Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 75 - Pindah Sungguhan!!


__ADS_3

Mikhail adalah pria yang paling tidak suka bercanda, sekali dia berkata maka itu adalah keputusan mutlaknya. Kesal lantaran ketenangannya diganggu, Mikhail meminta Babas dan yang lainnya bersiap.


Pakaian sudah mereka masukkan ke dalam koper begitupun dengan beberapa perlengkapan Zia. Tanpa sepengetahuan Kanaya ataupun Ibra, dia mengambil keputusan sepihak.


Rencana pindah beberapa hari lagi dia percepat lantaran tak kuasa dengan kehadiran Zidny dan Laura. Jika Kanaya bisa membuatnya ketar-ketir, kedua wanita pembawa onar itu lebih gila lagi.


"Dia beneran? Aku pikir becanda."


Lorenza dan Siska melongo kala melihat Babas menurunkan barang-barang Mikhail. Mereka bergegas seakan dikejar waktu, Zia bingung harus melakukan apa namun hendak menolak Mikhail dia tak kuasa.


"Kamu tunggu di sini saja, tidak perlu semuanya dibawa ya," tutur Mikhail lembut, mungkin suatu saat Kanaya meminta mereka menginap sehingga mereka tidak perlu repot-repot lagi.


"Iya, tapi bantal telur ayam dibawa ya, Mas," pinta Zia kemudian, dia nyaman dengan bantal berbentuk telur ceplok itu. Sungguh sangat disayangkan jika tertinggal, pikir Zia.


"Telur pak Bos sudah ada, Non."


Mikhail tercengang kala mendengar jawaban Babas yang baru saja berlalu melewati mereka. Mungkin kode agar Zia tak menambah pekerjaannya, barang-barang mereka sudah begitu banyak dan rasanya Bastian mulai kewalahan.


"Apasih keriting!! Jawabannya ngasal aja."


Jawaban yang sukses membuat Zia memerah, sungguh pria itu memang cocok menjadi sohib seorang Mikhail. Asal jawab dan wajahnya tidak menunjukkan jika dia bicara, kesalnya lagi Mikhail tidak marah sama sekali kala Bastian menyebut telurnya.


"Ck, sudah sana selesaikan pekerjaanmu ... berapa koper lagi?" Mikhail menepuk pundak Bastian yang sepertinya memang lelah itu, hanya saja untuk menunda rencananya Mikhail tidak bisa.


"Selesai, Bos."


Mikhail mengangguk mengerti, wajar saja cepat selesai. Selain Rani dan Ningsih, Axel dan Jackson juga Mikhail kerahkan agar pekerjaan lebih cepat lagi. Pria itu meminta semua orang terlibat dan yang pasti dia ingin sebelum Kanaya pulang mereka sudah berangkat.


"Syukurlah ... tolong ke atas, ambilkan bantal telurnya."


Pada akhinya, Bastian yang kalah. Keputusan Mikhail sontak membuat Zia menjulurkan lidah pada Bastian, sempat kesal lantaran keinginannya dianggap candaan oleh pria berbadan gempal itu.


"Tunggu Mama dulu ya, Mas. Nanti mereka bingung," tutur Zia kemudian, jika dilihat dari pakaian yang Mikhail kenakan, sepertinya pria ini akan berangkat dalam waktu dekat.

__ADS_1


"Nggak perlu, sudah Mas hubungi," jawab Mikhail kemudian, dia terpaksa berbohong karena jika mengikuti Zia maka dipastikan tidak akan pernah dapat izin jika memang belum waktunya.


Jika saja tidak ada Zidny maupun Laura di rumahnya, mungkin Mikhail bisa menahan untuk beberapa hari lagi di sini. Akan tetapi, dari peristiwa ini bisa dipastikan Kanaya dan Ibra akan lama di rumah sakit. Itu artinya, Lorenza dan Siska mungkin akan memperpanjang waktu menginap di rumah mereka.


Tentu saja dengan alasan menjaga Zia dan lain sebagainya, Mikhail sudah paham isi otak Lorenza. Tidak jauh-jauh dari itu padahal tujuan aslinya hanya ingin menikmati waktu dan mengganggap rumah Kanaya sebagai tempat liburan.


"Tapi mereka? Nggak enak sama mereka, Mas ... kamu yakin kita pindahnya sekarang?" Zia bahkan masih butuh validasi, yang benar saja ... sarapan saja belum dan Mikhail sudah siap persis hendak ke luar negeri.


"Yakin, kenapa ragu begitu? Kalau kamu nggak mau Mas pindah sendirian saja."


Sebenarnya dia takut hendak mengancam dengan cara yang begini. Akan tetapi, Zia yang selalu begini dan mungkin terpengaruh dengan permintaan Lorenza beberapa waktu lalu membuatnya lama-lama kian kesal saja.


"Bukannya begitu, tapi kan ...."


"Bos!! Ayo sudah siap kita berangkat!!"


