Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 86 - Suami Serba Guna.


__ADS_3

"Mas."


Zia meraba dengan mata yang kini masih terasa berat, sudah biasa sebenarnya bangun namun sang suami tak lagi di sisinya, ya sejak awal kenangan yang Zia ingat memang sudah begitu. Mendapati dirinya hanya seorang diri, kini Zia berdecak kesal dan beranjak dari tempat tidur tanpa berpikir untuk merapikannya lebih dulu.


Hanya sempat menggosok gigi dan cuci muka, Zia berlalu keluar kamar mencari keberadaan Mikhail. Langkahnya membwa Zia menuju dapur mengikuti aroma masakan yang dapat dia tebak begitu lezatnya.


"Kamu sudah bangun? Padahal Mas mau bangunin bentar lagi."


Meski sibuk dengan alat dapur di sana, Mikhail menyadari kehadiran Zia. Jika dia dengar derab langkah sang istri, nampaknya benar-benar malas sekali bahkan menjawab saja dia enggan.


"Mas masak apa?"


"Nasi goreng, seperti yang kamu minta beberapa minggu lalu."


Ingin rasanya Zia berteriak, dia menginginkan nasi goreng itu sejak lama. Bisa-bisanya Mikhail baru mengabulkannya pagi ini, itupun jelas karena dia sedang sakit. Zia menguap sebegitu lebarnya, jika saja Mikhail belum bangun mungkin dia masih ingin bergemul dalam pelukan Mikhail.


"Gimana? Udah enakan?"


Zia mengangguk, Mikhail menghampirinya sembari membawa maha karyanya. Nasi goreng dengan satu telur setengah matang sebagaimana yang Zia dambakan. Cukup menguras tenaga sebenarnya, jika sampai istrinya kecewa Mikhail mungkin akan menangis sepanjang hari.


"Masih ngantuk? Ini sudah siap padahal," tutur Mikhail menepikan anak rambut istrinya, mata Zia menjelaskan jika memang dia masih mengantuk.


"Lumayan, Mas jago masak kan? Bilangnya kemarin nggak bisa."


Memang, dia bisa hanya saja sewaktu Zia memintanya kesibukan Mikhail memang luar biasa dan dia khawatir tidak bisa fokus kemudian pada akhirnya merusak cita rasa yang ingin Mikhail ciptakan.

__ADS_1


"Bisa sedikit, Sayang."


Pria itu tersenyum, Zia mulai menyantap sarapannya. Jika dilihat dari ekspresi Zia, nampaknya wanita itu sangat suka. Dia lahap, bahkan belum apa-apa sudah berkurang hampir setengah porsi. Tidak ingin mengganggu, Mikhail hanya menatap sang istri seraya bertopang dagu.


"Makannya pelan-pelan, itu memang untukmu, Zia."


Melihat betapa lahapnya Zia, Mikhail begitu gemas. Lapar atau bagaimana hingga sarapan laparnya persis makan siang, pikir Mikhail heran. Wanita itu tak menggubris sedikitpun ucapan Mikhail, yang dia pahami nasi goreng kali ini lebih nikmat dibandingkan nasi goreng abang-abang.


"Enak?" tanya Mikhail usai mengambil alih gelas yang kini sudah kosong tanpa sisa. Mikhail tersenyum jika memang Zia menyukainya.


"Ehm lumayan," jawab Zia singkat, padat dan jelas membuat Mikhail kecewa sebagai penciptanya.


"Lumayan? Kamu makannya lahap begitu lumayan gimana?"


Mikhail tak puas dengan jawaban singkat dari Zia, dia ingin jawaban yang penuh pengakuan dan ini tidak sesuai dengan keinginannya. Pria itu sudah berusaha bangun pagi, menyiapkan semuanya bahkan dia mengukuti tutorialnya berulang kali demi menghidangkan yang terbaik untuk Zia.


Berbicara tentang Suep, Zia mendadak terdiam. Tunggu, dia punya hutang nasi goreng dua porsi dan itu memang belum sama sekali dia bayar. Mungkin sekitar delapan bulan lalu, malam-malam di saat hujan rintik, Zia menghabiskan waktu berdua bersama Zidan untuk waktun lama di sana.


"Kenapa diem? Apa ada yang salah, Zia?"


"Gawat, Mas!!"


Mata Zia membola seraya menggenggam tangan Mikhail, sungguh ini terlalu memalukan tapi harus mengatakannya pada Mikhail sebagai suaminya.


"Gawat kenapa? Ada masalah apa, Zia?" Khawatir jika ada hal buruk terjadi pada istrinya, dan entah kenapa pantang sekali pagi mereka benar-benar tenang, ada saja alasan yang bisa membuat Mikhail panik seketika.

__ADS_1


Zia menggeleng, dia hanya terkejut saja sebenarnya. Wajar sejak lama dia merasa ada hal yang terlupakan dalam dirinya, yaps Zia punya hutang dan itu hampir saja dia lupakan.


"Aku lupa ... aku punya hutang sama bang Suep, anterin kesana ya hari ini." Mikhail pikir apa, jika hanya hutang kenapa dia seheboh itu hingga membuat Mikhail jantungan begini.


"Iya, sekalian kita ke rumah sakit siang ini ya, Sayang."


Mikhail tak bisa mengelak, apa yang Abygail sampaikan mengusik sanubarinya. Pamannya itu menghubungi pagi-pagi dan mengatakan jika ada hal penting dan harus dibicarakan hari ini juga, bersama Zia juga tentunya.


"Rumah sakit? Kontrol ya?"


Pria itu mengangguk pelan, memang banyak tujuannya hari ini. Sekalian Zia juga sudah waktunya menemui dokter Irzan untuk konsultasi masalah kehamilannya bulan ini.


"Sekalian jenguk Aleena juga, kamu nggak masalah kan?"


"Aleena?"


Ragu, hingga detik ini Zia masih tak menerima jika harus baik-baik bersama wanita itu. Akan tetapi, apa yang Kanaya ucapkan kemarin membuat hati Zia bungkam tak bisa berontak.


"Hm, kalau kamu nggak siap ... Mas saja yang akan menemui om Aby, kamu cukup tunggu di mobil atau di tempat lain."


Dia paham jika Zia mana mungkin bersedia menatap Aleena meski hanya sebentar saja. Sorot tajam Zia mengutarakan jika dendam masih berselimut dalam dirinya, akan tetapi keduanya memang dipaksa mengalah oleh Kanaya demi membuat posisi Mikhail aman dan nanti Zia dapat melahirkan didampingi Mikhail.


"Maaf ya, semua jadi rumit karena Mas."


"Nggak, Mas ... kamu begutu karena membelaku, dan sekarang saatnya aku memperjuangkan kamu." Zia memang membenci Aleena, akan tetapi jika dia tidak mau mengikuti apa kata Kanaya, kemungkinan besar ancaman Adiba akan berakibat fatal kepada suaminya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2