
"Kau yakin?"
"Sangat yakin, tapi itu dulu ... dia datang beberapa kali ketika aku masih lemah di rumah sakit."
"Lama?"
"Tidak, aku bahkan belum sempat memeluknya ... dia selalu berlari entah apa yang dihindari."
"Ck, kasihan sekali anak ini ... itu artinya mimpi bodoh!" Edgard berdecak pelan, sepertinya semua malam Mikhail habiskan selalu dilalui dengan mimpi yang sama.
"Itu bukan mimpi, Edgard ... semua benar-benar nyata dan aku yakin memang Zia yang masuk ke kamarku," jelas Mikhail tetap pada pendiriannya, dia memang lumpuh tapi bukan berarti gila dan berhalusinasi yang tidak-tidak.
Edgard hanya mengangguk pelan, lebih baik mengiyakan daripada membantah pernyataan pria ini. Sejak kemarin yang dia bahas jika dijenguk selalu sama, sementara dia sama sekali belum bertemu secara langsung dengan wanita yang dia duga mainan ranjang Mikhail.
Secantik apa, dan semenarik apa hingga penjelajah wanita seperti Mikhail bisa berhenti padanya. Hanya dengan foto Ergard belum bisa menilai sebesar apa daya tarik Zia hingga membuat Mikhail enggan menghabiskan waktu bersamanya lagi, pikir pria itu.
"Dia dimana sekarang?"
Konyol, sudah tahu sahabatnya uring-uringan sejak masa pemulihan dia masih saja bertanya. Mikhail berdecak kesal kemudian menghela napas kasar, sebanyak apa teman Edgard hingga dia bisa lupa masalah Mikhail saat ini.
"Ck, jika aku tahu dimana dia berada mungkin sekarang dia sudah bersamaku, Edgard."
Seyakin itu Mikhail bahwa Zia akan menetap bersamanya di saat dia tidak bisa melakukan apa-apa. Pria itu tetap tersenyum kala mengingat sosok Zia meski semuanya terbantahkan dengan fakta dan pernyataan sang mama.
"Memang kau yakin dia rela bersamamu dengan keadaan yang begini, Khail?" tanya Edgard duduk di tepian ranjang Mikhail, sedikit pilu melihat pria yang cekatan dan begitu luar biasa ini hanya berdiam diri di hari yang secerah ini.
Mikhail menunduk, sesaat terdiam dan bingung hendak menjawab apa. Sebuah fakta sangat sulit untuk dia terima, sudah berapa orang yang melontarkan kalimat ini, terakhirnya sang mama.
"Tidak bisa jawab kan? Khail, dengarkan aku ... jangan pernah terperangkap seperti masa lalu. Kepercayaanmu terlalu berlebihan sampai kau menolak fakta yang sebenarnya, lihat sampai detik ini dia bahkan tidak menampakkan diri di hadapanmu! Padahal, media tak henti-hentinya menyorot kehidupanmu sekarang ... apa mungkin dia tidak tahu? Mustahil, Khail."
Edgard menekan setiap kalimatnya, sempat melihat Mikhail jatuh di titik terendah dia seakan tidak rela jika hal itu kembali terjadi. Bukan hendak mempengaruhi, akan tetapi Edgard mengatakan sesuatu berdasarkan fakta yang ada.
__ADS_1
"Dia tidak pernah nonton televisi, Edgard ... Zia tidak seperti Mama yang suka nonton berita."
Dia memberikan pembelaan yang sama terkait Zia seperti yang dia sampaikan Kanaya. Walau memang ketika terakhir mereka bertemu, statusnya hanya orang ketiga dan Zia menghilang kala dia ingin bertanggung jawab.
"Sosial media bagaimana? Apa mungkin semua artikel tentangmu tidak sampai padanya? Come on, Mikhail ... buang harapanmu, bangkit tanpa perlu memikirkan lagi gadis itu."
Entahlah, Mikhail kalah telak dan kini dia memilih diam. Batinnya memohon agar Zia datang, atau jika memang tidak bisa, setidaknya Tuhan memberikan izin padanya agar bisa mendatangi Zia dan bertanya kemana saja dia selama ini.
"Sudah kukatakan, jangan pernah menyentuh wanita dengan perasaan ... wanita itu hanya mainan, tugasnya hanya memberikan kepuasan, Khail! Kau jangan lupa apa yang kukatakan beberapa tahun lalu."
