Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 49 - Sarapan.


__ADS_3

"Tumben kesiangan ... tidur jam berapa, Khail?"


Sudah hampir jam delapan, tidak biasanya Mikhail baru keluar dari sangkarnya. Kini dengan penampilan acak-acakan dan hanya mengenakan celana pendek Mikhail menegak air dingin yang hampir membeku itu tanpa memedulikan Kanaya di sampingnya.


"Nanti sakit perut, pagi-pagi minumnya begitu," tegur Kanaya menggeleng pelan, entah itu memang haus atau dia tidak sadar jika dia memilih air yang sedingin itu.


"Papa mana, Ma?"


Jangan heran jika pembicaraan mereka tidak nyambung, memang sudah biasa seperti itu. Mikhail menguap sembari menggaruk kepalanya, mungkin memang gatal kali ini.


"Sudah pergi, Zico buat ulah di rumah sakit," jawab Kanaya dengan wajah datarnya, sedikit sebal sebenarnya masalah begini masih jadi tanggung jawab Ibra, sejak kecil anak itu seakan tak mendapatkan perlindungan dari orang tuanya dan bergantung pada Ibra.


"Ck, om Gibran kemana? Papa juga kenapa mau?"


Mikhail mengembalikan botol kosong itu ke dalam kulkas di hadapannya. Dia menghela napas perlahan, masih tak habis pikir kenapa papanya begitu peduli pada Zico, pembuat masalah itu.


"Mana bisa diharapkan, Zico kecelakaan pas kerja aja dia tutup mata."


"Iya juga, masih nggak habis pikir kenapa dulu Mama hampir gila ditinggal dia nikah," ujar Mikhail sekenanya, kerap mendengarkan cerita masa lalu Ibra membuat pria ini kerap mengejek sang Mama sekenanya.


"Siapa juga yang gila, kamu jangan terlalu percaya sama Papa deh, Khail ... Papa kamu tu jago bohong," ungkap Kanaya menatap nanar tiba-tiba, sebuah fakta yang sangat-sangat takkan dia lupa.


"Bohong masalah apa? Duda ngaku perjaka?" tanya Mikhail memancing jawaban dari bibir Kanaya langsung, dia hanya mendengar hal ini dari Ibra beberapa tahun lalu.


"Kamu kok tau masalah itu?" Kanaya menajamkan alisnya, putranya ini perlu diwaspadai sepertinya.


"Ck, kecil ... pembicaraan kaum pria, Papa kan sahabat Mikhail juga."


Mikhail mengedikkan bahunya, hal semacam ini wajar saja. Mereka memang cukup terbuka, Ibra tak memberikan batas dimana Mikhail harus tunduk, melainkan merangkul putranya sebagai teman hidup.


"Iya juga ya, Papa kamu kan tidak punya malu bongkar-bongkar aibnya." Kanaya lupa siapa suaminya, bahkan mungkin saat ini Mikhail sudah memiliki gambaran layaknya film layar lebar di kepalanya tentang kisah mereka di masa muda.


"Hm, tapi aku tidak suka berbohong seperti Papa ya, Ma."


"Halah, kamu juga sama saja! Kamu selalu janji akan menjaga diri buat istri kamu nanti, buktinya apa? Pulang-pulang bawa janin," pungkas Kanaya ingin sekali menyiram Mikhail dengan air cucian beras, sepertinya dia memang kurang berkaca.


"Itu diluar kendali ... anggap saja kesalahan teknis," jawabnya asal, memang salah Kanaya kenapa membahas hal ini, karena sama sekali Mikhail takkan memperlihatkan penyesalannya.


"Zia sudah bangun?"

__ADS_1


"Belum, Ma," jawabnya membuat Kanaya membeliak, dia tidak salah dengar dan hatinya merasa tidak enak tiba-tiba.


"Belum?"


"Iya, belum ... Mama kenapa begitu?"


"Sudah jam segini, biasanya dia bangun pagi! Kamu memang sinting, jam berapa dia tidur?" Yang Kanaya takutkan tampaknya terjadi, sudah dia duga Mikhail akan seegois itu.


"Jam tiga mungkin," jawab Mikhail kemudian, itu bukan candaan tapi memang pada faktanya demikian.


"Dasar tidak waras, kalau sampai dia kenapa-kenapa awas kamu."


Ancaman kesekian kali yang Mikhail dengar, dan biasanya hanya dia anggap angin lalu. Pria itu menghela napasnya kasar, Mamanya benci pembohong, namun sekalinya Mikhail jujur dia marah-marah. Sungguh membingungkan, batin Mikhail.


"Aman, Ma ... santai saja, Zia tidak selemah yang Mama bayangkan. Istriku sebenarnya kecil-kecil cabe rawit." Bukannya memikirkan apa yang Kanaya katakan dia justru mengatakan hal lain.