Kebiasaan sekali, Mikhail yang memang tidak suka lambat dipertemukan dengan Bastian yang apa-apa selalu cepat. Pria itu meminta Mikhail segera naik lantaran mobil mereka sudah siap untuk berangkat, tak tanggung-tanggung Mikhail juga sudah meminta Rani dan kedua sohib penjaga rumahnya untuk ikut juga.


"Tunggu sebentar, pamit dulu."


-


.


.


.


"Apa nggak tunggu Mama kamu pulang, Khail?" tanya Siska lembut, masakannya bahkan belum sempat Mikhail cicipi dan pria itu memilih pergi begitu saja.


"Sudah pamit, Mam ... nanti Mama bisa aku jemput kesana kalau sudah pulang dari rumah sakit," jawab Mikhail dengan senyumnya, masih sopan dan tak ingin menunjukkan kekesalannya pada dua wanita yang duduk berdampingan di sofa empuk itu.


"Syukurlah kalau begitu, nanti Mamsky sama Mommy Lorenza ikut kalau nggak sibuk ya."

__ADS_1


Tidak!! Mikhail tidak bisa mengiyakan permintaan Siska saat ini. Jika dia izinkan sudah pasti pembuat onar itu akan ikut dan membuat Mikhail lebih sakit kepala lagi.


"Iya, Khail ... jika boleh Mommy juga ingin sekali, semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan dan baik-baik di sana ya."


Damai sekali perpisahan mereka, Zia bersyukur suaminya masih begitu sopan meski dia paham mikhail sekesal apa. Dia tetap membalas pelukan sayang dari Lorenza dan Siska begitu hangat, tanpa sedikitpun dia perlihatkan amarahnya.


"Bang kita juga boleh ikut ke sana ya?"


Mulai, suara sumbang itu mulai terdengar dan demi apapun Mikhail malas mendengarnya. Pria itu pura-pura tak mendengar dan dia memilih tetap memeluk erat Lorenza meski sedikit engap.


"Eh Mam ... aku sama Kak Zidny ikut sekarang aja gimana? Kayaknya seru deh! Sekalian buat bantuin beres-beresnya juga," seru Laura kemudian dengan wajah berbinarnya.


Ide siapa itu, sama sekali tidak menarik di mata Mikhail dan jelas saja dia ingin menolaknya. Mereka hendak membantu memasukkan barang-barang ke koper saja Mikhail tak terima, apalagi ikut ke sana.


"Jangan repot-repot, sudah ada Rani dan Babas ... lagipula mobilnya penuh, Laura."


"Penuh? Oh gampang, kan mobil kita ada! Iya kan, Kak?"


Siall, Mikhail lupa jika mereka bukan lagi anak kecil melainkan wanita dewasa yang sama-sama mandiri. Perihal kendaraan dan hal-hal semacam itu mudah saja baginya, Mikhail harus mencari cara yang lebih tangkas lagi.


"Jauh, lokasinya di pedalaman, Laura ... banyak anjiing juga di sana, malah tetangga Abang ada yang pelihara Babii." Mencari-cari alasan dan berusaha agar dua wanita yang terbiasa hidup mewah itu tidak tertarik ke sana.


"Wuih keren dong! Berasa liburan nggak sih?" Bukannya takut, mereka justru tertarik dan merasa tertantang dengan situasi di rumah baru Mikhail.


"Eits jangan salah paham, di sana sama sekali bukan seperti tempat liburan. Kalau sudah di sana, jangan harap kalian bisa bersosial media karena kendala signal ... listrik juga belum ada," jelas Mikhail yang membuat mereka menganga.


"Bentar-bentar, Abang pindah rumah atau mendirikan padepokan sampe milih tempat-tempat yang begitu?" tanya Zidny tak habis pikir dengan keputusan Mikhail.


"Rumah dong, seperti yang kalian tau Abang sangat suka alam ... jadi Abang ingin, anak pertama kami lahir di lingkungan yang tenang dan menyatu dengan alam," ungkap Mikhail seraya memejamkan mata agar mereka benar-benar percaya.


"Suka alam nggak gitu juga, Bang!! lagian sejak kapan Abang suka Babii? Lihat fotonya aja geli," tutur Zidny heran, Mikhail suka alam memang masuk akal, akan tetapi Mikhail yang bisa betah di dekat babii itu rasanya tidak mungkin terjadi.


"Entahlah, pasca kecelakaan ... kehidupan Abang memang sedikit membingungkan, maklumi saja ya." Jawaban andalan yang berhasil membuat mereka bungkam, demi apapun Zia bahkan dibuat planga plongo dengan karangan asal Mikhail.

__ADS_1


Pedalaman apanya? Lagian siapa juga yang pelihara babii? - Kali pertama Zia percaya jika Mikhail adalah pembohong handal yang tidak bisa dianggap remeh.


Tbc


__ADS_2