
Bukan sepenuhnya salah orangtua, Zia menyadari titik kesalahan ada padanya. Meski berkali-kali Mikhail mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahannya, tetap saja wanita itu tidak bisa tenang.
Terlebih lagi saat ini tidak ada satupun keluarga yang mendatangi pernikahannya. Ibunya tidak bercanda, dia benar-benar bungkam dan menganggap pernikahan mereka sudah berlalu.
Bukan berarti tidak mengakui pernikahan, tetapi menyembunyikan jika pernikahan itu sedang diadakan. Lebih tepatnya, dia tidak ingin jika Zia diketahui hamil sebelum menikah.
Hendak mengikuti kemauan Mikhail, tapi Kanaya melarang. Untuk saat ini, yang terpenting adalah menikah secara sah saja lebih dulu. Dia tidak ingin Zia merasakan bagaimana tersiksanya dia dahulu kala menjalani pesta 7 hari 7 malam dalam keadaan hamil muda.
"Kenapa harus aku?"
Syakil tak terima kala Mikhail memintanya mengambil cincin pernikahan yang sebelumnya sudah dia pesan. Dia bahkan belum bisa menerima keadaan jika kini Zia tengah mengandung anak kakaknya.
"Kalian berdua, aku perlu urus persyaratannya ... kalau cuma megandalkan Bryan dia tidak bisa."
Andai saja Mikhail tahu bagaimana hubungan mereka, jangankan ke toko perhiasan. Ke depan pos penjagaan saja dia takkan mengizinkan.
"Berdua? Kakak serius kami berdua?"
"Hm, Zia perlu memilih sendiri bagaimana yang dia mau ... aku sudah pesan empat pasang, karena di mataku cincinnya sama semua."
Dasar bodoh, Syakil jelas saja menerima jika dia dibebaskan berdua. Sempat menolak karena Syakil pikir Mikhail akan memintanya melakukan hal itu sendirian.
"Ck, baiklah jika memang harus begini ... padahal seharusnya bisa pergi sendiri." Dia masih sempat mengomel, bergumam pelan lantaran takut Mikhail akan benar-benar mengurungkan niatnya.
Semua serba dadakan tapi Mikhail tetap ingin sesuatu yang sempurna. Walau memang tidak akan ada pernikahan luar biasa seperti yang diharap-harapkan pasangan di luar sana, akan tetapi Mikhail tetap ingin pernikahannya berkesan.
Beberapa menit menunggu Zia sudah selesai bersiap. Make-up tipis di wajahnya sangat amat manis di pandang mata, sebelumnya dia paham kemana tujuannya. Akan tetapi, Zia sama sekali tidak mengetahui jika dia akan pergi bersama Syakil, bukan Mikhail.
"Kamu perginya sama Syakil ya," tutur Mikhail sukses membuat mata Zia membulat sempurna.
"Kenapa begitu?"
Dia melihat ke arah Syakil yang sudah siap dengan pakaian casualnya hari ini. Yang benar saja, sejak Syakil melihatnya secara keseluruhan kemarin Zia sudah malu setengah mati. Bisa-bisanya Mikhail membuatnya bersama Syakil hari ini.
"Aku harus urus persyaratan pernikahan kita, maaf ya kalau kamu tidak nyaman ... Syakil baik dan bisa diandalkan, Sayang. Kamu tenang saja."
__ADS_1
Bukan masalah itu, semua fakta Syakil jelas saja dia mengetahuinya. Yang Zia pikirkan saat ini adalah bagaimana dia bisa bertahan dengan rasa malu yang menyelimutinya saat ini.
"Kita kan bisa kesana setelah selesai urus persyaratannya," tutur Zia kemudian, sungguh dia saat ini bingung sekali. Rasanya posisinya tidak pernah aman kecuali dalam pelukan Mikhail.
"Supaya cepat, Zia ... lagipula makhluk satu itu tidak ada kerjaan sejak tadi." Mikhail mengarahkan dagunya pada Syakil yang sudah duduk menunggu mereka mengambil keputusan.
Hendak menolak Zia tidak punya cara, sementara Syakil juga sudah berdiri dan mengajaknya pergi dengan kalimat yang sopan layaknya adik kepada seorang kakak.
"Ayo cepat, nanti keburu hujan, Kak." Syakil berucap santai layaknya memang baru mengenal Zia sebagai calon istri dari Mikhail.
"Titip Zia, katakan pada Bastian pelan-pelan bawa mobilnya."
Dia kerap sekali meminta seseorang untuk pelan, tanpa sadar jika dia membawa mobil persis kilatan petir. Syakil hanya berdehem tanpa menjawab panjang lebar, hanya karena ada Zia saja dia mau diperintah begini.
Begitu besar dia mempercayai Syakil, padahal keduanya saat ini terllihat seperti pasangan yang menikah di usia yang masih sangat muda. Lucu, dan cocok sebagai pasangan.
-
.
.
.
