukanya adalah alasan dia tidak disukai.
Beberapa petinggi perusahaan menganggap Mikhail masih terlalu muda dan belum pantas menggantikan sang papa. Meski sudah terbukti pencapaian Mikhail tidak main-main tetap saja dia dianggap tak pantas oleh beberapa orang lainnya.
Sebelumnya dia memang sudah lebih banyak diam, setelah kecelakaan menimpanya Mikhail semakin irit bicara. Bahkan mereka menduga jika Mikhail mengalami kerusakan pita suara.
Tujuannya kembali bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan pencarian seseorang yang sudah membuatnya sekacau ini. Valenzia, nyatanya benar-benar pergi dan semua perkataan Kanaya maupun Edgard tidak salah.
Harapannya pupus, sabar menanti bahkan hingga dia sembuh Zia sama sekali tidak datang. Pesannya masih terabaikan hingga saat ini, jahat sekali bukan? Iya, Zia sejahat itu.
Mikhail memejamkan mata, tidak ada kebencian dalam hatinya. Hanya saja dia tidak akan melepaskannya kali ini, pencarian Mikhail hanya tertunda. Bukan berarti, bisa Zia bisa bebas darinya.
Dengan alasan apa dia pergi, jika benar hanya karena Mikhail mengabaikannya selama satu minggu sebagai bentuk marahnya, pembalasan begini tidak adil bagi Mikhail.
Pikiran Mikhail menerawang jauh tepat beberapa hari sebelum dia kewalahan mencari Zia. Beberapa panggilan dari gadis itu masuk namun hanya dia pandangi, egonya terlalu tinggi dan kekesalannya adalah alasan dia melakukan itu.
Andai dia tahu semua akan serumit ini, mungkin dia akan memilih mengalah dan tidak mempermasalahkan apa yang Zia lakukan pagi itu.
BRAAK
"Khai!!"
Lamunannya buyar kala pintu dibuka paksa, pria itu menatap wanita dengan tubuh tinggi dan kulit putih bening menghampirinya. Dia sudah lupa, dan lukanya kembali membuka kala menatap mata itu.
"Maaf, Pak ... wanita ini memaksa masuk dan ..."
__ADS_1
Mikhail berdiri dan memberikan kode agar Bryan keluar. Wanita itu tersenyum senang dan merasa merdeka lantaran Mikhail seakan menerima kehadirannya.
"Mau apa? Masih punya harga diri berdiri di hadapanku?"
Suara dingin itu terdengar suram, senyum di wajahnya pudar seketika. Mikhail masih marah nampaknya, beberapa kali mencoba menerobos masuk ke rumahnya akan tetapi selalu gagal lantaran Kanaya menolak kehadirannya dengan tegas.
"Khai ... a-aku aku merindukanmu, sangat."
Jika dulu mungkin dia akan memeluknya, memperlakukannya dengan manis namun saat ini berbeda. Jangankan menjawab, mendengarnya saja Mikhail tidak sudi.
"Edwin bagaimana? Baik-baik saja kan?"
Dia justru menanyakan hal lain, tak begitu peduli dengan wajahnya yang kini begitu sendu di hadapan Mikhail. Tak hanya itu, cara Mikhail bicara juga berbeda dan tidak semanis itu.
"Mas Edwin meninggal satu tahun lalu, mungkin ini berita baik untuk kamu."
Mikhail sejenak terdiam, pengkhianat itu pergi dengan cara yang lebih tragis rupanya. Akan tetapi, kedatangan wanita ini sama sekali tidak dia harapkan.
"Kabar baik?" Mikhail mengerutkan dahi, sebenci-bencinya dia bukan berarti Mikhail bersyukur atas segala musibah yang dialami seseorang yang pernah menjadi sahabatnya itu.
"Hm, bukankah dulu kamu mengatakan jika seseorang menyakiti atau meninggalkanku maka aku bisa kembali padamu?"
Janji itu, Mikhail bahkan lupa jika dia sebodoh itu. Dia mengucapkan itu ketika asmara mereka baik-baik saja, hubungan mereka semanis Zidan dan Zia yang pernah Mikhail lihat.
"Hahaha semudah itu? Kamu pikir seluruh hati akan menerimamu?" Mikhail tertawa sumbang, omong kosong macam apa lagi yang kini dia dengar. Belum usai pikirannya lantaran Zia yang belum dia temukan, kini wanita yang sudah dia anggap mati datang lagi.
"Kenapa? Apa aku salah bicara? Kita bisa memperbaiki semuanya, dulu aku hanya belum dewasa saja, Mikhail." Dia mendekat, pria di hadapannya kini semakin tampan saja.
"Aku pernah mencintaimu, tapi itu dulu ... jangan pernah kembali padaku jika kamu tidak mau dianggap penggoda pria yang sudah beristri, Sera."
Mikhail berucap dingin dan tatapan tajamnya seakan hendak menguliti Sera hidup-hidup. Menjijikkan, hari pertamanya menjalani hidup normal harus dipertemukan dengan wanita murahaan semacam ini.
"Istri?"
Tbc
Kasih hadiah dulu atas kesembuhan Mikhail✨ Liat komentarnya dah pada gelisah konfliknya berat, baiklah kita pakek alur cepat aja ya. Aku juga ga tega sebenernya hoel🌚
Rekomendasi novel lagi, Beb✨
__ADS_1