
"Ada apa sih?"
Kericuhan yang terjadi di lantai satu ternyata membuat tidur Zia benar-benar terganggu. Rasa kantuknya benar-benar masih menguasai kali ini, dengan langkah pelan dia berjalan mencari dimana sang suami.
Zia bukan hanya takut sesuatu yang terjadi akan membahayakan dirinya. Akan tetapi, yang Zia takutkan adalah terjadi sesuatu pada Mikhail saat ini. Dia benar-benar panik bahkan tidak lagi sempat mencari pakaian tetutup, hanya daster pendek di atas lutut yang sebelumnya dia pakai dan lupa mengenakan bra.
"Mas apa yang terjadi? Kenapa ada polisi segala?" tanya Zia dengan mata yang membola namun dia sama sekali belum menyadari jika penampilannya yang begitu bisa membuat seseorang resah.
"Zi-zia? Kenapa kamu keluar ... Hei kalian jangan ada yang melihat ke belakang!!"
Mikhail panik kala melihat istrinya sudah berdiri dari jarak yang tak begitu jauh darinya. Pria di sini bukan hanya dia, tetapi banyak yang lainnya. Memang istrinya ada-ada saja, jantung Mikhail dibuat hampir copot dari tempatnya akibat ulah sang istri.
"Kamu masuk, kembali ke kamar, Zia!!"
Padahal keempat pria yang berseragam coklat muda itu sudah mengalihkan pandangan, akan tetapi Mikhail masih sebegitu khawatirnya mereka curi-curi pandang pada sang istri.
"Silahkan bawa orang ini pergi, Pak ... dan jangan coba-coba melihat ke belakang!!"
Kenapa jadi Mikhail yang lebih ganas dari mereka, secepat mungkin mereka segera berlalu setelah berhasil meringkus Edgard. Jeritan Edgard memanggil namanya memang terdengar menyedihkan akan tetapi sama sekali Mikhail tidak akan pernah luluh kali ini.
Beberapa menit hening, Mikhail sedikit lega permasalahan Edgard usai. Akan tetapi, jantungnya masih dibuat berdetak dua kali lebih cepat akibat Zia yang tiba-tiba muncul dengan penampilan yang seharusnya hanya berhak dilihat Mikhail saja.
"Edgard? Kenapa ditangkap, Mas?"
"Hm? Memang pantas, ayo kembali ke kamar ... lain kali jangan begini, Zia. Mas panik," tutur Mikhail meraih pergelangan tangan Zia, menatapnya lekat seraya menghela napas perlahan. Hanya perkara kecil tapi Mikhail seakan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
"Maaf, Mas. Aku juga panik, lagian salah kamu kenapa ninggalin aku gitu aja ... pakein baju dulu kek apa kek."
Sejak kapan wanita salah, di saat-saat begini bahkan Mikhail mengutuk dirinya, Zia masih mengatakan jika ini adalah Mikhail. Pria itu pasrah menerima pelimpahan kesalahan dari Zia, toh memang itu salah dia.
"Kok nyalahin Mas, Zia? Biasanya juga tidur nggak pakek baju ... kenapa sekarang malah marah begini?"
Mikhail bukan marah meski bicaranya sedikit ditekan, mana pernah dia marah pada Zia. Bukan karena tidak berani, akan tetapi memang dia yang tidak mau.
"Iya tapi kan aku nggak tau kalau bakal ada polisi segala, aku pikir kamu kenapa-kenapa makanya cari keluar kamar. Karena aku buru-buru dan adanya cuma ini yaudah aku pakek, syukur-syukur masih sempet, Mas."
"Maaf, Zia."
Zia paham suaminya memang mempermasalahkan hal itu. Walau ini bukanlah hal yang amat fatal, tapi perihal istri Mikhail memang seposesif itu. Jangankan orang asing, Syakil saja dia larang curi-curi pandang pada Zia meski hanya sebentar saja.
"Tunggu ... Mas tadi belum jawab, kenapa Edgard sampai ditangkap polisi segala?"
__ADS_1
Zia penasaran, seperti yang dia ketahui Edgard adalah sahabat dekat Mikhail. Sebagai istri dari Mikhail jelas saja dia khawatir jika suaminya juga terjerat hal-hal yang tidak baik, judi online contohnya.
"Nanti Mas cerita, sekarang kita masuk ke kamar dulu."
Mungkin sudah saatnya Zia mengetahui semuanya. Beberapa waktu dia menahan dan tidak menceritakan dengan jelas apa yang terjadi karena takut Zia akan salah tangkap dan ujung-ujungnya sang istri terluka.
-
.
.
.
Keesokan harinya, Mikhail bangun kesiangan. Kembali terjadi dan Zia tidak mungkin tega membangunkannya. Menatap wajah lelap suaminya lekat-lekat, kedamaian itu mengalir dalam hati Zia begitu hangatnya.