Selesai dengan cincin yang menurut dia paling menarik, kini Zia mengajak Syakil pulang secepatnya. Pria itu hanya menarik sudut bibit kala Zia mulai kesal lantaran dia enggan berjalan di depan wanita itu.
"Syakil, dari tadi aku diam ... kamu kenapa selalu berjalan di belakangku?" tanya Zia kesal dan kini berbalik menatapnya super tajam.
"Menjagamu, sepeti yang kak Mikhail perintahkan bahwa sebagai adik aku harus menjaga calon istrinya hari ini."
"Kamu megejekku?" Zia masih bertahan di posisinya, tangannya kini terkepal dan senyuman Syakil membuatnya terluka saat ini.
"Nggak sama sekali, pengaruh hormon ... kamu pemarah, Zia." Syakil masih berjalan dengan langkah pelannya, dia tidak mengejek Zia sama sekali. Hanya saja ucapan seperti itu spontan saja dia lontarkan pada sahabatnya ini.
"Bukan pemarah, tapi kamu dari tadi memang buat aku marah ... jangan begini, Syakil."
__ADS_1
Sejak tadi benar-benar diperhatikan, Syakil memang melakukan titah sang kakak untuk menjaga Zia sepenuhnya. Menjaga Zia dari keramaian dan berusaha agar calon kakak iparnya itu duduk di tempat yang nyaman, dan semua perlakuan itu membuat Zia malu sendiri.
"Jangan begini gimana? Aku melakukan yang seharusnya aku lakukan, Zia."
"Aku malu, berhenti melihatku seperti itu."
Zia mempercepat langkahnya, Syakil mengikuti sama cepatnya. Malu seperti apa yang Zia maksudkan, sejak tadi Syakil sudah berusaha bersikap apa adanya dan benar-benar menempatkan diri sebagai seseorang yang baru mengenalnya.
"Kamu mau aku bagaimana? Hah? Kamu pikir mudah buat aku bersikap begini sementara kamu adalah Zia yang selalu aku cari!!" Syakil menahan pergelangan tangan Zia, saat ini memang tidak banyak yang melihat mereka.
"Jangan begini, Syakil ... sakit."
"Begini sakit? Hanya begini kamu katakan sakit, Zia? Betahun-tahun aku menunggu bahkan aku tidak main curang untuk merebutmu dari Zidan ...." Napas Syakil tertahan sejenak, sejak awal bertemu dia ingin sekali mengutarakan ini tapi tak punya kesempatan untuk bisa berdua.
"Tapi yang terjadi justru begini!! Dalam waktu secepat itu kamu menyerahkan diri pada orang yang benar-benar asing dalam hidup kamu!! Mana Zia yang dulu? Zia yang mengatakan sekalipun aku anak pemilik MN Group tetap menolak karena ada Zidan!! Munafik kamu, Zia ... berapa uang yang Mikhail berikan sampai kamu rela menyerahkan diri padanya, hm?"
Selesai Zidan, terbitlah Syakil yang menuntutnya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Sudah Zia duga jika diberikan kesempatan berdua Syakil akan begini. Zia terdiam dan menunduk lemah, wanita itu ingin sekali menangis rasanya.
"Lupakan itu, kamu paham kan tidak semua orang sebaik perkiraan kamu?" Zia memberanikan diri menatap mata Syakil, kecewa luar biasa besar dan sakitnya terlihat jelas di sana.
"Tapi aku tidak pernah menduga kamu akan senakal ini dan memilih pria brenghsek seperti Mikhail, Zia."
"Terserah kamu mau anggap aku nakal atau apapun, Mikhail tidak seburuk itu ... hanya dia yang mengerti aku dan tetap mencariku tanpa mengutarakan amarah dan kekecewaan berlebih seperti kalian berdua walau aku yang menyakitinya." Zia menghempas tangan Syakil, mungkin ini kali terakhir dia berdua bersama Syakil.
"Kamu bahkan membelanya? Kamu sadar hidup kamu yang tersusun rapi itu sudah dia rusak, Zia?" tanya Syakil tak percaya Zia tidak menganggap Mikhail bersalah.
"Dia calon suamiku, jelas saja aku membelanya ... tidak ada yang dia rusak, hidupku mungkin sempat berantakan, tapi bukan berarti kehilangan tujuan. Terutama setelah dia menemukanku, jadi hentikan omong kosongmu jika hanya akan menyakiti perasaanku, Syakil."
Zia sudah bisa bicara dengan sedikit tenang kini, sebelumnya dia memang tidak berani bersikap tegas. Namun ketika Mikhail dianggap seburuk itu oleh Syakil, hati Zia justru lebih sakit dibandingkan anggapan jika dia murahaan.
"Kamu mencintainya, Zia?"
"Di dalam tubuhku ada anak kami, mana mungkin aku tidak bisa mencintainya," jawab Zia mantap tanpa keraguan sedikitpun.
Tbc
__ADS_1