"Terserah, yang Mama tau dia masih kecil dan tidak seharusnya terjebak permainan pria dewasa seperti kamu." Kanaya berlalu dengan langkah panjangnya, ingin marah pada Mikhail sepertinya memang percuma.


"Mama ribet," umpat Mikhail menatap punggung sang mama yang kian menjauh.


Perkiraannya hanya sebentar, namun yang terjadi justru cukup lama. Mikhail kembali ke kamarnya kini, sepertinya sang istri sudah terbangun.


-


Sedikit berlari, padahal tidak ada yang akan meninggalkannya. Mikhail mendorong pintu kamar, cukup tergesa hingga membuat Zia yang kini berada di hadapan cermin terperanjat kaget.


"Kenapa nggak ketuk pintu dulu," tanya Zia begitu paniknya, dia belum terbiasa hidup bersama banyak orang di dalam satu atap, dia hanya takut yang masuk bukan suaminya.


"Maaf, Zia ... bukan sengaja, Sayang."


Pria itu tersenyum tipis, kembali menutup pintu kamar rapat-rapat. Seakan menjelaskan bahwa hari-hari mereka hanya akan di kamar.


"Kamu sedang apa?"


Sebenarnya dia sudah tahu apa yang Zia lakukan kini, berusaha menutupi tanda kemerahan yang ada di lehernya. Wajah cemberutnya bisa menjelaskan jika dia keberatan dengan semua ini.


"Coba lihat," tutur Mikhail membalikkan tubuh Zia, istrinya sudah berusaha menggunakan pakaian tertutup, akan tetapi di lehernya tak bisa terselamatkan.


"Biarkan saja, cuma sedikit." Mikhail menyentuhnya lembut, hanya ada beberapa yang terlihat di sana, akan tetapi tetap saja itu mengganggu bagi Zia.

__ADS_1


"Tetap aja malu," gumam Zia pelan, dulu Mikhail melakukannya tak sesinting ini dan Zia bisa menyembunyikannya dengan baik.


"Kenapa malu? Itu tandanya malam pertama kita sukses, Zia ... ini sebuah prestasi yang harus diketahui orang-orang di sini."


Percaya diri sekali dia, dari mana asalnya hal semacam itu bisa dijadikan prestasi. Memang ada yang salah dengan otak Mikhail setelah kecelakaan sepertinya.


"Malam pertama? Malam pertama apanya," celetuk Zia tanpa sadar jika suaminya mengerutkan dahi, meski memang benar seharusnya dia tidak mengatakan hal itu pagi ini.


"Memangnya harusnya ke berapa? Aku lupa," ujar Mikhail kemudian, dia mengacak kembali rambut lebatnya.


"Delapan sepertinya," jawab Zia setelah berpikir cukup lama.


"Sebelas yang benar." Mikhail membenarkan, ada beberapa yang Zia lupakan sepertinya.


"Apa iya?"


Pembicaraan itu jadi serius, pagi mereka sungguh bermakna bahkan keduanya berdebat mempermasalahkan jika yang di toilet kafe tempat Zia bekerja dihitung atau tidak.


"Di mobil kamu hitung?" tanya Mikhail semakin membuat Zia memerah, mereka melakukannya berdua tapi yang malu hanya Zia sendiri.


"Lupa."


"Kantor? Belum juga kan?"


Zia gelagapan, kenapa dia bahkan seingat itu. Zia hanya ingat malam yang mereka sepakati bersama, bukan kala Mikhail memaksa dan menyerangnya tanpa aba-aba.


"Itu kan siang! Bukan malam," sergah Zia tak mau kalah, Mikhail sejak tadi mengecupnya setiap kali dia menemukan jawaban yang belum Zia sebutkan.


"Sama saja, yang kita bahas tentang malam pertama kan kegiatannya, Zia."


"Apa sih, bisa berenti nggak?" ungkap Zia kesal setengah mati, dirinya baru saja selesai mandi namun Mikhail kini kembali membuka kancing bajunya pelan-pelan sembari menarik Zia dalam pelukan.


"Kita genapkan jadi dua belas, aku lapar, Zia ... berikan sarapan yang berbeda," bisik Mikhail menusuk telinganya, bisikan maut yang berhasil membuatnya merinding luar biasa.


"Aaarrghh, dua belas dengkulmu ... aku malas mandi lagi!!" teriak Zia kala Mikhail benar-benar kembali membawanya ke tempat tidur.


"Ya sudah, seharian kita di sini tidak perlu mandi, kamu wangi meski keringatan."


Benar-benar sinting, tubuh Zia bahkan masih terasa remuk akibat pergulatan semalam. Jika boleh dia mengeluh sakitnya bahkan masih terasa dan kini Mikhail kembali menyerangnya dengan segala cara. Sialnya, apa yang Mikhail lakukan membuat tubuh Zia kembali menunjukkan jika menginginkan hal sama.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2