"Kamu terlalu baik, Mas."
Zia tersenyum getir, setelah dia pikir-pikir memang Mikhail begitu baik, terutama soal materi. Meski dapat dia pahami alasan Mikhail selalu berusaha membuat seseorang tetap berada di sisinya adalah karena trauma akan pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya.
Mengenal Mikhail kian dalam setiap harinya, Mikhail yang semakin terbuka dan selalu berusaha membuatnya percaya jika pelabuhan terakhir Mikhail hanyalah dirinya adalah alasan Zia mencintai sang suami sebagaimana cinta dewasa yang Mikhail ajarkan padanya.
Cinta yang bukan hanya perihal memiliki tapi juga menghargai dan tentang kepercayaan. Cara Mikhail yang sangat menghargai posisinya bahkan kala Zia pergi meninggalkan Mikhail beberapa bulan lalu benar-benar menjadi pelajaran jika kesetiaan pria itu nyata.
Tok tok tok
"Non ...."
"Iya, sebentar."
Tumben sekali Rani mengetuk pintu kamarnya jam segini. Biasanya jika mereka belum keluar Rani tak memiliki keberanian untuk membangunkan keduanya.
Ceklek
"Kenapa, Mbak?" tanya Zia menatap Rani yang kini terlihat gugup di hadapannya.
"Hm di bawah ada nyonya Kanaya, Non," ujar Rani panik, dia takut jika Mikhail akan marah setelah mengetahui hal ini.
"Mama? Kalau Mama yang dateng berarti bagus dong ... kenapa jadi panik?" tanya Zia penuh selidik lantaran Rani memang sedikit mencurigakan.
"Aduh ... masalahnya nyonya Kanaya nggak dateng sendirian."
__ADS_1
"Terus?"
"Non Laura sama non Zidny juga ikut ... di bawah udah heboh, Bastian nggak mau keluar kamar karena takut sama den Mikhail."
Bagi Zia mungkin bukan masalah besar. Kehadiran Zindy dan Laura takkan membuatnya terjebak dalam masalah apapun. Akan tetapi jelas berbeda dengan mereka yang bekerja di rumah Mikhail.
Tugas utama telah mereka lalaikan, Zindy dan Laura ada di urutan pertama orang yang dilarang Mikhail memasuki rumahnya. Bahkan tertera jelas jika sampai mereka lalai maka gaji dipotong 20 persen selama enam bulan.
"Sayang ...."
"Duh gawat, den Mikhail bangun ... mana belum sempat," keluh Rani bingung sendiri, wanita itu memanggil Zia karena ingin memohon pengertian pada Mikhail sebelum pria itu marah besar. Sayangnya, belum sempat mengutarakan maksudnya Mikhail justru terbangun dan sukses membuat dada Rani makin berkecamuk.
"Ada apa? Kenapa Mbak di sini?" tanya Mikhail dengan suara beratnya, pria itu menempelkan dagunya di pundak Zia, dia masih mengantuk tapi suara samar antara Zia dan Rani mengusik tidurnya.
"Ada Mama, Mas." Zia berucap lembut, dengan begitu biasanya Mikhail akan mengerti harus melakukan apa, tentu saja mandi pagi jika tidak ingin Kanaya maki-maki dengan sejuta kata mutiara dan mengancam rezekinya akan dipatok ayam.
"Hm, Mas mandi."
"Bang Mikhail!! Udah bangun belom? Kita mau bertamu ini, masa nggak disambut!!"
Suara itu, Mikhail yang tadinya masih sedikit mengantuk tiba-tiba tersadar 100 persen dan melayangkan tatapan tajamnya pada Rani.
"Ho-oh Bang Cio tumben bangunnya kesiangan, abis ngapain Bang?"
Orangnya tidak terlihat tapi suanya sudah membuat Mikhail merinding. Sorot tajam Mikhail sudah memperlihatkan bagaimana nasib Rani dan teman-temannya. Siap-siap saja, pikir Mikhail.
"Nanti malam temui saya di ruang kerja, sampaikan pada yang lain."
"Mas?"
"Masuk, Zia ... Mas nggak bisa mandi pakai air dingin," pintanya lembut dan nadanya bicara sangat jauh berbeda, Rani yang kini berdiri di depan pintu hanya bisa menganga meratapi nasibnya.
"Besok aku pulang kampung saja."
Tbc
Btw-btw buat yang punya ig, follow ig aku ya jika berkenan. Ekwkw biar berasa kek othor-othor laen. Syakil lagi dipikirin mau jadi apah😎
ig : desh_puspita
Rekomendasi Novel hari ini ❣️
__ADS_1