Edgard bicara serius, dan keyakinannya jika wanita itu memang sama semakin besar saja. Terbukti dengan Mikhail yang bahkan terpuruk dengan alasan terlalu mencintai wanita.
"Hentikan omong kosongmu, Edgard!! Zia berbeda dan dia bukan mainanku!" sentak Mikhail pada akhirnya habis kesabaran, saat ini seribu wanita yang Edgard janjikan tidak akan mampu membuatnya merasa lebih baik.
"Khail ...."
"Pergilah, aku mau istirahat!"
Mikhail memalingkan wajah dan memilih terpejam karena merasa berbicara dengan Erdgard hanya membuat kepalanya semakin sakit saja. Pria itu mengepalkan tangan seraya mengeraskan rahangnya, sungguh batinnya seakan tertekan dengan pernyataan yang lagi-lagi sama.
-
Jika Mikhail masih teguh tentang Zia yang akan datang padanya, di tempat lain Syakil masih terdiam di perpustakaan. Sudah hampir tiga jam dia berdiam diri di sini, mencoba memahami apa yang kini tengah terjadi.
Memutuskan untuk tidak pulang sementara, apa yang terjadi di rumah kini membuat batinnya terluka. Remuk, hidupnya seakan terasa mati. Syakil hanya berharap ini mimpi, namun yang terjadi memang benar-benar begini.
"Zia yang sama."
Syakil menggigit bibirnya, setelah beberapa lama dia penasaran siapa yang membuat kakaknya selalu merenung dan bahkan rela menunggu di balkon kamar hingga larut malam akhirnya terungkap juga.
Dia mengetahuinya satu minggu lalu, namun jujur saja jemarinya masih bergetar jika dia mengingat hal itu. Sejak awal memang dia sudah dibuat penasaran dengan Mikhail yang selalu memanggil nama Zia dalam tidur dan bangunnya, akan tetapi saat itu Mikhail masih berkeyakinan jika itu bukan Zia yang dia maksud.
__ADS_1
Hingga semua itu terpatahkan dan Syakil mengetahui dengan jelas apa yang terjadi. Saat Mikhail memperlihatkan foto Zia dia hanya diam, memendam dan tak mengungkapkan pada siapapun jika dia mengenal Zia yang dimaksudkan sang kakak.
Lamunan Syakil buyar kala menyadari Erika hendak melewatinya. Pria itu menepis lebih dulu pikiran-pikiran jelek dalam dirinya dan menarik pergelangan tangan gadis itu secara paksa.
Sulit sekali dia menemukan kesempatan ini, sejak kemarin Erika selalu menghindar begitupun dengan Zidan yang semakin acuh dan enggan ditanya soal Zia sedikitpun.
"Tunggu, Erika!! Sebentar saja!" sentak Syakil tiba-tiba kesal kala Erika hendak menghempas tangannnya.
"Zia lagi?" tanya Erika putus asa, dia sedikit sebal dengan Syakil yang selalu menayakan hal yang sama padanya.
"Hm, kamu benar-benar tidak tau dimana dia, Erika?"
Erika menggeleng, Berbohong lantaran sudah bersumpah dan menghargai keputusan Zia harus dia lakukan.
"Kamu selalu menanyakan hal yang sama, sudah kukatakan aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya ... lagipula Zidan sudah jelaskan jika Zia berhak mengambil keputusannya sendiri, Syakil."
Sebenarnya tak tega, Erika menatap sendu wajah Syakil yang begitu berharap akan berita baik tentang Zia. Sayangnya, Erika tidak bisa mengkhianati janjinya pada Zia kali ini.
"Kamu bohong kan?"
"Aku bukan pembohong dan selama hidup aku sama sekali tidak pernah berbohong," ucapnya kembali penuh kebohongan.
"Begitu ya?"
Syakil menghela napas pelan, pria itu terdiam dan menatap Erika dalam-dalam. Mencari celah kebohongan di balik mata bulatnya, namun belum satu menit hal itu gagal kala Zidan menghampiri dan meminta Erika ikut dengannya.
"Kemana aku harus mencarimu, aku butuh penjelasanmu, Zi." Dia mengepalkan tangan, melihat Erika dan Zidan yang benar-benar melepas Zia dia kecewa dan menimbulkan banyak tanya.
Atau jangan-jangan mereka juga tau hubungan kak Mikhail dan Zia?
Tbc
__ADS_1
Rekomendasi Novel by kak Navizaa